
"Semua silakan kembali bekerja dan saya minta maaf pada semuanya sudah mengganggu" ucap Liana dan semua orang kembali melakukan aktivitas mereka.
"Kamu terlalu baik, Li" Vian menghampiri Liana.
"Udahlah bang jangan dibahas. Ayo keruangan Lili" ajak Liana.
"Rey kamu tetap mencari tahu siapa mereka" Vian memberitahukan Rey.
"Baik bos" Rey langsung pergi.
Vian pergi keruangan kerja Liana dan Liana sudah menunnggu disana.
"Silakan duduk bang" ucap Liana.
Vian duduk "apa sekarang kamu belum juga mau memberitahu abang. Apa harus abang yang cari tahu sendiri".
"Bukan begitu bang, masalah Lili terlalu banyak. Apakah Lili sanggup nantinya, setiap kali Lili mengingatnya kepala Lili sakit bang".
"Apa kamu percaya sama abang?" Vian meyakinkan Liana.
__ADS_1
Liana mengangguk "trus apa lagi yang buat kamu ragu. Nanti kalau terjadi apa-apa sama kami abang kan ada disini membantu kamu" lanjut Vian.
"Baiklah Lili akan cerita. Mereka adalah teman-teman Lili waktu sekolah menengah. Jadi dulu Lili sangat dekat sama seorang cowok, namanya Max. Kita kemana-mana selalu berdua. Trus Max sering membantu Lili begitu juga Lili sebaliknya. Max ada pacar namanya Berbie, cewek yang mendorong Lili tadi. Jadi karena Lili sangat dekat dengan Max dia berfikiran Lili ini sebagai cewek perusak atau pengganggu hubungannya".
Liana menarik napas "sedangkan Lili sama Max memang tidak ada hubungan apa-apa selain teman. Tapi semua orang menganggap Lili sebagai perusak hubungan mereka. Max dekat sama Lili karena dia tidak ingin menyusahkan pacarnya sebab itu Max selalu minta tolong sama Lili. Lili juga pernah bilang sama Max jangan dekat-dekat sama Lili lagi karena Berbie tidak suka tapi Max tidak peduli".
"Waktu itu juga pernah mereka ketemu dengan Lili bersama sahabat kecil Lili dan pacarnya di mall. Berbie juga mengatakan pada mereka kalau Lili sebagai perempuan perusak. Sempat juga pacar sahabat Lili itu berfikiran seperti itu pada Lili. Tapi alhamdulillah Denis bisa menjelaskan sama pacarnya waktu itu" cerita Lili.
"Apa Max itu benar-benar sayang sama pacarnya itu?" tanya Vian.
"Lili gak tahu bang, yang Lili tahu sampai sekarang mereka masih bersama".
"Kalau menurut abang, Max itu tidak benar-benar suka ataupun sayang sama Berbie. Sebab dia lebih peduli sama kamu dari pada Berbie. Dia juga sering minta tolong sama kamu daripada pacarnya kan. Kalau memang Berbie itu segalanya baginya dia pasti minta tolong sama kamu" penjelasan Vian.
"Gimana perasaan kamu setelah cerita sama abang?" Vian melihat raut wajah Liana tidak berubah sama sekali tetap fresh.
"Liana merasa lebih tenang, bang"
"Itu yang abang bilang, kalau kamu percaya sama teman curhat kamu pasti akan aman saja" Liana mengangguk.
__ADS_1
"Makasih bang" Liana tersenyum.
"Apa abang boleh tanya lagi?" Liana mengangguk.
"Apa kamu pernah ada rasa suka sama Max waktu itu?"
Liana melihat sama Vian "munafik lah Lili kalau bilang tidak bang. Siapa yang tidak suka jika seseorang itu selalu memberikan kebaikan sama kita dan selalu membantu kita".
Vian mengangguk paham "kalau sampai sekarang".
Liana tersenyum "ya nggak lah bang, dia lebih baik sama orang lain dari pada sama Lili yang penyakitan ini. Lagian rasa suka itu sudah hilang sewaktu Lili lulus".
Vian mengangguk "nanti cerita sama abang mengenai sahabat kecil kamu ya. sepertinya menarik mendengar cerita itu. Apakah dia sekarang masih sama pacarnya itu?".
Liana menggeleng "tidak bang. Dia sudah menikah dengan orang lain dan punya anak seumuran Fani".
"Sekarang abang harus pergi, nanti cerita sama abang ya mengenai mereka" ucap Vian.
"Oke bang, hati-hati ya" Liana tersenyum.
__ADS_1
Vian langsung pergi dari tokoh dan Rey sudah menunggu di parkiran.
*BERSAMBUNG