
***
Melihat kesedihan diraut wajah pamannya membuat Luna ikut bersedih.
“Aku berkunjung kesini hanya untuk memastikan jika Paman baik-baik saja, semua ini bukanlah salah Paman, sekarang Luna baik-baik saja dan Luna yakin, ayah dan ibu di alam sana pun tidak ingin Paman bersedih dan menyalahkan diri sendiri,” jawab Luna memberikan semangat untuk pamannya itu.
Karena memang dalam hal ini, Beni sungguhlah tidak bersalah.
Mendegar pernyataan keponakannya itu sungguh membuat hati Beni semakin terpukul, mengapa istrinya bisa begitu tega mau mencelakai keponakannya yang sangat baik ini.
“Paman sudah tidak memiliki perkataan yang bisa diucapkan padamu, Paman sudah sangat malu, tapi Paman ingin kedepannya kau akan hidup bahagia dan tidak akan pernah mengalami kesusahan lagi. Aku tahu ini permintaan egois, tapi mohon maafkan Paman yang tidak bisa melindungimu,” sahut Beni sembari menggenggam erat tangan keponakannya itu.
“Jangan berkata seperti itu Paman, aku sama sekali tidak pernah marah pada Paman. Sekarang aku sudah sangat bahagia, aku ingin Paman tetap semangat demi Hani dan Kak Neon juga demi Luna. Aku memang tidak bisa memaafkan Bibi, tapi kesalahan Bibi bukanlah kesalahan Paman, jadi berhentilah menyalahkan diri sendiri Paman."
"Lihatlah Hani masihlah sekolah, dia masih sangat membutuhkan Paman, jadi Paman harus hidup untuk anak-anak Paman, juga untuk Luna. Hanya Paman lah satu-satunya keluarga Luna yang masih ada di dunia ini,” balas Luna sudah menangis.
Luna sangat tidak tega melihat keadaan pamannya yang terlihat sangat putus asa dan lesu itu, terlihat sekali jika pamannya itu sangatlah terpukul dan belum bisa menerima kenyataan pahit yang baru saja ia ketahui.
“Seandainya aku tidak menikah dengannya, kakak laki-lakiku pastilah masih hidup, dan kau pun pastilah tidak akan mengalami penculikan yang mengerikan itu. Ini semua salah Paman, maafkan Paman,” Beni ikut meneteskan air matanya, beberapa hari ini dia terus memikirkan masalah ini dan menyalahkan dirinya sendiri. Beni merasa jika semua ini terjadi karena kesalahan nya.
“Paman, apakah Paman mau melihat Luna menderita lagi? Luna sudah cukup menderita kehilangang ayah dan ibu, jika Paman putus asa seperti ini lalu siapa lagi keluarga Luna yang akan menghibur Luna nanti,"
__ADS_1
"Dan jika Luna dan Hani menikah nanti, siapa yang akan mengantarkan kami ke pelaminan, siapa yang akan menyerahkan kami ke calon suami kami? Jadi Paman, tolong berhentilah menyalahkan diri sendiri dan hiduplah tanpa penyesalan."
"Jika, Hani dan Kak Neon tahu Paman putus asa seperti ini, mereka pasti akan sangat sedih. Sekarang Bibi sedang menerima konsekuensi dari perbuatannya, hanya Paman seoranglah yang akan menjadi orangtua bagi Hani dan kak Neon,” tegas Luna pada pamannya itu.
Entah mengapa Luna merasa jika pamannya sungguhlah putus asa dan kehilangan semangat hidup.
Bagaimana tidak, Beni sangatlah menyayangi kakak laki-laki nya itu, dulu Gonzales lah yang merawat Beni saat orang tua mereka sudah meninggal dunia. Gonzales adalah kebanggan bagi Beni, dan mengetahui fakta bahwa istrinya sendirilah penyebab kematian kakak laki-lakinya sungguh membuat dunia Beni seolah runtuh.
Tapi, setelah mendengarkan perkataan keponakannya Luna. Beni baru tersadar, jika dia masih memiliki putri yang membutuhkan nya juga seorang putra yang membutukan nasehatnya. Beni juga baru sadar jika keponakannya hanya memiliki dirinya seorang sebagai keluarga di dunia ini. Beni tidak ingin terus terpuruk dalam kesedihan dan menyalahkan diri sendiri.
Yang Beni harus lakukan saat ini adalah mendidik Hani dengan benar, karena Beni merasa Nonik telah memberikan pelajaran dan didikan yang salah pada putrinya itu.
Luna sangat lega karena dirinya datang tepat waktu ke kediaman pamannya itu, Luna tidak bisa membayangkan jika dirinya datang lebih lama, pastinya Beni akan tetap merasa bersalah dan putus asa.
***
Di kantor polisi Nonik dijemput oleh salah seorang petugas yang terlihat asing di mata Nonik, polisi itu tidak bersikap normal seperti polisi pada umunya. Caranya membawa Nonik terlihat sangat kasar.
Sesampainya di mobil pria yang memakai baju polisi itu, tersenyum sinis dari kaca spion menampilkan ekspresi yang sangat menakutkan.
Entah mengapa Nonik memiliki perasaan yang aneh akan hal ini.
__ADS_1
“Siapa kau? Kau bukan polisi kan? kemana kau akan membawaku?” teriak Nonik yang memang masih di borgol yang sekarang duduk di kursi belakang.
“Haha, tenang saja sebentar lagi kau akan bertemu dengan malaikat pencabut nyawa, sepertinya kau akan bertemu dengan iblis karena kelakuanmu! Dan kuperingatkan satu hal lagi, aku tidak suka orang yang berisik, jika kau ingin mati dengan cepat dan tanpa penyiksaan kau harus duduk tenang dan jangan berisik!” decak pria menyeramkan itu sembari mengendarai mobil polisi itu ke sebuah hutan.
“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Nonik dengan nada suara yang bergetar. Dia sudah yakin jika ajalnya sudah dekat, karena saat ini mereka sudah sampai di tengah hutan yang sepi.
“Heh? Memangnya kau punya kualifikasi apa ingin mengetahui atasanku? Tidakkah kau dengar? Aku tidak suka orang yang berisik jika tidak ingin menerima penyiksaan dahulu. Kau duduklah tenang disini, dan tunggulah ajalmu,” ucap pria menyeramkan itu tersenyum sinis sembari keluar dari mobil itu.
Sedangkan Nonik dibiarkan tetap dimobil itu, pria itu sengaja membocorkan tangki bensin mobil polisi itu dan memantikkan korek, dan tentu saja dari bensing yang mengalir, api pelan-pelan menjalar dari bawah menuju ke badan mobil.
“Tolong? Siapapun tolong aku!” teriak Nonik melihat api yang semakin besar datang ke arahnya.
Tapi, pria itu bahkan tidak menoleh sedikitpun. Karena memang tujuan utamanya adalah membunuh Nonik dan membuat hal itu seperti sebuah kecelakaan.
Selagi api menjalar, pria itu dijemput sebuah mobil berwarna hitam dan pergi dari hutan itu. Meninggalkan Nonik yang sedang terborgol di dalam mobil.
Pria itu tentu saja sengaja, jika api semakin besar pastinya akan mengakibatkan ledakan yang besar, dan tubuh Nonik tidak akan bisa dikenali lagi, dan karena mobil itu sudah meledak pria itu bisa memanipulasi bukti-bukti dan mengatakan jika itu adalah sebuah kecelakaan.
Pria itu menunggu agak jauh dari lokasi, menunggu ledakan mobil itu. Dan jika mobilnya sudah meledak, pria itu akan kembali untuk mengecek lokasi.
“Booommmm!” ledakan besar pun terjadi.
__ADS_1
Dan sesuai rencana pria itu kembali mengecek lokasi setelah beberapa saat menunggu api ledakan reda.
Setelah memastikan ada mayat di mobil yang hangus itu, pria itu pun kemudian menelepon Urek Heit untuk melaporkan tugasnya yang sudah tuntas.