
***
Pertemuan antara Winton dan orang-orang Wira Hermanto terbilang lancar, Wira Hermanto sama sekali tidak meragukan ataupun mencurigai Winston sedikitpun.
Memang Pertemuan kali ini diatur hanya untuk membahas mengenai pembelian saham oleh Winston ke perusahaan Wira. Perusahaan Wira memang sangat membutuhkan suntikan dana saat ini, dan hal itu diketahui oleh Sean. Jadi mereka mendekati Wira Hermanto melalui jalur bisnis.
***
"Saya sangat bersyukur Tuan Winston, ternyata anda adalah orang yang sangat dermawan dan baik hati. Buktinya anda memberikan suntikan dana yang cukup besar untuk perusahaan saya," ucap Wira sembari mengangkat gelas berisi wine ke atas. Dia ingin melakukan selebrasi atas kerja sama antara Winston dengan dirinya.
"Tentu saja Tuan Wira, saya adalah orang yang bisa melihat peluang bisnis yang menjanjikan. Kita akan melihat selanjutnya akan menjadi apa kerjasama kita ini," balas Winston dengan senyum yang begitu dingin. Dia juga mengangkat gelasnya, agar Wira tidak curiga terhadapnya.
Sedangkan Sean dan Rean yang juga berada di ruangan itu sudah hampir tidak bisa menahan diri mereka. Apalagi Sean, ekspresinya sudah menunjukkan ekspresi yang begitu marah.
Bagaimana tidak, setelah melihat wajah Wira Hermanto dengan jelas, mereka kembali mengingat kejadian memilukan yang mereka terima dari Wira Hermanto.
***
Dulu Sean dan Rean adalah dua kakak beradik yang hidup bersama ibu mereka. ibu mereka bekerja sebagai wanita penghibur di sebuah klub malam. Jadi Rean dan Sean adalah anak yang tidak tahu ayahnya siapa. Menurut ibu mereka, Rean dan Sean adalah sebuah kesalahan yang terlahir ke dunia ini.
Namun meski begitu, Rean dan Sean saling melengkapi satu sama lain. Meski mereka kerap di siksa oleh ibu mereka, mereka tetap berusaha menjadi anak yang baik.
Dengan usia yang begitu kecil, mereka sudah bekerja serabutan. Apapun perkejaan yang bisa menghasilkan uang akan dikerjakan oleh mereka berdua. Apalagi sang kakak Rean, dia rela bekerja dengan sangat keras agar nanti adiknya bisa sekolah.
Setelah mereka berdua selesai bekerja serabutan, kerap kali tengah malam Rean pergi keluar untuk melakukan pekerjaan tambahan. Rean sungguh sadar bahwa ibu mereka tidak akan menyekolahkan mereka berdua. Jadi Rean berinisiatif sendiri mencari dan mengumpulkan uang tambahan agar kelak adiknya bisa sekolah. Walupun dia tidak bisa, setidaknya adiknya bisa merasakan pendidikan.
Sampai pada suatu ketika, saat Rean pergi bekerja ditengah malam. Dia pulang begitu subuh, sesampainya di rumah dia menjumpai ada darah dimana-mana. Dengan tubuh yang gemetaran dia tetap masuk kedalam rumah itu. Karena adiknya masih berada didalam rumah.
__ADS_1
Alangkah terkejutnya Rean saat melihat ibunya sudah bersimbah darah tertunduk disebuah sofa dekat televisi. Dia juga melihat ada beberapa pria berbadan besar sembari merokok berdiri di ruangan itu.
Belakangan Rean tahu jika ibunya telah dihajar oleh rentenir, karena ibunya tidak mampu membayar hutang-hutang yang ia pinjam dari mereka. Akibat perbuatan ibu mereka yang begitu tidak bertanggung jawab Rean dan Sean lah yang menanggung akibatnya.
Untung saja saat Rean mencari adiknya Sean, Sean baik-baik saja. Dia hanya sedang ketakutan duduk di sudut ruangan. Rean berlari memeluk adiknya yang sedang ketakutan itu.
Tapi setelah beberapa saat, pria-pria berbadan besar itu melakukan panggilan telepon kepada seseorang. Entah apa yang mereka bicarakan, namun pandangan mereka tertuju pada Rean dan Sean.
Belakangan Rean dan Sean tahu jika rentenir itu memutuskan membawa Rean dan Sean untuk dijual di pasar gelap. Saat pria-pria berbadan besar itu membawa mereka berdua Rean memohon kepada ibunya.
"Ibu, tolong aku. kalau tidak biarkan Rean saja yang dibawa, jangan ikut membawa adikku. Tolong Ibu, aku berjanji akan menjadi anak yang lebih baik lagi. Tolong Ibu," Rean berteriak meminta tolong pada ibunya yang sedang duduk tertunduk di sofa.
Namun ibunya bahkan tidak menoleh, dia hanya tertunduk dan terdiam. Teriakan putranya itu seolah tidak bergema di telinganya.
"Hei anak kecil, jangan berteriak lagi. Kalau kau tetap berteriak aku akan menghabisi mu sampai pingsan. Kau harus melihat ibumu itu, itu adalah orang yang disebut sebagi pengecut!" teriak salah seorang pria berbadan besar yang menyeret mereka berdua pergi itu.
***
Wira Hermanto membeli mereka saat usia Rean 6 tahun dan Sean 5 tahun. Namun dengan sangat tidak manusiawi Wira menyiksa mereka habis-habisan.
Wira Hermanto sengaja membeli mereka untuk memuaskan amarahnya dengan cara memukul ataupun melakukan penyiksaan yang lain. Kadang tanpa alasan mereka harus dipukuli habis-habisan hanya karena Wira Hermanto sedang badmood.
Bertahun-tahun lamanya Wira Hermanto menyiksa mereka, memaki-maki mereka dengan cacian yang seharusnya anak kecil tidak boleh dengar. Namun karena memang Rean dan Sean adalah anak yang kuat, mental mereka malah dibangun oleh hinaan dari Wira itu. Mereka menjadi kebal akan siksaan dan juga makian.
Hal itu membuat Wira bosan, dia hanya merasakan puas jika anak yang ia siksa menangis ketakutan ataupun memohon ampun. Namun, Rean dan Sean nampaknya sudah kebal akan hal itu.
Jadi, Wira memutuskan menjual Rean dan Sean di pasar gelap lagi, Wira ingin mendapatkan anak yang lain yang akan merasakan ketakutan jika dipukul olehnya.
__ADS_1
Itulah cerita singkat mengenai perjalanan hidup Rean dan Sean sebelum diselamatkan oleh Winston. Percaya atau tidak masih banyak anak-anak yang sangat kurang beruntung di luaran sana. Tidak seberuntung Rean dan Sean yang bertemu dengan Winston secara kebetulan.
***
Melihat Wira Hermanto tertawa dengan sangat puas menggoreskan dendam yang amat sangat dihati Sean dan Rean. Ingin sekali mereka menghabisi Wira Hermanto saat ini juga.
Namun, bukan begitu cara bermain yang benar. Cara bermain yang benar bukanlah membunuh lawan, namun membuat lawan memohon untuk dibunuh.
Transaksi bisnis yang dilakukan oleh Winston dan Wira Hermanto terbilang sangat lancar. Berbeda dari dugaan Winston, ternyata Wira Hermanto sama sekali tidak menaruh curiga pada dirinya. Hal itu tentu saja menguntungkan pihak Winston.
Dalam satu minggu Winston dan rekannya akan menjatuhkan Wira Hermanto secara diam-diam dan membuatnya merasakan penderitaan yang Rean dan Sean rasakan.
Winston memang tidak menanyakan perihal apa saja yang Rean dan Sean alami, namun karena dulu Winston juga mendapatkan penyiksaan dari ayahnya membuat Winston mengerti seluruhnya perasaan Rean dan Sean. Apalagi sekarang Rean, Sean dan Lani sudah ia anggap sebagai saudaranya.
Diperjalanan pulang.
***
"Bos, saat kita sudah mengakuisisi semua saham Wira Hermanto, tolong biarkan aku dan Sean mengurus sisanya," ucap Rean kepada Winston yang sedang duduk di kursi belakang.
"Baiklah Rean, untuk sisanya akan aku serahkan padamu. Tapi ingat jangan membuat kasus ini tercium oleh umum," ucap Winston memperingati Rean.
"Baik Bos, akan kami bereskan secara diam-diam. Oh ya, apakah Bos akan menemui Nyonya Luna sekarang?" tanya Rean dengan hati-hati. Jika memang iya, agar mobil yang ia bawa ditujukan ke apartemen Winston, bukan ke mansion.
"Tidak! aku tidak ingin menemui dirinya sekarang, dengan emosiku yang sedang tidak stabil ini takutnya aku akan melukainya lagi," Winston menolak tawaran Rean untuk membawanya ke apartemen tempat Luna berada sekarang.
Hal itu membuat Rean senang, dia merasa bosnya itu sudah berubah sedikit demi sedikit. Sekarang dia lebih menghargai Luna dan tidak ingin melukainya.
__ADS_1