Si Bungsu

Si Bungsu
35. Pemeriksaan


__ADS_3

Didalam mobil mereka hanya diam, larut dengan pemikiran masing-masing.


"Bang..."


"Li..."


Kata mereka secara bersamaan sambil menoleh lalu mereka tersenyum.


"Abang duluan..." kata Liana.


"Kamu aja duluan, ladies first".


"Baik. Kenapa abang yang nyetir, kak Rey mana?"


"Rey, Rey sedang ada kerjaan sedikit jadi abang suruh dia stay di kantor".


"Sekarang apa yang ingin abang tanyakan?" lanjut Liana.


"Nenek Imah.." ucap mereka bersamaan.


"Kok kamu tahu abang mau tanya itu" kata Vian.


"Yakin aja, kan abang kepo semua tentang Lili" ucap Liana.


"Dikit sih, penasaran aja".


"Nenek Imah adalah nenek Denis, aku sejak kecil sudah dekat dengan keluarga mereka. Meskipun mereka tahu dulunya hubungan aku sama Denis bagaimana mereka tetap baik sama aku. Nenek Imah adalah orang yang berharga juga buat keluarga aku. Apa yang dikatakan sama nenek, tidak ada seorang pun yang membantah. Nenek adalah orang yang selalu dengarin aku curhat dan keluh kesah aku" cerita Liana.


"Owh.. jadi aku juga boleh dong dengar tentang kamu dari nek Imah".


"Boleh aja, asal sanggup dengar penderitaan aku dulu dan aku tidak ingin abang merasa kasihan sama aku setelah abang mengetahui tentang aku".

__ADS_1


"Pede amat, siapa juga yang kasihan sama orang jail kek kamu" ledek Vian. Liana hanya tersenyum menanggapi apa yang dikatakan Vian.


"Maaf Li, mungkin kamu tahu abang emang kasihan lihat kamu. Meskipun abang baru tahu sedikit tentang kamu, jujur abang emang kasihan sama kamu. Abang harap suatu saat abang bisa bantu kamu" kata hati Vian.


"Aku tahu abang emang kasihan sama aku, tapi abang ingin menjaga perasaan aku" kata hati Liana.


Mobil memasuki parkiran rumah sakit, mereka turun dan jalan menuju ruangan Bagas. Sampai disana perawat langsung menyuruh mereka buat masuk.


"Assalamualaikum" ucap mereka.


"Waalaikumussalam" jawab Bagas. "Silakan duduk" sambung Bagas.


Mereka pun duduk "Bagaimana Li? tumben Vian yang buat janji sama Mas. Biasanya kalau mau konsul pasti langsung hubungi mas" kata Bagas.


"Sebenarnya tadi malam adek udah mau nelvon mas. Terus kata bang Vian udah bilang sama abang, so gak jadi adek yang hubungi mas" jawab Liana.


"Sebenarnya setelah abang antar kamu waktu itu. Abang sudah suruh Rey buat bilang sama Bagas kalau kita mau datang hari ini" kata Vian.


Liana dan Vian langsung menceritakan apa yang telah dialami oleh Liana selama beberapa minggu ini.


"Begitu ceritanya mas. Jadi menurut mas Gimana?" tanya Liana.


"Berarti benar kata Vian dek. Kamu harus menceritakan semua uneg-uneg yang kamu fikirkan itu. Supaya kamu lebih nyaman lagi. Sekarang emang ada kemajuannya sedikit dari biasanya. Raut wajah kamu sudah kembali bersinar. Kesembuhan kamu sudah jalan 15% dek, untuk itu mas akan mengurangi obat kamu. Sekarang mas akan kasih resep baru, tapi ini cukup kamu makan menjelang tidur" penjelasan Bagas.


Semua menarik napas lega "alhamdulillah".


"Benar kan apa yang abang bilang, sekarang hanya kamu yang tahu ingin sembuh apa tetap seperti ini" ucap Vian.


"Iya bang makasih sudah bantu Lili" Liana tersenyum sama Vian.


"Ini resepnya" Bagas memberikan sama Liana dan mengambilnya.

__ADS_1


"Kapan mas sama mbak balik lagi kerumah?" tanya Liana sambil memasukan resep kedalam tasnya.


"Mas sama mbak masih harus tetap di rumah satu bulan ini dek. Keluarga mas datang kemaren, gak mungkin kan mas bawa ke rumah ayah sama bunda kekuarga mas" ucap Bagas.


Liana sedikit kecewa "iya tidak apa-apa mas".


Vian sama Bagas melihat perubahan wajah Liana "Nanti mas suruh mbak Riri bawa Fani ke toko biar kamu bisa main sama Fani" Bagas berusaha buat Liana tersenyum.


Liana tersenyum "iya, adek pasti senang. Ayo bang kita pulang, pasti mas Bagas banyak pasien" ajak Liana sama Vian.


"Iya kamu duluan aja ambil obatnya. Abang ada yang mau abang bicarakan sama Bagas sebentar" ucap Vian.


Liana langsung keluar "ada apa bro?" kata Bagas.


"Gue tahu keluarga loe gak disini kan! Sebenarnya apa tujuan loe, gak kasihan loe sama dia" ucap Vian.


Bagas tersenyum "gue tahu loe pasti gak akan setuju. Ini semua kami lakukan buat kesembuan Liana. Kami ingin Lili mandiri dan tidak memikirkan yang aneh-aneh. Sebab kami bersalah sama Lili, ini semua terjadi memang kesalahan kami juga. Loe tahu gak sekarang mas Dani sama Riri sedang mempertahankan harta bunda yang sedang direbut oleh adik-adiknya bunda. Mereka tidak ingin Liana tahu semua itu. Makanya kami keluar dari rumah dan Liana bisa hidup mandiri" penjelasan Bagas.


"Seberapa rumit sih masalah keluarga mereka ini" Vian merasa kasihan.


"Gue harap loe tetap ada disamping Lili, dia butuh seseorang seperti loe saat ini. Itu juga yang diharapkan mas Dani. Gue tahu beberapa hari yang lalu loe sudah diatur perjodohannya kan sama orang pilihan om Beni yaitu sepupu Alex" kata Bagas.


Vian kaget "dimana loe tahu".


"Sebelum makan malam itu gue udah dikasih tahu sama Alex. Jeni marahkan sama orang tua loe gara-gara ini semua. Dia tahu loe suka sama Lili makanya dia membantu loe. Dia rela tinggal di apartemen demi loe tapi loe tidak ada respon sedikitpun mengenai itu. Rey juga bilang sama gue kalau loe masih belum bisa melupakan Angel" Bagas sedikit emosi.


Vian hanya diam "sekarang keputusan ada sama loe. Jika loe hanya merasa kasihan sama Lili gue harap loe menjauh dari Lili sekarang. Gue juga tahu loe sekarang bimbang kan, sebab loe juga sempat suka sama sepupu Alex dulunya" sambung Bagas.


"Gue benar-benar bingung bro. Disatu sisi gue sangat menyayangi Liana dan ingin membantunya. Disisi lain gue sempat utang budi sama Floe" Vian bingung.


"Sudahlah.. sekarang loe harus menyusul Liana. Dia pasti sudah menunggu loe" Bagas mengusir Vian secara halus.

__ADS_1


*BERSAMBUNG


__ADS_2