
***
"SIALAN! sudah kuduga mempercayai perempuan pengecut itu adalah kesalahan yang fatal! sialan! aku harus memikirkan jalan keluar untuk semua ini! aku tidak ingin jabatan ataupun kekuasaan ku runtuh hanya karena kesalahan kecil itu!" decak Urek yang sedang berada di ruang kerjanya.
Urek Heit merupakan wakil presiden yang dikenal sangat pekerja keras dan memiliki imej yang lembut di negara itu.
Dirinya sungguh sangat pandai menarik perhatian khalayak ramai dengan pesona luarnya, dia sering ikut berkunjung ke panti sosial, memberikan banyak sumbangan dan selalu saja ikut menyuarakan pendapat-pendapat orang-orang pinggiran. Jadi, sangat banyak orang yang sangat segan dan hormat padanya.
Karena memang dirinya sudah mendapatkan posisi di hati masyarakat, rencananya dirinya akan mencalonkan diri sebagai presiden di periode berikutnya.
Karena itulah, sekarang Urek sangat cemas. Jelang pencalonan dirinya menjadi presiden tiba-tiba ada masalah mengenai Nonik yang menyerahkan dirinya ke kantor polisi.
Walaupun sebenarnya Nonik belum menyebutkan namanya, tapi tidak akan menutup kemungkinan jika dimasa depan Nonik akan membeberkan segalanya.
"Lihat saja apa yang akan terjadi pada siapapun yang berani menantang ku!" decak Urek dalam mode serius.
***
"Nonik, apakah kau sungguh adalah orang yang mengkambing hitamkan kakak laki-laki ku? apakah semua itu benar?" tanya Beni dengan wajah yang sudah bengkak, matanya merah dan ekspresi nya terlihat begitu terpukul.
Sekarang Beni sedang mengunjungi Nonik yang sudah berada di kantor polisi, Beni merasa sangat perlu untuk mengetahui semua kebenaran nya dari mulut Nonik langsung.
"Iya Pah, maafkan aku, saat itu aku begitu takut, dia mengancam akan membunuh putri kita, tolong maafkan aku," sahut Nonik dengan ekspresi yang begitu takut. Dia tidak ingin suaminya menceraikan ataupun melakukan hal yang tidak diinginkan nya.
Mendengar semua itu langsung dari mulut Nonik sungguh memberikan sensasi yang amat menyakitkan bagi Beni, bagaimana tidak, istrinya tega membuat kakak laki-laki nya sampai dijatuhi hukuman mati.
Beni memejamkan matanya sebentar, namun tubuhnya sudah bergetar hebat. Ingin rasanya dia membentak dan memberikan pelajaran untuk Nonik, namun Beni tahu semua nya akan sia-sia. Apapun yang akan Beni lakukan tidak akan mengembalikan abangnya itu.
Untuk saat ini, Beni akan menyerahkan segalanya diurus oleh kepolisian. Beni merasa Nonik sungguh lah harus menerima ganjaran atas apa yang telah ia perbuat.
"Pah, kenapa diam saja? kumohon tolong aku agar bisa keluar dari sini. Aku hanya diancam dan ingin melindungi diriku, tolong aku Pah," keluh Nonik menangis sembari memegangi tangan suaminya itu.
"Nonik, aku heran mengapa kau merasa sangat percaya diri bahwa aku akan membantumu, apakah kau pikir aku ini robot? tidak memiliki perasaan? jika kau ada di posisi ku, dan mengetahui jika saudaramu dibunuh secara tidak adil, apakah kau akan memaafkan pelakunya? ha? jawab aku?" teriak Beni sudah kehilangan kesabarannya.
Bagaimana mungkin Nonik masih memiliki keinginan untuk bisa lepas dari jeratan hukum setelah apa yang sudah ia perbuat.
Teriakan Beni tentu saja menarik perhatian polisi yang sedang mengawasi mereka.
Akibatnya kunjungan yang dilakukan Beni harus diakhiri saat itu juga. Tapi, sebelum Beni beranjak berlalu,
"Nonik, aku rasa aku sudah tidak bisa lagi hidup bersamamu, aku akan menceraikan mu. Dosa yang sudah kau lakukan sama sekali tidak bisa aku maafkan!" ucap Beni dengan nada yang dingin pada Nonik dan langsung pergi berlalu.
"Tidak! tidak! kau tidak boleh menceraikan aku! aku tidak mau! jangan pergi!" teriak Nonik hendak mengejar Beni, tetapi tentu saja hal itu di halangi oleh polisi yang sudah berdiri di dekatnya itu.
***
__ADS_1
Winston sudah kembali sedari tadi ke mansion nya, karena memang luka yang ia terima tidaklah parah, hanya mengalami lecet saja.
Sekarang dirinya sedang membaringkan tubuhnya di kasurnya, rasa kantuk yang ia alami masihlah sangat kuat. Bagaimana tidak, dia belum sama sekali tertidur dengan tenang beberapa hari terakhir ini.
Luna yang memang tahu jika Winston sangat kelelahan pun berinisiatif untuk memeluknya, dia menarik Winston kepelukannya dan mengusap dengan lembut rambut Winston itu.
"Tidurlah, kau pasti kelelahan, kali ini biarkan aku yang menjagamu," ucap Luna dengan sangat lembut dan pelan sembari tetap mengusap rambut Winston itu.
Mendapati perlakuan seperti itu membuat Winston merasa sangat nyaman, dia memang sangat suka dipeluk oleh Luna karena entah mengapa memberikan kenyamanan luar biasa baginya.
Winston yang kelelahan dalam hitungan detik sudah langsung tidur terlelap dalam pelukan istrinya itu. Saat ini, dia ingin menikmati masa tenang seperti ini, Winston tahu beberapa hari ke depan, dia akan melakukan rencana penghancuran Urek Heit, dan Winston sadar betul hal itu tidak akan mudah. Karena Urek merupakan orang yang sangat berkuasa dan juga otaknya sangatlah cerdik.
Jadi, kali ini lawan yang dihadapi Winston sungguhlah bukan lawan yang mudah ditangani.
***
"Nixon, bagaimana perihal pencalonan dirimu? apakah kau yakin bisa memenangkan nya?" tanya Hans yang merupakan ayahnya Nixon itu.
"Sudahlah Ayah, tidak usah berpura-pura perhatian padaku, urusanku biarlah menjadi urusanku saja," ketus Nixon hendak berlalu pergi keluar. Karena memang dirinya secara tidak sengaja bertemu dengan ayahnya di ruang tamu.
"Nixon, kau tahu kan semua keluarga kita memiliki jabatan yang sangat tinggi di pemerintahan. Ayah hanya tidak mau kau menjadi produk gagal dalam keluarga ini," ketus Hans dengan begitu dingin pada putranya itu. Padahal ini merupakan kali pertama mereka bertemu dalam kurun waktu satu bulan ini.
"Ayah, jika kau masih mencoba mengancam ku seperti anak kecil, aku jamin akan membuatmu malu. Aku akan menghancurkan karir keluarga ini!" decak Nixon sembari tetap melanjutkan langkahnya.
Nixon memang sedang dalam mood yang sangat buruk, beberapa hari ini dia ingin sekali bertemu dengan Luna. Namun, Nixon menahan dirinya, dia tidak tahu apakah dia akan bisa mengendalikan dirinya bila berada dekat dengan Luna.
Bahkan jika ditolak pun Nixon sudah berjanji pada dirinya sendiri akan tetap melindungi Luna.
Pagi hari di mansion Winston.
***
Pagi itu Winston terbangun dengan wajah yang begitu segar, mungkin karena semalaman Luna memeluk dirinya membuat energinya kembali dengan sangat cepat.
Namun, saat bangun dia tidak menemukan Luna disisinya, dengan sangat panik Winston mencari-cari Luna.
Tapi, saat sudah berlari kebawah dia mencium harum masakan dari arah dapur.
"Siapa yang memasak? bukankah para pelayan masih berada di lokasi yang lain?" gumam Winston keheranan saat mencium bau masakan dari dapur.
Segera Winston melangkah kan kakinya ke arah dapur mansion itu, dan bisa dilihatnya dengan sangat jelas, Luna dengan rambut yang terikat keatas sembari mengenakan celemek sedang sibuk dengan masakan di tangannya.
Sejenak Winston terdiam melihat pemandangan itu, walaupun terlihat sederhana, namun entah mengapa pemandangan pagi itu meninggalkan kesan yang amat hangat di hati Winston.
Sesaat Winston seperti sedang merasakan kehidupan yang sederhana, pemandangan itu terlihat seperti seorang suami yang hendak pergi bekerja sedang menunggu istrinya memasakkan sarapan untuknya.
__ADS_1
"Deg ... Deg ... Deg"
Ritme jantung Winston sudah bergemuruh sedari tadi, dia masih tercengang dengan tampilan Luna yang menurut nya sangat cantik itu.
Segera ia berjalan kearah Luna dan memeluk Luna dari arah belakang.
"Sayang, kau sedang apa?" tanya Winston dengan sangat lembut sembari mencium tengkuk Luna.
"Astaga! kau mengejutkan aku Winston, aku sedang memasakkan kamu makanan. Tuti dan Nani sedang pergi berbelanja diluar untuk kebutuhan dapur, jadi aku berinisiatif untuk memasakkan kamu makanan, hehe," balas Luna sembari berjalan untuk mengambil wadah makanannya. Karena memang makanan yang ia masak sudah matang, hanya tinggal memindahkan nya ke wadah saja.
"Baiklah karena istriku sudah berusaha dengan sangat keras menghidangkan aku masakan, maka akan kuhabiskan semuanya tanpa tersisa," jawab Winston sembari berlalu untuk duduk di meja makan.
Segera Luna menyiapkan segalanya dan menyusun makanan itu di atas meja, Luna melayani Winston selayaknya seorang istri melayani suaminya.
Benar saja, Winston melahap semua makanan yang ada di meja itu tanpa tersisa. Hal itu membuat Luna begitu terkejut.
"Bagaimana bisa kau menghabiskan semuanya begitu cepat?" tanya Luna masih tercengang melihat kemampuan suaminya itu.
"Itu karena masakan mu sangat enak, dan aku ingin mempersingkat waktu makan ini," goda Winston sudah berjalan kearah Luna.
"Sayang, kau sangat cantik pagi ini, karena aku sudah makan untuk amunisi perutku, sekarang aku akan makan untuk amunisi hatiku," bisik Winston sembari melepaskan ikatan rambut Luna.
***
Pemberitahuan :
Hi semuanya, author lihat banyak yang baru baca novel ini dan nanyain mengenai penamaan karakter yang bernama 'Hina' saat itu author sama sekali enggak perhatiin kalo Hina adalah bahasa Indonesia yang artiannya memang kurang bagus (iya, author se-engga peka itu sheyeng 🥺)
Author akan mencoba refisi namanya nanti, tapi kemungkinan butuh waktu, mohon maaf ya bagi beberapa orang yang merasa terganggu atas penamaan itu :( 🙏
Dan untuk yang nanyain kapan novel ini up akan author jawab sekali lagi ya hehe :)
Novel ini Up setiap hari pukul 00:00, kenapa tengah malem soalnya pas pertama kali buat novel itu tuh enggak nyangka banget novelnya akan dikenal orang sebanyak ini. Jadi awalnya memang main-main author tuh buat jadwal tayang nya 😭
Dan jika ubah jadwal tayang lagi akan sangat mempengaruhi ke poin novel ini ke System nya MangaToon. jadi sepertinya author engga bisa revisi jadwal tayang. Maaf ya semuanya, apalagi sama beberapa pembaca yang bilang rela sampe begadang :(
Sekali lagi maafkan author ya untuk kesalahan-kesalahan kecil namun fatal yang author sebutin di atas. Biarkanlah ini menjadi pelajaran buat Author, author akan berusaha lebih baik lagi untuk membuat novel yang baik dan membuat kalian puas bacanya.
Terimakasih yaa semuanya..
Ai lopiyu 🤗
Bonus Visual Winston dan Luna
__ADS_1