
Di mansion Winston.
Rena merasa dari tadi malam tubuhnya begitu lemas dan selalu mengantuk, padahal dia ingin sekali bertemu dengan Winston. Tetapi Rena tidak berfikiran aneh, dia merasa jika dia mungkin memang sedang merasa kelelahan saja.
Melihat kondisi Rena yang selalu tidur terlelap membuat Pak Roni merasa Lega, misinya telah sukses, yaitu untuk memberikan obat tidur ke Rena melalui minuman yang ia minum.
Di apartemen Winston.
***
Saat mendapati pernyataan dari Winston sungguh membuat Luna tertunduk malu. Hal-hal seperti yang diinginkan Winston bukanlah hal yang familiar baginya, dia masih terlalu malu untuk melakukannya.
"Sayang, aku tahu kau merasa malu. Tapi, seharusnya kau sudah tahu konsekuensinya saat kau setuju menjadi simpananku. Dari saat itu, kau sudah menjadi milikku.
"Tadinya, aku ingin mengajakmu makan malam hari ini. Tetapi, kau menghancurkan mood ku saat kau berbincang dengan pria yang bernama Rendi itu."
Saat mendengar pernyataan Winston itu sungguh membuat Luna kebingungan, dia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Karena memang tidak tahu harus menjawab apa, Luna hanya diam saja. Tetapi sungguh, dia sangat ketakutan sekarang.
Karena memang tidak mendapatkan respon apapun dari Luna, membuat Winston melepaskan Luna dan beranjak pergi dari ranjang. Dia duduk di sofa yang berada di dekat ranjang.
"Sayang, kesini duduk dulu sebentar, sepertinya kita butuh mendiskusikan beberapa hal. Aku merasa, aku sudah terlalu lembek padamu."
Mendengar hal itu sungguh membuat jantung Luna mau copot, dia tidak berdaya dan hanya mengikuti permintaan Winston.
Luna beranjak dari ranjang dan hendak duduk di sofa yang berada di samping Winston. Tetapi saat Luna hendak duduk ...
__ADS_1
"Siapa yang menyuruh mu duduk disitu? kau duduknya disini." Ucap Winston sembari menepuk pahanya, hendak memberi tahu jika Luna harus duduk di pangkuannya.
Lagi-lagi Luna hanya terdiam dan melakukan seperti yang diinginkan Winston, dia tidak berani menjawab pernyataan Winston. Dia merasa hari ini Winston benar-benar menyeramkan.
Segera setelah Luna duduk di pangkuannya, Winston langsung memeluk pinggang Luna dengan erat.
"Kenapa kau tidak pernah mau menuruti ku? hari ini kau pergi kemana pun tidak memberi tahu, bahkan kau bertemu pria lain di belakangku. Apakah aku adalah lelucon bagimu?"
"Ma ... maaf kan aku Tuan, mulai kedepannya aku akan melaporkan setiap kegiatan ku. Dan juga tadi aku memang benar-benar tidak sengaja bertemu dengan Rendi di kampus." Sungguh Luna begitu ketakutan, dia merasa seperti telah menyelingkuhi Winston, padahal nyatanya tidak.
"Sayang, seperti nya kau lupa. Kau hanya boleh memanggil aku dengan sebutan sayang. Dan juga tadi bukankah aku sudah katakan, aku tidak menerima permintaan maafan hanya melalui kata-kata?"
"Lalu, aku harus bagaimana?" balas Luna kebingungan, apa yang harus dia lakukan?
"Memohonlah padaku sayang, buka bajumu dan peluklah aku. Mungkin akan kupertimbangkan untuk memaafkan kamu. Jika tidak, mungkin kau akan aku ikat disini, dan tidak akan pernah membiarkan mu keluar sedetik pun."
Dengan ketakutan yang amat sangat, Luna mulai menanggalkan pakaiannya dengan tetap duduk di pangkuan Winston. Saat Pakaiannya sudah tertanggalkan, Luna pun memeluk Winston.
Tetapi sungguh, hatinya sangat terluka, Luna merasa harga dirinya diinjak-injak oleh Winston. Luna merasa Winston sedang menekankan posisinya didalam hubungan yang aneh ini.
"Saat kau menjadi penurut begini, kau terlihat sangat menggemaskan sayang. Kau tahu, aku sangat tidak suka pengkhianatan. Jangan pernah memancing emosiku lagi, jika suatu saat kau melakukan kesalahan yang sama, mungkin aku akan melakukan tindakan yang diluar bayanganmu."
Winston memberikan penekanan pada ucapannya sembari membalas pelukan Luna, diusapnya lembut pundak Luna itu.
Luna kembali tersadar jika dia benar-benar tidak mengenal Winston. Yang Luna sadari adalah, jika Winston merupakan pria impulsif yang tidak suka di tentang.
__ADS_1
Dan mulai hari ini, demi keselamatan hidup, Luna harus lebih hati-hati, apalagi saat berhubungan dengan pria lain.
"Sayang, kali ini kau yang melepaskan pakaian mu sendiri, apakah kau sudah menginginkannya?" tanya Winston sembari memberikan gigitan kecil ditengkuk Luna.
Mendengar itu Luna sungguh terkejut. Sungguh, sedari tadi Luna hanya ingin mempertahankan hidupnya saja. Dan dia tidak sadar, jika dia memang sudah tidak berbusana dihadapan Winston. Dan sekarang posisinya pun berada dipangkuan Winston.
"Hiks, apakah semangat hidupku sekuat itu? sampai aku rela membuka bajuku di hadapan si mesum ini?" Luna baru menyadari, jika seseorang benar-benar bisa melakukan apa saja saat hidupnya sedang terancam.
"Haha, lihatlah ekspresi mu itu sayang, lucu sekali. Tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun padamu malam ini. Aku juga akan memaafkan kamu kali ini." Ucap Winston sembari melonggarkan pelukannya, dan memegang dengan Lembut wajah Luna dengan kedua tangannya.
Lalu tanpa Luna sadari, Winston memasangkan sebuah kalung di lehernya, kalung itu sangat indah, ada ukiran namanya di kalung itu.
"Sayang, selamat ya sudah lulus. Semoga kedepannya kau semakin dewasa dan tidak akan menentang aku lagi." Ucap Winston lembut sembari memberikan ciuman di dahi Luna.
"huaaaaaa ...." Luna tiba-tiba menangis dengan sangat keras. "Ternyata dia mengetahui hari kelulusanku, untuk kali ini ada yang merayakan sesuatu untukku." gumam Luna merasa sangat bahagia. Sedari tadi saat di taman, Luna memang mengharapkan Winston merayakan kelulusan bersama dengan dirinya.
"Terimakasih." Ucap Luna sambil tetap terisak.
"Sayang, kenapa kau menangis? apakah hadiah nya kurang?" Winston kebingungan saat mendapati Luna tiba-tiba menangis.
"Tidak, ini hadiah yang sangat Indah, Terimakasih." Kali ini Luna memeluk Winston dan menahan tangisnya.
Mendapati pelukan Luna, Winston segera menggendong Luna ala bridal style ke kasur, lalu dipelukannya tubuh Luna dengan erat.
"Sayang, kau tidak usah memakai piyama mu lagi. Aku akan memeluk mu sepanjang malam, agar kau tidak masuk angin."
__ADS_1
Bisik Winston ke telinga Luna sembari memeluk Luna dengan sangat erat.