
***
"Huh, akhirnya aku punya sedikit kebebasan. Hari ini, rencanaku adalah mengambil surat kelulusan dan pergi ke kampus pilihanku untuk cek lokasi. Hmmm, rencana yang bagus." Luna berbicara dengan dirinya sendiri.
Luna bergegas pergi ke sekolahnya, sekalian mampir ke tempat kerja paruh waktunya dulu. Dia belum sempat berpamitan dengan pemilik tokonya.
Sepertinya, rencana Luna hari ini begitu lancar. Dia pergi ke sekolah tanpa diketahui orang, dia juga tidak lupa mampir ke toko tempat kerja paruh waktunya dulu.
"Pak, maafkan Luna ya baru sempat berkunjung sekarang, Luna sudah tidak bisa bekerja paruh waktu disini lagi. Terimakasih sudah menerima Luna dengan baik."
Luna berbicara dengan sangat sopan pada pemilik toko itu.
"Wah, sudah lama ya Luna tidak mampir. Iya tidak apa-apa, lanjutkanlah sekolahmu. Ini gajimu yang belum Bapak bayarkan sebelum nya." Pemilik toko itu menyodorkan amplop berisikan upah Luna yang memang belum dibayarkan sebelumnya.
"Wah terimakasih banyak ya Pak, semoga sukses pak bisnis tokonya. Kalau begitu Luna permisi." Luna berpamitan ke pemilik toko itu. Luna berencana pergi ke taman bermain setelah cek lokasi kampus yang diinginkannya, Luna ingin sedikit merayakan kelulusannya walaupun hanya sendirian.
"Ah, hari ini terlihat begitu tenang. Sudah sejak kapan aku tidak merasakan ketenangan seperti ini." Gumam Luna sembari berjalan menyusuri jalan yang memang dekat dengan kampus yang dia inginkan.
Di kantor Winston.
***
"Sayang, aku tadinya ingin memberikan surprise untukmu, tetapi sekretaris sialanmu itu malah menghambatku masuk kedalam ruangan ini." Lily merengek kepada Winston, dia mengira Winston sudah menjadi miliknya.
"Haha, aku tidak menyangka secepat ini kau pindah kesini." Winston merasa kesal, kenapa Lily bisa dengan sangat cepat pindah kesini.
"Kau tidak senang sayang? lebih cepat kan lebih baik? dengan begitu lebih banyak waktu yang akan kita habiskan bersama." Lily menggandeng tangan Winston dengan sangat erat.
"Tentu saja aku senang, kau kan orang yang dijodohkan untukku. Oh ya, aku punya hadiah untuk mu." Winston kembali bersandiwara didepan Lily.
"Wah, apa itu sayang?" balas Lily antusias.
__ADS_1
"Aku telah membelikan kamu tiket liburan ke pulau A selama 2 minggu, nanti aku akan berkunjung sekali-kali. Aku merasa kau butuh sedikit liburan, kalau sudah pulang dari sana maka kita bisa membicarakan mengenai pertunangan kita."
Winston beralasan, padahal dia hanya ingin menyingkirkankan Lily sementara waktu, agar tidak menggangu rencananya menumbangkan Geng Lou.
"Kenapa kau tidak ikut saja sayang? tapi tidak apa, ini adalah hadiah pertamaku dari mu, aku tidak akan menolak nya."
Lily menjawab dengan begitu bodohnya, ia tidak sadar jika Winston hanya ingin menyingkirkannya.
"Bagus, satu wanita berhasil disingkirkan. Tinggal Satu lagi anak perempuan Lou." Gumam Winston dalam hati.
"Huh, aku sudah sangat merindukan si siputku yang lucu. Sedang apa ya dia sekarang?"
Padahal Winston baru beberapa jam berpisah dari Luna.
Di kampus A.
Luna melakukan cek lokasi di kampus yang dia inginkan, dia pergi ke aula kampus, ke ruangan belajar, perpustakaan dan tak lupa ke cafetaria kampus itu.
"Luna ...." Ada suara seorang pria yang memanggil Luna.
"Wah Rendi, Kenapa kau disini?"
"Haha, sepertinya kita benar-benar berjodoh manis. Lihatlah, bahkan semesta mempertemukan kita lagi disini." Balas Rendi kegirangan.
"Sudahlah Rendi, kau jangan menggodaku lagi, kau sudah tahu kan aku sudah punya kekasih?" Luna ingin menegaskan pada Rendi, agar Rendi tidak menaruh harapan pada dirinya.
"Wah ... wah, kau seperti hidup di tahun 80-an saja, memangnya kau sudah menikah dengannya? sebelum janur kuning melengkung, aku masih punya kesempatan."
"Tenanglah Luna, kau anggap saja aku temanmu, aku tidak akan mengharapkan apapun. Yang penting kau jangan menjauhiku, aku yang menyukaimu dan semua konsekuensinya akan menjadi tanggunganku."
Rendi berharap Luna tidak akan menjauhinya setelah ini. Karena setelah kejadian malam itu, Luna benar-benar tidak mau merespon pesan ataupun panggilan dari Rendi.
__ADS_1
"Baiklah Rendi, aku akan memaafkan mu, tapi ingat ya jangan berharap apapun padaku."
"Baik Luna manis." Rendi menampilkan Wajahnya yang begitu ceria. Tetapi sesungguhnya, dia merasa sakit dihatinya, baru kali ini dia merasakan cinta bertepuk sebelah tangan.
Rendi masih sangat yakin dengan berjalannya waktu, Luna akan membuka hatinya untuk dirinya. Jadi, tidak ada kata untuk menyerah sekarang.
***
Setelah merasa cukup berkeliling di kampus yang akan menjadi tempat ia belajar, Luna memutuskan untuk segera mengakhirinya.
"Rendi, urusanku disini sudah selesai, aku pergi duluan ya. Tidak usah mengantarku, kekasihku akan datang nanti, takutnya dia salah paham."
padahal Luna hanya ingin beralasan saja, sungguh hari ini dia ingin sendiri. Ingin menikmati waktunya sendiri.
Karena memang Luna langsung pergi berlari, Rendi tidak dapat menghalangi Luna. Padahal Rendi berharap bisa merayakan hari kelulusan bersama. Karena memang Rendi pun sedang sendiri, tak ada yang merayakan bersamanya. Karena keluarganya adalah keluarga yang sangat kaya dan juga sibuk, jadi tidak ada waktu untuk merayakan hal-hal yang menurut mereka sepele.
Taman bermain.
***
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Luna sudah sampai di taman bermain kotanya. Cuaca sedang bagus-bagusnya, tidak terik dan juga tidak mendung.
Luna duduk disebuah bangku kosong. Dia memejamkan matanya, menikmati angin yang berhembus melewati rambutnya yang panjang. Dia sedang menikmati satu ice cream yang berada ditangannya.
Memang sesederhana itulah Luna merayakan hari kelulusannya, tidak seperti orang lain yang merayakan dengan teman-teman nya, atau makan bersama dengan keluarga, disini Luna hanya sendiri.
"Cih, apa sih yang kuharapkan, mana mungkin dia tahu hari ini adalah hari kelulusan ku." Luna bergumam pada dirinya sendiri, karena memang dia teringat akan Winston.
Kembali dia mengingat perkataan Winston malam itu, bahwa hanya dirinyalah yang akan menjadi wanitanya, senyum yang ditahan oleh Luna pun tergambar di wajahnya yang cantik. Hatinya berdebar, baru kali ini Luna merasa tertarik pada seseorang.
Walaupun orang itu kadang mesum, tapi Luna dapat memaklumi nya. Karena Luna mengerti naluri seorang pria dewasa saat bersama dengan wanita yang di suka.
__ADS_1