
Rey masuk ke rumah Vian untuk menjemput Vian. Jeni jalan turun tangga dari kamarnya melihat Rey masuk. Jeni langsung menghampiri Rey karena merasa curiga dengan kedatangan Rey kerja malam-malam. Apalagi malam minggu yang biasanya Vian membebaskan tugas Rey.
"Kak Rey, kerja juga di malam minggu?".
Rey menunduk tanda menghormati Jeni "iya non".
"Kak Rey, Jen kan udah pernah bilang jangan panggil Jen 'non' . Panggil nama aja, kakak kan sahabat abang aku. Siapa juga di rumah ini anggap kakak sebagai pekerja abang" Jeni kesal sama Rey. Karena Rey selalu memanggil Jeni dengan sebutan 'non'. Jeni dan keluarganya tidak pernah menganggap Rey sebagai pekerja tapi anak angkat dari orang tuanya. Sebab Rey anak yatim piatu yang diselamatkan dan ditolong sama ayahnya. Rey juga yang menemani Vian dari kecil sampai sekarang.
"Iya Jen, maaf kebiasaan" Rey sambil tersenyum.
"What ever, jawab dulu pertanyaan Jen. Mau kemana kakak sama abang?"
"Mulai deh keponya ni anak" kata hati Rey. "Mau makan malam, Jen".
"Makan malam? Mencurigakan!"
Vian melihat Rey bicara dengan Jeni. Vian langsung menghampiri mereka karena Vian sudah tahu pasti Rey di introgasi oleh Jeni karena keluar malam minggu.
__ADS_1
Vian langsung menarik telinga Jeni "kusut.. kebiasaan.."
Jeni melihat Vian sambil memegang telinganya dan tersenyum "abang.. maaf.. lepasin bang, sakit.."
Vian melepaskan tangannya "kalag gak kepi bisa gak?". Vian melihat Rey "dan loe, Rey. Jangan selalu manjain nih anak dan jawab pertanyaannya yang gak penting itu".
"Sorry bos" Rey minta maaf.
"Ayo kita berangkat, gak usah dengarin nih anak" ajak Vian.
"Bang, makan malam sama siapa? Aku boleh ikut gak?" teriak Jeni.
Di dalam mobil menuju rumah Liana, Vian mengamati jalan kesana. Vian merasa ini bukan jalan ke rumah Bagas melainkan ke rumah mertua Bagas.
"Rey, ini bukan jalan ke rumah Bagas kan?" tanya Rey.
"Iya bukan bos, ini jalan ke rumah mertua Bagas. Katanya semenjak mertuanya meninggal, mereka tinggal disana menemani adik iparnya".
__ADS_1
"Kenapa harus mereka, bukannya ada kakak tertuanya kalau gak salah".
"Kakak tertua tinggal di rumah mereka bos, sebab jarak perusahaannya lebih dekat dari sana. Lagian kakaknya itu juga merawat mertuanya yang sedang sakit juga. Mereka sekali-kali juga tidur di rumah utama itu, bos. Lagian kan Bagas dokternya si bungsu makanya kalau tiba-tiba si bungsu kenapa-napa kan lebih mudah juga bos" penjelasan Rey.
Vian mengangguk-angguk tanda mengerti. Kemudian dia heran kenapa Rey banya tahu mengenai keluarga mereka.
"Tunggu, kenapa loe tahu semua itu, Rey?" Vian merasa bingung.
"Bos lupa Bagas sahabat aku juga. Tadi waktu dia kirim alamt aku juga heran dan aku tanya kenapa. Sebab bos pasti akan nyuruh aku buat cari tahu juga kan. Sebelum itu makanya aku cari duluan" jawab Rey yang masih fokus menyetir.
"Oh iya juga, loe emang sahabat dan anak buah yang mengerti aku" pujian Vian.
"Dasar penjilat" ucap Rey.
Mereka langsung tersenyum bersama sebab Rey merasa pujian dari Vian itu hanya cemooh. Dia tidak pernah serius kalau ingin memuji Rey pasti ada maksud dari setiap perkataannya itu.
Tidak lama kemudian mereka sampai di rumah Liana yang lumayan besar. Tapi lebih besar rumah Vian yang seperti istana. Mereka langsung keluar dan memencet bel rumah tersebut.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian terbukalah pintu yang dibuka oleh Liana. Vian langsung tertegun melihat orang dibalik pintu tersebut.
*BERSAMBUNG