
-di polresta-
"jadi berdasarkan penjelasan nak yudistira, saya bisa simpulkan kejadiannya seperti ini. nak yudistira ngeliat 3 maling merampok rumah, terus berinisiatif melawan maling tersebut dan memanggil warga, pas mengejar satu maling nak yudistira ngambil jalan pintas terus ngejatohin diri di atas si maling. begitukan?"
"iya pak. sumpah saya gak sengaja pak."
di dalam hati aku terus memanggil agen nostradamus.
[cepat datang sama ibu, agen nostradamus!!!]
"nak yudistira. kalau masalah ini tidak diselesaikan secara kekeluargaan, kamu bisa terancam penjara 7 tahun."
aku tegang dan berkeringat sejak ikut dengan polisi, setelah mendengar ancaman penjara 7 tahun keringat yang mengalir di badanku sudah seperti air hujan. keranjang sampah di samping meja setengahnya sudah terisi oleh tisu bekasku.
setelah mendengar itu aku hanya bisa mengangguk angguk saja.
"tapi bapak respect sama kamu. kamu udah berani lawan 3 maling sendirian. kamu punya ibu kan?"
aku mengangguk.
"bapak bisa bantu kamu menyelesaikan kasus ini. kamu jangan khawatir, bapak gak minta imbalan apa apa, bapak tulus mau membantu kamu."
"beneran pak?"
bapak polisi mengangguk. tidak lama kemudian agen nostradamus datang dengan gaya ceo perusahaan ternama. ibu langsung berlari ke aku dan memelukku.
"bu, jangan meluk disini aku malu."
"anak saya ngelakuin apa pak?" tanya ibu.
aku kaget ibu tetap kalem, padahal ibu adalah pribadi yang emosional sehingga jika terjadi masalah seperti ini ibu akan mengeluarkan semua keresahannya. jadi wajar aku kaget dengan perubahan sifat ibu.
"ini ibunya nak yudistira?" tanya pak polisi.
"bener pak." jawabku.
"anak ibu sudah melakukan tindak kekerasan yang tidak disengaja kepada oknum perampok."
bapak polisi menjelaskan rinci apa yang telah aku lakukan dan tindak pidana yang mungkin diberatkan padaku.
"satu satunya cara menyelesaikan perkara ini adalah dengan berdamai dengan korban dan keluarganya. kalau bapak ibu mau, korban ada di rumah sakit sekarang."
ibu menatapku dengan perasaan yang bercampur aduk. tanpa basa basi dengan bantuan agen nostradamus yang menyamar kami sampai di rumah sakit tempat si maling dirawat, sementara 2 maling lainnya sudah dijebloskan ke dalam penjara.
kami tidak dibolehkan masuk ke ruang ugd. tapi dari jendela pintu kami bisa melihat kondisi badan si maling yang bengkok. tulang belakangnya bengkok ditindih olehku.
"makanya kamu jangan sok jago yud!" ibu marah padaku.
bahuku di pegang dari belakang oleh seseorang. pas aku berbalik bogem mentah mendarat di wajahku. orang yang memukulku adalah adik dari si maling beserta keluarganya.
"bangsat!! lu harus tanggung jawab buat ngobatin kakak gue!!"
"dasar anak biadab!! bikin kakak gue jadi begitu!!"
ini tidak sepenuhnya salahku. harusnya laki laki yang terkapar itulah yang di maki karena dia pelaku kriminal. tapi tidak mungkin mereka menyalahkan keluarga mereka sendiri selama masih ada orang lain yang bisa disalahkan, yaitu aku. dalam kasus ini aku adalah pelaku kekerasan dan si maling adalah korbannya.
"jangan ganggu anak saya!! anak saya sudah melakukan hal yang benar dengan menangkap kakak anda!!" bentak ibu yang tidak terima mereka mengkambing hitamkan diriku.
"ini anak lo? emaknya cakep tapi muka anaknya kaya orang lakn*t."
keluarga si maling yang datang ke rumah sakit berjumlah empat orang. satu laki laki yang menamparku, satu ibu ibu dan dua anak perempuan.
ibu beradu mulut dengan adik korban. agen nostradamus melerai mereka, mengingatkan kalau mereka masih berada di rumah sakit.
apa agen nostradamus akan membantuku sekarang?
"saya punya usul untuk keluarga korban."
"lu siapa? perdana menteri?"
"aku kenalan baiknya keluarga pelaku. saya kenal dokter spesialis yang bisa memperbaiki bengkok tulang belakang dan lengan kakak anda. tentunya biaya pengobatan ini gratis, dan keluarga pelaku juga akan memberikan ganti rugi yang besar kepada keluarga korban.
keluarga korban saling menatap satu sama lain. si ibu keluarga korban yang ternyata adalah istri si maling berkata tidak mempercayai pak arjuna.
"mana bisa bengkok tulang belakang disembuhin pak. kalau pun bisa saya mau lihat sendiri prosesnya."
"baik saya akan tunjukkan prosesnya ke anda. tapi jangan salahkan saya kalau anda menyesal nantinya."
"saya anggap ibu dan adik adik setuju dengan usulan saya, lalu bagaimana dengan adik korban?"
"gua setuju, asalkan ada duit ganti ruginya."
keluarga pelaku. setuju dengan usulan pak arjuna. aku juga meyakinkan ibu agar mengikuti sarannya agen nostradamus.
akhirnya kedua keluarga korban pulang ke rumah masing masing sebab hari mulai malam. agen nostradamus berjanji akan membawa seorang dokter tradisional yang bisa mengobati bengkok tulang korban besok hari. tapi dokter seperti itu hanya ada di semesta kebaikan, jadinya aku harus mendapatkan tiket emas lagi dan memanggil dokter itu kesini.
malam ini ibu tidur lebih cepat, sekitar jam 10. jelas ibu sangat lelah, dari pagi sudah bekerja, berkunjung ke rumah agen, ke polresta, lalu ke rumah sakit dan bertengkar dengan keluarga korban.
daily quest kelima hari ini akan segera muncul.
[Tring!]
kalian pasti terkejut mendengar quest yang satu ini.
ini adalah quest khusus yang misi dan reward nya di atur oleh agen nostradamus. quest ini pun tidak dilakukan di dunia nyata, melainkan di dalam mimpi. aku harus menyelamatkan orang orang dari kebakaran gedung di dalam mimpi.
[anggap saja ini sebagai simulasi quest yang akan anda temui di masa depan.] kata agen.
"lucunya.. maksudmu di masa depan insiden ini benar benar akan terjadi dan aku harus menjadi pahlawan kepanasan?"
[begitulah.] jawab nostradamus dengan ringan.
aku pun naik ke ranjangku lalu tidur dengan tegang. begitu aku menutup mataku aku merasakan. badanku menjadi lemas, dan mataku menjadi sangat berat dan tidak bisa dibuka. inilah sensasi uni dirasakan seseorang saat ngantuk berat. tapi sensasi itu langsung berubah menjadi sensasi panas.
aku mencium bau asap dan aroma yang mirip aroma sate di sekitarku.
(maaf kalau penggunaan kata sate terlalu dark bagi beberapa pembaca.)
aku terbangun di dalam gedung yang terbakar hebat. ini mimpi tapi sendirinya nyata.
aku mengechat agen nostradamus, tapi fitur chatting tidak bisa digunakan dalam mimpi. ini membuatku panik, tapi sesaat kemudian aku menyadari ada benang merah bercabang yang menunjuk ke arah yang berbeda beda.
ada benang yang menunjuk ke lantai bawah dan ada yang ke atas. aku memutuskan untuk pergi ke atas terlebih dahulu. tangganya belum terbakar, dengan hati hati aku melewati tangga itu.
aku harus mencatat ini. di deskripsi quest ditulis kalau aku spawn di lantai 67, sementara jumlah lantai di gedung ini ada 101.
tidak banyak penjelasan dari quest hidup dan mati satu ini. intinya selesaikan dan aku akan dapat reward tiket emas.
-di lantai 69-
"hati hati! kita harus pindah sebelum angin bertiup kencang lagi!"
aku melihat 5 orang pegawai yang menyiapkan tali untuk turun ke lantai bawah.
tindakan itu mungkin tepat bagi mereka yang pikirannya sedang kacau, tapi bagiku yang berpikir jernih ini tahu bahwa turun menggunakan tali ke lantai bawah itu tidak akan berhasil. sebab tali itu bisa saja tersambar api dan menjatuhkan mereka ke tanah.
"jangan pakai tali itu!! kalian bisa jatuh!!" teriakku.
"ada pemadam kebakaran! tolong kami pak!!"
__ADS_1
aku tidak sadar sudah memakai baju pemadam kebakaran. aku juga tidak sadar kalau di tanganku ada alat pemadam api. di quest kali ini aku berperan sebagai pemadam kebakaran.
quest ini ada waktunya.
40 menit bukanlah waktu yang lama. masalahnya aku tidak tahu bagaimana cara menyelamatkan orang orang ini. tidak mungkin aku mengantar mereka turun ke lantai 1 satu persatu saat kutemukan.
tunggu! mengantar turun? biasanya apa yang disiapkan oleh tim penyelamat jika tidak bisa menjemput korban yang berada di lantai atas?
bukan bukan! yang benar benda apa yang disiapkan oleh pemadam kebakaran untuk menyelamatkan orang yang melompat dari tempat tinggi?
aku berlari ke jendela lalu memeriksa ke bawah. ternyata di bawah sana para pemadam kebakaran yang tidak bisa memadamkan api menyiapkan sebuah trampolin untuk para korban yang terjebak.
setelah aku melihat trampolin itu deskripsi quest muncul.
"tidak perlu pakai tali! kalian harus lompat bergantian ke trampolin, teman teman saya akan menolong kalian di bawah sana!!"
waktuku semakin berkurang karena orang orang ini takut melompat ke bawah. semeyakinkan mungkin aku coba meyakinkan mereka, lalu aku suruh orang yang paling berani untuk lompat lebih dulu.
akhirnya orang pertama melompat dari jendela gedung. orang itu jatuh tepat di tengah trampolin dan berhasil selamat, orang orang lain di lantai ini pun mengikuti. akhirnya lantai ini bersih.
aku melanjutkan ke lantai bawah, ke lantai 63. orang orang di lantai ini lebih pemberani, jadinya aku tidak perlu mengeluarkan kata kata motivasi.
usahaku menyelamatkan orang orang ini berjalan mulus.
-lantai 61-
-lantai 71-
-lantai 76-
-lantai 79-
"gawat! waktunya tinggal 9 menit lagi!"
aku panik. masih ada 21 orang lagi tag harus aku selamatkan. waktuku terbuang banyak karena aku salah pilih lantai, dan terlalu lama menceramahi orang orang ini.
aku tidak menghiraukan lagi countdown itu. aku menaiki tangga secepat mungkin ke lantai 84. disana ada 10 orang.
"cepat lompat ke trampolin yang ada di bawah! jangan takut peralatan kami sangat mumpuni untuk penyelamatan seperti ini!!" teriakku pada orang orang itu.
aku hanya terpaku melihat papan countdown itu. aku sadar mustahil bagiku menyelesaikan quest. dengan berat hati aku pun menerima kegagalanku.
[Bip!]
"hah? diulang kembali??"
seketika gedung ini pun runtuh dan aku terjatuh hingga ke lantai dasar.
setelah itu aku membuka mataku. aku mendapati diriku berada di pinggir sungai yang sangat indah dengan cerminan langit berbintang di permukaan air sungainya.
aku bertanya tanya ini tempat apa. lalu dia pun muncul. agen nostradamus dengan wujud chibi maskot aplikasi sistem.
"gagal ya, yah itu wajar karena mustahil anda bisa menyelesaikan quest dengan di percobaan pertama."
agen nostradamus menggunakan suaranya yang muncul di aplikasi sistem.
"quest ini cukup sulit. tapi kalau diulang lagi aku yakin bisa menyelesaikannya." kataku.
"kenapa anda yakin bisa berhasil di percobaan ke 2?" tanya agen nostradamus.
"karena aku membuang terlalu banyak waktu untuk memahami quest ini. aku juga terlalu lama meyakinkan orang orang itu." jawabku.
"bagus lah anda tetap optimis. sekarang saya akan mengulang quest nya dari awal."
"ngomong ngomong ini tempat apa?"
"ini adalah alam tengah antara dunia mimpi yang dibuat sistem dengan dunia mimpi anda yang asli. kami menamai tempat ini 'domain'."
setelah itu aku dikembalikan ke dalam quest. kembali spawn di lantai 67, waktu 40 menit pun diulang kembali.
di kesempatan kedua ini aku yakin bisa menyelesaikannya. tapi kenyataannya...
[Bip!]
[Bip!]
[Bip!]
[Bip!]
__ADS_1
[Bip!]
[Bip!]
[Bip!] [Bip!] [Bip!] [Bip!] [Bip!]
.....
[Bip!]
sekali lagi aku kembali ke 'domain'. ini adalah kegagalanku yang ke 13 kalinya.
padahal aku sudah melakukan yang terbaik di setiap pengulangannya, tapi ada satu kejadian yang terus menerus membuatku gagal. yaitu di lantai 87.
4 korban terakhir di lantai 87, 2 diantaranya adalah manula yang bisu dan tuli, lalu yang satunya lagi memiliki gangguan kejiwaan. kedua manula itu sulit sekali disuruh lompat, akibatnya aku terus menerus gagal bahkan sampai 4 kali kehabisan waktu karena kakek rsj ini. sementara kegagalan lainnya terjadi karena korban yang harus aku selamatkan meninggal dilahap si jago merah.
aku lebih beruntung di percobaan pertama, ketimbang ke dua dan seterusnya ini. sebab ada saja hal hal yang membuatku tidak beruntung. tiupan angin yang memperbesar nyala api lah, ada yang pingsan lah, kakiku keseleo lah.
aku yang frustasi bertanya pada agen nostradamus.
"bagaimana cara menyelamatkan para manula itu, agen? kalau begini terus rasanya aku seperti disiksa."
"saya sudah bilang berkali kali kan. temukan barang milik mereka yang tertimbun di bawah puing meja." jawab agen.
"masalahnya, kalau aku mengangkat meja itu, api nya akan menyambar save zone dari orang orang itu. tolong beritahu aku cara lain, bolehkah aku dapat lebih banyak pemadam api ketika respawn?"
"tidak boleh. anda harus menyelesaikannya dengan peralatan yang kami berikan. soal ketidakberuntungan anda, itu adalah hukuman dari sistem karena anda sudah melakukan kesalahan di quest sebelumnya."
"aku tahu itu. quest ini memang hukuman."
aku respawn untuk yang ke 14 kalinya. meskipun sudah lelah dan muak aku tetap mencoba menyelesaikan quest ini. hingga sampailah aku di lantai terakhir, lantai 87.
aku buru buru mengambil sapu untuk digunakan mengangkat meja yang terbakar. aku tidak menghiraukan para korban, sebab aku lebih penasaran dengan benda apa yang tertimbun di bawah sini.
benda apa yang sebenarnya dicari kakek dengan gangguan jiwa itu? benda apa yang sebenarnya yang lebih berharga dari hidupnya.
sapu yang kugunakan patah. aku gunakan tanganku sendiri untuk membongkar laci meja kerja yang terbakar itu. aku juga dengan nekat, menghalangi jalur api yang menuju ke save zone orang orang ini dengan tubuhku.
akhirnya aku berhasil membuka laci. saat aku melihat barang yang diinginkan oleh kakek rsj ini aku terkejut bukan main. tidak ada barang apa pun di dalam laci itu. jadi selama 4 kali pengulangan ini aku di prank oleh kakek rsj ini.
salah. bukan kakek rsj, tapi agen nostradamus lah yang mem-prank diriku.
aku yang terbakar amarah tanpa pikir panjang mendorong ke 4 orang itu satu persatu. dan akhirnya aku menuntaskan misi special yang menyiksa ini.
[Tring!]
malam ini akan selalu aku kenang sebagai malam terburuk dalam hidupku.
.....
Statistik 'kontraktor Yudistira' saat ini:
Etika (25) (Kurang)
Moral (48) (Cukup)
Ketampanan (-70) (Sangat Jelek)
• Berat Badan (105 kg \= 102 kg)
• Kharisma ( - )
Kekuatan (93) (Sangat Kuat)
• Kecepatan (43) (Cepat)
• Pertahanan (56) (sangat Kokoh)
• Stamina (50) (Kuat)
• Mentalitas (39) (Kuat)
Kecerdasan (9) (Sangat Kurang)
Bakat :
• Bela Diri (Aikido) | teknik (nikyo) (kokyunage) (sokaku takeda)
• Penyanyi (Pop) | Suara Emas
• Pemburu | Mata Elang
• silahkan isi sendiri
....................................................................................
Jangan lupa tekan like dan taruh novel ini di rak buku kesayangan kalian😄
__ADS_1
....................................................................................