Si Bungsu

Si Bungsu
36. Bimbang


__ADS_3

"Udah siap, Li" Vian menghampiri Liana yang sedang duduk main ponselnya di tempat antrian apotek.


Liana melihat Vian "udah, kok lama kali bang?" Liana sambil memasukan ponsel kedalam tas.


"Iya, sorry. Tadi abang membicarakan mengenai klinik yang hampir siap" jawab Vian.


Liana berdiri "ayo pulang".


Didalam mobil mereka hanya diam, tidak ada pembicaraan. Liana sibuk melamun sambil melihat keluar jendela mobil. Vian sekali-kali melihat kearah Liana sambil memikirkan apa yang Bagas bicarakan. Liana melihat Jeni keluar dari super market membawawa barang belanjaan yang banyak.


"Bang, itu Jeni kan!" tunjuk Liana.


Vian menghentikan mobilnya lalu melihat kearah yang ditunjuk Liana.


"Iya, menunggu siapa dia?".


"Ayo kita samparin bang, kasihan Jen bawa belanjaan banyak sekali" Liana turun menghampiri Jeni diikuti Vian.


"Jen..." panggil Liana.


Jeni melihat ke sumber suara "eh Lili, abang!".


"Nunggu siapa? Tumben kamu belanja banyak bangat?" tanya Liana.


Vian sama Jeni saling pandang "biasa ini, Li" jawab Jeni gugup.


"Mobil kamu dimana, Jen?" tanya Vian.


"Mobil di bengkel bang" jawab Jeni.


"Bang kita antar Jeni dulu ya, lagian Lili juga sendiri di rumah" Liana melihat Vian.

__ADS_1


"Iya, ayo" Vian membantu Jeni membawa barang belanjanya.


Di perjalanan Liana heran kenapa jalannya tidak ke rumah utama mereka.


"Kok kesini jalannya, bukannya ini ke apartemen kita, Jen" Liana melihat Jeni.


"Iya Li. Aku udah hampir seminggu tinggal di apartemen" jawab Jeni gugup.


"Kenapa?" Liana penasaran.


"Nggak kenapa-napa, cuman ingin mandiri aja" jawab Jeni.


Liana melihat kedepan, dia teringat apa yang didengarnya di rumah sakit. Dia mendengar semua apa yang dikatakan Bagas sama Vian. Liana merasa kecewa sama Vian, dia merasa Vian mendekatinya hanya karena kasihan. Itu sebenarnya yang paling tidak disuka oleh Liana kalau orang tahu tentang dia. Dia tidak mau dikasihani sama orang lain. Lebih baik dia menderita sendiri dari pada harus dikasihani.


Jeni dan Vian melihat Liana yang termenung "kamu kenapa, Li" tanya Vian.


Liana kaget "ah.. gak apa-apa, lapar aja" jawab Liana sambil tersenyum.


"Gimana kita makan dulu?" tawar Vian.


Tidak lama kemudian mereka sampai di apartemen. Liana jalan bersama Jeni, sedangkan Vian di belakang membawa barang belanja Jeni.


"Kamu gak ke apartemen kamu dulu, Li?" tanya Jeni sewaktu membuka pintu apartemennya.


"Nggak, lagian disana sama aja disini. Aku mau sholat dulu, kamu siapkan aja apa yang mau dimasak nanti akau yang masak" kata Liana sambil jalan ke kamar Jeni.


"Abang duduk aja dulu, biar Jen buat minum" Jeni membuat minum buat Vian dan Liana.


Vian duduk di sofa sambil melihat-lihat apartemen adiknya. Begitu banyak foto-foto mereka sambil tertawa dan bercanda disana. Vian berdiri melihat foto-foto tersebut, Vian merasa semakin bingung apa yang akan dilakukannya. Vian melihat senyum Liana di foto itu emang berbeda dengan sekarang.


Jeni datang membawa minum melihat abangnya seperti itu semakin yakin kalau abangnya memang sangat menyayangi Liana.

__ADS_1


"Itu Liana yang dulu bang. Tidak seperti sekarang, jarang tersenyum. Meskipun dia tersenyum pasti ada sesuatu dibalik senyumannya itu" ucap Jeni.


Vian kembali duduk di sofa "apa yang harus abang lakukan, Jen?".


"Kalau abang sayang sama Lili, abang bilang dong sama daddy dan om Beni kalau tidak setuju dengan perjodohan itu. Jen yakin kak Floe itu gak juga sayang sama abang. Dia hanya ingin menaiki popularitasnya yang sekarang lagi dibawah. Bang, Jen udah tahu semuanya. Kak Rey sama Kak Alex sudah memberitahu Jen semuanya" kata Jeni sambil meninggalkan Vian ke dapur.


Vian mengikuti Jeni "apa yang kamu tahu?".


"Abang masih aja bodoh kalau berkaitan dengan cewek. Abang gak tahu ya kalau kak Floe hanya ingin memanfaatkan abang. Lagian dia udah punya pacar kali bang. Kalau kak Rey sama kak Alex kasih tahu abang pasti abang tidak percaya. Hanya karena dia pernah menyelamatkan abang waktu kak Angel mencoba bunuh abang" Jeni tertawa.


"Dimana kamu tahu semua itu?" Vian semakin penasaran.


"Udahlah nanti aja bahasnya, bentar lagi Liana turun. Menjelang kak Floe datang kesini abang harus cari tahu dulu maksud dia menginginkan abang" Jeni mencegah omongannya dulu.


"Baik, abang mau ke kantor. Nanti kalau Liana turun bilang nanti malam abang kesini lagi" Vian pergi menemui Rey.


Beberapa menit setelah Vian pergi Liana turun dan dia tidak melihat Vian.


"Jen, bang Vian mana?"


"Dia ke kantor sebentar, nanti malam dia kesini jemput kamu" jawab Jeni sambil menyiapkan apa yang mau dia masak.


Liana menghampirinya "kamu kenapa gak ke kantor?".


"Aku tadi itu sudah balik dari kantor, lagian tadi kerja juga gak banyak makanya aku pulang duluan" jawab Jeni.


"Ya udah kita masak aja sekalian buat nanti malam" saran Liana.


"Gimana kita telvon Sari sama Kia buat datang kesini" ide Jeni.


"Bagus juga, udah lama kita gak masak bareng" ucap Liana.

__ADS_1


Jeni langsung menghubungi Sari dan Kia datang ke apartemennya.


*BERSAMBUNG


__ADS_2