Simpanan Pria Arogan

Simpanan Pria Arogan
Hubungan Yang Semakin Rumit


__ADS_3

***


Setelah beberapa saat, Winston sadar jika Luna tidak kunjung muncul ke permukaan, dengan perasaan takut, dia masuk ke dalam kolam dan menarik tubuh Luna dari dalam air.


dengan cepat Winston merasakan denyut nadi Luna, dan saat dirinya memeriksa jika denyut nadinya masih normal membuat Winston merasa lega.


Winston bisa melihat dengan jelas wajah pucat Luna, hal itu mengingat kan Winston akan pertemuan pertamanya dengan Luna, saat itu, ekspresi wajah yang di tampilkan Luna sama persis dengan ekspresi wajah yang sekarang, terlihat sangat lemah dan putus asa.


Winston menggendong Luna kembali masuk ke dalam mansion, dibersihkannya tubuh Luna dengan air hangat, dan digantinya pakaian Luna dengan hati-hati.


Saat semua sudah selesai, Winston membaringkan Luna di tempat tidurnya, lalu dikompres nya dahi Luna dengan lembut.


Winston duduk di samping Luna, di perhatikannya wajah Luna yang pucat itu.


"Apa yang harus kulakukan padamu? Aku sangat membencimu karena aku sama sekali tidak bisa melepaskan mu, bahkan dengan janji yang sudah ku jaga selama hidupku pun tidak bisa membuatku meninggalkan mu! dari semua manusia di dunia ini, kenapa harus kau? kenapa ayahmu harus membunuh ibuku?" bisik Winston pada telinga Luna yang berada di sisinya itu.


Sebelum bertemu dengan Luna, Winston tidak pernah ragu dalam hidupnya, tujuan hidup Winston hanya satu, dirinya harus menyelidiki mengenai kematian ibunya, jika benar ibunya dibunuh, maka Winston bersumpah akan menghabisi pembunuhnya, dan membuat sanak saudaranya menderita.


Winston merasa takdir telah mempermainkan dirinya, Winston merasa telah mengkhianati ibunya karena tidak sanggup melepaskan Luna, sejak kehadiran Luna dalam hidup nya, Luna seperti telah menyihir Winston, pelan tapi pasti, Luna membuat Winston tidak bisa melepaskan Luna.


"Aku bersumpah tidak akan pernah melepaskan mu, seumur hidupku ini kau harus tetap berada di sisiku." Bisik Winston dan langsung ikut berbaring di samping Luna. Di peluknya Luna dengan sangat erat, dia sudah sangat merindukan pelukan itu, sudah hampir seminggu dia tidak memeluk Luna di kasur seperti ini.


***


Pagi hari di mansion Winston,


Luna membuka kedua matanya, dia melihat sekitar dan langsung menyadari jika ruangan itu adalah kamar Winston.


"Ahh, kepalaku pusing sekali." Keluh Luna saat hendak memposisikan dirinya untuk duduk.


"Pusing? kau baru tahu rasanya pusing? saat tadi malam kau di kolam, kenapa kau tidak berdiri? Kau sengaja kan? Kau ingin membuat ku merasa bersalah jika kau mati!"

__ADS_1


"Cepat jelaskan, kenapa kau tidak mau bangkit berdiri dari kolam tadi malam?" bentak Winston yang sedari tadi sedang duduk di kursi yang berada dekat dengan tempat tidur.


"Aku lelah, hidup ini terlalu berat untuk ku, aku hanya ingin melepaskan semuanya, bukan kah kau juga menginginkan nyawaku? bukankah kau sangat membenciku? kenapa tidak kau biarkan saja aku tenggelam, kenapa kau selalu saja mengganggu ku, bahkan saat aku sudah menyerah dengan hidupku, kau tetap saja mengganggu ku. Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?"


Luna berteriak ke arah Winston, tubuhnya bergetar, dia sudah muak di permainkan oleh pria ini.


"Prangggg," Winston langsung melempar kan gelas yang memang sedari tadi ia pegang, suara pecahan gelas yang begitu kuat, membuat Luna takut dan terdiam.


"Sayang, kenapa kau selalu lupa? bukankah aku sudah mengatakan padamu? jika dirimu adalah milikku, semuanya milikku, hidup dan mati mu pun juga milikku, seumur hidup ku ini, kau hanya boleh berada di sisiku."


Bisik Winston yang langsung menerkam Luna sampai terjerembab jatuh ke kasur.


"Kau gila, kau sangat arogan, lepaskan aku!" Keluh Luna saat Winston memegangi kedua tangannya dengan sangat kuat.


"Gila? iya sayang, aku memang sudah gila karena mu, seharusnya aku sudah membunuh dirimu, tetapi aku tidak mampu, kau adalah orang pertama yang membuatku mengingkari janjiku dengan ibuku." Bisik Winston membenamkan tubuhnya di atas tubuh mungil Luna.


Tidak menyerah, Luna tetap memberontak, dia coba sekuat tenaga untuk melepaskan cengkraman tangan Winston darinya, tapi tenaga yang begitu lemah dan kecil sungguh lah tidak sebanding dengan kekuatan Winston.


Winston mulai mencium leher Luna, lalu di gigit nya di sana agar meninggal bekas.


Tanpa menghiraukan tangisan Luna, Winston tetap melancarkan aksi nya.


"Bagian mana yang sudah di sentuh oleh Rendi tadi malam? hmm?" bisik Winston lagi.


"Apakah dia juga sudah melihat tubuh polos mu seperti ini? apakah dia sudah tahu daerah sensitif mu? Apakah dia mencium mu di bagian ini juga?" Ucap Winston dengan pelan sembari melancarkan aksinya.


"Tolong jangan di lanjutkan, aku mohon padamu, tidak ada yang terjadi antara aku dan Rendi tadi malam, dia hanya mencoba menyelamatkan ku saja, karena aku pingsan di tengah jalan." Luna mencoba menjelaskan pada Winston apa yang sebenarnya terjadi hari itu, dia sangat tidak nyaman mendapati perlakuan kasar Winston ini terhadapnya.


"Bagus, tubuhmu ini hanya aku yang boleh melihat dan merasakannya, jika ada yang berani menyentuhnya, maka orang itu akan merasakan neraka." Balas Winston menghentikan aksinya, dia kembali merapikan kemejanya dan segera berlalu ke luar pintu kamar.


Tetapi sebelum pergi ....

__ADS_1


"Aku harus pergi ke kantor sekarang, nanti para pelayan akan membawakan makanan dan obat untuk mu, ingat untuk menghabiskan nya, menjaga nyawa dan tubuhmu juga adalah tugas yang kuberikan padamu, jadilah gadis ku yang baik dan penurut selama aku pergi."


Sesaat setelah Winston mengucap kan itu, ia langsung berlalu pergi meninggalkan Luna.


Sesaat setelah nya, Luna mendengar ketukan dari arah pintu kamar,


"Nyonya Luna, ini aku Nani." Seru Nani dari luar pintu dan langsung masuk ke dalam kamar itu, Nani sudah lengkap membawa makanan dan juga obat yang tadi Winston pesan kan untuknya.


Tanpa berfikir panjang, Luna langsung melahap makanan itu, dia juga tidak lupa meminum obatnya, dia tidak ingin nantinya bermasalah lagi dengan Winston karena hal sepele.


"Uhmm ... Nyonya Luna apakah baik-baik saja?" Nani bertanya dengan lembut dan sangat hati-hati, ia takut jika pertanyaannya ini akan mempengaruhi mood Luna.


"Panggil aku Luna."


"Emm ... Iya Luna, apakah dirimu baik-baik saja?" Nani bertanya lagi untuk yang kedua kalinya.


"Aku baik-baik saja kok Nani, tadi malam hanya sedikit demam, kenapa kau bertanya seperti itu?" jawab Luna menyelidik.


"Soalnya tadi malam kami semua tidak di ijinkan tidur oleh Tuan Winston, dia sangat panik saat kamu demam, selama bertahun-tahun aku bekerja disini, tidak pernah Tuan Winston sepanik itu, Tuan Winston juga begadang semalaman demi menurunkan demam mu."


Nani sedang menjelaskan kericuhan yang terjadi tadi malam, bagaimana Winston memarahi semua orang yang berada di mansion ini, karena tadi malam demam Luna tak kunjung turun.


"Braakkkk," suara pintu yang terbuka dengan sangat keras memecahkan percakapan tenang antara Luna dan Nani, Lily yang memang sudah sangat kesal masuk ke ruangan itu dengan emosi yang meluap-luap.


"Wanita murahan, sampai kapan kau mau terus berpura-pura lemah dan sakit seperti ini? kau bahkan berani tidur di kasur tunangan ku, aku saja belum pernah, dasar pelakor, tidak tahu malu!" teriak Lily sembari dengan kasar menarik selimut yang sedang Luna kenakan.


"Ho? jadi, kau belum pernah tidur di ranjang ini? yah, kau bisa mengataiku murahan atau apalah, tapi yang Winston inginkan adalah diriku, buktinya hanya aku yang diperbolehkan tidur di kamarnya, kalau kau ingin menyingkir kan aku, kau harus berusaha lebih keras."


"Dasar murahan, tidak tahu diri, aku yakin Winston hanya mempermainkan mu, kalau tidak, kenapa kau di jadikan simpanan?" teriak Lily hendak menampar wajah Luna.


Tetapi, dengan cepat dan sigap Luna menepis tangan Lily.

__ADS_1


"Nona, ayo kita buat kesepakatan, coba kau minta dan yakinkan kepada tunanganmu itu untuk melepaskan aku, jika kau mampu membuatnya melepaskanku, maka akan ku akui kemampuanmu dan kau boleh menamparku sebanyak yang kau mau."


"Tapi, jika kau tidak mampu meyakinkan Winston untuk melepaskanku, maka kau harus menerima tamparan dariku, bagaimana menurutmu? bukan kah itu adil?" Luna tidak mau di tindas oleh orang lain, sudah cukup dia menerima penindasan dari Winston.


__ADS_2