Simpanan Pria Arogan

Simpanan Pria Arogan
Aku Ingin mengakhiri Hubungan yang Aneh ini.


__ADS_3

***


Di tempat panti sosial.


Luna sangat senang bisa datang membantu di tempat itu, setidaknya ia bisa meluangkan waktunya ke hal yang lebih berguna, walaupun dia datangnya ditengah hari, tapi semuanya menerima Luna dengan baik.


Luna tidak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikan sedari tadi. Kecantikan Luna dan perangainya yang lembut menarik salah satu pria yang mengikuti kegiatan itu.


"Hai manis, nama kamu siapa? baru pertama kali ya ikut kegiatan seperti ini?" tanya pria itu dengan lembut sembari mengulurkan tangannya.


"Hai, namaku Luna. Jangan panggil aku manis, soalnya aku bukan kucing." Balas Luna ramah pada pria itu.


"Kamu memang bukan kucing, tapi mirip kucing. Kenalin nama aku Nixon."


Balas Nixon saat Luna membalas uluran tangannya.


"Luna, kau percaya tidak adanya cinta pada pandangan pertama?" ucap Nixon pada Luna. Karena memang posisi mereka sedang duduk istirahat disebuah bangku panjang.


"Aku yakin segala sesuatu terjadi di dunia ini. Jadi, aku tidak bisa bilang tidak percaya, tapi menurutku itu sangat jarang terjadi." Balas Luna pada pertanyaan Nixon itu.


"Hmmm, jawaban yang bagus. Oh ya, bolehkah aku meminta nomor ponselmu?"


"Maaf Nixon, aku tidak bisa memberikan nomor ponselku untuk orang yang baru ditemui." Jawab Luna singkat.


"Cih, sepertinya aku bertemu kembarannya si Winton deh ini. Suka gombal dan mesum." Gumam Luna saat melihat Nixon mengedipkan matanya saat meminta nomor ponsel dirinya itu.


"Hahahaha, sungguh ini adalah pengalaman pertamaku ditolak mentah-mentah oleh perempuan. Tenang saja kucing manis, aku yakin kita akan bertemu lagi." Balas Nixon sembari memegang dagu Luna, dan tentu saja langsung di tepis oleh Luna.


"Jangan sembarang ya! karena aku sudah mau meladenimu berbicara disini, jadi kau bisa melakukan hal yang tidak senonoh padaku!" teriak Luna saat menghempaskan tangan Nixon dari dagunya.


"Bagus ... bagus, memang gadis yang ku taksir haruslah pintar tarik ulur. Jika tidak begitu, maka tidak akan menarik nanti. Untuk hari ini aku akan pergi, karena kamu sudah menunjukkan taring kucing kecilmu." Ucap Nixon tersenyum genit sembari berlalu.


Memang Nixon hari ini mengikuti kegiatan ini adalah untuk menarik hati publik. Karena sebentar lagi, dia akan mencalonkan diri menjadi anggota dewan di Negara itu.

__ADS_1


"Sampai jumpa lagi Luna. Nanti diperjumpaan kita yang selanjutnya, pastikan untuk memberikanku nomor ponselmu ya." Ucap Nixon pada Luna sembari melambaikan tangannya.


"Tidak ada lain kali! aku yakin kita tidak akan berjumpa lagi. Huh! kau mengacaukan hariku yang damai ini. Pergi kau! dasar lelaki Aneh!" teriak Luna sembari berlari menjauh dari Nixon.


"Hahaha, Wanita yang sangat cantik dan lucu, aku pastikan akan mendapatkan mu." Gumam Nixon melanjutkan langkah kakinya.


Tanpa Luna sadari, semua itu sudah ada dalam skenario Nixon. Sedari tadi, wartawan sudah memotret mereka. Saat Nixon memegang dagu Luna pun terpotret dengan sangat baik. Jadi, siapapun yang melihat pasti salah arti.


"Ternyata banyak sekali pria yang aneh di dunia ini, aku harus hati-hati, sudah cukup aku menghadapi kegilaan si Winston. Jangan ada lagi yang lain." Gumam Luna melanjutkan kegiatannya.


***


Di kantor Winston.


Ditengah kesibukannya mengurus dokumen, Winston menerima notifikasi pesan masuk di ponselnya. Lalu seketika wajahnya merah padam dan amarahnya memuncak, saat Winston membaca pesan itu.


"Sial! gadis ini dibiarkan sebentar langsung melunjak. Sepertinya hukuman bulan lalu belum cukup untuknya." Winston begitu marah saat melihat Nixon sedang memegang dagu Luna.


Yang membuat Winston semakin kesal adalah bahwa Winston mengenal dengan baik Nixon. Nixon merupakan pemuda yang jenius dan haus akan kekuasaan, apapun yang dia inginkan harus ia dapatkan. Winston khawatir jika Nixon sudah tertarik kepada Luna, bisa runyam nanti urusannya.


***


Malam hari di apartemen Winston.


"Ah, akhirnya aku sampai juga, hari ini sangat melelahkan." Keluh Luna sembari membuka pintu apartemen itu.


"Astaga!" decak Luna saat melihat Winston duduk dengan tegap di tengah ruang tamu tanpa menyalakan lampu, hal itu membuat pemandangan itu semakin menyeramkan.


"Pulang jam berapa? kenapa tidak menyalakan lampu?" tanya Luna gugup, dia seakan merasakan aura kemarahan dari arah Winston. Segera Luna berlari kecil untuk menyalakan lampu apartemen itu.


"Kenapa ponselmu mati?" tanya Winston dingin, sembari memberikan kode pada Luna untuk mendekat ke arahnya dengan menggerakkan telunjuk jarinya.


"Ma ... maafkan aku Winston. Hari ini aku ingin fokus membantu di panti sosial, makanya aku mematikan ponselku." Jawab Luna gemetaran sembari berjalan ke arah Winston.

__ADS_1


"Heh? fokus? fokus apa? membantu disana atau menggoda pria yang lain?" tegas Winston sembari melempar beberapa foto ke atas meja.


Hal itu sontak membuat Luna sangat terkejut, lalu dilihatnya foto dirinya dengan Nixon tadi, anglenya sungguh bisa membuat orang salah paham.


"Aku tidak pernah menggoda pria yang lain, aku juga baru mengenalnya disitu. Kau harus percaya padaku." Ucap Luna menjelaskan yang sebenarnya.


"Heh? percaya padamu? menurutmu apa yang harus aku percayai, bukti nyata yang ada di hadapan ku ini? atau omongan mu yang tidak berdasar? Hmm?" tanya Winston dengan ekspresi yang sangat menyeramkan. Ekspresinya sama seperti bulan lalu saat Winston menghajar pria yang mau melecehkannya itu.


Hal itu membuat Luna gemetaran, dia sudah tidak berani melihat ke arah Winston ataupun menjawab Winston.


Winston menarik lengan Luna dengan sangat kasar sampai terjerembab di sofa tempat Winston duduk tadi.


"Sayang, aku lupa bilang padamu. Saat kau sudah setuju menjadi simpananku, kebebasanmu sudah menjadi milikku. Dan semua yang menjadi milikku, selamanya akan menjadi milikku. Karena selama ini aku memanjakanmu bukan berarti kau bisa bebas di luaran sana, kau sudah tidak bisa pergi dariku lagi sayang. Kau harus ingat posisimu." Bisik Winston sembari merobek pakaian yang Luna kenakan.


"Cukup Winston! aku tahu kau sudah menyelamatkan hidupku, menampung aku dan membiayaiku. Tapi, kau tidak bisa seenaknya padaku, aku bukan mainan, aku ini manusia, punya perasaan. Aku tidak suka di kekang, aku suka kebebasan! mulai hari ini aku akan memutuskan hubungan aneh kita ini. Aku akan mencari cara untuk melunasi hutangku padamu!" teriak Luna sembari menangis. Bagaimana tidak, Winston sama sekali tidak mempercayai dirinya, dan sekarang Winston sangat kasar terhadapnya.


"HEH! memutuskan hubungan? Luna kau lupa lagi posisimu. Hanya aku yang boleh memutuskan, bahkan jika aku memutuskan kamu pun, aku tidak akan membiarkan mu pergi. Bahkan sampai kau mati pun hanya bisa menjadi milikku." Ucap Winston sembari memegang tangan Luna dengan sangat kasar dan mulai menciuminya.


"Kau tidak boleh seperti ini! huhu." Luna menangis saat Winston menindih nya.


"Sakit, jangan ... aku mohon." Luna memohon sembari menangis saat Winston menggigit pundaknya sampai membiru.


"Justru karena sakit makanya ku lakukan, kau harus ingat perasaan sakit ini. Dengan begitu, kau akan lebih hati-hati kedepannya." Balas Winston dengan tetap melancarkan aksi kasarnya itu.


"Tidak ... jangan, aku mohon." Luna mencoba memberontak, tapi apalah daya tenaga Luna tidak sepadan dengan Winston.


Melihat Luna menangis dan gemetaran membuat Winston menghentikan aksinya. "Sial! aku hampir saja kehilangan kendali ku!" gumam Winston dalam hati.


Memang setelah kejadian Luna yang meminum obat perangsang, sekalipun Winston tidak pernah melakukan hal itu lagi pada Luna. Winston menahan dirinya, Winston ingin melakukan itu nanti saat Luna sudah bersedia.


Winston pun melepaskan cengkeraman kuatnya dari Luna.


"Cih! kau bahkan masih tidak mau disentuh oleh ku. Aku tidak akan tidur disini malam ini. Dan kuperingatkan, jangan pernah keluar dari mulutmu kata berpisah. Jika aku mendengarnya lagi, maka kau akan melihat hal yang lebih mengerikan lagi!" decak Winston sembari pergi berlalu keluar dari apartemen itu.

__ADS_1


Mendapati perlakuan yang begitu kasar membuat Luna menangis dan terluka, harga dirinya diinjak-injak oleh Winston.


__ADS_2