Si Bungsu

Si Bungsu
32. Kejujuran Kedua 2


__ADS_3

Liana langsung memeluk Jeni "kemana aja, Li?Nggak kangen sama kita?" ucap Jeni setelah mereka melepas pelukannya.


"Aku sekarang kerja di toko roti mbak Lala menggantikannya. Disana juga gak ada orang yang mengurusnya. Aku kangen ingin ketemu kalian lagi".


"Bohong, waktu itu kamu pernah kesini kata Kak Rey. Kamu nggak mau aja ketemu dengan aku" Jeni ngambek.


"Bukan gitu Jen, kemaren aku buru-buru makanya aku gak bisa ketemu kamu. Maaf ya!" ucap Liana dengan menyesalnya.


"Ihh.. jijiknya aku, semenjak kapan kamu lebay gitu" Jeni merasa tidak suka dengan ekspresi manja Liana.


Liana tersenyum dan melihat Vian "semenjak kenal itu tuh".


Vian kaget "kok abang, abang gak pernah ajarin loh".


Jeni dan Liana tertawa sambil tos. Vian pun heran melihat tingkah mereka yang seperti anak-anak.


"Ini baru Liana yang dulu, sudah bisa jailin orang. Abang gak tahu kan, kalau Liana ini suka jailin orang" ucap Jeni.


Vian menggeleng "biasanya Lili cuma diam kalau abang tanya baru jawab. Kok kalau ketemu kamu dia berubah 180 derjat gitu".

__ADS_1


"Itulah Lili, kalau abang bisa mengembalikan Liana Juanda sekarang seperti 2 tahun yang lalu. Jen yakin Lili pasti mau jadi pacar abang" bisik Jeni sama Vian.


"Jen, ngomong apaan kamu" Liana menegur Vian.


Jeni melihat Vian sambil kedip-kedipkan mata. Lalu datang Rey menghampiri mereka.


"Bos semua sudah siap, mereka sudah menunggu diatas".


"Baik. Jen, bawa calon kakak ipar kamu ke ruang abang dan pesan makanan" Vian langsung pergi dengan Rey.


Liana kaget "apa! Bang, abang ngomong apaan?" teriak Liana tapi Vian tidak memperdulikannya.


"Ayo Li, kita harus pesan makanan yang enak-enak" ajak Jeni.


"Yang mana, aku nggak dengar. Ayo!" Jeni pura-pura tidak tahu yang sebenarnya dia tahu maksud perkatan Vian.


Setelah setengah jam Vian kembali ke ruangannya. Dia melihat Liana yang tidur-tidur sambil main ponselnya.


"Udah selesai makannya" ucap Vian.

__ADS_1


Liana kaget langsung mengubah posisi duduknya "abang, udah bang".


"Makan obat udah" Vian duduk disebelah Liana.


"Udah, semuanya udah" jawab Liana.


"Jeni mana?" Vian melihat sekeliling ruangannya.


"Jen barusan pergi katanya ada kerja yang mau di urusnya".


"Oya Li, ada yang mau abang tanyakan soal Denis tadi" Vian melihat Liana.


"Iya. Lili udah tahu abang pasti mau tanyakan mengenai Denis. Baiklah, Lili akan ceritakannya".


Liana menyimpan ponsel dan melihat sama Vian "aku sama Denis teman dari kecil. Tumbuh bersama, sekolah bersama, dan rumah juga dekatan. Karena kedekatan itu aku merasa nyaman dengan Denis dan Denis pun begitu. Sehingga Denis menyatakan cintanya sama aku, akupun menerimahnya. Kita sempat pacaran selama satu tahun, kemudian kami putus. Selama itu juga kami sering putus nyambung. Untuk terakhir kalinya aku berfikir hubungan ini memang tidak akan bisa lebih dari sahabat. Jadi aku putuskan untuk putus sama Denis dan kita sahabat saja seperti yang sudah-sudah".


"Sewaktu sekolah Denis sempat memperkenalkan seorang cewek sama aku. Dia adalah adik kelas kita dan dia bilang sudah pacaran sama cewek itu. Aku mendukung apapun keputusan dari Denis. Setiap dia jalan selalu membawa aku. Setiap kita berdua kerja tugas bareng cewek itu selalu dibawa. Jika mereka berdua bertengkar Denis selalu datang kerumah aku buat curhat. Jadi setiap kita bersama selalu seperti orang pacaran. Cewek Denis juga sering cemburu pada aku, aku juga sempat bilang sama Denis tapi dia tidak peduli. Aku juga sempat menghindar dari Denis tapi Denis selalu datang kerumah mencari aku".


"Setelah lulus aku mendengar kalau mereka sudah putus. Aku juga melanjutkan sekolah berbeda dari Denis sebab aku mau menghindar darinya. Ketika aku kuliah Denis sering juga menemui aku. Denis selalu ingin mengharapkan aku lagi tapi aku tidak pernah mau sebab aku sudah punya pacar lain. Denis selalu bilang sama aku 'jika aku punya pacar selain kamu dan selalu main perempuan, nanti nikahnya aku tetap sama kamu. Apapun yang terjadi aku tetap nikahnya nanti sama kamu' kata Denis sama aku".

__ADS_1


"Ternyata dia di jebak oleh teman main ceweknya dengan Dini istrinya yang sekarang. Mereka sedang tidur di hotel tanpa menggunakan apapun. Untuk menghilang rasa malu kelurga terpaksa Denis nikah dengan Dini. Beberapa menit sebelum ijab kabulnya Denis datang menghampiri aku dan masih mengatakan yang sama dengan menangis. Tapi aku memaksa Denis untuk tanggung jawab dan menikahi Dini. Setelah ijab kabul aku langsung pamit dan pulang. Tapi Denis masih menemui aku malam harinya, dia mengatakan kata-kata yang membuat aku marah dan kesal padanya. Katanya 'jika aku jadi duda nantinya apakah kamu mau jadi istri aku' kata itu membuat aku marah sama Denis. Aku terpaksa pergi dari rumah dan tinggal di apartemen" Cerita Liana.


*BERSAMBUNG


__ADS_2