
Di mansion Winston.
Luna termenung melihat surat perjanjian yang berada di hadapannya.
"Hmmmm, jika aku menandatangani surat perjanjian ini, maka aku akan mengalami hal yang dinamakan 'pernikahan dini istri simpanan', jadi sebenarnya posisiku telah terupgrade dari simpanan menjadi istri simpanan. Lihat saja Winston, akan kuperas semua hartamu, sampai kau menyesal telah menjadikanku tawanan berkedok istrimu! hahahaha!"
Tawa Luna berapi-api, saat membaca peraturan-peraturan yang hanya menguntungkan pihak Winston saja. Luna berencana akan menghabiskan seluruh uang Winston, walaupun sebenarnya pasti tidak mampu.
"Lagian aku masih terlalu muda, bagaimana mungkin aku menikah diusia yang begitu muda! impian pernikahanku adalah, pernikahan ala putri raja, sedangkan kau bahkan tidak melamarku, mungkin jika ada perlombaan wanita paling menyedihkan di dunia, mungkin akulah pemenangnya! huhu."
"Dan bukankah dia sudah memiliki tunangan? jadi, aku sudah dimadu bahkan sebelum aku menikah, heh ... lelucon macam apa ini? aaarrrgghhhh, perjanjian pernikahan macam apa ini!" geram Luna sembari meremas surat perjanjian yang berada digenggamannya itu.
"Setelah kau menyiksaku, mengataiku, menceburkan aku kekolam, dan selalu semena-mena terhadapku, dan sekarang dengan tiba-tiba, kau ingin menikahi aku? wah, wah, wah, perjalanan cinta jenis apa ini!"
"Aku juga seorang wanita, dan menurut kaum wanita, pernikahan adalah hal yang sangat sakral dan penting, bagaimana mungkin kau hanya memintaku menandatangani dokumen ini, dan otomatis menjadi istrimu?"
"Jika kau berada disini, aku akan ...."
Belum sempat Luna melanjutkan perkataannya, tiba-tiba Luna melihat Winston sudah berada didekatnya, "Kau akan apa sayang?" bisik Winston langsung tiba-tiba mendekat kearahnya.
"Apa? sejak kapan dia berada disitu? apakah dia sudah mendengar perkataanku sedari awal? apakah dia akan mengamuk padaku, seperti melemparkan aku dari balkon misalnya, huhu ... mulutku ini memang selalu saja membawa bencana pada diriku sendiri," gumam Luna sudah pasrah jika dirinya akan dimarahi oleh Winston.
Saat Winston hendak menarik lengan Luna, tiba-tiba,
"Jangan mendekat! aku ingin berbicara serius denganmu," ketus Luna sembari memberi jarak antara dirinya dan Winston, Luna sedang mengumpulkan seluruh keberanian yang ada dalam dirinya saat ini.
"Baiklah ... baiklah, aku akan menjaga jarak, katakanlah apa yang ingin kau katakan." Jawab Winston terlihat tidak terlalu memaksa Luna hari ini, padahal biasanya Winston akan langsung menarik paksa Luna, jika Luna menghindar darinya.
"Begini, aku telah memikirkan banyak sekali cara untuk kabur dari pernikahan yang tidak adil ini, tapi aku yakin, kemanapun aku kabur, kau pasti akan tetap menemukanku."
"Jadi, telah kuputuskan, aku akan menandatangani perjanjian pernikahan ini, tapi, aku punya dua syarat penting, yang pertama jangan pernah berlaku kasar padaku, dan yang kedua aku ingin menyelidiki tentang kematian ayahku, aku yakin dia tidak bersalah!" tegas Luna pada Winston yang sedari tadi sedang memandanginya itu.
Tapi, setelah Luna mengucapkan syaratnya, tidak ada satu respon pun keluar dari mulut Winston, Winston hanya memandangi wajah Luna dengan lekat.
__ADS_1
"Astaga, apakah aku telah menyinggung nya dari ucapanku yang tadi? apa dia akan mengasariku lagi? aish, kenapa dia hanya diam saja, membuatku semakin bingung saja." Gumam Luna merasa sedikit khawatir, karena Winston tidak kunjung merespons ucapannya.
"Ke ... kenapa kau tidak menjawab? apakah kau keberatan dengan syarat kecilku itu?" ketus Luna dalam mode sok berani, padahal sebenarnya dia sangat cemas, kalau memang dia telah menyinggung Winston, maka habislah dia malam ini.
***
"Sayang, apakah kau yakin benar-benar ingin menyelidiki perihal kasus ayahmu?" Winston bertanya dengan lembut pada Luna.
"Te ... tentu saja, setelah aku pikirkan, selama ini aku terlalu pasrah dengan keadaan, sampai aku tidak punya keinginan untuk mencari tahu kebenarannya, tapi, setelah menerima perlakuanmu itu, aku jadi yakin, bahwa aku harus mencari kebenaran ini sendiri."
"Kenapa dia begitu lembut padaku hari ini? buat merinding saja." Gumam Luna heran saat mendapati respon lembut dari Winston.
"Baiklah, aku tidak akan melarangmu melakukan hal yang ingin kau lakukan, tapi, waktu yang harus dihabiskan bersamaku tidak boleh berkurang, kau harus sebanyak mungkin berada disisiku. Apakah kau mengerti?" balas Winston sembari menarik Luna ke pangkuannya.
"Kau ... kau ... kau, kenapa bisa berubah dengan sangat cepat? apakah ini adalah metode penyiksaan yang baru?" tanya Luna keheranan saat Winston menarik dirinya untuk duduk di pangkuan Winston.
"Itu karena aku sudah memaafkan dirimu sayang, setelah kehilangan dirimu tempo lalu, aku menyadari, tidak ada hal yang lebih menakutkan lagi jika dibandingkan kehilanganmu. Jadi, aku memutuskan mengesampingkan dendamku, karena rasa takut akan kehilanganmu lebih besar, dibandingkan dendam yang sudah ku pikul selama hidup."
belum sempat Luna melanjutkan pembicaraannya, perkataannya sudah terlebih dahulu ditimpali oleh Winston lagi.
"Sssttt ... tidak usah meminta maaf sayang, perihal perselingkuhan dirimu dengan Rendi dan Nixon pun sudah aku maafkan. Karena diriku adalah pria gentleman yang berbesar hati. Tapi, jika aku memergoki kamu selingkuh lagi, maka mungkin kau akan aku rantai bersamaku kemanapun aku pergi." Ucap Winston sembari memeluk Luna di daerah kesukaan Winston.
"Ha? kenapa jalan ceritanya bisa jadi seperti ini? kenapa jadi seolah aku yang salah? bukankah yang seharusnya meminta maaf adalah dirinya? tapi kenapa dia membuat seolah dia yang memaafkan ku! sial!"
"Pandai sekali pria ini mengerjaiku, bahkan untuk marah pun, aku tidak diberikan kesempatan. Sedihnya diriku ini, padahal tadinya aku ingin mendiami dia selama beberapa minggu, kalau sudah baikan seperti ini, mana bisa lagi aku mendiami dia?" gumam Luna merasa selalu dimanfaatkan Winston di segala situasi dan kondisi.
Perilaku kasar yang Luna terima beberapa hari lalu, seolah tidak pernah terjadi, Winston memang sangat pandai bersilat lidah, dia bahkan bisa berbaikan dengan Luna dengan cara seperti itu.
"Sayang, bisakah kau mengusap rambutku?" ucap Winston saat sedang memeluk Luna di pangkuannya.
"Tidak mau, bukankah kau membenciku? kenapa aku harus mengusap rambutmu!" ketus Luna menolak permintaan Winston.
Namun, saat Winston mengangkat wajahnya yang sedang terbenam di dada Luna, Winston langsung memberikan tatapan yang sangat tajam terhadapnya.
__ADS_1
"Sreekkk," dengan spontan Luna langsung menarik Winston ke pelukannya lagi, lalu di usapnya rambut Winston dengan lembut, Luna takut jika dia tidak menuruti perkataan Winston, maka sifat arogansinya akan kambuh lagi.
Menerima perlakuan dari Luna membuat Winston senang, dipeluknya erat tubuh Luna yang berada di pangkuannya itu. Lalu, dia beristirahat sebentar disana.
Setelah beberapa saat,
"Mau sampai kapan seperti ini terus? aku sudah pegal, bagaimana caraku menyingkir dari terkamanan si arogan ini. Lalu, kenapa bisa baikan dengan cara seperti ini sih? ah, aku kesal," gerutu Luna sudah mulai pegal di peluk oleh Winston dalam waktu yang begitu lama.
Tok ... Tok ... Tok
"Tuan Winston, Nyonya Luna, makan malam sudah tersedia," sahut Pak Roni dari luar pintu kamar.
"Pak Roni, kau memang yang terhebat, telah beberapa kali menyelamatkan diriku dari terkamanan si arogan ini" gumam Luna merasa senang, dengan begitu mereka tidak usah lagi berpelukan di sofa itu.
"Sayang, apakah perlu aku suruhkan mereka membawakan makanannya kesini?" tanya Winston melonggarkan sedikit pelukannya dari Luna.
"Tidak, tidak, tidak, kita makan di meja makan saja, aku ... em ... aku lebih suka makan di meja makan." Respon Luna gagap, dia harus menemukan alasan yang paling tepat untuk menolak permintaan Winston secara halus.
"Hemmm, baiklah sayang, kita makan kebawah." Ucap Winston sembari menggendong Luna ala bridal style.
"Heh? kenapa, kenapa kau menggendong aku? turunkan aku Winston, banyak orang yang melihat!" ketus Luna merasa malu dilihati oleh pelayan, saat Winston menggendong dirinya.
"Sudahlah diam saja, bukankah kakimu masih sakit? jika kau masih terus berontak seperti itu, maka aku akan merubah makan malam ku, aku akan langsung memakanmu." Ucap Winston dengan melempar senyum nakalnya kearah Luna.
"Huhu ... kenapa seperti ini lagi? selalu saja tubuhku yang menjadi bahan taruhannya, nasibku yang tiada pernah membaik ini." Gumam Luna merasa selalu saja dirugikan, dan Winston selalu saja mengambil keuntungan darinya.
***
"Sialan, gadis murahan itu pakai pelet apa sih dia? bahkan Winston mau menggendong dirinya ke meja makan seperti itu!" decak Lily merasa kesal, saat melihat Winston sedang menggendong Luna menuju meja makan.
"Winston, itu ada tunanganmu, kenapa kau memperlakukan aku di hadapannya seperti ini?" ketus Luna saat di meja makan, Luna tidak biarkan duduk di kursi malah duduk di pangkuan Winston.
"Sudahlah kau diam saja, aku sedang ingin bersamamu seperti ini, apa kau merasa keberatan?" ketus Winston tidak memperdulikan keluhan Luna.
__ADS_1