Simpanan Pria Arogan

Simpanan Pria Arogan
Candu


__ADS_3

***


Keesokan harinya di mansion Winston, Luna bangun dengan jam yang sama yaitu jam lima pagi, dia kembali bangun di tempat tidur yang sangat besar dan mewah, ruangan itu begitu luas.


Tapi terasa sangat sepi, dia kembali melihat ke samping nya, tidak ada Winston disisinya, dia meras kehilangan, pelukan Winston sekarang sudah menjadi candu baginya.


"Luna, kau harus sadar posisimu, kau itu hanyalah simpanan. kau itu hanya mainan, kau itu tidak berharga di matanya!" gumam Luna dalam hati.


Segera Luna menyadarkan diri dari lamunannya, dan segera bersiap-siap, karena hari ini adalah hari ujian akhir. Luna harus fokus sampai satu Minggu ke depan.


Setelah Luna selesai memakai baju sekolah, ponsel nya berdering.


"Aneh, siapa yang menelfon di pagi hari seperti ini? tidak mungkin Rendi kan?" gumam Luna sampai ponsel nya berhenti berdering.

__ADS_1


Namun beberapa detik kemudian berdering lagi, segera dia cek ke ponsel nya yang lumayan jauh dari lemari pakaian.


"Yaampun ini Winston, mati aku," fikirnya dan segera Luna angkat video call tersebut.


"Berani sekali kau mengabaikan panggilan dari ku! ini sudah kedua kalinya!" teriak Winston dari layar ponsel Luna.


"Ma ... maaf Tuan, jarak dari lemari pakaian ke meja yang di samping tempat tidur sangat jauh, Luna sudah berlari secepatnya kok buat ambil ponsel Luna," Luna menapilkan wajah yang sedikit cemas saat menjelaskan hal itu ke Winston.


"Astaga, kenapa anak ini imut sekali? kalau bukan karena urusan penting disini, aku pasti sudah pulang dan menciumi nya," gumam Winston dalam hati.


"Cepatlah kau berangkat, lakukan ujianmu dengan baik dan benar. Ingat pesanku, jangan pernah berbicara ataupun dekat dengan pria lain selagi aku tidak ada." Ucap Winston lagi, karena sedari tadi, Luna hanya diam dan kikuk tidak tahu mau menjawab apa.


"Ba ... baik Tuan, semoga hari mu menyenangkan." Respon Luna gagap dan langsung mematikan video call itu.

__ADS_1


"Yaampun hukuman? otakku ini pasti sudah terkontaminasi, kenapa setiap aku mendengar kata hukuman, yang terlintas hanya hal-hal jorok? aaaaa," teriak Luna pelan, karena, dia tidak ingin para pelayan melihat wajahnya yang sangat merah, padahal hanya mendengar kata hukuman.


Segera Luna menyadarkan diri dan pergi ke bawah dan memulai sarapan, dia tidak ingin terlambat di ujian akhirnya ini.


***


"Cih, sudah dua kali dia menutup panggilan dariku, awas saja kau ya, gadis kecil. Aku akan benar-benar memberikanmu hukuman saat aku aku kembali nanti." Ketus Winston sebal.


Melihat ekspresi Winston membuat Rean sedikit bingung. "Bos ada apa? apakah ada yang mengganggu mu? kalau ada, biar aku bereskan sekarang juga!" tanya Asistennya itu menyelidik.


"Siapa yang berani membuat bos nya ini risau?" gumam Rean dalam hati.


"Iya kau benar, ada seorang gadis kecil yang berani mengganggu pikiran ku akhir-akhir ini, tapi yang bisa membereskan nya hanya aku, seujung jari pun aku tidak akan membiarkan orang lain menyentuh nya, termasuk kau Rean." Jawab Winston spontan dan dengan wajah dingin yang amat serius, seolah-olah Rean sedang ingin merebut Luna darinya.

__ADS_1


"Baik Bos, aku tidak akan mencampuri jika ini berkaitan dengan gadis kecil yang Bos sebutkan." Jawab Rean sopan dan melajukan mobil nya ke perusahaan Loorey, ayah Winston.


__ADS_2