
Di sekolah Hani.
Sedari tadi Hani merasa ada yang aneh di sekolahnya, dia merasa semua orang sedang mencemooh dirinya. Bahkan teman-temannya menjauh dari dirinya.
Sampai saat dia membuka ponselnya, dan di lihatnya berita yang menyebutkan dirinya menjebak Luna, dan hendak memberikan pelecahan seksual pada sepupunya Luna.
Lalu Hani membaca komentar-komentar yang ditinggalkan netizen di berita itu.
"Dasar wanita murahan, teganya dia melakukan itu pada sepupunya."
"Aku harap orang-orang sepertinya lenyap dari dunia ini! sampah!"
"Aku kenal dengan dia, dia satu sekolah denganku. Memang dia orangnya tidak pernah beres, aku sudah menduga nya."
"Kuharap dia menderita seumur hidup!"
Begitulah komentar netizen yang dibaca oleh Hani, dia merasa sangat malu, semua orang sedang menggosipi dirinya. Ditempat ia berdiri, dia sudah dikelilingi banyak siswa dan siswi yang melihatnya dengan tatapan yang begitu merendahkan.
"Dasar sampah, teganya dia melakukan itu pada Luna."
__ADS_1
"Iya, sepertinya dia iri pada Luna, semoga dia mendapat balasannya!"
"Tidak tahu malu!"
"Murahan, kuharap suatu saat nanti dia yang dilecehkan, biar tahu rasa!"
Itulah bisik-bisik yang terdengar dikuping Hani. Karena tidak tahan akan hal itu, Hani memutuskan berlari pulang kerumah dan mengadu pada ibunya Nonik.
Sesampainya di rumah, dia mendapati ayahnya dan juga kakak laki-lakinya Neon sedang menunggunya di ruang tamu.
"Plak." Tamparan yang begitu keras mendarat diwajah Hani.
"Ayah, dengarkan Hani dulu, Hani tidak bermaksud ...." Belum sempat Hani melanjutkan ucapannya, tamparan yang kedua sudah mendarat lagi diwajahnya.
"Masih mau berani membela diri kau! sepertinya kau harus diberikan pelajaran. Neon ambilkan ponselnya dan kurung dia di kamar. Jangan biarkan dia keluar, jika dia belum menyadari kesalahannya!" ucap Beni pada Neon yang sedang berada disampingnya.
"Kakak, tolong aku, aku ini adikmu huhu." Hani menangis, memohon pada kakaknya Neon.
"Diam! aku tidak pernah mempunyai adik sebejat dirimu!" balas Neon dengan ekspresi kemarahan yang sangat tergambar diwajahnya.
__ADS_1
Melihat putrinya dihukum seperti itu membuat Nonik protes.
"Pah, dia itu putrimu, harusnya sekarang kau menghiburnya, bukan malah menghukumnya. Oh, apakah karna yang ia jebak adalah keponakan mu?" Ucap Nonik dengan sinis nya.
"Plak." Tamparan yang begitu keras juga mendarat dipipi istrinya Nonik.
"Aku sepertinya telah salah memilih pasangan hidup, entah kesalahan apa yang kulakukan dimasa lalu sampai harus memperistri orang seperti mu. Ini bukan masalah siapa yang dijebak oleh Hani, tapi ini masalah kemanusiaan. Bagaimana mungkin anak remaja sepertinya memiliki niatan melecehkan orang lain seperti itu."
"Aku tahu, ini pasti usulanmu kan? tidak mungkin anak seumuran Hani bisa melakukan hal seperti itu. Aku peringatkan Nonik, jika kau belum bisa mendidik putrimu dengan baik, maka aku akan menceraikan mu!" tegas Beni pada Nonik, dan Beni langsung pergi berlalu. Beni ingin menjumpai keponakannya Luna dan menanyai kabarnya.
Hukuman yang diterima Hani bukannya membuat dirinya jera, tetapi malah membuatnya semakin marah. Dia semakin iri dan dendam pada Luna.
Memang sedari kecil Hani sudah iri pada Luna, karena dia merasa Luna lebih disayang oleh ayahnya dan juga kakaknya. Luna juga dianugerahi kecantikan yang luar biasa, Hani merasa jika Luna merupakan benalu dalam hidupnya. Sebelum Hani menyingkirkan Luna, hidup Hani tidak akan tenang.
"Lihat saja Luna, aku tahu ini adalah perbuatanmu. Ini hanyalah awal, untuk saat ini aku akan mengalah, tetapi aku bersumpah tidak akan pernah membuat hidupmu tenang!" Hani semakin membenci Luna, dia sangat ingin menyingkirkan Luna.
Di mansion Winston.
Luna sudah melihat berita tentang Hani, tidak bisa dipungkiri Luna merasa puas atas apa yang terjadi. Orang seperti Hani memang pantas diberikan pelajaran, sungguh Luna masih tidak menyangka jika Hani memiliki rencana yang sangat keji seperti itu.
__ADS_1
Luna pun tahu jika semua ini merupakan ulah dari Winston, Luna benar-benar baru menyadari jika Winston sungguh bisa berbuat apa saja. Luna kembali merenung apakah dia salah memilih tempat perlindungan.