
Flashback off.
Tring ... Tring ... Tring
"Loh, kenapa nomor Luna menghubungi ku?" ucap Rendi keheranan melihat Luna menghubungi dirinya, padahal Luna sedang bersama dengan dia dirumah sakit.
"Halo! siapa ini?" ketus Rendi curiga terhadap orang yang menghubungi dirinya itu.
"Dimana Luna?" teriak Winston dengan sangat tergesa-gesa.
"Oh itu kau rupanya! hei sialan, kau bukan hanya pintar menyiksa Luna tapi juga sangat tidak bisa melindungi dirinya dari preman-preman kampung yang tadi menculik dirinya. Beraninya kau mencari Luna! kau tidak pantas!" ketus Rendi langsung mematikan sambungan telepon tersebut.
***
"Sialan! sialan! apa yang sudah kalian perbuat pada Luna?" teriak Winston pada pria-pria yang sedang tergeletak di lantai itu.
"Kalian akan membayarnya seribu kali lipat. Hidup kalian akan kuperas sampai mati!" ancam Winston dengan ekspresi yang sangat menyeramkan. Dia belum pernah semarah ini sebelumnya.
Lalu, segera Winston memanggil para anggotanya menuju gedung itu dan menyiksa orang-orang yang berada di ruangan itu.
Sedangkan Winston, dia menyuruh Sean melacak keberadaan Luna sekarang berada di rumah sakit yang mana.
Tanpa menunggu lama, Sean sudah bisa menemukan keberadaan Luna. Dia berada di rumah sakit yang tidak jauh dari letak gedung kosong itu, sepertinya tadi Rendi sangat terburu-buru membawa Luna ke rumah sakit, jadi tidak terlalu mementingkan kualitas rumah sakit tersebut.
Dengan sangat cepat Winston mengendarai mobilnya menuju rumah sakit tersebut. Ada perasaan marah namun lega di hati Winston, setidaknya Luna masih baik-baik saja. Walaupun yang menyelamatkan dirinya adalah Rendi, tapi tidak apa-apa, selama Luna baik-baik saja maka tidak masalah.
Sesampainya dirumah sakit, Winston berlari menuju ruangan yang tadi sudah Sean berikan padanya.
__ADS_1
Sesaat setelah sampai di pintu ruangan, Winston bisa melihat Rendi terduduk dikursi dekat pintu masuk ruangan itu.
"Kau! jika kau tidak bisa menjaganya, maka lepaskanlah dia!" decak Rendi sembari menarik kerah Winston dengan sangat kasar sesaat setelah dia melihat Winston sudah berada disitu.
"Terimakasih, aku tidak tahu harus mengungkapkan apa lagi, tapi terimakasih telah menyelamatkan dirinya!" ucap Winston dengan jujur pada Rendi.
Winston tidak akan bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Rendi tidak menyelamatkan Luna tadi, mungkin seumur hidup Winston tidak akan memaafkan dirinya.
Mendapat respon tidak terduga seperti itu membuat Rean sedikit bingung, seingat Rean, Winston adalah orang yang sangat pecemburu dan memiliki emosi yang tidak stabil. Tapi barusan walaupun Rendi menyelamatkan Luna, Winston sama sekali tidak marah, malahan Winston berterimakasih padanya.
"Sialan! aku menyelamatkan Luna karena memang aku mencintainya. Kau tidak usah berterimakasih padaku! aku tidak akan menyerah mendapatkan Luna, sebaiknya kau mempersiapkan dirimu!" ketus Rendi melepaskan cengkeramannya dan berlalu pergi.
Karena Rendi merasa hari ini Luna terlihat seperti bukan dirinya, sedari tadi Luna hanya memanggil nama Winston. Dan juga Luna sangat takut bertemu dengan orang lain, bahkan melihat dokter sekalipun dirinya takut.
Jadi, hari ini Rendi akan memutuskan kembali dulu. Dia tidak ingin Luna merasa tidak nyaman akan kehadirannya.
***
"Sayang, kau baik-baik saja? maafkan aku, maafkan aku," ucap Winston berlari memeluk istrinya itu. dipeluknya Luna dengan sangat erat. Bahkan air matanya pun menetes, padahal sudah lama sekali Winston tidak pernah menangis.
"Winston, tolong bawa aku pergi dari sini! tolong, banyak sekali orang disini, aku takut," ucap Luna dengan nada yang sangat bergetar.
Hal itu membuat Winston sangat kebingungan, apalagi saat Winston melihat ekspresi wajah Luna yang terlihat sangat ketakutan membuat pertanyaan yang besar dipikiran Winston.
"Tunggu sebentar lagi sayang, aku akan membawamu pulang. Tapi sebelum itu aku mau berbicara dengan dokter sebentar, bisakah kau menungguku disini?" tanya Winston dengan lembut pada Luna. Karena memang Winston ingin menanyakan perihal keadaan Luna pada dokter yang tadi memeriksa Luna.
"Jangan lama-lama, aku takut," balas Luna menunduk, namun tubuhnya masih gemetaran.
__ADS_1
"Iya, aku tidak akan lama, beristirahatlah sebentar lagi," ucap Winston dengan lembut sembari mengecup dahi Luna. Dan menuntun Luna untuk kembali berbaring di kasur rumah sakit itu.
Setelahnya Winston langsung bergegas menanyakan kebagian admistrasi mengenai dokter yang memeriksa Luna tadi.
Lalu setelah mendapatkan informasi itu, Winston langsung pergi menuju ruangan dokter itu.
***
"Bagiamana keadaan istri saya dok?" tanya Winston kepada dokter yang duduk di hadapannya itu.
"Kalau untuk pasien sendiri, luka luarnya tidaklah bermasalah. Dalam beberapa hari pasti akan sembuh. Namun, sepertinya dia mengalami syok psikologis yang sangat parah, saya sarankan untuk membawa pasien berobat ke dokter spesialis psikologis. Karena kalau tidak, dia akan selamanya takut melihat orang, dan akan tertidur dalam pikirannya sendiri," dokter yang terlihat sudah berumur itu menjelaskan dengan terperinci pada Winston.
"Maksudnya tertidur dalam pikirannya sendiri apa ya dok? kalau dia takut dengan orang, lalu mengapa dia tidak takut padaku?" tanya Winston kebingungan. Menurut Winston penjelasan dokter itu begitu ambigu dan sulit dipahami.
"Maksud saya, jika pasien masih berlarut dalam pikirannya, dan syok psikologisnya tidak disembuhkan. Maka pasien akan tertidur koma dan akan hidup hanya dalam pikirannya saja, lalu mengenai mengapa dia tidak takut pada anda, mungkin karena menurutnya anda adalah sosok yang paling aman dan membuat pasien merasa terlindungi."
Jawaban dokter sungguh membuat Winston terkejut.
"Koma? apa yang sudah ia alami tadi? mengapa bisa jadi separah ini? mengapa dia tiba-tiba mengalami syok psikologis? jika ini diakibatkan oleh para preman tadi, maka akan ku habisi mereka dengan tanganku sendiri. Dan juga dalang dari semua ini akan mati ditangan ku!" decak Winston sembari berjalan lunglai menuju ruangan Luna.
***
"Winston, kenapa lama sekali? aku takut! jangan tinggalkan aku lagi, aku tidak mau," ucap Luna sembari menangis ketakutan saat ia melihat Winston sudah berada di ruangannya.
"Maafkan aku sayang, ini salahku karena tidak bisa menjagamu dengan benar. Maafkan aku," ucap Winston dengan lembut sembari memeluk Luna yang sedang bergetar ketakutan itu.
Lalu, segera Winston membawa Luna ke mansionnya. Sebelum pulang, Winston terlebih dahulu memesankan pada pak Roni, agar semua pelayan dipindahkan dulu ketempat lain. Yang boleh tinggal hanya Tuti dan Nani saja.
__ADS_1