
Melihat gadis yang ia cintai menangis dengan sangat pilu, membuat Rendi merasakan sakit dihatinya, dihampirinya Luna yang sedang terduduk itu, lalu dipeluknya dengan lembut tubuh Luna yang sedang bergetar hebat itu.
"Tenang saja Luna, tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja, masih ada aku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Rendi menenangkan Luna, sembari mengusap rambut Luna dengan lembut.
Tetapi, Luna sudah tidak dapat mendengar apa yang diucapkan oleh Rendi, yang Luna pikiran sekarang adalah Winston, bagaimana Winston dengan begitu cepat mencampakkan dirinya, bahkan tanpa pemberitahuan sebelumnya.
"Rendi, tolong antarkan aku pulang," pinta Luna setelah beberapa saat menangis di pelukan Rendi, dan Rendi segera melakukan apa yang Luna inginkan.
***
"Kak Neon, bisakah aku tinggal di apartemen mu yang kosong itu sementara? aku sudah tidak punya rumah lagi." Luna mengirimkan pesan pada kakak sepupunya Neon, karena Luna tahu, sekarang Luna sudah tidak bisa tinggal di apartemen Winston itu lagi.
Tring ... Tring ... Tring
"Halo Luna, apakah kau sedang dalam masalah?" itulah ucapan yang Neon tanyakan pertama kali pada Luna.
"Tidak kok kak, aku baik-baik saja, mengenai permintaanku barusan, apakah boleh kak?"
"Yaampun Luna, kalau kau mau tinggal disitu ya silahkan, sebelum kaka menikah semua milikku adalah milikmu juga, bukankah kita adalah saudara? aishhh ... kaka kira tadi kau ada masalah, sampai kaka memberhentikan meeting sebentar karenamu ... sudahlah, kaka mau lanjut bekerja dulu, untuk PIN apartemennya ulang tahun Monci ya." Setelah mengatakan itu, Neon langsung memutuskan panggilannya..
Karena saat ini Neon memang sedang melaksanakan meeting dengan tim satu kerja nya.
'Notes : Monci adalah nama anjing Neon'
Setelah Rendi mengantarkan Luna pulang, segera Luna mengemasi barang-barang nya dan langsung pindah ke apartemen kakaknya, Neon.
Setelah itu, Luna mengirimkan pesan teks pada Winston.
"Winston, aku sudah pindah dari apartemenmu, aku menghargai perjanjian kita, saat kau sudah menemukan kekasih, maka perjanjian kita akan otomatis batal, jadi mulai hari ini, kita sudah tidak ada hubungan lagi. Selamat tinggal."
Itulah isi pesan teks yang Luna kirimkan pada Winston, Luna ingin bangkit lagi, karena sekarang, Winston sudah tidak akan membiayainya, maka Luna harus mencari pekerjaan lagi, dan harus belajar mati-matian untuk mendapatkan beasiswa di jurusannya.
Di kantor Winston.
__ADS_1
Setelah membaca pesan dari Luna membuat Winston sangat marah, dia merasa Luna tidak berhak memutuskan hubungan mereka. Winston merasa Luna juga tidak berhak melakukan sesuatu di luar keinginan Winston, kemarahan Winston semakin memuncak saat Winston melihat foto-foto Rendi sedang memeluk Luna, ingin rasanya Winston menembak Rendi ditempat.
Sungguh, sekarang Winston dalam amarah yang meluap-luap, dia merasa takdir sangatlah kejam, bagaimana mungkin, setelah ia memberikan hatinya pada Luna baru lah kenyataan pahit diungkapkan. Kenapa tidak sedari awal? sekarang yang tersisa hanyalah kebencian, kemarahan dan pembalasan dendam.
Karena dengan adanya fakta bahwa ibunya benar-benar dibunuh sungguh membuat Winston sangat terpukul, bagaimana ia dulu meyakinkan dirinya bahwa ibunya meninggal hanyalah karena sakit, bagaimana selama ini kebenaran itu telah di tutup-tutupi.
Walaupun Winston mencurigai dan menyelidiki akan kematian ibunya, tapi dari lubuk hatinya yang terdalam, Winston tetaplah berharap jika ibunya meninggal secara alami, bukan dengan campur tangan manusia.
"Akan kucari! akan kuhancurkan! siapapun itu akan kulenyapkan dari dunia ini!" geram Winston sembari mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.
Winston pun sangat marah pada ayahnya, bagaimana selama ini ia tidak memberitahukan kebenarannya pada Winston, tetapi ayahnya hanya berasalan, bahwa pada saat itu, Winston masih terlalu muda, dan jika saat itu Winston mengetahui nya, maka akan berpengaruh pada mental Winston.
Di apartemen Neon.
Luna merebahkan dirinya sejenak. Ia ingin menenangkan pikirannya,
"Luna, kau harus semangat, mungkin ini adalah cara yang terbaik untuk mengakhiri hubungan yang aneh itu, semakin cepat diakhiri bukankah semakin bagus?" gumam Luna tetap berpikir positif.
Memang benar jika Winston telah menyelamatkan hidup Luna, memberikannya kenyamanan dan perlindungan baginya. Tapi, Luna merasa jika semakin lama Luna bersama Winston, maka kebebasan Luna akan semakin terenggut.
Setelah memesan taxi online, Luna pun bergegas menuju pemakaman orangtuanya itu, dan setelah hampir satu jam perjalanan, sampailah Luna di lokasi yang ia tuju.
***
"Ayah, Ibu ... Luna berkunjung lagi, Luna tidak apa-apa, jangan khawatir, hari ini Luna hanya merindukan Ayah dan Ibu ... rasanya baru kemarin kita bersama, apakah kalian ingat liburan kita terakhir kali didanau? saat itu Ayah berjanji padaku akan terus melindungi ku, Ibu juga berjanji padaku akan mendukung ku terus, tetapi apa ini?"
Air mata yang memang Luna tahan kembali lagi mengalir, bagaimana mungkin kehidupan ini bisa begitu jahat padanya. Mengambil kedua orangtuanya secara bersamaan.
***
"Wah, ternyata benar itu kau, kucing kecil." sahutan itu membuyarkan kesedihan Luna, dan dilihatnya lah sosok lelaki yang pernah ia temui di acara panti sosial waktu lalu.
"Untuk apa kau disini, jangan menganggu ku!" sahut Luna Ketus, karena seingat Luna, pria yang berada di dekatnya ini memiliki sifat yang sangat mesum.
__ADS_1
"Aduh, kau sangat galak, membuatku semakin ingin menaklukkan dirimu." Respon Nixon hendak mendekat kearah Luna.
"Makam siapa ini?"
"Bukan urusan mu! untuk apa kau disini? apakah kau menguntit ku?" ketus Luna pada pertanyaan Nixon itu.
"Aih ... Aih, gadisku ini memang sangat percaya diri, aku memang tertarik padamu, tetapi aku tidak pernah berencana menguntitmu, aku kesini juga sedang mengunjungi makam ibuku."
Jawab Nixon berterus terang, karena memang kali ini, perjumpaannya dengan Luna memang tidaklah ia rencanakan.
Mendengar penjelasan Nixon, membuat Luna sedikit bersimpati. "Maafkan aku, aku tidak tahu." Balas Luna menunduk.
"Hahaha, kau sangat Lucu dan manis, tenang saja, aku baik-baik saja kok, jangan mengasihaniku, kalau kau merasa bersalah, kau tinggal menebusnya padaku," balas Nixon dengan senyum jenakanya yang membuat Luna sedikit risih.
"Dengan apa aku bisa menebus nya?" jawab Luna pada Nixon, karena Luna tidak mau berhutang apapun.
"Berikan nomor ponselmu padaku,"
"Cih, kirain apaan!" gumam Luna sembari memberikan nomor ponselnya pada Nixon.
Setelah beberapa waktu.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, mereka membicarakan banyak hal, satu hal yang Luna ketahui tentang Nixon, bahwa Nixon adalah orang yang sangat asyik jika diajak berbicara, Nixon juga terlihat seperti orang yang baik di mata Luna. Mungkin pertemuannya saat di panti sosial, hanyalah cara Nixon berkomunikasi dengan orang lain.
Karena memang waktu sudah sore, Nixon menawarkan agar mengantarkan Luna pulang, dan hal itu diterima dengan baik oleh Luna, karena sekarang Luna sudah menganggap Nixon sebagai temannya.
Dan lagian, sekarang sudah tidak ada lagi Winston yang akan marah-marah jika melihat Luna dengan pria lain.
Sebelum mereka benar-benar sampai di gerbang pemakaman, dari kejauhan, Luna bisa melihat seorang pria yang sangat ia kenali sedang berdiri didekat mobilnya, menatap dengan sangat tajam ke arah mereka berdua.
Dengan reflex tubuh Luna memberikan respon, Luna tiba-tiba ketakutan dan tubuhnya gemetaran.
"Jangan takut Luna, bukankah kalian sudah tidak ada hubungan lagi? jangan lemah di hadapan nya," gumam Luna tetap melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
***
"Sayang, bagaimana rasanya selingkuh dengan dua pria sekaligus dalam satu hari? apakah mereka sudah memuaskanmu?" itulah kata pertama yang Winston ucapkan pada Luna.