
Setelah makan mereka melanjutkan ngobrol di ruang keluarga.
"Vian kata Jeje dia sedang mencari pekerjaan, apakah di kantor kamu ada yang kosong?" ucap daddy.
Vian dan Liana saling lihat "bukannya kamu kerja sama mas Andi, Je?" tanya Liana.
"Iya Li. Semenjak aku tahu semuanya aku malas kerja dengan mas Andi" jawab Jeje.
"Andi juga selingkuh, itu juga membuatnya malas kerja disana" bisik Vian pada Liana.
Liana kaget "apa! Mana mungkin?" sambil berbisik.
"Nanti abang ceritain" jawab Vian.
"Bagaimana Vian, ada apa tidak?" lanjut daddy.
"Sebenarnya Vian sudah tahu dad, tapi Vian berharap Jeje yang datang menemui Vian. Tapi karena daddy yang tanya langsung sama Vian, akan Vian jawab. Jurusan kamu apa, Je?" tanya Vian.
"Manajemen bang" jawab Jeje.
"Mau satu tempat kerja dengan Jen apa tidak?" tanya Vian lagi.
"Jangan bang, nanti kita gak kerja lagi, malah pacaran" ucap Jeje.
"Bagus, menurut loe dimana Rey?" Vian tanya sama Rey.
__ADS_1
"Di perusahaan kakek aja PN Group, disana kan cuma ada Susan. Kalau di Vp Entertaiment kan Jeni disana. Kalau di Arc Enterprise kita berdua sering kesana. Kalau di Vian firm sudah ada Alex. Kalau klinik kan belum di buka, nantinya pasti Lili yang akan mengurusnya" penjelasan Rey.
Liana melihat Vian "nanti abang jelasin" ucap Vian pelan.
"Banyak juga ya perusahaan abang, beruntung kamu Li" kata Jeje yang kaget mendengar penjelasan Rey.
"Itu bukan punya abang saja. Kalau gitu kamu besok datang ke PN Group. Kalau tidak ada abang atau Rey bilang aja ingin ketemu Susan. Nanti Rey yang akan beritahu Susan kamu akan datang" ucap Vian.
"Terimakasih bang" Jeje senang.
Jeni juga senang "kamu gak usah tersenyum, Jen. Kalau kalian berdua ketahuan tidak profesional dalam bekerja. Kalian akan menerima konsekuensinya nanti" ancam Vian.
"Iya bang" jawab Jeni dan Jeje bersamaan.
"Kamu mau kemana, Vian?" tanya momy.
"Mau antar Lili pulang, ayo Li" ajak Vian.
Liana dan Vian bersalaman pada momy dan daddy untuk pamit pulang. Mereka berdua bukannya mengantar Liana pulang tapi ke apartemen Vian.
"Ngapain kita kesini bang?" tanya Liana.
"Kamu harus jelasin sama abang yang kamu katakan waktu kitw di mobil tadi" ucap Vian sambil membuka pintu apartemen.
"Abang juga harus menjelaskan mengenai yang abang bicarakan di rumah tadi" Liana duduk.
__ADS_1
"Itu kapan-kapan aja abang jelaskan, lagian itu tidak terlalu penting. Sekarang apa yang mau kamu katakan sehingga tidak mau terima aku jadi tunangan kamu" sebenarnya Vian sedikit kesal karena Liana selalu menghindar dari Vian.
Liana menunduk dan mengatur nafasnya, Liana masih saja diam tidak memulai bicara. Sudah beberapa menit Liana diam tapi dia masih tetap tidak bicara.
"Li, kamu tidak takut di apartemen cowok sendirian dan sudah larut malam loh" Vian memancing Liana.
Liana melihat Vian "Lili yakin abang tidak akan melakukan yang tidak-tidak sama Lili".
"Kamu yakin sekali, aku ini laki-laki loh" ucap Vian yang semakin mendekati Liana.
Liana semakin mundur "bang... apa yang mau abang lakukan... bang.. jangan macam-macam bang" Liana ketakutan.
"Tapi kamu tidak takut, kenapa kamu berkeringat ketika aku semakin mendekati kamu" Vian melihat mata Liana.
"Bang... pliss.. jangan seperti ini" Liana kegemetaran.
"Trus sampai kapan kamu menyimpan semuanya, tidak jujur ah..." bentak Vian.
"Lili takut abang akan menjauh dari Lili, bang.." Liana mulai menangis.
Vian kembali duduk ketempat semula "hapus air mata kamu. Sebenarnya aku sudah tahu semuanya apa yang terjadi sama kamu. Tidak mungkin Jen menyetujui aku dekat sama kamu jika ingin main-main. Jen tidak ingin sahabatnya terus bersedih dan menderita, makanya dia sudah menceritakan sama aku sebelum dekat sama kamu. Aku juga kasihan sama sahabat kamu Jen yang selalu mengalah karena aku belum juga menikah sampai sekarang. Seperti yang pernah kamu ceritakan sama aku dulu. Makanya tadi aku membawa Jeje dan mengasih dia pekerjaan di perusahaan aku, karena aku ingin mereka segera menikah. Tapi sepertinya Jen juga akan terus kecewa sama aku, karena selalu gagal dalam masalah cewek. Ini semua aku lakukan tidak hanya karena keinginan aku untuk memiliki kamu tapi juga karena sahabat kamu. Aku tidak pernah main-main dalam ucapan aku. Semua yang aku lakukan selama ini sama kamu tulus dari perasaan aku sendiri. Kalau kamu tetap tidak mau menerima aku, itu terserah kamu" Vian langsung pergi.
Liana menangis setelah Vian pergi meninggalkannya di apartemen itu sendirian. Sampai tengah malam pun Vian belum juga kembali. Liana sudah berusaha menghubungi Vian tapi ternyata ponselnya ketinggalan di meja tempat mereka duduk.
*BERSAMBUNG
__ADS_1