Si Bungsu

Si Bungsu
26. Diskusi


__ADS_3

Semua keluarga sedang berkumpul di ruang keluarga. Liana turun dari kamarnya dengan memakai gelang hadiah yang diberikan Vian. Semua keluarga mengejek Liana dengan pemberian Vian.


"Malam semua..." Liana datang langsung duduk.


"Dek, gelang baru ya" Lala langsung duduk disebelah Liana.


Diikuti oleh Riri "coba lihat dek" Riri langsung melihat tangan Liana.


"Mbak coba lihat mbak, ini gelang yang trend kemaren. Kemaren Riri kan datang jemput Fani kerumah mbak, yang Riri kasih lihat sama mbak. Ingat nggak mbak?" Riri antusias sekali.


"Oh iya, Ri, mbak ingat. Subhanallah dek, cantik bangat. Siapa yang kasih?" kata Lala sambil melihat gelang.


Liana gugup "hm... bang Vian mbak, kemaren dikasih katanya hadiah buat Lili".


Semua orang tersenyum "emang kenapa mbak, mas" Liana heran.


"Nggak kenapa-napa dek. Oya dek setelah ini adek mau kerja dimana?" tanya Dani.


Liana hanya diam dan menggelengkan kepala.


"Gimana di butik sama mbak" saran Riri.

__ADS_1


"Nggak mbak, itu sudah jadi milik mbak dan tugas mbak untuk menjaga wasiat bunda" Liana menolaknya.


"Kalau di kantor mas gimana?" saran Dani.


"Mas tahu kan kalau adek gak suka yang berhubungan dengan mesin" Liana menolak lagi.


Tiba-tiba datang Jeje keponakan ayah yaitu sepupu Liana anak dari adik ayah.


"Gimana kalau di perusahaan paman ayah mas" ucap Jeje.


Semua orang melihat Jeje "gimana Li?" tanya Jeje lagi sambil duduk.


"Aku nggak mau, meskipun itu perusahaan ayah aku gak mau berhubungan dengan kalian. Apalagi sama mas Andi, apa dia mengizinkan" Liana membantahnya.


Liana tersenyum kecut "pemikiran kamu sama mas Andi berbeda sekali, Je. Apa kamu gak tahu kalau mas Andi sudah mengambil sepenuhnya perusahaan itu. Makanya jangan kelamaan di Singapur sehingga ayah meninggal pun kamu tidak pulang".


"Maksud kamu, Li" Jeje tidak mengetahui kalau Andi kakaknya sudah memaksa Liana untuk tanda tangani surat kuasa pengalihan pemilik perusahaan. Sebenarnya perusahaan itu di atas namakan Liana. Sebulan setelah ayah meninggal Andi mengancam Liana dan kakaknya untuk mengambil perusahaan itu.


"Andi sudah mengambil perusahaan ayah, Je. Dia memaksa Liana untuk tanda tangan dan mengancam kita semua" jawab Dani.


"Apa! Tidak mungkin mas, itukan hak Liana" Jeje terkejut dengan apa yang didengarnya.

__ADS_1


"Itulah faktanya, Je. Sekarang kami harap kamu jangan ikut campur masalah kami" Riri kesal.


"Kalau gitu aku pulang dulu. Sebelumnya aku minta maaf mbak, mas, Li. Aku memang tidak tahu apa-apa mengenai semua ini" Jeje langsung pergi.


Setelah Jeje pergi mereka kembali diskusi mengenai tempat kerja Liana.


"Jadi gimana, mas? Liana tidak mau kerja di butik dan kantor mas. Lalu dimana adek akan bekerja" ucap Bagas.


"Kalau di toko kue mbak gimana, dek. Lagian mbak juga jarang disana. Mbak kan sibuk merawat ibunya mbak sama jaga Gio dan Fani" saran Lala.


"Iya, dek. Bagusnya adek kerja disana mengatur keuangan toko. Sekalian adek bisa belajar dan bisa buka toko juga nantinya" Dani setuju.


"Kalau di perusahaan Vian gimana, dek. Nanti mas bicara sama Vian, lagian adek kan termasuk arsitek dari kantornya" Saran Bagas.


"Bagaimana, dek?" tanya Riri.


Liana mencoba memikirkan "Kalau di perusahaan bang Vian pasti akan bertemu terus dengan Reza. Apalagi kalau ketemu sama karyawan cewek disana pasti akan banyak masalah. Lebih baik aku di toko kue mbak Lala aja".


"Liana di toko kue mbak Lala aja" keputusan Liana.


"Baiklah besok kita ke toko" ucap Lala.

__ADS_1


Setelah keputusan di ambil semua orang memberhentikan diskusi tersebut. Semua orang kembali ke kamar masing-masing untuk tidur.


*BERSAMBUNG


__ADS_2