
"Setelah itu apa yang terjadi sama Denis?" tanya Vian.
"Jadi aku terpaksa bilang sama orang tua Denis. Jadi orang tua Denis langsung memindahkan Denis dan Dini ke luar kota. Aku masih tinggal di apartemen sampai aku tahu ayah sakit".
"Perasaan kamu terhadap Denis sendiri gimana?".
"Kalau Denis memang susah aku melupakannya. Setiap aku ketemu dengannya mengingatkan aku setiap momen kami bersama. Sebab kami jarang marahan kami lebih sering berdebat hal-hal yang gak masuk akal. Tapi selama aku tinggal di apartemen aku sudah bisa melupakannya. Meskipun kami pernah ketemu sekali dua kali itu tidak akan menumbuhkan perasaan yang lebih".
"Jika kamu dulu sayang sama Denis kenapa kamu tidak mau membantu Denis untuk membuktikan kalau dia tidak bersalah sama Dini".
Liana tersenyum "karena aku tahu Denis itu berbohong sama aku. Dia bilang dia dijebak tapi itu semua memang dia yang melakukannya. Dia memang hobi main wanita sampai kebablasan. Dia sendiri yang cerita sama aku kalau dia sering tidur dengan pacarnya tapi tidak ada yang sanggup minta pertanggungjawaban Denis. Mereka hanya datang pada aku untuk minta bantuan. Aku juga sering bilang sama Denis tapi dia tidak ingin sama cewek-cewek itu. Dia hanya ingin sama aku jawabnya. Makanya aku membantu orang tuanya untuk memaksanya untuk nikah dengan Dini. Karena Dini waktu itu sedang hamil dan dia juga sudah menemui orang tua Denis".
"Mengapa Denis sampai menangis ketemu kamu menjelang ijab kabul?".
"Karena dia bersalah sama aku dan sama pacar-pacarnya yang sudah dia tidurin. Yang paling bersalah sama aku karena dia tidak dapat mewujudkan janjinya sama aku. Dia juga minta maaf sama aku karena tidak pernah mendengar ucapan aku".
"Apakah kamu juga ikut menangis?".
"Menangis tidak tapi aku sedih aja karena sahabat yang selalu ada disamping aku sudah menikah. Tidak ada lagi orang yang berdebat sama aku dan mengambil makanan aku".
"Kamu sama Dini gimana?".
"Aku sama Dini baik-baik aja. Sebanyak itu mantan pacar Denis hanya aku yang tidak pernah dibenci Dini. Mungkin karena aku mereka menikah tapi aku juga gak pernah tanya".
"Jadi tadi apakah dia tahu kalau deasain klinik itu deasain kamu?".
__ADS_1
"Sepertinya dia tahu, sebab dia sering lihat aku gambar dan menulis inisial dibawah gambar. Mungkin dia juga tahu maksud aku menyembunyikannya karena ayah. Tadi dia hanya ingin melihat kejujuran aku aja. Tapi aku masih mengelak tidak mau jawab".
"Seandainya Denis menjadi duda apakah kamu mau jadi istrnya siatu saat nanti?".
Liana tertawa "kalau aku bisa memilih aku lebih baik tidak menikah. Bukan karena aku benci sama Denis tapi karena aku tidak ingin memaksakan perasaan aku. Apalagi hanya karena kasihan sama orang itu, lebih baik aku tidak menikah saja. Tapi kalah tuhan berkehendak aku juga tidak bisa menolaknya".
"Sekarang bagaimana perasaan kamu lebih enakan?".
"Lumayan bang, lebih ringan rasanya kepala Lili".
"Seminggu lagi coba kamu konsul sama Bagas. Tanya bagaimana perkembangannya, mungkin kamu bisa mengurangi konsumsi minum obat".
"Apa benar bang?" Liana sangat senang.
"Apa abang bisa, bukannya abang selalu sibuk" Liana mengambil ponselnya yang diletakan di atas meja.
"Untuk kamu pasti ada waktu" Vian tetap memperhatikan Liana.
"Gaya abang lagi. Jangan sering bicara seperti itu pada cewek nanti mereka salah tafsir" Liana tetap menunduk melihat ponsel.
"Kalau orang sedang bicara lihat orangnya" Vian menarik jilbab Liana.
Liana langsung melihat Vian, pandangan mereka langsung beradu. Mereka saling melihat tanpa berkedip.
"Kenapa kamu semakin cantik sih Li, perasaan aku semakin deg-deg an melihat mata kamu" gumam Vian.
__ADS_1
"Kenapa aku baru sadar kalau abang Vian ganteng bangat kalau dilihat dari dekat" gumam Liana.
Jeni masuk dan membuyarkan lamunan mereka "bang...".
Jeni kaget "ops.. sorry, ganggu ya!".
Liana dan Vian kelagapan saling merubah posisi duduk.
"Kenapa Jen" ucap Vian.
"Tadi daddy nelvon, dia bilang besok malam makan malam dirumah. Abang harus pulang, katanya kakek dan nenek datang" Jeni masih berdiri di depan pintu.
"Baik, abang akan antar Liana pulang" Vian berdiri.
"Kamu kenapa Li, kok muka kamu merah" ledek Jeni.
Liana bingung harus jawab apaan "kamu harus pulang juga, silkan keluar" Vian langsung mendorong Jeni keluar.
"Awas kalau abang macam-macam" teriak Jeni dari luar.
"Ayo" Vian ajak Liana pulang.
Liana mengambil tas dan memasukan ponselnya kedalam tas. Lalu mereka jalan keluar ruangan untuk pulang.
*BERSAMBUNG
__ADS_1