
1 bulan kemudian.
Banyak hal terjadi selama 1 bulan. Lily pun sudah kembali ke kota dimana Winston tinggal. Sedangkan Luna sudah harus masuk ke perguruan tinggi, dia mengambil jurusan arsitektur.
Memang Luna bercita-cita ingin menjadi seorang arsitek. Dia ingin sekali membangun sebuah rumah, rumah yang akan menjadi tempat ia pulang.
Luna sadar dia tidak akan bersama Winston selamanya, Luna juga sadar, dasar dari hubungan mereka berdua sudah salah sedari awal. Luna yang memang membutuhkan biaya dan perlindungan, dimana Winston membutuhkan seseorang yang menghibur dirinya. Luna sadar betul posisinya, dan Luna sadar harga yang akan dia bayar untuk semua fasilitas dan keamanan yang diberikan Winston untuknya. Jadi, sebenarnya hubungan ini hanyalah hubungan bisnis yang menguntungkan kedua belah pihak.
Oh ya, mengenai pelatihan bela diri yang diusulkan Winston tidak jadi terlaksana, karena setiap ada pelatih yang bersentuhan dengan Luna, maka pelatih itu akan dipecat dan dihajar oleh Winston. Sungguh Winston memang sangat arogan dan egois.
Di mansion Winston.
***
"Sayang, mulai lusa kau akan tinggal di apartemen dulu ya, ada hal yang harus aku urus." Ucap Winston sembari memeluk Luna yang sedang berdiri di balkon itu.
"Baiklah." Jawab Luna tanpa berpikir panjang, Luna sadar jika ia tidak bisa membantah ataupun menolak.
"Sial, gadis ini sedikit pun tidak mempertanyakan alasannya. Apakah dia sama sekali tidak peduli? apakah aku sama sekali tidak bernilai di hatinya? cih!" gumam Winston kesal mendapati respon Luna yang sama sekali tidak menolak ataupun mempertanyakan alasan mengapa Luna harus pindah ke apartemen Winston.
Memang alasan Winston adalah untuk melancarkan rencana yang memang menjadi tujuan hidupnya, ingin menguak perihal kematian ibunya. Caranya adalah dengan mendekati Lily Rolex, Winston sangat yakin dari semua bukti yang telah ia kumpulkan, semuanya mengarah pada keluarga Rolex yaitu Gale Rolex.
"Kenapa kau tidak bertanya mengapa aku ingin memindahkan mu ke apartemen?" tanya Winston melepaskan pelukannya dari Luna, dan sekarang sedang berdiri berdampingan menghadap ke langit yang gelap itu.
"Aku tidak tahu alasanmu kenapa aku harus pindah ke apartemen itu lagi. Tapi jika bisa memilih aku akan memilih tinggal di apartemen, karena ukurannya tidak sebesar mansion ini. Aku juga tidak ingin menjadi seorang wanita yang menyebalkan yang selalu menanya tentang segala sesuatu hal. Aku yakin kau punya alasan mu sendiri." Jawab Luna berterus terang.
"Cih, apasih yang kuharapkan dari gadis ini? bukankah bagus jika dia tidak bertanya alasannya? tapi kenapa hatiku tidak senang? kenapa aku ingin dia cemburu dan bertanya banyak hal?" gumam Winston kesal mendengar jawaban Luna, dia ingin respon yang lebih dari Luna, dia ingin Luna bertanya banyak hal padanya.
"Sudahlah hari ini aku lelah, aku akan tidur. Kau pun jangan terlalu lama diluar, bukan kah besok hari pertama mu masuk kuliah?" ketus Winston sembari meninggalkan Luna dan Pergi tidur ke kasur.
__ADS_1
"Ada apa lagi dengan si Winston ini? apakah aku membuat nya kesal? dasar! sudah dewasa tapi masih labil. Seingat ku, aku tidak mengatakan sesuatu yang salah, juga tidak melakukan kesalahan!" gumam Luna keheranan melihat sikap Winston yang sedang kesal barusan.
Di kediaman Rendi.
***
"Rendi, kau sudah memutuskan untuk memilih jurusan arsitektur?" tanya Hana kepada Rendi, Hana adalah Ibunya Rendi.
"Iya Ibu, setelah berfikir cukup lama aku memutuskan mengambil jurusan itu." Jawab Rendi sopan kepada Ibunya.
Mereka sekeluarga sedang duduk di ruang tamu bersama.
"Ayah tidak peduli jurusan apa yang kau pilih, tapi ingat untuk tetap mempelajari bisnis keluarga ini, aku tidak ingin mewariskannya kepada siapapun. Dan kau setiap harinya harus ke perusahaan. Apa kau mengerti?" Tegas Bima Anggara pada putranya Rendi.
Memang keluarga Anggara memiliki bisnis yang sangat maju di bagian entertainment, mereka sekeluarga memang sangat terpandang dan juga sangat kaya.
"Bagus kalau kau sudah mengerti. Oh ya mumpung sedang membicarakan bisnis, Ayah sudah memilihkan pasangan untukmu. Kau dekati lah dia, dia berasal dari keluarga yang terpandang, Ayah lihat anaknya juga cantik. Cocok untukmu." Bima menimpali jawaban dari putranya itu.
"Ayah, aku masih muda, biarkan aku memilih pasanganku sendiri, aku sudah memiliki seseorang yang ku sukai. Tolong hargai privasiku." Jawab Rendi dengan suara yang meninggi dan langsung meninggalkan ruangan tamu itu dan segera berlalu ke kamarnya.
Tetapi sebelum sampai di kamarnya,
"Rendi, kau tahu kan Ayah tidak suka ditentang, dan kau pun pasti tahu konsekuensi dari menentang ku." Ucap Bima memberikan peringatan pada putranya itu.
Tapi Rendi tidak menggubrisnya dan tetap berlalu menuju kamarnya, Rendi bukan anak kecil lagi yang harus mengikuti setiap perintah ayahnya yang keras itu.
Keesokan harinya di kampus X.
Acara penyambutan mahasiswa baru berjalan dengan lancar, dan selesai acara penyambutan Luna ingin langsung pulang. Luna tidak ingin mendapatkan masalah dengan Winston jika Luna berlama-lama disini.
__ADS_1
Tetapi sesaat setelah Luna hendak pulang,
"Luna Manis ... hehe." Rendi menyapa Luna seperti biasanya dengan guyonan yang mengajak Luna bercanda.
"Eh ... Rendi apa kabar? hehe." Luna menjawab dengan was-was, Luna takut perjumpaannya dengan Rendi ini malah membuatnya berdebat dengan Winston lagi.
"Kamu mau kemana? aku antar pulang ya."
"Tidak usah Rendi, aku sudah ada yang mengantar, trimakasih tawarannya." Balas Luna buru-buru pergi dari tempat itu.
Melihat sikap Luna membuat Rendi sedih, dia merasa dijauhi lagi oleh Luna. Apalagi dalam satu bulan ini, Rendi benar-benar tidak bisa menghubungi Luna sama sekali. Tetapi Rendi tidak akan menyerah, dia sudah memilih menyukai Luna, maka dia akan berjuang untuk itu.
Didalam perjalanan pulang Luna mengirimkan pesan kepada Winston mengenai perjumpaannya dengan Rendi.
"Winston, tadi di kampus aku bertemu dengan Rendi, dia satu fakultas denganku. Dia hanya menanyai kabarku saja, jangan khawatir."
Itulah isi pesan Luna, dia tidak ingin nanti Winston salah paham dan malah berakhir berdebat dengannya.
Diwaktu yang sama di Kantor Winston.
"Cih, bocah ingusan itu masih saja tidak menyerah mengejar wanitaku." gumam Winston sebal saat membaca pesan dari Luna.
"Hei, Apakah Winston ada di ruangan nya?" tanya Lily dengan sombongnya ke resepsionis gedung itu.
"Maaf Nyonya, boleh tahu apakah sebelumnya sudah membuat janji dengan Beliau?" tanya resepsionis itu sopan.
"Kau tidak tahu siapa saya? saya ini tunangan bosmu. Kalau kau tidak membiarkan aku masuk, akan ku suruh kau dipecat sekarang juga." Bentak Lily dengan angkuhnya pada resepsionis itu.
Mendengar itu sungguh membuat resepsionis itu gemetar ketakutan. Untung saja Rean kebetulan lewat dan segera membereskan keributan itu.
__ADS_1