
***
"Aahhhh ... brengsek! jangan mendekat!" teriak Rena pada beberapa laki-laki yang berada di hadapannya.
"Dimana Winston? aku ingin berbicara dengan nya. Dia tidak boleh melakukan ini padaku. Dimana dia?" Rena berteriak histeris, dia tidak rela dirinya dicampakkan dan ayahnya disiksa.
"Aku bersumpah akan membalaskan dendamku! aku bersumpah, jika aku tidak bisa memiliki mu. Maka orang lain juga tidak boleh! lihat saja Winston!" teriak Rena lemah dan segera pingsan.
Karena memang Rena diberikan pelajaran oleh anggota Winston dengan cara mengikatnya dan menaruhnya di kolam es yang sangat dingin.
Pagi hari di mansion Winston.
"Ahhh, kepalaku pusing sekali." Luna merasa kepalanya begitu sakit dan dia merasa ada perasaan nyeri di kedua pangkal pahanya.
__ADS_1
"Aaargghhhh." Luna berteriak sesaat setelah ia menyadari jika dirinya sedang tidak mengenakan busana. Juga banyak sekali tanda-tanda biru ditubuhnya, apalagi di bagian dadanya. Dia sudah terlihat seperti macan tutul sekarang.
Dengan sigap Luna pelan-pelan melepaskan rangkulan tangan Winston dari tubuhnya, dia ingin sekali cepat mandi, karena dia merasa tubuhnya sangat lengket dan pegal dibagian pinggang.
"Srekk." Lagi-lagi Winston menarik Luna dan Winston dengan sangat cepat sudah menindih Luna.
"Ahh, lepaskan ... berat." Balas Luna sembari mencoba melepaskan diri dari Winston yang terlihat sedang marah.
"Sayang, kau harus tanggung jawab padaku! apakah tadi malam kau tidak mengingat apapun? Kau memaksaku melakukan itu padamu. Padahal aku sudah menolaknya."
"Hiks ... apa yang sudah kulakukan tadi malam? lalu normalnya bukankah yang harus meminta pertanggungjawaban itu adalah pihak perempuan? ini kenapa dia yang meminta pertanggungjawaban padaku? hiks."
Ditengah kegundahan hati Luna, dia mencoba mengingat-ingat kejadian semalam. Dan muncullah beberapa potongan ingatan saat Luna memaksa melepaskan baju Winston, dan saat Luna memaksa mencium Winston. Dan Luna jelas-jelas baru mengingat, jika Winston benar-benar menolaknya saat itu.
__ADS_1
"Tidak ... tidak ... tidak, bayangan malam pertamaku tidak seperti ini. Aku membayangkan seorang pangeran dan tempat yang indah untuk melakukannya, tidak seperti ini."
Tetapi bagaimana pun nasi sudah menjadi bubur, sesuatu yang sudah terlepas itu sudah tidak bisa kembali lagi.
"Tunggu ... tunggu ... tunggu, jadi inti dari semua ini adalah jika Winston sungguh menolak ku, dan aku yang memaksa nya? Hahaha! Luna kau sungguh bodoh, dimana harga dirimu yang tinggi itu? aarggghhh ... mau di taruh dimana lagi wajahku ini? TIDAK!" Luna sungguh ingin menghilangkan ingatan tadi malam.
"Sayang, jangan banyak bergerak dibawah sana, apa kau mau kejadian tadi malam terulang lagi sekarang? Tapi maaf saja aku sedang sangat kelelahan akibat tindakan mu tadi malam. Nanti saja kita Lanjut. Setelah sarapan." Ucap Winston dengan entengnya, seolah hal itu merupakan hal yang biasa-biasa saja.
"APA INI MAKSUDNYA? apakah dia menolak aku lagi? untuk yang kedua kalinya? eh, tapi Luna, bukan itu konteksnya. Kau bodoh! kau seperti menginginkannya juga! arggghh, tidak bisa dibiarkan!" gumam Luna pada dirinya sendiri.
"Winston, jangan menggodaku lagi, aku ingin mandi. Lepaskan aku!" ucap Luna dengan sangat pelan.
"Lihatlah, kau selalu saja membantah apa yang ku katakan, jangan kira masalah semalam bisa lepas begitu saja. Aku benar-benar akan menghukum mu dengan benar kali ini, tetapi tunggu aku mengumpulkan energi ku dulu. Bisa-bisanya kau berada di hotel tadi malam." Ucap Winston sembari mendekap Luna semakin erat.
__ADS_1
"Hiks ... hiks, bukankah yang seharusnya merasa rugi disini adalah aku? kenapa dia mau menghukum aku lagi? dan lagi dia tidak membiarkan ku bergerak sedikitpun. Hiks."
Luna merasa dirugikan, tetapi yang meminta tanggung jawab malah bukan dia, kebalikannya, Luna malah akan mendapatkan hukuman dari Winston.