
Tinggal di ruangan itu Vian dan Liana yang menunggunya sadar. Tidak lama kemudian Liana mulai menggerakkan tangannya, tidak lama kemudian Liana membuka matanya. Liana kaget melihat Vian yang ada di sampingnya.
"Abang..."
Vian senang "alhamdulillah kamu udah sadar, bagaimana?"
"Li gak apa-apa, bang" Liana duduk.
"Kenapa kamu menunggu abang dibawa, kenapa gak di ruangan abang. Disini sudah abang siapkan makanan dan sudah abang bilang sama sekretaris abang kalau kamu akan datang" Vian duduk di sebelah Liana.
"Li udah tanya sama mbak dibawah ruang abang tapi mereka gak mau kasih tahu Li. Jadi Li disuruh tunggu dibawah makanya Li tunggu disana" ucap Liana.
"Jadi karena mereka" ekspresi Vian langsung berubah.
"Abang, jangan pecat atau marahi mereka ya. Kasihan mereka nanti susah cari kerja, pliss" Liana memohon pada Vian.
Vian pun tidak tega lihat Liana yang memohon seperti itu, jadi dia pun tidak akan memecat mereka.
"Iya, iya, abang tidak akan pecat mereka. Sekarang kamu makan dan minum obat ya" ajak Vian.
"Tapi kata mas Bagas ada yang mau abang bicarakan sama Li, apa itu bang?" tanya Liana.
"Iya nanti aja setelah kamu makan baru kita bicarakan" Vian mengambil makanan untuk Liana.
Liana mengambilnya "abang gak makan?"
__ADS_1
"Ini abang mau makan" Vian mengambil makanan.
Liana heran dengan semua makanan disana, semua makanan yang ada makanan kesukaan Liana.
"Bang, ini semua...." ucap Liana sambil melihat makanan.
Vian langsung menjawab "makanan kesukaan kamu".
Setelah makan Rey masuk ke ruangan Vian "permisi bos, ganggu"
Mereka melihat Rey "iya kenapa Rey?" tanya Vian.
"Tadi client nelvon mengenai desain klinik yang akan kita bangun itu bos" ucap Rey.
Vian melihat Liana "iya, kenapa?"
"Banyak karyawan abang yang bisa, kenapa abang pilih Li?"
"Abang yakin Kamu bisa, kamu coba dulu ya" Vian meyakinkan Liana.
"Ok, tapi ini semua demi proyek abang dengan mas Bagas" jawab Liana.
"Rey ambil peralatannya" Vian meminta Rey mengambil peralatan menggambar.
"Ini bos" Rey memberikan pada Vian.
__ADS_1
Vian mengambilnya dan memberikannya pada Liana "ini coba desain Li".
Liana mengambilnya dan langsung menggambar sesuai dengan inspirasinya sendiri.
Beberapa jam kemudian Liana sudah selesai menggambar beberapa desain. Selama menggambar Liana selalu minta minum dan makanan. Seluruh ruangan Vian sudah penuh dengan bekas makanan dan minuman. Vian senyum-senyum dan heran melihat tingkah Liana yang berbeda dari yang lain. Liana juga marah ketika dia di ganggu ketika menggambar.
Vian bertanya pada Liana "Li, apa ini kebiasaan kamu ketika kerja?"
"Bang, bisa gak kalau waktu Li bekerja jangan ganggu" Liana membentak Vian.
Vian kaget "what.."
Liana langsung sadar kalau sudah membentak Vian "sorry bang, bukan maksud Li bentak abang. Li gak biasa di ganggu atau di tanya-tanya pas kerja, nanti fokus Li terganggu".
"Its ok, abang paham. Silakan lanjut" Vian tidak masalah.
Liana kembali melanjutkan menggambar. Vian sama Rey heran melihat tingkah Liana yang berbeda dari orang biasanya.
"Bos coba lihat ruangan bos seperti kapal pecah" kata Rey yang baru datang.
"Ya gimana lagi, Rey. Coba kamu lihat hasil gambarnya bagus kan, berbeda dari desain-desain lain kan" ucap Vian.
"Iya bos, saya yakin kalau di bawa ke luar perusahaan bos pasti lebih maju lagi bos" jawab Rey.
Satu jam kemudian semua desain sudah siap. Liana langsung mengumpulkan desainnya dan berdiri mau memberikan pada Vian. Liana langsung kaget melihat ruangan Vian yang benuh dengan bekas makanan dan minuman. Liana langsung tersenyum pada Vian dan Rey yang duduk di tempat duduk Vian. Mereka pun membalas dengan senyum juga.
__ADS_1
*BERSAMBUNG