
***
Di kediaman Rendi.
"Rendi, jauhi dia!" decak Bima Anggara pada putranya yang baru pulang sembari melempar beberapa photo yang merupakan gambar Luna yang sedang bersama dengan Winston.
Memang Rendi akhir-akhir ini sangatlah sibuk, dia sudah cuti dari perkuliahannya demi fokus belajar bisnis. Belum pernah Rendi sefokus dan seserius ini sebelumnya.
"Ayah, kenapa Ayah bisa tahu tentang Luna? apakah Ayah memata-matai ku?" decak Rendi saat melihat gambar-gambar Luna yang sudah berserakan itu.
"Rendi, apakah kau tahu siapa pria yang disampingnya?" tanya Bima dengan wajah yang sudah memerah akibat menahan emosinya.
"Tentu saja aku tahu, aku belajar mati-matian hanya untuk mengalahkan nya dan merebut Luna darinya!" decak Rendi serius pada ayahnya itu.
"Rendi! kau itu masih terlalu muda dan terlalu Naif. Dia ini bukanlah seseorang yang bisa kau kalahkan, apakah kau tahu jika ayahnya adalah orang yang sangat berkuasa? apakah kau tahu jika dia ini memiliki sindikat mafia yang sangat kuat? sebaiknya kau jauhi gadis itu, sebelum perusahaan kita hancur karenanya!" Teriak Bima Anggara langsung pergi berlalu.
Bima Anggara memang baru saja mendapatkan info dari suruhannya mengenai gadis yang dulu dekat dengan Rendi yaitu Luna. Dan Bima sungguhlah syok saat melihat jika Luna memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Winston.
Bima Anggara tentunya tahu jika Winston adalah pengusaha muda yang sangat sukses namun berhati dingin, Bima juga tahu jika sudah banyak perusahaan yang Winston hancurkan hanya karena mereka mencoba menantang dirinya.
Bima Anggara tidak ingin perusahaan keluarganya juga hancur hanya karena kebodohan putranya itu.
***
Setelah Bima Anggara pergi, Rendi sejenak termenung. Dia melihati photo yang berserakan itu.
Terlihat Luna yang sedang tertawa bersama Winston disebuah taman bermain.
"Apakah aku sungguh tidak bisa menang darinya? kenapa dia berbeda? kenapa semua orang mengatakan aku tidak bisa mengalahkan nya? kenapa?" decak Rendi bergetar.
Dia merasa semua orang meragukan dirinya hanya karena dia ingin menantang Winston.
"Aku tidak boleh menyerah, aku ini pria dan aku akan memperjuangkan apa yang ku inginkan!" ucap Rendi menyemangati dirinya sendiri.
Kali ini, dia memang sungguh lah serius atas keputusannya. Selama hidup, baru kali ini Rendi ingin sekali mengalahkan seseorang.
***
Malam hari di sebuah restoran,
Malam itu Nixon sungguh menghadiri makan malam keluarga besarnya itu. Di restoran itu sudah lengkap semua sanak keluarga besar Nixon. Termasuk Urek Heit, dia sedang tertawa bersama ayah Nixon sekarang.
"Nixon, akhirnya kau memiliki ketertarikan masuk ke dunia pemerintahan. Ayahmu pasti sangat bangga padamu," ucap salah seorang sanak saudara yang hadir disitu.
__ADS_1
"Iya nih, setelah ku pikirkan lebih matang, sepertinya aku memang memiliki ketertarikan bekerja di pemerintahan," jawab Nixon dengan sandiwaranya. Senyum palsu Nixon sedang terpampang sekarang, dia sungguh akan mengelabui semua orang yang hadir di perjamuan itu.
Urek yang mendengar jawaban Nixon sedikit menoleh ke arah Nixon, dengan tatapan penuh tanda tanya Urek melihat Nixon sedari tadi.
Urek memang memiliki kepekaan yang sangat tinggi dibandingkan dengan yang lain. Untuk saat ini Urek memang tidak mengetahui apa yang disembunyikan keponakannya itu tapi Urek langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Setelah beberapa saat Urek mengajak Nixon untuk berbicara berdua saja di sebuah ruangan dekat ruangan makan mereka.
"Apakah kau menyembunyikan sesuatu?" itulah pertanyaan yang di ajukan Urek saat mereka sudah berada di ruangan itu.
"Menyembunyikan sesuatu? aku tidak mengerti? memangnya apa yang bisa aku sembunyikan darimu Paman?" jawab Nixon dengan ekspresi yang tetap tenang.
Walaupun sebenarnya Nixon sudah sangat panik, karena Pamannya itu sungguhlah sangat peka.
"Hemm, lupakan pertanyaan ku itu, kenapa sekarang kau mau menghadiri acara makan keluarga kita? apakah kau sudah tidak marah padaku?" tanya Urek menyelidik, entah apa yang ada dipikiran Urek namun saat ini dia merasa ada yang tidak beres akan sikap Nixon.
"Tentu saja aku masih marah, aku mengikuti pemilihan ini bukan karena aku suka, tapi karena ayah sudah semakin tua jadi aku mengabulkan permintaannya. Dan bukankah Paman yang mendesak ayah agar ayah menyuruhku menjadi salah satu DPR?" jawab Nixon dengan ekspresi yang sudah berubah tidak senang.
Nixon memang sengaja menjawab seperti itu, Nixon sudah tahu jika Pamannya itu sudah mencium sesuatu yang tidak beres, jadi jawaban yang tepat adalah dengan menjawab sejujur-jujurnya pertanyaan pamannya itu.
Melihat jawaban Nixon yang jujur Urek sedikit merasa lega, dia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan lagi di diri Nixon.
Jika saja tadi Nixon salah menjawab maka sudah bisa di pastikan Urek akan melakukan sesuatu untuk itu.
Tapi, sebelum benar-benar pergi,
"Tapi Nixon, kau tahu kan aku bukanlah seseorang yang bisa ditipu atau dijebak, berhati-hati lah," ucap Urek dengan nada yang pelan namun mencekam. Seolah-olah Urek memberikan peringatan pada keponakannya itu untuk tidak melakukan hal yang tidak diinginkan oleh Urek.
"Tenang saja Paman, aku tidak suka mengurusi urusanmu, untuk apa aku menipumu!" jawab Nixon dengan ekspresi yang tetap tenang, dia tidak ingin Urek semakin curiga padanya.
Setelah mendapatkan jawaban dari Nixon, barulah Urek pergi berlalu menuju ruangan makan keluarga mereka itu.
Setelah beberapa waktu, makan malam keluarga mereka usai. Urek langsung pergi ke kediamannya karena memang ada sesuatu yang ingin dia urus.
***
"Wanita itu, yang bernama Nonik yang sekarang berada di penjara. Bawa dia keluar dari situ dan bunuh dia, jangan sampai ada bukti yang tertinggal!" ucap Urek dengan nada yang pelan sembari menghisap rokok yang berada di tangannya.
Memang saat ini Urek sedang berada di mobilnya dan sedang bersama dengan seorang suruhan kepercayaannya.
"Baik pak, akan segera saya bereskan," jawab pria suruhan Urek itu dengan sopan.
"Dan satu lagi, selidiki siapa saja yang bertemu dengan Nixon beberapa bulan terakhir ini. Saat ini, aku memang belum menemukan sesuatu yang janggal tapi alangkah baik nya kita berjaga-jaga sebelum terjadi sesuatu!" perintah Urek pada suruhannya itu.
__ADS_1
Urek memanglah seorang yang sangat teliti, dia tidak ingin ada sedikitpun masalah yang bisa menghambat ambisi nya itu.
***
Di mansion Winston,
Sekarang Winston sangatlah bahagia, sejenak ia melupakan rencana-rencananya untuk menumbangkan Urek Heit, dia ingin sejenak menikmati waktunya bersama istrinya itu.
"Sayang, besok Nixon akan menemui mu, katanya ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. Tapi ingat ya, aku memberimu ijin bukan karena aku setuju kau dekat dengannya," ucap Winston pada Luna yang sedang duduk bersandar di bahunya itu.
Memang saat ini mereka berdua sedang duduk di balkon kamar mereka.
"Nixon ya? aku juga memiliki beberapa hal yang ingin aku sampaikan, tenang saja aku tidak pernah memiliki keinginan untuk dekat dengan pria yang lain. Dan lagian aku ini seorang wanita yang sudah menikah, aku pastinya tahu menjaga diriku dari pria lain," jawab Luna jujur pada Winston.
"Sayang, beberapa minggu kedepan sepertinya aku akan sangat sibuk. Kau harus bisa menjaga dirimu baik-baik. Setelah masalah yang aku urus ini usai, aku akan secara resmi melamar mu dan mempublikasikan pernikahan kita, aku juga berjanji akan meluangkan waktu lebih banyak untukmu setelah masalah ini usai," ucap Winston sembari mengelus dengan lembut rambut istrinya itu.
"Masalah apa? bisakah kau memberitahukan ku?" tanya Luna penasaran, masalah apa yang membuat Winston akan sibuk dalam waktu berminggu-minggu.
"Sudah lah, aku akan menceritakan segalanya padamu setelah semuanya usai, yang harus kau lakukan sekarang hanyalah percaya padaku dan berlindung padaku," jawab Winston dengan nada yang lembut.
Tentu saja Winston tidak ingin Luna tahu jika dirinya sedang ingin menghancurkan orang yang telah menculik Luna dahulu, Winston tidak ingin Luna mengingat kejadian pahit itu. Makanya Winston akan membereskan semuanya ini secara diam-diam.
Tring ... Tring ... Tring
Obrolan damai Winston dan Luna terpecahkan oleh deringan ponsel Winston.
"Halo Rean?" jawab Winston setelah melihat jika Rean sedang menghubungi dirinya.
"Bos, saya dan Sean telah mengumpulkan data-data Urek Heit, ada info yang sangat mengejutkan yang baru saja kami dapatkan, sebaiknya kita mendiskusikan hal ini secara langsung Bos," jawab Rean dengan sopan.
Karena memang dari penyelidikan mereka berdua, mereka menemukan fakta yang mengejutkan tentang Urek.
"Baiklah Rean, oh ya, masalah Nonik apakah kau sudah melakukan apa yang aku suruh padamu kemarin?" tanya Winston kembali mengingatkan.
Winston tahu, jika Urek bukanlah orang yang gegabah, jadi Winston sudah mengantisipasi hal itu dengan cara memasang penyadap ditubuh Nonik. Jadi, apapun yang akan terjadi pada Nonik maka tim Winston akan segera tahu.
"Sudah Bos, semuanya sudah berjalan sesuai rencana." jawab Rean percaya diri.
Setelah itu panggilan antara Winston dan Rean pun berakhir.
"Urek Heit! kau akan menyesal karena tidak menghabisi aku dahulu saat aku masih remaja, kali ini kau akan melihat penderitaan! kesalahanmu akan kau bayar dengan darahmu! permainan baru dimulai" gumam Winston dengan amarah yang amat membara.
Winston bersumpah akan menghancurkan Urek sampai ke dasar.
__ADS_1