
***
Keesokan harinya Di mansion Winston.
Winston sedang berdiri di balkon kamarnya, pandangannya lurus namun kosong. Hatinya sekarang sudah hampa, tidak ada rasa.
Setelah beberapa minggu berlalu, setelah Luna tidak ditemukan membuat semangat hidup Winston memudar.
Dia tidak selera melakukan apapun, yang ia lakukan hanyalah berdiri di balkon itu dan mengingat kenangan istrinya.
***
Setelah menempuh perjalanan yang panjang, akhirnya Luna sampai di mansion Winston. Para pelayan sangat terkejut melihat itu, apalagi Rani yang memang berada di mansion itu.
Tapi Luna tidak memperdulikan itu semua, yang Luna inginkan saat ini adalah bertemu dengan suaminya. Dia sudah sangat merindukan sosok suami nya itu.
Segera Luna masuk kedalam kamar mereka, dia tidak menemukan Winston di kasur. Tapi, Luna melihat jika pintu ke balkon kamarnya terbuka. Segera Luna berlari ke balkon.
Lalu dilihatnya lah pundak Winston yang bidang, Winston sedang berdiri sekarang. Seseorang yang sangat ia rindukan sekarang sudah berada di hadapannya.
"Winston," sahut Luna dengan lembut.
Winston mendengar suara yang sangat ia rindukan memanggil dirinya dari arah belakang.
"Luna? apakah itu kau?" tanya Winston saat melihat kebelakang dan menemukan Luna disitu.
Dia melihat Luna dengan rambutnya yang terurai, sangat cantik.
"Apakah ini di surga? atau apakah ini mimpi? jika ini mimpi aku tidak ingin bangun," ucap Winston bergetar dan memeluk Luna.
Air matanya mengalir begitu deras, tangannya yang bergetar mengusap rambut Luna.
Luna yang melihat keadaan Winston yang sangat lemah membuat Luna ikut menangis, Luna bisa melihat wajah Winston yang sangat pucat dan pandangan matanya yang kosong menampilkan keputusasaan.
Belum pernah Luna melihat Winston di keadaan yang sangat lemah seperti itu.
"Sayang, ini Luna istrimu, ini bukan mimpi dan ini bukan surga. Aku masih hidup, aku kembali padamu, aku tidak akan pernah lagi meninggal mu," ucap Luna memeluk suaminya itu dengan sangat erat.
"Mimpi yang sangat indah," ucap Winston menangis dan suara yang pelan menunjukkan betapa lemahnya Winston saat itu.
"Apakah kau ingat, kejadian ini pernah terjadi, saat aku datang menghampiri mu kau bilang ini hanyalah imajinasi mu dan mimpimu. Mulai sekarang aku berjanji akan menjumpai mu sesering mungkin agar kau tidak merasa saat aku menjumpai mu itu adalah sebuah imajinasi atau mimpi."
"Aku berjanji akan menunjukkan jika aku juga mencintai mu, aku berjanji akan memelukmu setiap hari seperti ini agar kau tidak bersedih lagi, aku sangat mencintaimu Winston," sahut Luna terisak di dalam pelukan suaminya itu.
Mendengar suara Luna yang terasa nyata membuat Winston melonggarkan pelukannya sebentar dan memandangi Luna dengan sangat lekat.
Dilihatnya dengan seksama wajah istrinya yang juga sedang menangis itu.
"Jika ini mimpi dan aku terbangun dan tidak melihatmu, aku pasti akan gila," decak Winston menyentuh dengan lembut wajah Luna dengan tangannya yang bergetar itu.
Lalu saat Winston melepaskan tangannya dan hendak memeluk Luna lagi, Luna langsung menarik tangan Winston.
"Lihatlah, aku Luna yang asli. Ini aku, aku masih hidup dan kembali padamu," ucap Luna menggenggam dengan erat tangan Winston.
Dengan kebingungan Winston langsung membawa Luna ke ruang tengah dan menanyai setiap pelayan yang ia jumpai.
__ADS_1
"Apakah kau melihat Luna yang sedang aku genggam ini?" tanya Winston dengan nada yang bergetar.
"Iya Tuan, itu Nyonya Luna, dia berada di sampingmu sekarang," sahut para pelayan yang melihat jika Luna memang benar-benar ada di samping Winston.
Mendengar jawaban itu membuat jantung Winston berdegup dengan kencang. Lalu, ia membawa Luna kembali kedalam kamarnya.
Dibawanya Luna menghadap ke cermin, dan dilihatnya pantulan kaca.
"Cubit aku," sahut Winston yang masih tidak percaya itu.
Segera Luna mencubit Winston dengan sangat keras agar menyadarkan Winston jika dia memang Luna yang asli.
Setelah mendapat cubitan yang sangat keras dan melihat Luna masih berada di hadapannya membuat Winston meneteskan air matanya lagi.
Segera di dekapannya istrinya itu dengan sangat erat.
Tanpa ucapan hanya memeluk Luna. Itulah yang dilakukan oleh Winston.
Melihat Luna baik-baik saja membuat Winston sangat bahagia sampai tidak mampu untuk berkata-kata lagi.
"Kau kemana saja? aku sudah sangat yakin kau masih hidup, tapi kau kemana saja? aku bisa mati jika kau belum juga kembali," ucap Winston dengan nada yang sangat bergetar.
Lalu, Luna menceritakan segalanya pada Winston. Tentang dirinya yang bertemu dengan ayah kandungnya.
Luna juga menceritakan bahwa ayahnya ingin bertemu dengan Winston secara pribadi secepatnya saat urusan ayahnya sudah usai.
***
Mereka berdua sedang berbaring di kasur mereka. Winston terlalu merindukan Luna sampai dia tidak melepaskan Luna sedikit pun sedari tadi.
"Tidak apa-apa, selama ini kau sudah menjagaku dengan sangat baik. Oh ya, disini kita sudah memiliki buah hati, sesuai janjimu kau akan bersamaku selamanya kan? dan urusanmu sepertinya sudah selesai, jadi waktumu akan kau habiskan bersamaku kan?" tanya Luna sembari meraih tangan Winston dan meletakkannya di perut nya.
"Oh iya, aku sampai lupa jika aku sudah akan menjadi ayah, sayang aku sangat bahagia, ini seperti kesempatan kedua yang diberikan Tuhan padaku,"
"Anakku maafkan ayah ya, sepertinya aku lebih mencintai ibumu daripada dirimu, sampai aku hampir melupakan mu! ayah janji akan menjadi ayah yang sangat baik. ayah dan ibu akan menjagamu agar kau tidak merasakan pengalaman yang ayah dan ibu alami dulu," ucap Winston sembari mengelus-elus perut istrinya yang masih rata itu.
Rani yang memang sedari tadi masih di mansion melihat Winston dan Luna yang sedang bertemu kangen.
Rani bisa melihat keteduhan di mata Winston, mata yang belum pernah Rani lihat sebelumnya.
Rani bisa melihat betapa Winston sangat membutuhkan Luna dalam hidupnya.
"Sialan! aku sudah tahu ini akan terjadi, tetapi kenapa aku tetap menangis!" decak Rani langsung pergi dari mansion itu sembari menangis, karena memang hatinya sangat sakit sekarang.
***
Kabar kepulangan Luna memberikan berita yang sangat membahagiakan untuk semua orang, pamannya Beni dan juga Neon langsung pergi mengunjungi Luna.
Nixon tidak berani menjumpai Luna, karena merasa tidak pantas. Dia hanya ikut bahagia mengetahui jika Luna sudah kembali dan selamat.
***
Malam hari di mansion Winston.
Winston sedang sangat bersemangat sekarang, dia sudah memerintahkan Rean untuk mempersiapkan sesuatu malam itu.
__ADS_1
"Kenapa kau menutup mataku dengan kain?" tanya Luna kebingungan saat Winston menutup matanya dengan sehelai kain.
"Tenang saja sayang, percayalah padaku dan ikuti aku," ucap Winston menuntun Luna pergi ke arah taman mansionnya.
Lalu setelah beberapa saat,
"Bukalah penutup matamu sayang," sahut Winston dengan lembut.
Dan alangkah terkejutnya Luna saat melihat Winston sudah menunduk berjongkok dihadapan nya dan memegang sebuah kotak yang berisikan cincin.
"Mau kah kau menikah denganku, menemaniku sampai tua? bersamaku sampai rambut memutih dan mencintaiku selamanya?" tanya Winston dengan wajah yang sangat cerah, namun ada sedikit kegugupan tergambar di wajah itu.
Mendengar itu Luna langsung menangis dan menjawab iya dengan sangat cepat.
Dia langsung memeluk suaminya itu, dan saat mereka berpelukan semua orang bertepuk tangan, dan kembang api bermekaran di langit.
Membuat malam itu sangat indah, disitu sudah hadir semua orang yang disayangi Luna, bahkan Lily, teman berdebat nya pun hadir.
"Kenapa ini sangat indah membuatku menangis? huhu," Lily lagi-lagi menangis hanya karena merasa jika malam itu terlihat sangat indah untuk kedua pasangan itu.
***
Loorey merasa sangat senang dan lega sekarang, dia bisa pergi dengan tenang berliburan lagi. Karena keadaan Winston yang mengkhawatirkan minggu lalu membuat Loorey menunda liburan panjang nya itu.
Saat ini Loorey sedang berbincang dengan teman lamanya Louise Grey yang memang sudah datang ke mansion Winston itu. Mereka terlihat sangat kompak dan selalu saja tertawa sedari tadi.
"Hahaha! tidak kusangka kau menjadi besanku cecunguk," sahut Grey tertawa kearah Loorey.
"Hahaha! tidak kusangka kau masih hidup cecunguk, aku kira kau sudah tenggelam di lautan dan berteman dengan ikan sekarang," balas Loorey yang ikut tertawa.
"Hahahaha, sangat lucu cecunguk," balas Grey sembari meminum minuman yang ada di tangannya.
"Diamlah cecunguk Hahaha," jawab Loorey ikut tertawa.
Rendi yang memang ikut ke acara itu bersama Grey merasa heran dengan orang tua yang sedang tertawa tapi seperti sedang bersaing.
Mereka saling menghina tetapi tertawa.
"Apakah nanti saat aku di usia mereka, aku akan seperti itu?" gumam Rendi geleng-geleng melihat keanehan kedua orang tua yang ada dihadapannya itu.
***
"Sayang," sahut Winston yang sedang memeluk Luna dari belakang itu, mereka sedang menikmati malam yang layaknya seperti mimpi bagi Winston.
"Hmm?" jawab Luna dengan lembut sahutan suaminya yang sedang memeluknya itu.
"Apakah kau ingat saat aku pernah melukaimu dengan kata-kata kasar ku? mencebur kan mu ke kolam? aku juga pernah bilang membencimu. Padahal sebenarnya aku hanya sedang marah pada diriku sendiri, maafkan aku ya sayang, karena mulai kedepannya kita akan memulai hidup baru tanpa penyesalan aku ingin meminta maaf dengan tulus padamu,"
Winston sebenarnya sudah sangat lama ingin meminta maaf pada Luna. Tetapi karena gengsi dan harga diri yang sangat tinggi, hal itu terus saja ter undur. Namun, saat Luna dinyatakan tenggelam di lautan itu menyadarkan Winston betapa hidup itu sebenarnya sangat singkat.
Kita harus sebisa mungkin menyayangi orang yang kita sayangi dan meminta maaf jika kita melakukan kesalahan.
"Winston saat itu aku memang sangat marah, bagaimana kau selalu saja sangat arogan dan protektif padaku. Tetapi sekarang aku sudah mengambil sisi positif dari itu semua, saat kecil dan dewasa yang menyelamatkan aku adalah dirimu, saat ini yang aku inginkan hanyalah bersamamu, dan aku tidak pernah menyimpan dendam atau amarah terhadap mu," jawab Luna dengan lembut sembari melihat pemandangan indah yang sudah Winston siapkan itu.
"Hemhem!" Seseorang tiba-tiba saja mengganggu pembicaraan romantis antara Winston dan Luna. Dan ternyata dirinya adalah Louise Grey, ayah kandung Luna.
__ADS_1
Sesuai dengan perjanjian yang sudah dibuat, Louise Grey ingin berbicara langsung dengan menantunya itu. Dan tentu saja maksud dari pembicaraan itu hanyalah ingin menyerahkan putrinya dengan baik pada Winston. Dan Grey berharap Winston dapat menjaga Luna dengan baik dimasa depan.