
***
Setelah beberapa saat dalam perjalanan mereka sampai di mansion Winston. Tanpa pikir panjang Winston langsung cepat-cepat menggendong Luna ala bridal style. Karena sedari tadi Luna bersikap sangat menggemaskan membuat gairah Winston sedang berada di puncak sekarang.
Para pelayan yang melihat hal itu sampai terkejut dan sebagian merasa malu.
Mereka sangat kagum akan keperkasaan tuan mereka itu.
"Kau harus tahu seberapa keras aku menahan ini dari tadi, kau memang perempuan penggoda khusus untukku!" ucap Winston ketelinga Luna dengan nafas yang begitu memburu. Lalu dengan sangat intens dia mencium bibir Luna, sampai Luna gelagapan merespon. Karena tenaga yang dikeluarkan Winston sungguh berbeda dengan yang selama ini Luna terima.
"Sayang berapa kali pun aku melakukan hal ini denganmu, tidak pernah membuatku bosan. Kau memang sangat hebat dan seksi," bisik Winston saat sudah berhasil menanggalkan seluruh pakaian yang Luna kenakan.
Lalu segera Winston melancarkan aksinya itu, entah sudah berapa lama mereka melakukan itu namun belum juga membuat mereka bosan. Apalagi Winston yang memang sedari tadi sudah menahan gejolak gairahnya itu.
"Win ... Winston, aku sangat lelah dan lapar, bisakah kita hentikan dulu?" tanya Luna tersendat-sendat karena memang dia sangat kelelahan merespon tenaga Winston yang sangat besar.
"Panggil aku sayang," bisik Winston sembari mencium dengan lembut pundak Luna. Dan tangannya masih bertualang ditubuh Luna.
"Sayang, ayo kita makan dulu. Aku sudah kehabisan energiku," keluh Luna dengan nafas yang tersendat-sendat.
"Baiklah, kita akan makan dulu. Tapi sesuai janjiku tadi, malam ini kita tidak akan tidur!" goda Winston sembari menyuruh pak Roni untuk membawakan makanan ke kamar mereka.
"Aku bersumpah tidak akan bersikap manja ataupun menggemaskan dihadapan mu! kau benar-benar monster. Bagaimana mungkin hanya aku yang kelelahan dan dia tidak. Dia seperti memiliki energi tidak terbatas di tubuhnya itu. Sial!" gerutu Luna merasa lemah karena kehabisan energi.
"Hehe, jika ingin menyesal sudah terlambat sayang. Siapa suruh tadi kau menggodaku di tengah keramaian, ini adalah hukuman mu!" goda Winston menggendong Luna ke meja dekat kasur, karena pak Roni sudah menyusun makanan disitu.
Benar saja, sehabis makan Winston tetap melanjutkannya lagi. Dia sungguh menepati janjinya tidak membiarkan Luna tidur malam itu.
__ADS_1
***
Beberapa hari kemudian.
"Bos, hari ini rencana kita akan kita laksanakannya di hotel lotus," ucap Rean kepada Winston yang sedang duduk di kursi kerjanya itu.
"Baiklah, aku juga sudah melihat saham yang kita miliki sudah cukup untuk menumbangkan dia. Ingat ya Rean jangan sampai hal ini tercium oleh publik dan menarik terlalu banyak perhatian." balas Winston memperingatkan Rean agar kali ini lebih hati-hati dari sebelumnya.
"Baik Bos!" jawab Rean menyanggupi dan pergi menyiapkan semua berkas-berkas yang dibutuhkan.
***
"Sayang, jangan lupa ya malam ini datang ke restoran yang sudah aku kirimkan alamatnya. Ada yang ingin aku berikan padamu," Winston mengirimkan pesan teks pada istrinya Luna.
"Baiklah sayang, semoga harimu menyenangkan," Luna membalas pesannya dan langsung melakukan test dengan dokter. Karena memang saat ini Luna sedang melaksanakan treatment pengobatan untuk mengembalikan ingatannya itu.
***
Di hotel lotus.
"Tuan Winston, saya sangat senang karena telah menjalin kerjasama dengan dirimu. Usaha saya semakin berkembang dengan sangat pesat," ucap Wira dengan wajah yang sangat senang. Dia merasa sangat beruntung bisa bekerjasama dengan orang berkuasa seperti Winston.
"Haha, Tuan Wira jangan memuji diriku terlalu tinggi. Tentu saja ini juga karena kerja kerasmu," balas Winston sembari memberikan senyum palsu dihadapan Wira Hermanto.
Setelah mereka berbincang cukup lama, Wira Hermanto merasakan ada sesuatu yang aneh di dalam ruangan itu. Para anggotanya yang dia bawa satu persatu menghilang entah kemana. Dan sekarang hanya tinggal dia dan Winston di ruangan itu.
"Tuan Winston, kenapa saya merasa ada yang aneh ya? orang-orang ku yang sudah aku bawa kemari sepertinya menghilang satu persatu. Sepertinya ada yang tidak beres, saya ijin memeriksanya dulu ya Tuan," ucap Wira samasekali tidak menaruh curiga pada Winston. Dia hanya merasa aneh saja mengapa para anggotanya tidak ada lagi di ruangan itu.
__ADS_1
"Silahkan Tuan Wira," balas Winston dengan santainya, dia tetap duduk dengan sangat gagah sembari melihat gerak-gerik Wira yang terlihat sudah tidak tenang.
Wira bergegas menuju pintu dan hendak membuka pintu ruangan itu, entah mengapa firasatnya makin tidak tenang. Dan benar saja pintu yang dia pegang sama sekali tidak bisa ia buka.
Dengan tubuh yang gemetaran, Wira menoleh ke arah Winton. Dia melihat Winston masih dalam keadaan tenang, bahkan tersenyum kearahnya. Seolah mengatakan jika Wira telah masuk kedalam jebakan hewan buas dan telah siap dimangsa.
"Glek," dengan kasar Wira menelan air ludahnya. Dia merasa semua hal yang dialaminya hari ini sungguhlah tidak beres.
"Tu ... Tuan Winston, kenapa pintunya tidak bisa dibuka? apakah Tuan tahu kemana perginya para anggotaku?" Wira bertanya dengan tubuh yang sudah bergetar, firasatnya mengatakan jika dirinya sudah melakukan kesalahan fatal karena telah mempercayai Winston.
"Hahaha! kau sangat bodoh Tuan Wira! coba kau pikirkan, di dunia bisnis ini mana ada sesuatu yang baik dan bisa di percaya. Dan kau dengan bodohnya sama sekali tidak mencurigai ku dan mempercayai ku, kau adalah musuh termudah aku jatuhkan. Haha!" tawa Winston menggelegar memenuhi semua ruangan. Hal itu membuat Wira tersungkur lemas.
"Tu ... Tuan Winston, mengapa ingin menghancurkan saya? saya tidak mengenal dirimu sebelumnya. Saya juga tidak melakukan sesuatu yang membuatmu tersinggung," ucap Wira gemetaran, dia juga bingung mengapa Tuan besar seperti Winston ingin menghancurkan orang seperti dia.
"Kau salah sangka Tuan Wira, aku tidak punya keinginan untuk menghancurkan orang-orang lemah seperti mu. Aku sebenarnya bahkan tidak punya cukup waktu untuk meladeni kebodohanmu itu. Kau hanya harus membayar dosamu karena telah menyiksa saudara-saudara ku." respon Winston sembari menyilangkan kakinya. Dia sungguh terlihat sangat gagah namun menyeramkan sekarang.
"Saudaramu? maksudnya siapa Tuan Winston? saya tidak pernah merasa melukai saudaramu," jawab Wira semakin bingung akan pernyataan Winston barusan.
"Rean, Sean, cepatlah kau urus dia ini. Aki tidak punya banyak waktu meladeni kebodohannya ini. Aku punya sesuatu yang harus aku lakukan sehabis ini!" ketus Winston dengan suara yang lantang.
Mendengar nama Rean dan Sean sungguh berhasil membuat Wira Hermanto merinding, jantungnya serasa mau copot dan tubuhnya sudah bergetar karena merasa sangat ketakutan.
Bagaimana tidak, dia langsung tahu dari namanya, jika Rean dan Sean adalah anak-anak yang dulu sengaja dia beli untuk disiksa. Sekarang Wira Hermanto merasa jika nyawanya sudah akan berakhir.
Rean dan Sean segera masuk kedalam ruangan itu, mereka sudah membawa senjata yang lengkap di tangan mereka. Mereka akan melakukan penyiksaan yang mereka terima dahulu kepada Wira.
Yaitu dengan cara mengikat Wira disebuah tiang dan mencambuk nya sampai tidak sadar, dan jika sudah sadar akan kembali di cambuk oleh mereka. Karena dahulu Wira menyiksa Rean dan Sean adalah dengan cara seperti itu.
__ADS_1
Rean dan Sean tidak membunuh dirinya, tetapi disiksa habis-habisan. Sampai Wira memohon untuk menghabisi nyawanya saja. Hal itu membuat Rean dan Sean merasa puas, mereka telah berhasil membalaskan dendam semasa kecil mereka.