Si Bungsu

Si Bungsu
24. Dia Siapa?


__ADS_3

Raut wajah Liana tidak juga berubah, dia kelihatan semakin tertekan dan berkeringat. Vian dan Rey terus memperhatikan tingkah Liana. Vian juga memperhatikan Reza yang sekali-kali terus memperhatikan Liana. Liana juga menghabiskan banyak air mineral. Karena itu memang kebiasaan Liana jika dia merasa tertekan dan gelisah.


"Sampai disini rapat kita hari ini, mulai besok kita mulai pembangunannya. Selamat sore!" Vian menutup rapat karena dia tidak tega melihat raut wajah Liana semakin tertekan.


"Selamat sore bos" ucap semua orang.


Satu persatu orang meninggalkan ruangan meeting. Tinggal Liana, Vian, dan Rey di rungan tersebut.


"Liana, apakah kamu merasa tertekan berada disini?" tanya Vian.


"Nggak, emang kenapa?"


"Tuh yang di depan kamu, sudah berapa botol kamu minum dari tadi. Coba lihat raut wajah kamu seperti ada masalah" ucap Vian.


Liana tidak menjawab, dia hanya menunduk.


"Kalau gitu kamu ke ruangan abang dulu, ada yang mau abang tanyakan?" Liana langsung berdiri dan jalan pergi duluan.


"Rey, coba kamu cari tahu ada hubungan apa Liana sama si Reza tuh" perintah Vian sama Rey.


"Baik bos" Rey mengikutinya di belakang.


Setelah rapat Reza kembali ke ruangannya. Sampai di ruangannya dia masih memikirkan Liana sambil melamun.


"Kenapa Liana ada disini, apa hubungannya dengan bos Vian. Katanya menggantikan mas Bagas dalam proyek ini tapi semenjak kapan Liana mau ikut dalam masalah proyek".


Tiba-tiba teman kerja Reza menghentikan lamunannya.

__ADS_1


"Bro.." memukul bahu Reza.


Reza baru sadar "hai bro, what?"


"Bagaimana hasil rapat barusan, apa bos masih belum mendapatkan desain yang sesuai dengan keinginannya?" teman Reza duduk di depannya.


"Sudah bro, desainnya sangat bagus dan berbeda dari desain-desain yang lain"


Teman Reza kaget "yang benar bro. Siapa nama arsitek dan dimana dia kerja?"


Reza menggeleng-geleng "tidak tahu bro, dirahasiakan".


"Kok bisa seperti itu, nggak biasanya bos main rahasia-rahasia seperti ini. Ini kan kesempatan yang bagus buat perusahaan" merasa heran.


"Gue cuma lihat inisial aja di bawah desain tersebut 'Lj'. Itu yang gue fikirkan sampai sekarang seperti ada something special dalam desain itu" cerita Reza.


"Masuk..." jawab Vian dari dalam.


Ternyata sekretaris Vian datang membawa file penting untuk minta tanda tangan Vian.


"Bos maaf ganggu, ini ada file yang harus di tandatangani" ucap Sarah sekretaris Vian.


Vian mengambil file dan langsung tandatangan, setelah ditandatangan diberikan lagi sama Sarah.


"Ini Sar, setelah ini kamu boleh pulang".


"Baik bos" Sarah langsung pergi dan tersenyum pada Liana, Liana juga membalas dengan senyum.

__ADS_1


"Oh ya Li, ada yang mau abang tanyakan?" Vian memulai percakapan.


"Tanya aja bang" Liana sibuk dengan ponselnya.


"Abang tadi lihat raut wajah kamu ketika kamu ketemu Reza. Ada hubungan apa kamu dengan Reza" Vian mulai tanya apa yang disimpan dari tadi.


Liana hanya diam tidak merespon apa yang ditanyakan Vian. Dia mendengar semua apa yang ditanyakan Vian.


"Kenapa diam, abang tahu pasti ini semua ada hubungannya dengan penyakit kamu kan!" kata Vian lagi.


Liana masih tetap diam, tidak ingin menjawabnya.


"Liana, kamu dengar abang apa nggak sih" Vian mulai kesal tapi Liana masih diam.


"Liana..." bentak Vian.


Liana kaget "iya, dia penyebab saya seperti ini. Dia juga meninggalkan saya disaat saya sedang membutuhkannya. Dia juga pacaran sama saya hanya karena ingin memanfaatkan saya. Puas... abang puas..." Liana berteriak sama Vian.


Liana langsung menangis dengan histerisnya. Kemudian dia merasa kepalanya sakit dan dia memegang kepalanya sambil menangis. Vian khawatir melihat Liana yang menangis histeris dengan memegang kepalanya.


"Liana... Liana... sadar, sadar Li, Lili..." Vian langsung memegang pundak Liana tapi Liana masih tetap menangis. Terpaksa Vian memeluk Liana sehingga dia berhenti menangis.


"Abang minta maaf, bukan maksud abang buat kamu seperti ini" Vian melepaskan pelukannya setelah Liana mulai tenang.


"Sekarang kamu harus tenang, kalau kamu udah siap silakan cerita sama abang. Tapi jika kamu belum siap jangan fikirkan itu lagi" saran Vian.


Liana mengangguk dan menghapus air matanya. Karena Liana sudah mulai tenang, Vian memberikannya minum. Kemudian Vian baru mengantarkan Liana pulang kerumahnya.

__ADS_1


*BERSAMBUNG


__ADS_2