Simpanan Pria Arogan

Simpanan Pria Arogan
Ingatan Yang Kembali


__ADS_3

***


Setelah beberapa saat dalam perjalanan, Winston pun sampai di sebuah gedung kosong yang sudah terbengkalai.


Dia berlari secepatnya menuju gedung kosong itu, di depan pintu gedung dia sudah bisa melihat darah bercucuran dimana-mana, hal itu membuat Winston semakin panik dan ketakutan.


"Tidak, tidak, ini pasti bukan Luna!" Winston bergetar dan wajahnya sudah memerah karena ketakutan, dia takut jika Luna sudah mengalami hal buruk di dalam ruangan itu.


Tapi saat membuka pintu ruangan, dia tidak menemukan Luna disana. Yang tersisa hanyalah beberapa pria yang sudah berdarah-darah dan tergeletak tidak berdaya.


Winston bergegas menanyakan pria yang setengah sadar tergeletak di lantai itu.


"Dimana gadis yang baru saja kalian culik? cepat katakan!" teriak Winston menarik kerah baju pria yang sedang tergeletak itu.


"Ampun Tuan, dia sudah dibawa seseorang tadi. Kami, kami hanya disuruh, kami belum melakukan apapun terhadap gadis itu," balas pria itu memohon agar dirinya tidak lagi dilukai oleh Winston. Karena pria yang sudah menyelamatkan Luna sudah mengahajar mereka habis-habisan.


Winston mencoba menghubungi kembali ponsel Luna namun ponselnya ternyata tertinggal di ruangan itu, tepat berada di bawah sebuah kursi.


Winston melihat draft panggilan di ponsel Luna, dia melihat Luna beberapa kali menghubungi dirinya dan mengirimkannya pesan, namun karena tadi Winston sedang menyelamatkan Rani, Winston tidak melihat ponselnya.


"Sial! ini semua salahku! ini salahku, jika terjadi sesuatu padamu, aku tidak tahu harus bagaimana lagi menjalani hidup!" ketus Winston mengusap dengan kasar wajahnya sembari terus memeriksa panggilan terakhir yang tersambung dengan ponsel Luna.


Lalu dilihatnya lah, jika yang terakhir kali berhubungan dengan Luna adalah Rendi.


Flashback on.


"Kalian jangan mendekat, jika kalian berani mendekat kalian akan mati oleh Winston!" teriak Luna sedang gemetar ketakutan saat para pria kekar itu memandangi dirinya penuh nafsu.


"Tenanglah gadis cantik, kau akan merasakan surga dunia sebentar lagi. Kami akan memuaskan mu sampai besok!" ucap salah seorang pria yang sembari berjalan mendekat ke arah Luna.


"Kau sangat cantik, sayang sekali kau akan menjadi santapan kami malam ini. Sepertinya hari ini adalah hari keberuntungan ku karena aku akan merasakan kenikmatan tubuh mulusmu!" ucap pria itu mengelus wajah Luna yang sedang menangis ketakutan.

__ADS_1


"Jangan menangis gadis cantik, sudah aku bilang kita akan bersenang-senang. Aku yang akan mulai duluan!" bisik pria itu hendak melucuti pakaian yang Luna kenakan.


Tapi sebelum pria itu berhasil melepaskan pakaian Luna tiba-tiba ....


Tring ... Tring ... Tring


Ponsel Luna berbunyi, dan dengan otomatis pria itu terkejut dan mengambil ponsel itu. Dia melihat layar ponsel Luna dan menjatuhkan ponsel itu kebawah kursi tempat Luna di ikat.


Pria itu tidak menyadari jika, saat ia menjatuhkan ponsel Luna, dia tidak sengaja mengangkat panggilan itu.


"Halo, Luna?" suara seorang pria terdengar dari ponsel yang sudah berada dibawah kursi itu.


"Tolong! siapapun itu, aku mohon cepat tolong aku!" teriak Luna sekeras mungkin. Hal itu membuat pria-pria yang berada di ruangan itu panik, dan langsung mematikan ponsel Luna dan kembali melemparkan ponsel itu.


"Gadis cantik, kau kira dia bisa menolong mu? nyonya yang tadi sudah membawa kita ke tempat yang sangat jarang di kunjungi orang. Kau tidak akan bisa ditemukan oleh siapapun disini!" ucap pria yang terlihat seperti ketua perkumpulan para preman itu.


"Brengsek! kalian ******** menjijikkan! kalau kau berani menyentuhku, aku akan mengutuk mu dan keturunanmu ********!" teriak Luna meronta-ronta, berharap tenaganya mampu melepaskan tali yang mengikat dirinya itu.


Saat pria itu menampar dirinya, ada ingatan yang melintas di kepala Luna.


"Apa ini? mengapa aku merasa pernah merasakan hal ini sebelumnya?" gumam Luna sembari terdiam melihat orang-orang yang tertawa di ruangan itu.


Suara tawa mereka semakin membuat Luna pusing dan ketakutan, Luna merasa dirinya pernah merasakan hal ini sebelumnya.


Tiba-tiba semuanya menjadi semu, teriakan dan tawa pria-pria yang berada di ruangan itu seolah tidak terdengar di kuping Luna.


"Tingggggg!" tiba-tiba kepala Luna menjadi sangat sakit. Beberapa kilas balik ingatannya yang hilang satu persatu bermunculan di memori Luna.


"Aahhhhh!" Luna berteriak histeris, karena dia merasakan sakit luar biasa di kepalanya. Sepertinya sebuah ingatan yang beruntun memaksa masuk ke kepala Luna.


Melihat Luna berteriak histeris dan terlihat sangat ketakutan membuat para preman yang berada di ruangan itu semakin kebingungan.

__ADS_1


Menurut mereka teriakan gadis itu tidak sama seperti sebelumnya. Teriakan ini terdengar seperti gadis itu sedang menderita dan tersiksa, padahal mereka belum melakukan apapun terhadapnya.


"Tidak! jangan! aaaaahhhhhh!" Luna berteriak sekencang mungkin, saat mengingat dirinya dulu pernah juga diikat disebuah kursi dan dipukuli oleh seseorang yang terlihat seperti bayangan di kepala Luna.


Merasa sangat terganggu oleh teriakan Luna, pria yang tadi ingin memulai aksi bejatnya itu memukul kepala Luna dengan sangat keras, membuat Luna sampai tersungkur dengan kursi yang menjadi tempat dia diikat.


"Kau sangat berisik! jika kau semakin membuat ku kesal, maka kau akan kami habisi bersama!" teriak pria itu memaki-maki Luna.


Saat Luna tersungkur, dan kepalanya dipukul sangat keras membuat Luna mengingat segalanya. Luna terdiam, kesadarannya goyang, semuanya menjadi abu-abu. Luna sangat syok sampai tidak bisa berkata-kata lagi.


Melihat Luna tidak bergerak membuat pria itu panik, dia bergegas memeriksa Luna.


"Heh? kau mau pura-pura mati? kau tidak boleh mati sebelum melayani kami!" bentak pria itu saat memeriksa denyut nadi Luna masihlah normal, hanya saja terlihat sangat lemah.


"Baiklah gadis cantik, karena kau tetap diam maka aku akan memulai duluan!" bisik pria itu mendekat kearah Luna.


"Brakkk!!!" suara pintu terbuka dengan sangat kasar, menimbulkan suara yang sangat menggema.


"********! akan kubunuh kalian semua!" teriak Rendi kearah preman-preman yang berada diruangan itu.


Rendi menarik pria yang berada di dekat Luna dan langsung memukulnya dengan tongkat sekeras mungkin, membuat pria itu berdarah-darah. Sedangkan yang lain dihajar oleh pengawal yang memang sengaja Rendi bawa sesaat setelah tadi ia mendengar teriakan Luna.


"Maafkan aku, maafkan aku datang terlambat," ucap Rendi melepaskan ikatan tali yang melingkar ditubuh Luna.


Rendi melihat keadaan Luna yang terdiam, ada bekas tamparan diwajahnya. Juga ada darah keluar dari dahinya, keadaan Luna yang seperti itu sungguh mengoyak perasaan Rendi.


Saat Rendi sudah berhasil melepaskan ikatan tali yang berada di tubuh Luna, Rendi hendak mendekat untuk menggendongnya dan membawanya ke rumah sakit. Namun, anehnya Luna seperti sangat ketakutan melihat Rendi, dan semua orang yang berada di ruangan itu.


"Jangan mendekat! jangan pukul aku, aku tidak bersalah, tolong pergilah!" Luna memohon kepada Rendi, tubuhnya bergetar dan tangannya menutupi wajahnya, Luna seolah tidak mengenali Rendi.


Hal itu membuat Rendi keheranan, tapi karena keadaan Luna yang terlihat terluka parah, Rendi memaksa menggendong Luna dan membawanya ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2