Simpanan Pria Arogan

Simpanan Pria Arogan
Rani Kembali


__ADS_3

***


Mendapati Winston yang tiba-tiba sudah sangat dekat dengannya dan berbisik di telinga Luna membuat Luna terperanjat.


"Tu ... tunggu dulu, bukankah kau sedang sakit? lagian apa itu memakan untuk amunisi hati?" tanya Luna begitu polosnya pada suaminya itu.


"Sudahlah kau akan tahu nanti, mumpung tidak ada orang disini, apakah kau mau melakukannya di dapur? mungkin sensasi nya akan berbeda," bisik Winston sudah mencium Luna dan melepas celemek yang tadi dikenakan oleh Luna.


"Emmm, ja ... jangan disini, bagaimana jika nanti Tuti dan Nani sudah kembali? dan lagian Lily masihlah disini, dia berada di ruangannya," ketus Luna mencoba menyadarkan Winston akan permintaan anehnya itu.


"Cih, Lily ya? sialan, aku lupa kalau dia masih berada disini, padahal aku penasaran bagaimana rasanya melakukan itu di dapur," ketus Winston dengan wajah yang kesal.


"Tapi tidak masalah, jika tidak bisa di dapur, kita bisa melakukannya di kamar," ucap Winston sembari melempar senyum nakalnya ke arah Luna.


Lalu, dengan sangat sigap Winston menggendong Luna ala bridal style, hendak membawa kembali ke kamar mereka.


Tetapi sesaat melewati ruangan makan hendak menuju tangga ....


"Winston," sahut Rani yang memang sudah datang ke mansion Winston bersama dengan Lani.


"Rani?" decak Winston dengan wajah yang terlihat kaget, dia juga langsung memandang ke arah Lani. Padahal sudah jelas-jelas Winston mengatakan pada Lani untuk tidak membawa Rani ke mansion dulu.


"Winston, siapa dia? dia bukan tunanganmu yang ada di surat kabar? siapa dia?" teriak Rani dengan wajah yang sudah memerah, nafas nya memburu seperti seseorang yang sedang menahan emosinya.


"Sayang, kau kembali ke kamar dulu ya, ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan dahulu," ucap Winston dengan lembut ke arah Luna.


"Baiklah, aku akan menunggu mu," jawab Luna dengan wajah yang sedikit khawatir, karena Luna sudah tahu jika Rani adalah orang yang selama ini hilang di hidup Winston.


***


"Winston, siapa gadis itu?" tanya Rani pada Winston yang berada dekat dengannya itu.


Mereka memang sedang berada di ruang tamu.


"Rani, aku tahu aku salah tidak mencarimu dahulu saat kau menghilang, aku bahkan melarang yang lain untuk mencarimu. Tapi, semuanya sudah berbeda sekarang, kita sudah tidak bisa kembali seperti dulu lagi. Aku sudah mencintai seseorang sekarang, dulu kau pasti tahu, aku menerima mu bukan karena cinta namun karena saat itu kita saling membutuhkan. Dan gadis yang kau lihat tadi adalah istriku, orang yang kucintai." jawab Winston berterus-terang pada Rani.


"Istri? apa? kenapa kau begitu jahat padaku? aku selalu menunggu mu, hari demi hari bahkan tahun berlalu pun aku tetap menunggu mu, dan sekarang kau tiba-tiba sudah menikah? kenapa kau bisa tidak berperasaan begitu?" teriak Rani yang sudah bergetar hebat, dia sungguh terluka saat ini.


Bagaimana selama ini dirinya menunggu Winston dikegelapan, bagaimana selama ini hatinya ia jaga untuk Winston seorang. Tapi semuanya bisa hancur hanya karena seorang gadis yang baru Winston temui.

__ADS_1


"Aku tahu aku salah Rani, aku tahu karena egoku saat itu aku sama sekali tidak mencarimu, tapi semuanya sudah terlambat aku tidak bisa kembali lagi padamu," Winston ingin meluruskan segalanya, bahwa Winston sama sekali sudah tidak bisa meninggalkan Luna.


"Tidak mau! apakah kau pikir semuanya selalu bisa berjalan sesuai dengan yang kau inginkan? jangan pernah berharap bisa meninggalkan aku Winston! yang seharusnya menjadi istrimu adalah aku! bukan gadis itu!" teriak Rani langsung tidak sadarkan diri ditempat itu.


Rani sungguhlah syok dengan sikap dingin Winston terhadap nya, padahal dahulu Winston sama sekali tidak pernah bersikap seperti itu padanya.


"Rani?" decak Winston saat melihat Rani sudah jatuh pingsan, dengan sangat panik Winston langsung menggendong Rani dan membawanya ke rumah sakit.


Lani yang sedari tadi memang sedang bersama mereka pun ikut membawa Rani kembali ke rumah sakit.


Di mobil.


***


"Kenapa kau membawanya ke mansion?" tanya Winston kepada Lani sembari memegangi Rani yang sedang pingsan itu.


"Maafkan aku Bos, selama kak Rani di rumah sakit, tidak seharipun dia tidak menanyakan Bos. Dia selalu menanyakan mengapa Bos tidak datang, dan hari ini kak Rani mengancam akan melompat jika tidak dibawa ke mansion mu," jelas Lani pada Bosnya itu.


Karena memang sebenarnya Lani sudah berusaha sebaik mungkin agar tidak membawa Rani ke mansion, namun karena memang Rani sudah mengancam begitu, maka Lani tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti permintaan kakanya itu.


Mendengar pernyataan Lani membuat Winston terdiam, dia sadar telah salah pada Rani, dia salah karena dari awal tidak pernah mencari Rani.


Winston mengusap dengan kasar rambutnya, dia sadar Rani akan sangat susah diajak berkompromi.


Entah mengapa untuk hidup tenang bersama Luna itu sangatlah berat tantangannya, selalu saja ada masalah dan ujian.


***


Di kamar Winston.


Luna yang memang sedari tadi sudah gusar semakin menjadi-jadi, karena Winston sama sekali tidak kembali ke kamarnya.


"Rani sudah kembali, bagaimana denganku? apakah Winston akan menceraikan aku demi Rani?" gumam Luna yang sudah hampir menangis itu.


Sebagai seorang wanita tentunya Luna memiliki kepekaan perasaan yang lebih dalam dibandingkan seorang pria, saat ini Luna merasa sangat ketakutan jikalau Winston akan menceraikan dirinya setelah cinta pertamanya kembali.


Untuk menutupi rasa gugup nya, Luna mencoba menyalakan televisi yang ada di ruangan itu. Dan seperti di sambar petir, berita utama di berita itu adalah mengenai bibinya Nonik yang sudah menyerahkan dirinya.


"Kenapa dia sudah menyerahkan dirinya? padahal aku belum melakukan apapun? apakah Winston yang melakukan ini semua? apakah dia sudah tahu masa laluku?" gumam Luna gemetaran dan air matanya sudah mengalir.

__ADS_1


Dia merasa jika Winston sudah tahu semua kekelaman yang terjadi di masa lalu, tanpa diberitahukan olehnya, Winston sudah melakukan semuanya untuk Luna dari belakang.


Luna pastinya tahu jika Winston sangat ingin mendengar seluruh kisah itu dari dirinya langsung, tapi Winston sengaja tidak mau mengungkit masalah itu hanya karena Luna mengatakan belum siap. Tapi Winston tetap membereskan semua masalah di belakang Luna dan memberikan Luna kenyamanan dan rasa tenang.


"Bukan saat nya aku meragukan hati Winston, saat ini yang harus aku lakukan adalah mempercayai dirinya, kalaupun Rani adalah cinta pertamanya, lalu memangnya kenapa? yang menjadi istri sahnya sekarang adalah aku, aku sudah kehilangan semua yang berharga di hidupku, aku sudah tidak mau kehilangan yang terakhir yaitu Winston," ucap Luna menetapkan hatinya, agar selalu percaya pada suaminya itu.


Setelah melihat berita mengenai Bibinya Nonik, Luna sesaat sadar, walaupun Winston tidak pernah membicarakan perihal yang ia hadapi, Winston selalu berusaha membantunya dan mengurus semua masalahnya secara tuntas. Winston sungguh mendukung Luna tanpa diberitahu, seperti seorang malaikat pelindung yang melakukan segalanya tanpa pamrih.


Tring ... Tring ... Tring


Ponsel Winston sedang berbunyi dan Winston langsung terperanjat saat melihat jika Luna menghubungi dirinya.


"Halo sayang? ada apa?" tanya Winston begitu panik, sembari keluar dari ruangan Rani yang sedang di rawat.


"Tidak, aku hanya ingin meneleponmu, kau tidak kembali jadi aku khawatir," sahut Luna berbohong, padahal sebenarnya Luna menelepon Winston adalah karena dirinya ingin berterima kasih atas semua yang sudah Winston lakukan padanya. Tapi, Luna bingung cara menyampaikan nya.


"Oh iya, maafkan aku sayang, tadi Rani pingsan jadi aku langsung membawanya ke rumah sakit. Tapi tenang saja, aku menganggap Rani sama seperti aku menganggap Lani kok, mereka itu sudah seperti saudara ku, jadi kau tidak usah khawatir," sahut Winston panjang lebar.


Winston tidak ingin Luna memiliki pemikiran yang aneh, antara dirinya dan juga Rani.


"Iya sayang, aku percaya padamu. Cepatlah pulang, ada yang ingin aku bicarakan," sahut Luna langsung menutup teleponnya.


Luna merasa sangat malu, sudah lama dia tidak memanggil Winston dengan sebutan sayang.


"Apa? tadi dia memanggil ku sayang? astaga istriku ini memang sangat pandai menggodaku," gumam Winston tersipu malu, hanya karena Luna memanggil nya sayang.


Setelah beberapa saat, Winston kembali ke ruangan Rani yang masih tidak sadarkan diri.


"Lani, kau jaga Rani disini, aku ada urusan penting di luar. Jika dia sudah sadar, langsung telepon aku," ucap Winston kearah Lani yang memang sedang duduk disamping kakanya yang sedang terbaring itu.


"Baik Bos," sahut Lani tidak mau menanyakan hal yang lain dulu.


Lalu segera Winston pergi berlalu, dirinya ingin pergi menemui Nixon, Winston ingin melakukan sesuatu untuk menyelesaikan permasalahan mengenai Urek Heit itu.


Sebelum dia pulang ke mansion, dia ingin mengurus suatu hal bersama Nixon. Sekarang Winston sudah memiliki rencana paling efektif untuk menumbangkan Urek.


Tring ... Tring ... Tring


"Halo Bos," sahut Rean melalui telepon, karena memang saat ini Rean sedang berada di kantor untuk membackup pekerjaan Winston.

__ADS_1


"Aku ingin kau mempersiapkan tim yang hebat sekarang, kita akan memulai rencana penghancuran Urek Heit. Kau tahu kan, kita harus tahu semua info mengenai dirinya, jangan ada info yang terlewatkan bahkan info sekecil apapun itu. Kali ini, akan ku cabut dan bakar akar dari semua kekacauan dan kemalangan ini!" tegas Winston sembari melajukan mobilnya hendak bertemu dengan Nixon dahulu.


"Baik Bos," jawab Rean serius, karena tentu saja Rean langsung tahu nama Urek, nama yang sudah terkenal di kalangan dunia bawah, karena kelicikan dan kebuasannya.


__ADS_2