
Jeni turun dari kamarnya mau makan malam. Jeni melihat pembantu dan momy nya sibuk di dapur. Jeni langsung menghampiri mereka di dapur.
"Mom, ada acara apaan? Kok banyak sekali makanan?" tanya Jeni.
"Mendingan kamu bantu momy bawa ini kemeja makan sebelum tamu spesial abang kamu datang" momy memberikan makanan berisi masakan pada Jeni.
"Siapa mom tamu spesial abang?" Jeni kepo.
"Nanti kamu juga tahu, mendingan taru disana" momy menunjuk meja.
Tiba-tiba datang Jeje bersama Rey "assalamualaikum" kata mereka bersamaan.
"Waalaikumussalam" momy dan Jeni melihat siapa yang datang.
Jeni kaget "Jeje... ngapain disini?"
"Diundang bang Vian buat makan malam disini" jawab Jeje.
"Jangan bilang kamu tamu spesial abang. Kak Rey abang mana?" tanya Jeni.
"Sebentar lagi bos datang Jen. Oya mom kenalin ini Jeje pacar Jeni" Rey memperkenalkan Jeje.
Jeje salaman dengan momy "jadi ini pacar Jen kata abang" jawab momy.
Jeje hanya tersenyum "kak Rey... coba jelasin" Jeni kesal sama Rey.
"Lebih baik kamu ganti baju sana, gak malu sama pacar kamu pakaian seperti itu" ledek Rey.
Jeni melihat penampilannya dan malu "kak Rey..." Jeni langsung berlari ke kamarnya.
Momy, Rey, dan Jeje tersenyum melihat tingkah Jeni. Sewaktu mereka tertawa datang daddy.
"Apa yang kalian tertawakan?" tanya daddy.
"Itu Jen di ledek Rey dad" jawab momy.
"Dad kenalin ini Jeje pacarnya Jen" Rey memperkenalkan Jeje.
"Jeje om" Jeje bersalaman dengan daddy.
"Jadi karena ini Jen lari tadi dan di ledek Rey" ucap daddy.
"Iya dad" ucap Rey.
"Ayo kita duduk di depan sambil menunggu Vian datang" ajak daddy.
__ADS_1
"Kalian pergi aja dulu, nanti momy suruh bibik antar minum. Momy harus menyelesaikan ini semua" ucap momy.
Mereka langsung duduk di ruang keluarga, tidak lama kemudian bibik datang membawa minum dan snak.
"Dimana kamu kenal dengan Jeni, Je?" tanya daddy.
"Sebenarnya kita dulu satu SMA om, tapi baru beberapa bulan yang lalu kita ketemu kembali om" jawab Jeje.
"Je, dad, aku mau ke kamar ganti baju dulu. Lanjut aja bicaranya" Rey pergi ke kamarnya.
"Kalau kerja kamu dimana?" tanya daddy lagi.
"Dulu saya kerja bersama kakak saya om tapi sekarang saya lagi cari kerjaan lain. Ingin mencari pengalaman di tempat lain om".
Daddy mengangguk "kenapa gak tanya sama Vian, dia kan banyak perusahaannya tuh. Mungkin ada satu tempat kosong buat kamu" ucap daddy.
"Iya om, nanti coba Jeje tanya" Jeje canggung.
"Minum dulu" pinta daddy.
Mobil Vian berhenti di rumahnya, Liana kaget "bang, ini kan rumah abang, ngapain kita kesini".
"Kita akan makan malam sama keluarga abang, maaf abang gak bilang" ucap Vian.
"Sekarang beda, kalau dulu kamu hanya sahabat Jen. Kalau sekarang kamu tunangan abang" jawab Vian.
Liana kaget "apa!"
"Apa mas Dani gak bilang sama kamu, kalau mas Dani, mbak Lala, Riri dan Dimas sudah menerima lamaran abang".
Liana menggeleng "mereka tidak ada bilang".
"Mungkin mereka lupa atau belum sempat. Sekarang abang yang bilang, mau gak kamu jadi tunangan abang?" Vian mengeluarkan cincin dari saku celananya.
"Abang ambil ini dulu, abang harus tahu sebuah rahasia Lili dulu. Kalau abang bisa menerima Lili nantinya baru Lili mau jadi tunangan abang. Sekarang kita harus masuk, kasihan momy dan daddy nunggu lama" jawab Liana.
"Oke kalau gitu" Vian memasukkan cincin kedalam celananya. "Nanti setelah acara ini kamu harus jelasin sama aku" ucap Vian.
"Baik bang" mereka turun dari mobil.
Mereka jalan masuk dan ketemu sama daddy dan Jeje yang sedang berbicara di ruang keluarga. Rey keluar dari kamarnya dan Jeni melihat Rey mau jalan menuju tangga.
"Kak Rey.. tunggu.." panggil Jeni.
"Iya, kenapa Jen" Rey melihat Jeni.
__ADS_1
Jeni menghampiri Rey "ada apa sebenarnya ini kak, kenapa tiba-tiba?"
"Ini tidak apa-apa kok Jen, cuma makan malam doang. Ayo kebawah Vian sudah datang tuh sama seseorang" ucap Rey.
"Siapa kak?" tanya Jeni kepo.
"Makanya turun" mereka turun bersamaan.
Vian dan Liana datang, mereka langsung bersalaman dengan daddy, momy dan Jeje.
"Kamu disini juga Je?" tanya Liana.
"Iya Li, tadi di jemput sama asisten Rey" ucap Jeje.
"Kalian udah saling kenal?" tanya momy.
"Mereka sepupu mom" ucap Jeni yang datang bersama Rey.
"Jen..." Liana senang.
Mereka langsung berpelukan "jadi ini tamu spesial abang itu" ledek Jeni.
"Kamu tuh juga ada yang spesial yang datang. Oya mom, dad, bilang sama Jen kalau udah cocok langsung nikah aja" ucap Vian.
"Abang ini, abang dulu baru Jen" Jeni kesal.
"Udah.. udah.. ayo kita langsung makan aja" daddy memberhentikan mereka.
Mereka langsung pergi ke meja makan, disana sudah tersedia berbagai macam jenis masakan.
"Pantasan momy tadi masak ikan yang banyak, biasanya sea food terus" ucap Jeni.
Vian memukul Jeni "kamu ini, makan aja yang ada, bawel bangat".
"Kak Rey.. lihat abang" Jeni mengadu sama Rey.
"Bos gak malu sama Lili dan Jeje" ucap Rey.
"Kamu Rey jangan sering manjain bocah itu, lambat dewasanya nanti" Vian sebal.
Liana memegang tangan Vian, Vian melihat Liana "udah.. ayo makan" ucap Liana.
Semuanya langsung berhenti dan kembali melanjutkan makannya.
*BERSAMBUNG
__ADS_1