Simpanan Pria Arogan

Simpanan Pria Arogan
Mimpi Buruk


__ADS_3

Di mansion Winston.


Seperti mimpi di siang bolong, Luna masih tidak mampu menerima kenyataan pahit yang ia ketahui hari ini, sampai saat ini, Luna masih tidak bisa mempercayai, jika ayahnya sungguhlah seorang pembunuh.


Pandangan mata Luna yang kosong, sungguhlah memancarkan kepedihan yang amat sangat mendalam, tidak satu patah katapun keluar dari mulut Luna sedari tadi, pikirannya melayang, jika saat ini ada tempat untuk ia bersembunyi, pastilah Luna akan pergi ke sana dan tidak akan pernah kembali seumur hidup.


"Oh ya, nama kamu siapa? sejak kapan kenal dengan tunanganku?"


Lily yang memang sedang bersandar mesra di pundak Winston memecahkan keheningan itu, Lily ingin berbasa-basi dengan Luna. Walaupun sebenarnya, Lily sangat Ingin menyingkirkan Luna saat ini juga.


Tapi, tidak ada jawaban yang terucap dari mulut Luna, Luna hanya diam terpaku duduk di kursi sofa yang memang berhadapan langsung dengan sofa yang Winston dan Lily duduki, ekspresinya datar dan pandangannya lurus kedepan.


"Sayang, kenapa dia tidak mau menjawabku? apakah aku salah padanya?" Lily mengadu kepada Winston dengan ekspresi yang begitu memelas, dia ingin Winston memarahi Luna dan mengusirnya keluar dari mansion ini.


"Lily, apakah kau bisa kembali ke ruanganmu sebentar? ada urusan yang ingin aku selesaikan dengannya." Tegas Winston pada Lily dengan ekspresi yang begitu serius, karena memang Lily tidak mau mendapatkan masalah, Lily menuruti perkataan Winston dan bergegas pergi menuju ruangan nya.


Sesaat setelah Lily beranjak dari tempat itu, Winston melangkah ke arah tempat Luna duduk, di pandanginya wajah Luna dengan sangat lekat, tapi tidak ada respon yang berarti dari Luna, pandangannya tetap kosong.


"Jangan kira dengan menutup rapat mulutmu, kau akan terlepas dari dendamku Luna, aku masih sangat kesal padamu." Ucap Winston sembari mencium rambut Luna, sembari melempar tatapan yang begitu intens.


"Bagaimana caraku agar bisa memuaskan dendammu? apakah dengan nyawaku, kau sudah puas, jika iya, maka ambil lah!" jawab Luna sembari menoleh ke arah Winston, sekarang mata mereka sedang bersitatap dengan begitu intens.


Sekarang sudah tidak ada air mata lagi, sudah tidak ada ekspresi sedih lagi, yang ada hanyalah ekspresi datar dan hampa, Winston sungguh berhasil mengikis semangat hidup Luna yang selama belasan tahun Luna jaga.


"Kau jangan naif Luna, mengingat bahwa selama ini aku telah memanjakanmu membuatku muak dan marah, kau harus membayarnya, apakah itu dengan nyawamu atau bukan, aku lah yang akan memutuskan nya bukan dirimu."


Luna sudah tidak mampu membalas ancaman dari Winston lagi, Luna hanya bisa memandangi wajah Winston yang berada di dekatnya ini, di lihatnya wajah itu dengan lekat, tetapi ekspresi yang muncul di wajah Winston bukanlah sosok yang dingin dan menyeramkan. Ada kesedihan yang mendalam tergambar di wajah itu.


Dengan refleks tangan Luna ingin meraih wajah Winston, dia ingin mengusap wajah itu dengan lembut, entah mengapa, Luna ingin melakukan hal itu, karena ekspresi yang tunjukkan Winston, begitu menyedihkan di mata Luna.

__ADS_1


Tetapi, belum sampai Luna meraih wajah Winston, tangan Luna sudah terlebih dahulu di tepis oleh Winston, Winston langsung berdiri dan beranjak pergi dari tempat itu.


Setelah itu, Pak Roni datang menghampiri Luna dan menyuruh Luna untuk tidur di kamar yang berbeda dengan Winston.


"Nyonya Luna, Tuan Winston menyuruh saya untuk menunjukkan ruangan Nyonya." Ucap Pak Roni sembari menuntun Luna ke arah ruangan yang akan menjadi kamarnya.


Luna hanya bisa tertunduk dan mengikuti permintaan Pak Roni, memangnya apa lagi yang bisa Luna perbuat, dirinya hanyalah seorang anak pembunuh yang membunuh ibunya Winston.


Setelah masuk kedalam ruangan itu, Luna langsung mengunci ruangannya dan merebahkan diri dikasur. Sungguh Luna berharap semua yang terjadi hari ini hanyalah sebuah mimpi, Luna ingin terbangun dari mimpi yang menyakitkan ini. Karena terlalu lama terbenam dalam pikirannya, tanpa sadar Luna pun tertidur.


Pagi hari.


Pagi itu, Luna sangat tidak bersemangat, dia tidak ingin pergi ke kampus hari ini, tetapi jika dia tidak pergi ke kampus, maka Luna akan terkurung di tempat ini selamanya, setidaknya untuk sebentar, Luna ingin sekali-kali mencium udara Luar.


Luna sudah bersiap-siap dan rapih. Luna pun bergegas ingin cepat pergi ke kampus, dia tidak ingin menemui Winston dan tunangannya pagi ini, tetapi saat hendak melangkah menuju pintu keluar, Luna sudah bisa melihat jika Winston dan tunangannya sudah duduk di meja makan.


Dengan ekspresi tertunduk, Luna ingin diam-diam keluar dari mansion itu, dia tidak ingin mengganggu mereka berdua.


Tanpa adanya perlawanan, Luna mengikuti perintah Winston. Dia berjalan kearah meja makan dan duduk di kursi yang paling jauh dari Winston, dia sadar akan posisinya, yang seharusnya duduk di sampingnya sekarang memang seharusnya adalah tunangan nya itu.


"Beraninya kau duduk disitu, kau duduk disini! jangan memancing emosiku pagi ini, Luna, kau tidak akan sanggup menanggungnya, jika kau memancing emosiku lagi." Bentak Winston menyuruh Luna duduk tepat di samping nya.


Saat Winston membentak Luna membuat Lily merasa senang, Lily merasa jika Winston sangatlah membenci Luna, dengan begitu pastilah sebentar lagi Luna akan diusir dari mansion itu.


"Sayang makan yang banyak," ucap Lily sembari memberikan lauk ke piring Winston.


"Kau yang harus menuangkan lauk ke piringku, mulai dari hari ini dan seterusnya ini adalah tugasmu." Ketus Winston pada Luna, yang sedari tadi terdiam dan seoalah tidak merasa cemburu akan perbuatan Lily terhadapnya.


"Baik Tuan," balas Luna sembari menuangkan lauk pada piring Winston.

__ADS_1


Hal itu sontak membuat Lily sangat geram, dia merasa perhatian Winston pada Luna sungguhlah tidak biasa, tetapi untuk saat ini, Lily hanya bisa berpura-pura tersenyum dan menerima keadaan yang ada di hadapannya itu.


Setelah sarapan selesai, Winston hendak pergi menuju parkiran mobilnya, tetapi secara tiba-tiba, Lily menarik Winston dan mencium dirinya. Menerima perlakuan itu sontak membuat Winston dengan refleks melepaskan Lily, segera Winston melihat ke arah Luna berdiri, tetap tidak ada ekspresi, Luna seperti benda mati, bahkan saat Lily berinisiatif mencium dirinya, Luna tetap tidak menunjukkan tanda-tanda kesedihan apalagi cemburu.


Hal itu membuat Winston sangat kesal.


"Luna, kesini kau!" teriak Winston ke arah Luna yang memang berdiri tidak jauh darinya.


Setelah Luna mendekat, Winston langsung menarik kasar lengan Luna dan mendorongnya masuk ke dalam mobil. Setelahnya, Winston pun ikut masuk ke dalam mobil meninggalkan Lily, segera Winston memerintahkan Rean untuk melajukan mobilnya.


"Kau benar-benar hebat, kau tidak pernah lupa akan posisimu, saat Lily menciumku pun kau hanya diam terpaku." Winston menarik rambut Luna dan mendekatkannya ke wajahnya, sekarang, mereka sedang saling bersitatap dengan sangat lekat.


"Sial, kau sangat menyebalkan! aku sangat membencimu Luna, saat melihat wajahmu ini, ingin sekali kuremukkan kau sampai hancur, aku sangat marah mengingat janji-janji yang kusebutkan padamu! aku sangat membencimu!" ketus Winston sembari melepaskan cengkramannya dari Luna, dan mendorong Luna menjauh darinya.


"Rean berhenti!" perintah Winston pada Rean, padahal perjalanan mereka masih jauh, dan sekarang mereka sedang berada di jalanan yang sepi dan jarang sekali kendaraan akan melewati jalanan ini.


"Kau turun," ketus Winston dengan dingin, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Luna.


Tanpa melawan dan membela diri, Luna hanya bisa mengikuti permintaan Winston, Luna merasa, jika dengan menyiksanya bisa menyembuhkan Luka hati Winston, maka dengan senang hati Luna akan melakukannya.


Setelah Luna turun, dengan cepat mobil Winston melaju meninggalkan Luna di pinggiran jalan yang begitu sepi itu.


Air mata yang sedari tadi Luna tahan sekarang mengalir dengan derasnya, tangisannya pecah. Dia menangis dengan sangat hebat, Luna tetaplah manusia, dia memiliki perasaan, saat Winston mengatakan jika ia membenci dirinya, membuat hati Luna terkoyak.


***


"Bos, apakah tidak berlebihan meninggalkan Nyonya Luna disana? selain jaraknya sangat jauh dari jalanan yang ramai, bukankah kaki Nyonya Luna sedang terluka?" tanya Rean pada Winston yang sedang duduk di kursi belakang mobil tersebut.


"Oh iya, kakinya sedang terluka, Rean cepat putar balik." Ketus Winston tiba-tiba panik, sekarang Winston sedang sangat bingung dengan dirinya, Winston bingung apa yang membuatnya marah pagi ini, apakah memang karena Luna adalah anak dari orang yang membunuh ibunya? atau karena Luna tidak cemburu akan kehadiran Lily.

__ADS_1


Tetapi, setelah mereka sampai di jalan yang merupakan tempat Winston menyuruh Luna turun, mereka sudah tidak menemukan Luna di jalan itu, sontak hal itu membuat Winston panik, Winston menyesal telah termakan amarah dan mengusir Luna tadi.


Dengan panik, Winston memerintahkan Rean untuk menurunkan tim demi menyusuri jalanan itu untuk mencari Luna.


__ADS_2