
***
Setelah memastikan ada mayat di mobil yang hangus itu, pria itu pun kemudian menelepon Urek Heit untuk melaporkan tugasnya yang sudah tuntas.
“Halo Pak, wanita yang bernama Nonik sudah tewas sekarang, semuanya berjalan sesuai dengan rencana,” ucap pria itu melapor pada Urek Heit.
“Hahaha, bagus sekali! Sekarang semua bukti sudah hangus, yang tahu akan kejahatanku hanyalah dia seorang, aku akan mengatur semuanya agar terlihat seperti kecelakaan. Kau pergilah dari tempat kejadian, jangan melakukan sedikit pun kesalahan!” tegas Urek Heit pada suruhan kepercayaan nya itu.
Urek sangat yakin, jika yang mengetahui kejahatannya hanyalah Nonik seorang. Urek dahulu memberikan obat kepada korban yang ia culik, jadi Urek sangat yakin jika korban itu tidak akan mengingat kejadian itu. Padahal kenyataannya Luna sudahlah mengingat segalanya.
Dengan sangat cepat kabar kecelakaan dan meninggalnya Nonik menjadi berita heboh di media massa.
***
Tring … Tring … Tring
Beni yang sedang berbicang dengan keponakannya di ganggu oleh deringan ponsel Beni, Beni sedikit terkejut karena nomor yang menghubungi dirinya adalah nomor yang tidak dikenal.
“Halo?” ucap Beni dari telepon nya itu.
“APA?” decak Beni setelah mendengar infromasi yang diberitahukan pihak kepolisian pada Beni.
Memang saat ini polisi sedang menghubungi Beni yang masih menjadi suami sah Nonik, mereka memberitahukan informasi bahwa Nonik sudah meninggal dalam kecelakaan.
“Ada apa Paman?” tanya Luna panik setelah melihat pamannya syok dan tubuhnya bergetar.
“Bibimu, Nonik baru saja meninggal dalam kecelakaan sesaat setelah dirinya ingin dipindahkan sel,” jawab Beni dengan perasaan campur aduk, hatinya tetap sedih karena bagaimana pun Nonik tetaplah ibu dari ank-anaknya, namun di satu sisi ada perasaan aneh yang seperti mengatakan jika itu adalah konsekuensi dosa yang telah dilakukan oleh Nonik.
__ADS_1
Mendengar jika Bibinya telah meninggal membuat Luna sangat marah juga kecewa, dia merasa Nonik belum menerima balasan atas apa yang dilakukan oleh Nonik.
Luna merasa Nonik tidak boleh mati, Nonik harus mendapatkan hukuman. Tapi, semuanya sudah berakhir, takdir mengatakan jika Nonik haruslah mati di situasi ini.
Beni dan Luna buru-buru pergi ke rumah sakit tempat Nonik di autopsi. Karena mau bagaimana pun hanya mereka lah satu-satunya keluarga Nonik.
Sesampainya di rumah sakit, Beni dan Luna tidak di ijinkan melihat tubuh korban, karena memang tubuh korban sudah tidak bisa dikenali akibat kobaran api dan ledakan itu. Mereka datang kerumah sakit itu hanya diperbolehkan untuk melihat tubuh Nonik yang di tutupi oleh kain putih.
Dengan tatapan kosong dan perasaan yang campur aduk, Beni tersungkur ke lantai. Entah mengapa hatinya sangat sakit saat ini, Beni sesaat yang lalu ingin Nonik menerima hukuman yang setimpal, namun saat melihat istrinya dibalut kain putih membuat hati Beni tetap remuk.
Mungkin itulah manusia sebesar apapun kesalahan pasangan kita, karena kita sudah melewati banyak sekali masalah tetaplah orang itu akan menempati posisi di hati kita masing-masing.
Mungkin itulah yang dirasakan Beni saat ini, mengapa hatinya sakit karena mau tidak mau, rela tidak rela, Nonik sudah menempati ruang di hatinya karena mereka telah menikah selama puluhan tahun.
Luna yang melihat Pamannya tersungkur tak berdaya hanya bisa ikut menepuk-nepuk Pundak pamannya itu.
Dia masih tidak rela Nonik pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun.
Sesaat setelahnya Neon dan juga Hani sampai di rumah sakit, Hani langsung menangis dengan sangat histeris, sedangkan Neon hanya tertunduk. Namun bisa dilihat air mata keluar dari pipinya.
Setelah kejadian tragis Luna terungkap, memang Neon sudah tidak ingin bertemu dengan ibunya, Neon sangat membenci ibunya sampai dia pergi dari rumah dan sekarang tinggal sendiri di apartemennya.
Namun, saat melihat ibunya sudah dibalut kain putih menorehkan luka yang sangat dalam di hati Neon.
Sejahat apapun Nonik, dia tetaplah ibunya yang melahirkan dirinya.
***
__ADS_1
Karena memang semua keluarga sudah berkumpul, pihak kepolisian dan rumah sakit menyerahkan jasad Nonik kepada keluarganya.
Dan Beni ingin menguburkan Nonik hari itu juga, dia tidak ingin melihat jasad nonik yang tidak bisa dikenali lagi itu. Karena menorehkan luka yang menyakitkan di hati Beni.
Di pemakanan, Beni dan Neon tertunduk lesu, sedangkan Hani masih tidak bisa berhenti menangis sedari tadi. Luna hanya terdiam dengan pandangan kosong. Dia masih tidak rela jika Nonik pergi begitu saja.
Pemakaman yang meninggalkan perasaan campur aduk itu pun berakhir, Beni, Neon dan Hani kembali pulang ke rumahnya.
Sedangkan Luna masih ingin tinggal di pemakaman itu sebentar, dia beralasan ingin mengunjungi makam ayah dan ibunya dahulu.
Dan untuk saat ini, Luna tidak ingin ditemani oleh siapapun. Beni dan Neon mengerti akan permintaan Luna makanya mereka tetap pulang meninggalkan Luna disitu.
“Kenapa kau pergi? Ha? Kau bahkan belum meminta maaf padaku? Kau sangat tidak tahu malu pergi dengan banyak kesalahan! Aku tidak rela! kenapa kau pergi begitu saja? kau harus meminta maaf padaku, pada ibuku dan ayahku! aaahh!” teriak Luna dipemakaman sepi itu.
Setelah Paman dan sepupunya pergi, Luna meluapkan segala amarahnya. Luna sungguh tidak rela jika Nonik pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Padahal jika kau meminta maaf aku akan memaafkanmu karena aku sudah berjanji ingin melanjutkan hidup dengan benar! Tapi kenapa kau pergi dan masih meninggalkan amarah di hatiku? kau sangat jahat! kau manusia terjahat yang pernah aku kenal!” teriak Luna menangis dengan sangat histeris di makam itu.
Luna kembali mengingat flashback kehidupan yang ia jalani selama tinggal dirumah pamannya. Luna memang diperlakukan berbeda seperti perlakuan Nonik kepada putrinya Hani.
Namun, walaupun Luna melakukan segala pekerjaan rumah, Nonik masih memiliki bagian untuk mengerjakan yang lain. Dia tidak membiarkan Luna mengerjakan segalanya sendirian.
Dan Nonik tidak pernah melarang Luna untuk sekolah, kadang walaupun dengan nada yang angkuh dan Hinaan Nonik tetap membayarkan uang sekolah Luna saat Luna masih belum memiliki pekerjaan part time.
Kebaikan dan kejahatan Nonik berputar-putar dikepala Luna. Dia sangat marah tapi juga sedih, dia sangat ingin mendengar kata maaf dari bibinya itu.
Luna sudah menangis sangat lama, hujan yang lebat pun datang tapi Luna masih bertahan di makam itu, dia masih ingin menumpahkan kemarahannya di makam itu. Ditengah tangisan, amarah dan perasaan campur aduk Luna ada sebuah payung yang menghampiri Luna.
__ADS_1