Simpanan Pria Arogan

Simpanan Pria Arogan
Kau butuh belajar lebih banyak


__ADS_3

Di apartemen Winston.


"Mau kau lepas sendiri? atau aku bantu?" itulah kata pertama dari Winston sesaat setelah sampai di apartemennya.


"Kau ... kau ... kau, jangan mendekat. Aku tidak mau! kau mesum!" jawab Luna ingin kabur dari situ, tetapi dihadang oleh Winston.


Winston langsung menarik pinggang Luna dan menghempaskan dirinya ke kasur.


"Aduh, sakit. Kau kira aku karung beras? sudah berapa kali kukatakan aku ini manusia!" decak Luna merasa kesal.


"Sayang, aku juga sudah berapa kali kukatakan jangan dekat-dekat dengan pria manapun. Kau tidak juga mendengarkan ku! aku punya batas kesabaran."


"Tadi kau dengan Rendi ngapain saja? apa yang kalian lakukan? mengapa kalian bisa berjalan bersama?" Winston menanyai Luna seperti seorang polisi yang menanyai seorang tersangka kejahatan.


"A ... aku satu kelas dengannya, dia mengatakan akan tetap menjadi temanku, jadi kami makan siang bersama dan ...."


Belum sempat Luna melanjutkan pembicaraannya ...


"Makan siang bersama? dan kau menyebutkan sebutan kalian dengan kata 'kami'?" Winston sekarang sudah menarik baju Luna. Dia mencengkeram tangan Luna dengan kuat agar Luna tidak bisa memberontak.


"Ahh ... jangan! aku tidak suka seperti ini. Setiap kali kau marah selalu saja memperlakukan aku seperti ini." Luna menangis karena memang dia tidak suka diperlakukan kasar seperti itu.


"Cium aku." Ucap Winston tanpa menghiraukan keluhan Luna.

__ADS_1


"Kau ... kau ... kau mesum!" balas Luna gagap atas pernyataan Winston itu.


"Aku sedang tidak meminta, aku sedang memerintah. Jika kau tidak mencium aku, maka aku yang akan menciummu dan akan aku lanjutkan sampai besok, tidak peduli apapun yang terjadi.


"Hais, sifat arogansinya sudah kambuh lagi. Nampaknya, dia pun sedang tidak bercanda. Huhu, hidupku yang malang." Gumam Luna saat melihat ekspresi serius Winston yang sedang berada di atasnya.


"Cup ... cup ... cup." Luna memberikan kecupan sebanyak tiga kali di bibir Winston.


"Anggaplah itu sebagai hukuman yang tiga hari tiga malam itu. Bisakah?" tanya Luna menyelidik.


"Hmmmm, kamu mau tawar menawar denganku? apakah kau pikir kecupan ringan seperti itu di anggap sebagai ciuman? kau seperti tidak pernah melakukannya saja. Aku hitung sampai tiga, jika kau masih tidak menciumku dengan benar, maka aku akan benar-benar menghukum mu!" tegas Winston pada Luna.


"Satu ... tiga."


dengan refleks dan spontan, Luna langsung menarik wajah Winston dan menciumnya dengan benar kali ini.


Ciuman itu tentu saja dibalas dengan ganas oleh Winston. Sudah beberapa menit mereka berciuman, tapi Winston tidak menunjukkan tanda-tanda ingin melepaskan Luna.


"Uhhh ... haaa ... aku ... aku kehabisan nafas." Ucap Luna tersendat-sendat. Hal itu membuat Winston mengakhiri ciuman panas itu.


"Kau masih butuh belajar banyak soal ciuman, kau harus bisa mengatur pernafasan mu." Ketus Winston pada Luna.


"Udah syukur kucium kau mesum. Dasar tidak tahu di untung! aku sangat dirugikan dalam hal ini. Apakah kau tahu?" gumam Luna dalam hatinya.

__ADS_1


"Oh ya, berikan jadwal kelasmu pada Rean, jangan kira hukuman tiga hari itu bisa di anggap lunas begitu saja. Kau harus menjadi asisten pribadiku di kantor selama satu bulan. Tentu saja disesuaikan dengan jadwal perkuliahan mu. Dan kau tahu kan tidak bisa menolak ini?" ucap Winston sembari memeluk Luna yang sedang berada dikasur bersama dengan dirinya.


"Kau kenapa pintar sekali mengambil keuntungan dariku?" jawab Luna kesal.


"Tentu saja aku pintar. Aku seorang pebisnis sayang, trik mengambil keuntungan dari orang lain hanyalah perkara kecil untukku." Balas Winston sembari mempererat pelukannya pada Luna.


"Cih, apa yang kau banggakan dari itu? dan lagian kau memelukku dengan sangat erat! kau mau meremukkan ku? dasar kau arogan. Ingin kujambak rambutnya itu dan bergulat disini! aaahhhh, aku kesal." Tentu saja semua ini diucapkan di dalam hati.


Saat ini, Luna hanya pasrah atas apa yang di katakan Winston atau apa yang dilakukan Winston pada tubuhnya.


"Lepaskan aku, aku ingin mandi dan beristirahat." Luna sudah merasa gerah, sudah lebih dari sepuluh menit Winston memeluknya di ranjang.


"Tunggulah lima menit lagi. Aku ingin seperti ini sebentar, aku sedang merasa lelah." Balas Winston tanpa melonggarkan pelukannya sedikit pun.


"Saat dia seperti ini sungguhlah sangat menawan." Gumam Luna dalam hati.


Wajah Winston terlihat sendu, Luna bisa melihat kelelahan di wajah pria itu, tetapi tidak menurunkan kadar ketampanannya sedikit pun.


"Sayang, Aku tahu jika aku sangatlah tampan. Tapi aku paling tidak tahan dipandangi olehmu seperti ini, itu membuat gairahku langsung memuncak. Jika kau tidak ingin aku memakan mu sekarang, maka jangan melihatiku seperti itu."


"Cih, dasar kau mesum!" balas Luna membenamkan wajahnya di dada Winston.


"Sayang, aku hanya mesum di hadapanmu, kau harusnya berbangga diri atas itu." Balas Winston sembari tetap memeluk Luna dengan sangat erat.

__ADS_1


"Ya ... ya ... ya. Apapun yang kau katakan, anggap saja itu benar Yang Mulia." Gumam Luna tidak percaya atas perkataan Winston. Luna yakin, jika pria setampan dan sekaya Winston pastilah punya segudang gadis cantik di sisinya."


__ADS_2