
"Kamu punya kakak Jen?" ucap Sari.
Jeni melihat pada sahabatnya "iya. Jadi aku belum pernah cerita ya sama kalian"
Mereka pada menggeleng "oh iya aku lupa. Soalnya dia tidak pernah pulang, sudah hampir 10 tahun dia tidak pulang ke Indonesia. Semenjak dia pindah sekolah menengah dulu dia sudah menetap di London dengan om aku. Setelah dia lulus sekolah menengah dia langsung sambung kuliah S1 sama S2 disana. Sambil kuliah dia juga membuka usaha sendiri, makanya dia gak mau pulang. Tadi daddy nelvon bilang kalau dia pulang hari ini. Aku nggak tahu kenapa dia pulang mendadak seperti ini" cerita Jeni.
"Terus kenapa kamu kesal gitu dengan abang kamu itu Jen?" tanya Liana.
"Kalian belum kenal aja sama dia, aku punya abang satu-satunya dan jarang pulang lagi. Siapa yang nggak ingin dimanja dan diperhatikan seperti kalian pada. Sewaktu aku datang liburan kesana dia malah sibuk dengan perusahaannya. Kalau tidak sibuk bekerja dia sibuk pacaran sama cewek matre, egois, bar-bar, dan pokoknya menyebalkan deh. Kalian tahu nggak aku juga pernah melihat pacarnya itu selingkuh dan ciuman dengan musuh abang aku sendiri. Waktu itu aku pernah bilang sama abang aku itu dia tidak percaya sama aku dan marah-marah sama aku. Jadi semenjak itu aku malas datang kesana menemuinya. Meskipun daddy sama mommy maksa aku kesana aku tidak pernah mau. Dan kalian tahu nggak beberapa bulan yang lalu aku dikasih tahu sama sepupu aku yang disana kalau dia udah putus sama cewek bar-bar itu. Katanya dia ketahuan pacaran dengan abang aku hanya karena uangnya saja dan ingin memanfaatkan abang aku aja. Semenjak itu juga abang aku yang menyebalkan itu sering bangat telvon aku tapi nggak pernah aku layani sebab aku terlalu kecewa padanya" Jeni sangat kesal menceritakan mengenai kakaknya pada sahabat-sahabatnya.
"Ush.. nggak boleh gitu Jen. Meskipun kamu kesal atau sebal sama abang kamu itu dia tetap sedarah sama kamu. Mungkin dia tidak bermaksud buat kamu kecewa dan mungkun ada alasan lain yang buat dia bersifat sepertu itu" Liana menasehati Jeni.
Semua orang melihat ke arah Liana "kenapa kalian memandang aku seperti itu".
"Alhamdulillah Liana kita yang bawel sudah kembali" ucap Jeni dengan bangganya.
__ADS_1
"Iya, kita senang lihat kamu kembali bawel seperti ini lagi, Li" sambung Sari.
"Kamu memang yang terbaik" puji Kia.
"Iya makasih. Oya Jen, sudah jam berapa? Gak jadi kamu ke bandara?" Liana mengingatkan Jeni sambil melihatkan jam tangannya.
Jeni kaget dan langsung panik "gimana nih, 10 menit lagi dia mendarat. Li, kamu pulang sama Sari dan Kia bisa?".
"Iya gak apa-apa Jen, kamu ke bandara aja nanti kita yang antar Liana sampai rumah" jawab Kia.
Sahabatnya geleng-geleng kepala melihat tingkah Jeni yang panikan orangnya.
Liana diantar pulang oleh Sari dan Kia. Sedangkan Jeni masih terkena macet di jalan ke bandara. Ponselnya selalu berdering karena abangnya selalu menghubunginya dan menanyakan dia ada dimana.
Sampai di bandara Jeni langsung mencari abangnya sambil menelponnya.
__ADS_1
"Kusut, aku disini" Vian memanggil Jeni.
Jeni mendengar suara abangnya yang memanggil kusut langsung marah sama abangnya. Dia langsung menoleh dan menghampiri abangnya dengan mulut dimajukan tandanya kesal sama Vian.
Vian langsung menarik mulutnya Jeni "yang marah itu bukannya kamu. Tapi aku karena sudah hampir setengah jam aku menunggu kamu disini..ingat disini".
"Siapa suruh juga balik nggak bilang-bilang" Jeni mengalihkan pandangannya.
"Iihh gayanya lagi sok manja. Bukannya minta maaf atau salaman sama abangnya tapi ekspresi sepertu itu".
Jeni tersrnyum "oh iya Jen lupa" Jeni langsung salaman dan memeluk abangnya. "Maaf bang, tadi Jen lagi makan sama sahabat-sahabat Jen. Jadi waktu mau kesini jalan macet parah makanya terlambat".
"Udahlah its Ok. Mana kunci mobil biar abang yang bawa mobilnya" Vian mengulurkan tangannya minta kunci.
Jeni memberikannya "let's go.."
__ADS_1
*BERSAMBUNG