
Di apartemen Winston.
"Hmmm, enaknya berendam di dalam bathtub seperti ini, apalagi tidak ada Winston. Hihi, aku merasa aman. Jadi tidak akan ada orang yang akan tiba-tiba masuk ke sini dan mengganggu ku. Huh!"
Sekarang Luna sedang berendam di dalam bathtub, dia ingin membersihkan dirinya dan segera tidur.
Luna kembali mengingat kejadian tadi ...
"Tadi dia pergi dengan wajah yang kesal. Cih! apakah seorang pria memang harus melakukan hal itu baru senang? kenapa nafsunya sangat besar? dibandingkan dengan aku ini yang hanya seorang gadis biasa, mana sanggup melayani nafsunya itu."
Luna sangat kesal, bagaimana disetiap saat jika dirinya bersama Winston, hal yang Winston ingin lakukan adalah hanya melakukan hubungan dewasa itu.
"Pasti sekarang dia sedang melampiaskannya pada gadis yang lain. Pria kan memang begitu, mana tahan menahan nafsunya. Aaargghhhh, kenapa aku sangat kesal?" ketus Luna kesal dengan bayangan adegan dewasa Winston dengan gadis lain yang ada dipikirannya.
"Sepertinya aku sudah gila! astaga, apakah ini efek berada di samping Winston? apakah paranoid itu menular? ah sudahlah! aku ingin beristirahat. Otakku, tolong ijinkan aku istirahat. Jangan lagi menampilkan cuplikan adegan dewasa yang membuat kesal."
Luna menggerutu pada dirinya sendiri, lalu dia pun mengakhiri sesi mandinya dan segera tidur terlelap.
***
Keesokan harinya di kampus Luna.
Hari ini, kelas yang Luna hadiri cukup longgar. Sekitar pukul dua siang dia sudah tidak ada kelas lagi. Luna bermaksud ingin pergi ke tempat panti sosial lagi, dia ingin membantu di sana.
Hari ini Rendi tidak masuk, Luna sedikit khawatir, tapi dia lebih khawatir pada reaksi Winston jika Luna berani menghubungi Rendi. Bisa-bisa terjadi perang dunia antara dia dan Winston nanti.
__ADS_1
Saat Luna hendak pergi, dia dihubungi oleh Rean dan ternyata Luna lupa akan perjanjiannya tadi malam dengan Winston.
"Halo Nyonya Luna, bos Winston memerintahkan saya untuk menjemput Nyonya, dan memberikan jadwal berikut untuk Nyonya." Rean memberikan sebuah jadwal bulanan pada Luna. Jadwal hari dimana Luna harus menjadi assisten keduanya Winston.
"Huh, sialan! pria arogan itu benar-benar tidak mau rugi. Dia benar-benar mengisi jadwalku dengan sangat padat agar aku tidak bisa pergi kemana-mana. Apakah aku ini tahanan nya? huh, aku kesal!" gerutu Luna yang sedang berada di dalam mobil yang melaju itu.
"Pffttt ... Nyonya, kau sangat Lucu. Tidak heran bosku sampai tertarik padamu. Aku baru pertama kali melihat bos sangat perhatian pada seorang gadis, mungkin bosku itu tidak pandai mengekspresikan perasaannya padamu dan kadang melakukan respon yang berlebihan, tetapi yakinlah jika dia sungguh menyayangi dirimu dengan tulus."
Tanpa disadari Rean berbicara banyak hal dengan Luna.
"Justru itu yang aku takutkan, bagaimana jika aku tidak cukup baik menampung ketulusannya. Oh ya, bagaimana dengan cinta pertama nya? umurnya kan sekarang sudah 28 tahun, masa tidak pernah berpacaran?" Luna ingin menggali lebih dalam masa lalu Winston.
"Tentu saja bosku pernah berpacaran, saat kuliah dulu dia memiliki seorang kekasih. Dia adalah cinta pertamanya, tetapi oleh karena beberapa alasan wanita itu pergi meninggalkan bos. Dari saat itu, bos tidak pernah lagi berhubungan serius dengan gadis manapun."
"Tapi tenang saja Nyonya, dulu gadis itu lah mengejar bosku. Kau adalah wanita pertama yang dikejar oleh bos, dan perhatiannya kepadamu dibandingkan dengan cinta pertamanya dulu juga berbeda." Rean menjelaskan secara detail mengenai percintaan Winston pada Luna.
"Kusarankan jangan terlibat terlalu jauh Nyonya, bos sangat sensitif. Jika ia tahu kau menyelidiki mantan kekasih nya, maka ia akan marah besar padamu." Rean memberikan peringatan pada Luna agar tidak melewati batas.
"Cih! kau sangat mirip dengan Winston, sangat kaku!" ketus Luna pada Rean.
Setelah beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di kantor Winston.
***
"Hei, siapa gadis cantik yang sedang berjalan dengan pak Rean itu?"
__ADS_1
"Iya, apakah itu kekasih nya? sedihnya diriku ini, padahal aku sangat mengidolakan pak Rean. Pupus sudah harapanku."
Itulah gosip yang sedang hangat diperbincangkan di kantor tersebut saat Rean membawa Luna bersama dengan dirinya.
Tok ... Tok ... Tok
Rean langsung menyuruh Luna masuk ke dalam ruangan pribadi Winston. Sedangkan Rean sendiri, langsung bergegas pergi ke ruangan pribadinya sendiri yang tidak jauh dari ruangan pribadi Winston.
"Sayang, kau sudah sampai, apakah kau sudah makan siang?" tanya Winston pada Luna yang masih berdiri di dekat pintu itu.
"Aku sudah makan siang. Oh ya, dimana mejaku?" tanya Luna ingin segera duduk secepatnya.
"Kau duduk disini." Balas Winston sembari menepuk pahanya, menyuruh Luna duduk di pangkuannya.
"Apa? jangan bercanda Winston, aku tidak mau menganggu mu bekerja." Ketus Luna keheranan dengan kemesuman si Winston itu.
"Apakah kau melihat wajahku seperti bercanda sekarang? cepatlah kemari, jangan sampai aku yang menghampiri mu kesitu." Tegas Winston sembari fokus ke layar komputer yang ada di hadapannya.
"Aih, ya ... ya ... ya, kau yang menang Tuan Yang Mulia." gumam Luna pasrah dan mengikuti perintah Winston.
Luna memperhatikan wajah Winston yang sedang serius. Lagi-lagi Luna tergoda akan ketampanan pria itu. "Seandainya dia bisa diam seperti ini, pastilah aku akan sangat mengidolakan dirinya." Gumam Luna saat memperhatikan struktur wajah Winston yang sangat tampan itu. Apalagi sekarang Luna sedang berada sangat dekat dengan dirinya.
"Sayang, bukankah aku sudah memperingatkan kamu, saat kau memandangiku gairahku akan memuncak. kau tidak tahu saja seberapa keras aku menahan nafsuku terhadap mu." Ketus Winston yang tetap serius pada pekerjaan nya. Seolah apa yang baru saja ia katakan adalah hal yang biasa-biasa saja.
"Makanya, kalau kau takut terganggu oleh aku, carikan aku meja dan kursi yang terpisah. Jadi kau bisa fokus pada pekerjaan mu." Jawab Luna mencari alasan.
__ADS_1
"Untuk apa menambahkan kursi yang lain, bukankah kau sedang mendudukinya sekarang? sudahlah, kau diam saja dulu. Jangan mengganggu ku." Ucap Winston mendekatkan wajah Luna kedada bidangnya.
"Dasar mesum!" ketus Luna sembari bersandar didada bidang Winston itu.