Si Bungsu

Si Bungsu
12. Pandangan Pertama


__ADS_3

Riri dan Liana berdiri sambil melihat siapa tamu yang baru masuk. Vian langsung terpana dengan seorang gadis yang disebelah Riri. Liana tersenyum kepada Vian dan Rey asisten pribadi Vian.


"Apa aku nggak salah lihat ini cewek. Cewek yang baik hati turun panas-panasan di jalan raya hanya untuk membantu seorang nenek menyebrang jalan yang langsung membuat aku jatuh hati pada pandangan pertama. Semakin dekat aku melihatnya semakin cantik ternyata" kata hati Vian.


Semua orang heran melihat tingkah Vian yang di panggil-panggil tidak menjawab. Dia hanya larut dengan pemikiran dia sendiri. Karena tidak ada jawaban asistennya langsung menegurnya.


"Bos.. bos..." Rey menepuk punggung Vian yang langsung sadar.


"Iya ada apa?" Vian kelagapan.


Semua orang tertawa dengan tingkah Vian, sedangkan Vian hanya menggarut-garut kepala yang tidak gatal karena salah tingkah.


"Ada yang salah ya?"


"Itu tuh, tuan Bagas memperkenalkan istrinya dan adik iparnga" bisik Rey.


"Oh iya, maaf. Vian sahabatnya Bagas" mengulurkan tangannya saling berjabat tangan.

__ADS_1


"Riri istri Bagas dan ini adik saya Liana" Riri memperkenalkan Liana.


Setelah berjabat tangan dengan Liana, Vian masih memandang Liana. Liana merasa risih dengan pandangan Vian. Semua orang melihat Vian yang masih memandang Liana. Sebelum semua orang curiga Vian langsung mengalihkan pembicaraan walaupun orang disana juga sudah tahu kalau Vian pasti jatuh hati sama Liana.


"Bro, maaf sebelumnya aku lancang. Apa Liana ini adik ipar loe yang sakit kata loe kemarin"


Bagas mengangguk "iya bro, santai aja. Lagian Lili tidak akan marah kok kalau orang tahu, iya kan dek" Bagas melihat pada Liana.


Liana hanya tersenyum dan mengangguk. Tiba-tiba ponsel Liana berdering, dia langsung mengambil ponsel dan minta izin keluar.


"Mas, mbak, Li keluar sebentar akan telvon" Liana langsung keluar setelah dapat anggukan dari kakak dan kakak iparnya.


Bagas batuk-batuk "bro, kalau suka sama Liana gue sarankan loe harus lebih ekstra lagi ya".


"Emangnya kenapa?" Vian bingung dengan ucapan Bagas. Bagas langsung melihat pada istrinya untuk membantunya menjelaskannya.


"Sayang, menurut aku lebih bagus kita ajak saja tuan Vian sama tuan Rey makan malam di rumah. Nanti kalau di rumah kita bisa leluasa bicara. Sekarang aku mau pulang karena udah sore dan mau jemput Gio di rumah mas Dani" jawab Riri sambil melihat jam.

__ADS_1


"Oh iya. Bagaimana bro?" Bagas bertanya pada Vian.


Vian juga melihat sama Rey "baik, nanti kita datang setelah maghrib"


"Kalau gitu aku pamit sayang" Riri salamn dengan Bagas. "Tuan selamat berjuang?" Riri langsung keluar.


"Silakan duduk Vian, Rey" Bagas mempersilakan tamunya untuk duduk.


Sampai di luar Liana menghampiri Riri yang keluar dari ruangan Bagas seperti mencari-carinya.


"Mbak, kok keluar"


"Kita pulang aja nanti mas Bagas yang bawa obat kamu pulang. Soalnya kita harus jemput Gio dan ke super market beli bahan masakan. Tadi mas Bagas ajak temannya itu makan malam di rumah"


"Tapi Li belum pamit sama mas Bagas, mbak"


"Nggak apa-apa, tadi mbak udah bilang" mereka langsung jalan keluar rumah sakit.

__ADS_1


Kembali pada Vian dan Bagas yang sedang membicarakan mengenai proyek yang akan mereka bangun. Vian ingin membangun klinik tersebut karena dia merasa iba melihat orang-orang seperti Liana. Orang yang tertekan, trauma, depresi dan lain sebagainya membutuhkan perhatian khusus. Semenjak Bagas menceritakan mengenai masalah adik iparnya itu pada Vian beberapa bulan lalu. Vian berfikir untuk membangun klinik tersebut dan di bantu oleh Bagas. Vian sebenarnya juga pernah merasakan masalah seperti Liana tapi karena fisiknya kuat dia tidak sampai trauma dan depresi. Itulah alasan kuat buat Vian untuk membangun klinik.


*BERSAMBUNG


__ADS_2