
***
Setelah mendapatkan respon dari Luna, segera Lily memberitahukan nama rumah sakit tempat Winston dirawat. Lalu dengan sangat cepat Luna berlari meninggalkan ruangan itu.
Namun segera dikejar oleh Lily.
"Aku, aku akan mengantarmu, tapi, tapi bukan berarti aku sedang membantu mu. Anggap saja ini adalah permintaan maaf ku mengenai penculikan mu saat malam itu!" ketus Lily gugup dan langsung menuntun Luna kearah mobilnya.
Setelah beberapa saat, Luna dan Lily sampai di rumah sakit tempat Winston di rawat.
Luna langsung berlari secepat mungkin dan bertanya ke resepsionis ruangan Wisnton berada. Luna sesaat lupa akan traumanya, yang ada di pikirannya sekarang hanyalah Winston.
Sesaat setelah mendapatkan nomor ruangannya, Luna langsung berlari secepat mungkin. Sesaat setelah sampai di ruangan dia bisa melihat Winston sudah berada dikasur pasien dan di dahinya ada balutan perban.
"Nyonya Luna?" ucap Rean keheranan saat melihat Luna berada di ruangan itu. Dan ekspresi nya terlihat sangat ketakutan.
Mendengar nama Luna membuat Winston menoleh ke arah pintu dan barulah ia melihat jika Luna sudah berada disitu.
"Kenapa kau bisa ada disini?" tanya Winston kebingungan. Karena menurutnya Luna masihlah belum sembuh dari traumanya. Jadi bagaimana mungkin Luna bisa sampai di ruang sakit ini.
Tanpa menghiraukan perkataan Winston, Luna langsung berlari dengan sangat cepat dan memeluk Winston.
"Kau, kau membuatku sangat takut. Jika kau pergi, aku akan kemana? apakah kau ingin aku menjadi janda muda?" tanya Luna sembari menangis dengan sangat keras diruangan itu.
Dengan sadar diri, Rean langsung menyingkir dari ruangan itu. Rean sadar sebentar lagi pasti ruangan itu akan dipenuhi kisah cinta antara Winston dan Luna.
"Sebelum aku merasa kesepian, aku harus bergegas pergi dari ruangan ini" gumam Rean dalam hati, dan langsung pelan-pelan keluar dari ruangan itu.
"Astaga!" decak Rean terkejut saat menemukan Lily sedang mengintip dari luar.
__ADS_1
"Kenapa kau disini?" tanya Rean kearah Lily yang sedang mengintip itu.
"Bukan urusanmu!" decak Lily tidak menghiraukan Rean yang sedang bertanya itu.
"Cih, galak sekali. Sudahlah kau sudah tidak punya kesempatan, menyerah lah!" decak Rean santai sembari berlaku untuk duduk di kursi dekat pintu keluar ruangan itu.
"Aku tahu itu, kau diamlah!" jawab Lily langsung melotot kearah Rean yang sedang duduk santai di luar itu.
***
"Sayang, kau baru saja berbicara kan? apakah kau sungguh berbicara? apakah aku sedang berkhayal?" tanya Winston dengan ekspresi wajah yang sangat bahagia. Ekspresi wajah seolah sedang memenangkan sebuah lotere.
"Kau diamlah, kau membuatku sangat takut! aku hanya berbicara, tidak ada hal yang mengejutkan dari itu!" ketus Luna masih menangis dan memeluk suaminya itu.
"Kau sungguh berbicara denganku seperti biasa. Kau tahu, aku sangat ketakutan akhir-akhir ini? aku takut kau tidak akan pernah berbicara lagi, aku takut kau sungguh akan tertidur koma seperti yang dokter katakan." Jawab Winston memeluk Luna dengan erat.
Saat ini, Winston sangat bahagia. Luna sudah bisa kembali berbicara normal dengan dirinya. Saat ini Winston ingin sekali menghentikan waktu dan melupakan semua masalah dan ingin berbagi kebahagiaan hanya dengan Luna seorang.
Bahwa yang saat ini Luna takutkan adalah bukan hal lain, melainkan kehilangan Winston.
"Terimakasih sayang, kau memilih berjuang bersamaku. Apakah kau tahu sekarang aku sangat bahagia?" ucap Winston tanpa melonggarkan sedikit pun pelukannya dari Luna.
***
Lily yang sedari tadi mengintip itu sekarang sudah berjalan semabri menangis kearah bangku yang dekat dengan ruangan itu.
"Huhu" Lily menangis sampai sesenggukan. Yang membuat dia sangat sedih adalah, bahwa Lily sudah tahu jalan hidup Luna yang sangat menyedihkan itu dari Tuti dan Nani.
Lily merasa bersalah, selama ini telah menambahkan beban hidup Luna yang sangat menyedihkan itu.
__ADS_1
"Kenapa kau menangis seperti anak kecil? sudah kukatakan kau sudah tidak ada ruang untuk mendapatkan bos." ucap Rean gelang-gelang melihat Lily menangis sampai sesenggukan.
"Kau diamlah! Kenapa kau masih ada disini? mengganggu pemandangan! aku menangis juga bukan urusanmu!" ketus Lily malah menyalurkan kekesalannya pada Rean.
"Aku disini karena aku adalah assistennya bos Winston, kau sendiri kenapa kau masih disini?" tanya Rean tidak mau kalah.
"Aku, aku, huaaaaa, aku tidak tahu," tangisan Lily semakin keras, hal itu membuat Rean geleng-geleng. Baru kali ini dia melihat wanita yang sangat cengeng seperti Lily.
***
"Sayang, banyak sekali hal yang ingin ku bicarakan dengan mu, aku juga ingin meminta maaf untuk banyak hal padamu juga. Tapi saat ini aku sangat lelah, dan hanya ingin beristirahat seperti ini denganmu," ucap Winston memeluk Luna, karena memang Luna sudah ikut terbaring di kasur tempat Wisnton.
"Kita masih punya banyak sekali waktu, kita akan bersama selamanya, jadi lebih baik kau istirahat dulu. Karena aku juga punya banyak hal yang ingin ku bicarakan denganmu," balas Luna dengan lembut sembari memejamkan matanya di dada bidang Winston.
Karena memang Luna berjanji pada dirinya akan menceritakan semua fakta yang ia ketahui pada Winston, tapi tidak sekarang. Luna ingin menikmati waktu yang tenang ini sebentar.
Luna tidak tahu, jika fakta yang ingin Luna bicarakan dengan Winston sudah Winston ketahui dari bibinya Nonik.
Akhirnya mereka tenggelam dalam kehangatan masing-masing. Hari-hari yang mereka lalui beberapa hari ini sungguh lah melelahkan. Apalagi Winston yang mengalami kekurangan tidur akibat masalah yang datang secara beruntun itu.
***
Beni sungguh syok dan tersungkur ke lantai saat menemukan jika Nonik sudah menyerahkan dirinya ke polisi.
Beni sungguh tidak menyangka jika istrinya sekejam itu, bahkan sampai abangnya kehilangan nyawa.
Memang Nonik sudah menyerahkan dirinya sendiri ke kepolisian. Karena memang tadi Rean sudah mengancam dirinya.
Nonik mengakui semua kesalahannya di hadapan polisi itu, dan hal itu sudah menjadi berita utama di media massa saat ini.
__ADS_1
Karena kasus kematian Lea, istri pria terkaya nomor lima di dunia itu