Si Bungsu

Si Bungsu
14. Makan Malam 2


__ADS_3

"Assalamualaikum.." suara Vian dan Rey dari luar.


"Waalaikumussalam.." Liana membuka pintu.


Vian terpana melihat Liana yang membuka pintu dengan tersenyum. Vian merasa perasaannya semakin menyukai Liana.


"Silakan masuk tuan-tuan" ajak Liana.


Mereka berdua berjalan masuk dan Liana kembali menutup pintu. Liana mengajak mereka masuk menemui Bagas yang ada di ruang tamu dengan Fani.


"Mas.." Liana menyapa Bagas yang sedang bermain sama Fani "ini teman mas sudah datang".


Bagas menyuruh mereka duduk "bro, Rey, silakan duduk".


"Fan, ikut unty yuk" Liana menggendong Fani "permisi mas, tuan-tuan".


Liana berjalan pergi lalu Vian memberhentikannya "tunggu.."


Liana menoleh ke Vian "iya, kenapa tuan?"


"Bisa gak kalau kamu jangan panggil saya tuan"


Liana bingung "emangnya kenapa?"


"Kelihatannya saya belum terlalu tua. Apa saya terlalu tua sehingga kamu panggil saya gitu".


Liana tersenyum "maaf kalau tuan gak suka. Jadi saya harus panggil apa?"


"Kelihatannya kamu seumuran dengan adik saya, so kamu bisa panggil saya abang, kakak, ataupun mas seperti Bagas"

__ADS_1


"Abang saja, kalau mas hanya untuk keluarga saya dan khusus buat suami saya nanti" Liana langsung pergi.


Semua orang tersenyum melihat Vian yang kaget dengar ucapan Liana.


"Hei, tunggu.." teriak Vian.


Datang Riri dengan membawa minum "kenapa tuan memanggil adik saya seperti itu" Riri meletakan minum.


"Bagas, istri loe juga panggil saya tuan. Emang gue udah kelihatan tua ya!" Vian kesal karena semua orang memanggilnya tuan.


Semua orang kembali tertawa "nggak juga bro. Mungkin mereka hanya menghormati loe aja karena loe teman kerja gue" ucap Bagas.


"Makanya bos jangan suka marah-marah, itu tandanya bos cepat tua" ledek Rey.


"Monyet loe pada, kalau ledek gue kalian happy" Vian semakin kesal.


Riri mengangguk "ok. Tapi tadi kenapa kamu kelihatan kesal sama adik saya?"


Bagas kembali tertawa mengingat Liana yang meledeknya tadi.


"Kamu tahu gak sayang, barusan Vian kena semprot sama Liana. Dia gak tahu saja bagaimana mulut adek kamu itu".


"Yang sabar ya Vian, kalau suka usahanya lebih ekstra lagi. Itu mungkin pertama dia kesal sama orang selama setengah tahun ini. Kalau ingin dekat loe harus kuat dengan mulut bawel dan cerewetnya. Udah ah, silakan di minum. Saya mau ke dapur" Riri langsung pergi.


"Emang betul bro, apa yang di bilang sama istri loe?" tanya Vian.


"Mybe, itu pertama semenjak mertua saya meninggal. Kecuali sama sahabat-sahabatnya, sebab dia lebih sering bicara sama mereka" jawab Bagas.


"Ayo kita makan dulu, nanti kita lanjutkan lagi" Bagas mengajak mereka ke menja makan.

__ADS_1


Riri sedang menata makanan di atas meja lalu Bagas menanyakan Liana.


"Sayang adek sama Fani mana?"


"Itu mereka turun" Riri melihat Liana sama Fani menurunkan tangga.


Liana langsung duduk di sebelah Riri sambil memangku Fani.


"Selamat makan bro, Rey!" ucap Bagas.


"Li, makan aja dulu biar Fani sama mbak. Kamu harus makan obat tidak boleh telat makan" Riri mengambil Fani di pangkuan Liana.


Liana mengambil makanan, Vian memperhatikan Liana yang menyisihkan makanan laut di tepi piringnya. Kemudian Liana memanggil mbok Ina pembantunya.


"Mbok.."


Pembantunya datang "iya non".


"Ambilin minuman Lili di dalam kulkas ya"


"Baik, non"


"Makasih mbok"


Tidak lama kemudian mbok Ina datang membawa botol minum dan meletakan di sebelah Liana makan. Vian selalu memperhatikan Liana yang makan hanya sedikit seperti orang yang tidak berselera makan.


"Sebenarnya gadis ini ada masalah apa. Kadang dia pendiam, cuek, kesal, dan baiknya itu terlalu baik. Makan juga sedikit dan tidak banyak cakap meskipun dia tidak suka tapi tidak pernah membantah. Di raut wajahnya itu tersimpan begitu banyak kesedihan dan masalah" kata hati Vian.


*BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2