Simpanan Pria Arogan

Simpanan Pria Arogan
Lily yang Sombong


__ADS_3

***


Di kantor Winston.


Melihat keributan itu membuat Rean geleng-geleng kepala, dia risih melihat Lily yang sangat sombong dan angkuh itu.


"Nona Lily, maafkan resepsionis kami, tetapi memang itu adalah prosedur di perusahaan ini. Jika Nona ingin bertemu dengan bos, mari ikut saya." Ucap Rean dengan tenang dan berwibawa.


"Baiklah, tapi jangan Lupa untuk memecat mereka berdua!" ketus Lily pada Rean, karena memang ada dua resepsionis yang sedang bertugas di situ.


"Untuk hal itu nanti akan diurus oleh pihak terkait Nona." Balas Rean sembari memberikan kode pada kedua resepsionis itu untuk tetap lanjut bekerja.


Lily Rolex dan Rean pun segera naik Lift menuju ruangan pribadi Winston.


Tok ... Tok ... Tok


"Masuk." Sahut Winston dari dalam ruangan.


"Sayang, aku sangat rindu padamu." Lily langsung bergegas berlari duduk dipangkuan Winston dan memeluknya.


"Hmm, bagaimana dengan kota ini? apakah kamu nyaman tinggal disini?" tanya Winston tidak mau menjawab pernyataan Lily.


"Tentu saja aku nyaman, selama kau berada disini maka kota ini akan menjadi kota ternyaman bagiku." Jawab Lily makin mempererat pelukannya pada Winston.


"Sayang, tapi aku tidak suka tidur sendirian, bukan kah beberapa minggu lagi kita akan bertunangan? alangkah baiknya jika kita tinggal bersama. Maka ayahku pasti akan senang mendengarnya." Lily menekankan nama ayahnya agar Winston setuju untuk bisa tinggal berdua dengan dirinya.


"Baiklah, aku juga ingin tinggal bersamamu, aku ingin mengenalmu lebih dalam. Besok kau boleh pindah ke mansionku." Balas Winston sembari memberikan pandangan mata yang sangat menggoda, namun senyumannya begitu licik.

__ADS_1


Mendengar hal itu sontak membuat Lily bahagia bukan kepayang, dia merasa Winston sudah jatuh kedalam pelukannya. Pria yang dia idamkan sebentar lagi akan menjadi miliknya.


"Tapi untuk saat ini aku ingin bekerja dulu, kau boleh pergi berbelanja sesuka mu." Ucap Winston ingin segera melanjutkan pekerjaannya, karena memang Lily sungguh sangat mengganggu dirinya.


"Baiklah sayang, semangat bekerjanya. Aku pergi dulu." Balas Lily sembari memberikan kecupan di pipi Winston, dan segera berlalu ke luar ruangan. Lily sudah memutuskan untuk membeli banyak sekali pakaian seksi untuk menggoda Winston.


"Menjijikkan!" itulah kata pertama dari mulut Winston sesaat setelah Lily beranjak dari ruangannya. Winston mengambil sapu tangan dan mengusap dengan keras pipinya yang dicium oleh Lily, dia merasa risih dan terganggu oleh itu.


Rean yang sedari tadi memang berada di ruangan itu geleng-geleng melihat pemandangan yang dihadapan nya. Sungguh perlakuan Winston kepada Luna dan gadis lain sangatlah kontras perbedaannya.


"nyonya Luna sangat beruntung." Gumam Rean dalam hati.


"Rean, apakah kau sudah membawa laporan nya?"


"Sudah Bos, ini laporan mingguan yang Bos inginkan." Balas Rean sembari memberikan laporan yang berada di tangannya kepada Winston.


Memang pekerjaan Winston sudah semakin banyak, di samping perusahaannya yang memang memegang banyak sektor bisnis, sekarang ditambah lagi dengan perusahaan ayahnya. Dan Juga Winston harus mengurus mengenai perdagangan bawah yang sudah ia rebut dari geng Lou.


"Hmmm, Bos tahu sendiri dengan pribadi Sean, bisa-bisa berubah jadi klub malam nanti perusahaan itu." Balas Rean serius. Karena memang Sean adalah pribadi yang sangat bebas dan suka berpesta.


"Benar juga, sepertinya aku hanya bisa mengharapkan mu sobat." Ucap Winston pada Rean.


"Astaga, kalau sudah butuh baru panggil sobat." Gumam Rean dalam hati.


"Baik Bos, aku pasti membantu mu, tapi tolong urungkan niatmu mengirimku ke antartika dan memotong bonusku." Jawab Rean dengan gaya yang serius.


"Oh ya, mengenai itu aku jadi ingat kesalahan mu, kau mengganggu kegiatan yang sangat ku senangi. Sekali lagi, jika tidak ada urusan yang sangat genting, kau jangan menelepon ku." Ketus Winston saat ia mengingat kejadian saat Rean mengganggu olahraga panasnya itu.

__ADS_1


"Baik Bos." Balas Rean menyanggupi dan dengan ekspresi datar dan santai.


Di apartemen Winston.


"Sial, dia bahkan tidak membalas pesanku, pasti dia sedang bermesraan dengan perempuan seksi sekarang. Dasar kau lelaki arogan yang sangat egois." Luna menggerutu sebal saat pesannya bahkan tidak dibalas oleh Winston.


"Hmmm, apa yang harus aku lakukan sekarang? sangat membosankan." Ketus Luna sambil guling-guling di atas kasur yang besar itu.


Tetapi saat Luna membuka ponselnya dan membrowsing banyak hal, ia melihat spanduk untuk menjadi relawan di salah satu panti sosial yang memang tidak jauh dari tempat nya. Dulu saat mendapat sanksi dari kepolisian untuk bekerja di panti sosial tidak dapat terlaksana, karena memang diurusi Winston demikian. Jadi, Luna tidak sempat melakukan kewajibannya itu.


"Yey, akhirnya ada kegiatan yang bisa aku ikuti." Ucap Luna senang dan segera menghubungi penanggung jawab brosur relawan tersebut.


Setelah mendapatkan kesepakatan, Luna bergegas pergi ke lokasi yang tertera di brosur tersebut.


Tetapi sebelum pergi, Luna mengirimkan pesan kepada Winston agar nanti tidak mendapatkan masalah.


"Winston, aku mau pergi menjadi relawan disini. (Luna mengirimkan gambar brosurnya ke Winston), aku bosan sendirian di apartemen. Aku akan pulang sebelum jam 8 malam, jangan khawatir."


Setelah mengirimkan pesan itu, Luna langsung mematikan ponselnya. Dia ingin fokus menjadi relawan di sana.


Diwaktu yang bersamaan di kantor Winston.


"Tidak bisa! bagaimana jika Luna berduaan dengan pria lain di sana? pokonya tidak boleh!" ketus Winston langsung menghubungi Luna.


Tut ... Tut ... Tut


"Sial, gadis kecil ini pasti mematikan ponselnya. Arggghh! buat kesal saja! Rean kau suruh beberapa anggota kita untuk mengawasi Luna sekarang!" ketus Winston dengan muka yang masam kepada Rean.

__ADS_1


"Baik Bos." Balas Rean menyanggupi Permintaan dari Winston itu.


"Cih, kalau bukan karena aku banyak pekerjaan, sudah ku seret dia kesini sekarang!" ketus Winston sembari melanjutkan pekerjaannya itu.


__ADS_2