
Setelah makan mereka masih duduk disana. Jeni langsung mengintrogasi kakaknya kenapa Jeni menangis. Karena kalau tadi di lanjutkan dia bertanya itu tidak akan pernah selesai. Sebab kakaknya yang nyebelin itu sangat suka berdebat sampai dia yang menang.
"Abang sayang, kenapa Lili tadi menangis?" Jeni melihat Vian.
Vian hanya diam "Jen, udah deh, gak usah bahas itu lagi. Aku gak apa-apa kok, tadi itu bukan salahnya bang Vian. Tapi tadi aku cerita kalau aku dimarahi sama pembimbing aku di kampus. Iya kan bang?" Liana yang menjawab.
Vian semakin bingung "kenapa nih anak. Kenapa dia berbohong apalagi ini sama Jeni. Dia pasti tahu kalau Jeni tidak bisa dibohongi. Kenapa dia suka sekali menyimpan masalahnya sendiri" kata hati Vian.
Jeni melihat sama Vian "aku tahu kamu bohong sama aku, Li. Tapi ini menyangkut abang aku, baiklah aku percayakan saja hari ini" kata hati Jeni.
"Kenapa kamu diam, Jen?" Sari melihat Jeni diam.
"Pasti kamu tidak percaya lagi sama Lili" sambung Kia.
"Bukan gitu, aku percaya kok. Tapi kalau sampai aku tahu ini semua karena abang. Awas aja abang" ancam Jeni pada Vian.
"Kamu mau ancam-ancam abang, awas saja uang jajang abang kurangi" Vian ancam balik.
"Siapa takut, aku udah kerja bisa cari uang sendiri" Jeni tidak takut dengan ancaman kakaknya.
"Ok, kamu tahu kan kerja sama siapa. Mulai hari ini..." Vian mengambil ponsel pura-pura nelvon Rey.
Jeni melihat Vian mengambil ponsel, dia sudah tahu pasti akan menelvon Rey buat memblok semua kartu debit Jeni.
"Jangan,, jangan.." Jeni mengambil ponsel Vian "baik, Jen minta maaf" Jeni ngambek.
__ADS_1
"Bang, tidak baik seperti itu sama adik sendiri. Meskipun dia kesal dia tetap sayang sama abang" Liana memberhentikan kakak beradik berdebat.
Mereka berdua langsung diam karena dapat teguran dari Liana. Jeni langsung mengembalikan ponsel Vian dengan ekspresi sama-sama kesal. Tiba-tiba ponsel Liana berdering.
"Assalamualaikum mbak"
"Waalaikumumssalam dek, adek masih di kafe?"
"Iya mbak, kenapa?"
"Mbak tidak bisa jemput adek karena mbak masih lama nih di butik"
"Ya udah gak apa-apa mbak. Nanti Li minta jemput mas Bagas"
"Mas Bagas lagi sibuk juga di rumah sakit katanya banyak pasien"
"Mbak Lala harus jagain Ibu sama Gio dan Fani, dek"
"Mas Dani?"
"Lagi ke luar kota, dek. Mbak udah minta tolong sama mereka tapi pada gak bisa"
"Kalau gitu adek pulang di anatar Jen aja nanti mbak"
"Ya udah, hati-hati ya dek. Minum obatnya jangan lupa" kata Riri sebelum mematikan telvonan mereka.
__ADS_1
"Siap yang nelvon Li, mbak Riri ya" ucap Kia.
"Iya, gak ada yang bisa jemput aku. Jen maukan antar aku pulang dulu" ucap Liana.
"Jeni harus antar kita ke kantor, Li. tadi dia yang jemput kita" sambung Sari.
"Gimana donk, aku pulang sama siapa" Liana cemberut.
Datang Vian dari toilet, waktu Liana telvonan tadi dia pergi ke toilet. Jeni langsung meminta Vian untuk mengantar Liana pulang. Semua orang langsung melihat pada Vian selain Liana yang menunduk.
"Kenapa kalian melihat saya" ucap Vian sambil duduk di sebelah Jeni dan Liana.
"Abang, abang bisa kan antar Lili pulang. Lili gak ada orang yang bisa jemput. Lili tidak boleh pulang sendiri dan membawa mobil sendiri. Ini bukan permohonan tapi ini perintah dari kita semua, iya kan guys" Jeni melihat sama sahabatnya.
"Nggak usah juga jelasin sedetil gitu. Aku udah tahu kok masalah penyakit Liana. Meskipun itu bukan permintaan atau perintah kalian abang akan tetap antar Liana. Sebab abang mau bicara sama Liana" jawab Vian sambil duduk.
"Abang mau bicara apa?" Jeni kepo.
"Kamu bisa nggak kepo" ucap Vian.
"Nyebelin, ayo guys kita pamit. Jangan lupa dibayar" ucap Jeni sebelum pergi.
"Iya bawel" teriak Vian.
Mereka langsung pamit sama Liana seperti biasanya. Liana langsung menyimpan barang-barangnya ke dalam tas.
__ADS_1
*BERSAMBUNG