Si Bungsu

Si Bungsu
68. Mimi


__ADS_3

"Sayang, kenapa kamu ingin Bagas datang kesini?" Vian bertanya pada Liana setelah dia menghubungi Bagas.


Liana duduk di sebelah Vian "nanti Max dan Mimi akan datang. Seperti yang aku ceritakan semalam apa yang terjadi sama Mimi sama seperti aku, bang".


"Oh.. sebentar lagi rumah sakit kita akan selesai. Nanti Mimi akan lebih mudah di obati disana" ucap Vian.


Max menemui Mimi yang sedang duduk menonton televisi. Max mengusap kepala Mimi dan duduk di sebelahnya.


"Papa sama mama kemana?" tanya Max.


"Udah pergi gak tahu kemana" Mimi masih fokus menonton.


"Ikut aku yuk" ajak Max.


Mimi melihat Max "kemana?".


"Ada seseorang yang ingin ketemu sama kamu" ucap Max.


"Aku gak mau kalau ketemu..." Mimi sudah menangis.


Max menggeleng kepala sambil menghapus air mata Mimi "tidak, ini orang yang berbeda. Kamu pasti senang kalau ketemu dia".


"Ya sudah aku siap-siap dulu" Mimi langsung pergi ke kamarnya.


Siang harinya Liana sedang memasak kue di dapur dengan pembantu. Tidak lama kemudian mereka mendengar suara bel rumahnya berbunyi.


"Mbok coba lihat siapa yang datang" ucap Liana.


"Baik nona" pembantu itu langsung pergi membuka pintu.


"Assalamualaikum mbok" ucap Max.


Mbok sedikit kaget "den Max, silakan masuk".

__ADS_1


"Kirain mbok tidak ingat sama aku lagi" ucap Max jalan beriringan masuk.


"Masih den, sudah lama ya aden tidak kesini" ucap mbok.


Vian keluar dari ruang kerjanya "siapa mbok?" tanya Vian.


"Ini tuan, temannya nona" ucap mbok.


Vian menghampiri mereka dan berkenalan "pasti kamu Max kan, kenalin saya Vian suami Liana".


Max membalas jabat tangan Vian "Max bos. Ini Mimi" mereka saling jabat tangan.


"Ayo duduk. Mbok buat minum ya dan suruh Lili kesini" perintah Max.


"Iya tuan" Mbok langsung pergi kedapur.


"Kamu bekerja di PN group ya, saya belum pernah melihat kamu. Baru kemaren Lili sama Rey beritahu saya kalau kamu kerja disana" ucap Vian sambil duduk.


"Iya bos, saya baru dua bulan kerja disana" jawab Max.


Mimi kaget melihat Liana "kak Lili..." Mimi langsung memeluk Liana. "Kak, ayah sama ibu kak.. aku tidak tahu dimana mereka.. kak bantu aku kak.. aku takut.." Mimi menangis ketakutan.


"Iya nanti kakak bantu, tapi kamu jangan nangis" Liana menenangkan Mimi sambil menghapus air matanya. "Ayo kita duduk, cerita sama kakak" Liana mengajak Mimi duduk.


"Mbok.." panggil Vian.


Pembantu datang dengan membawa air minum dan meletakan di atas meja.


"Sayang, kasih minum dulu" Vian memberikan minum pad Liana.


Mimi minum "ayo cerita sama kakak" ucap Liana.


"Mimi takut kak.." masih menangis.

__ADS_1


"Takut sama siapa, disini hanya ada kakak. Kenapa tidak temui kakak selama ini, kakak mencari kamu sama paman dan bibi" ucap Liana.


"Sebab..." Mimi masih bingung menceritakannya. Dia melihat sama Max, Max langsung mengangguk memberikan kode supaya Mimi mau menceritakannya.


Kemudian Mimi menarik napas "waktu itu aku pulang malam karena banyak tugas dari kampus. Sampai di rumah aku melihat banyak sekali orang berbadan besar di rumah. Aku ketakutan dan langsung masuk kedalam rumah. Sampai dalam rumah aku melihat ayah sama ibu berlutut sama mas Andi" Mimi menangis lagi.


"Lalu aku tanya sama mas Andi, dia malah membentak aku. Aku melihat mas Andi bersama temannya memaksa ayah buat tanda tangan sesuatu tapi ayah tidak mau. Jadi mas Andi membawa ayah sama ibu ke suatu tempat. Aku di tinggalkan sendiri bersama teman mas Andi. Kemudian teman mas Andi itu mendekatiku seperti kemasukan setan".


"Tidak lama kemudian ponsel teman mas Andi berdering dan ternyata panggilan dari mas Andi. Dia mengatakan 'lakukan sesuka kamu pada cewek itu, itu bonus yang aku bilang' lalu panggilan itu mati. Kemudian teman mas Andi merobek baju aku dan ingin melakukan sesuatu sama aku. Aku mencoba menghindar dan mendekati lemari yang ada pot bunga. Aku ambil pot tersebut aku pukulkan sama dia. Kemudian aku lari ke pintu belakang sambil menangis dan ketakutan" cerita Mimi sama Liana sambil menangis.


Liana memeluk Mimi dan menenangkannya "sekarang kamu jangan menangis lagi, sudah ada kakak".


"Mimi, boleh abang tanya" Mimi mengangguk "apakah kamu tahu siapa nama temannya Andi itu?" tanya Vian.


Mimi menggeleng "bagaimana bang? Berarti ada seseorang yang membantu mas Andi melakukan itu. Aku juga heran dimana mas Andi mendapatkan kekuatan untuk melawan paman. Berarti orang ini bukan orang biasa, bang" ucap Liana.


"Kamu benar sayang, setelah Andi bercerai dengan mbak Anis kita belum bisa juga mengambil perusahaan itu. Tapi kalau Andi menikah lagi, itu masih ada peluang. Sekarang kita harus cari siapa teman Andi ini dulu" kata Vian.


Vian menghubungi Rey dan Alex untuk datang ke rumah Liana.


"Sayang lebih baik bawa Mimi istirahat dulu, sepertinya dia memang trauma. Nanti kalau Bagas sudah datang, suruh dia memperiksanya" saran Vian.


Liana membawa Mimi istirahat di kamar tamu. Tidak lama kemudian Bagas datang dan menghampiri Vian dan Max di ruang tamu.


"Vian, mana adek?" tanya Bagas.


"Ada di kamar tamu bro. Oya kenalin ini Max teman Lili dan yang membawa Mimi kesini" ucap Vian.


Mereka saling kenalan dan salaman, kemudian mereka jalan bersama ke kamar tamu.


"Sayang bagaimana keadaan Mimi, ini Bagas sudah datang" ucap Vian.


Liana berdiri "mas, sepertinya Mimi trauma seperti adek. Tapi ini kelihatannya lebih parah dari adek. Sebab dia sempat mengalami percobaan pemerkosaan mas" ucap Liana.

__ADS_1


Bagas memeriksa keadaan Mimi, benar yang dikatakan Liana. Kalau Mimi trauma berat dan harus dipantau lebih baik lagi. Ini memang berbeda dari Liana yang hanya trauma batin dan perasaan. Sedangkan Mimi trauma fisik, batin dan perasaannya.


*Bersambung


__ADS_2