
Siapa sangka kerabatnya akan pergi secepat ini. Duka cita turut kurasakan walaupun aku tidak terlalu dekat dengannya.
Alu menyapanya untuk sekedar memberitahu kalau aku ada disini.
"Aku sudah dengar kabarnya, aku turut berduka cita Hana."
Telinga Hana sekarang bisa mendengar dengan alat bantu pendengaran.
"Kenapa kau tidak sekolah?" Tulis Hana, sambil menyeka air matanya.
"Aku diserang oleh Andi dan terluka, jadi aku dipaksa pulang oleh guru." Jawabku.
"Boleh aku bantu mencarikan barang barang yang bisa diselamatkan? Aku tidak sedang cari muka di depanmu ataupun hal lainnya. Ahh maaf, aku tidak bermaksud berprasangka buruk terhadapmu. Aku hanya.. benar benar tulus ingin membantu."
Hana mengangguk. Dia juga memberitahuku lewat tulisan.. "Kalau sudah selesai membantu datanglah ke rumah hijau yang disana. Warga lain yang membantu proses pencarian juga datang kesana untuk beristirahat. Dan jangan menolak!"
Dia sampai menuliskan tanda seru di akhir kalimatnya, berarti aku benar benar tidak boleh menolak.
"Baiklah, aku akan kesana."
Aku mulai berbagi tugas dengan warga. Cukup banyak barang yang aku dapatkan selama 1 jam mengais puing puing. Aku juga menemukan sebuah hp yang terkubur di tumpukan sepatu.
Aku ingin mengecek isi hp ini, tapi sepertinya tidak perlu.
"Kamu nemuin apa?"
Seorang warga menghampiriku.
"Saya nemuin hp. Kayanya masih bisa nyala."
"Kalo gitu coba nyalain, supaya kita tau hp ini punya siapa."
Hp ini tidak terkunci dan juga tidak ada aplikasi untuk bekerja di dalamnya. Berarti hp ini mungkin milik anak panti.
Aku menyelidiki hp itu lebih dalam dan aku menemukan rekaman yang menunjukkan 5 anak berumur sekitaran 7 tahunan sedang bermain main di dapur.
Hal yang mengerikan terjadi. Api di kompor membesar karena pengaturnya di mainkan oleh anak anak itu. Tepat saat itu jendela terbuka dan angin bertiup kencang. Api pun menyambar dinding bangunan dan merambat ke perabotan dapur dengan cepat.
Anak anak itu berusaha keluar tapi pintu terkunci dan dapur itu berada di lantai 2 sehingga tidak memungkinkan mereka keluar lewat jendela.
Saat anak anak itu berteriak meminta pertolongan ruangan sudah dipenuhi dengan api dan mereka pun dimakan api satu persatu.
Aku langsung menutup mataku dan mematikan hp nya.
"Ini video penyebab kebakaran..! kita harus memberikan bukti ini kepada polisi..!"
Aku bergegas ke tempat Hana, dia harus melihat sendiri video ini. Tapi saat aku sampai di rumah hijau yang disebutkan Hana aku malah menjumpai 3 orang dewasa yang sedang memarahi pengurus panti asuhan ini.
Awalnya kukira mereka adalah polisi, tapi ternyata mereka adalah tuan tanah dan anak buahnya. Tuan tanah itu menuntut pemilik panti asuhan ini alias mendiang kakak laki lakinya Hana atas perusakan properti di atas lahan miliknya.
Aku belum belajar soal kepemilikan tanah dan lahan. Jadi aku minta kepada warga disampingku untuk menjelaskan inti dari hal yang disampaikan oleh si pemilik tanah itu.
Ternyata panti asuhan ini dibangun di atas tanah milik bersama antara pemilik panti dengan si tuan tanah dengan ikatan kerjasama yang saling menguntungkan diantara keduanya.
Namun karena panti asuhan ini terbakar karena sebab yang tidak jelas muncul kecurigaan kalau pemilik panti asuhan sengaja membakar panti asuhan ini.
"Itu tidak mungkin kan. Mana mungkin pemilik panti yang jadi korban itu adalah pelaku pembayarannya. Lagipula aku punya bukti untuk mematahkan tuduhan bodoh itu."
Meski si tuan tanah tahu kalau pemilik panti asuhan adalah korbannya dia tetap bersikukuh kalau kebakaran ini sudah direncanakan oleh pihak panti. Sampai seorang pengurus laki laki muak dan membalas tuduhannya.
"Kenapa kami harus membakar ladang mata pencaharian kami..! Bukankah yang paling mungkin membakar panti ini pihak bapak. Belakangan ini subsidi pemerintah tidak disalurkan lagi ke bapak kan. Bisa jadi bapak marah karena itu dan akhirnya gelap mata terus membakar panti asuhan."
Pengurus itu langsung ditampar oleh anak buah si tuan tanah.
"Justru kalianlah yang mau mencuri uang subsidi pemerintah yang dikumpulkan bapak Roland (Mendiang kakak Hana)."
"Sekarang kalau kalian para pengurus panti asuhan tidak membersihkan tempat ini dalam tempo waktu seminggu saya akan mengadukan masalah ini ke polisi." Ancam si tuan tanah.
"Adukan saja!"
Aku kaget mulutku bicara sendiri.
"Kenapa mulutku bergerak sendiri?"
[Bergerak sendiri apanya? anda sendiri yang mengatakan itu. Saya kagum anda berani bicara di saat seperti ini, itu pasti karena anda punya bukti yang bisa mematahkan tuduhan mereka kan.]
"Tidak. Aku benar benar mengatakan itu secara tidak sadar."
"Apa kata anda tadi..!? Siapa anda?"
"Saya teman adiknya pemilik panti asuhan."
Sial. Karena sudah terlanjur terpaksa aku bicara di depan semua orang.
"Saya menemukan rekaman penyebab kebakaran. Silahkan anda lihat sendiri."
Tuan tanah melihat penyebab kebakaran yang bermula dari dapur panti. Akhirnya dia bisa diam setelah melihatnya langsung.
"Kenapa bisa ada kamera menyala di sana? Dan kenapa anak anak umur segitu dibiarkan bermain di dapur? Jawab yang jujur siapa sebenarnya yang merencanakan kebakaran ini?!"
Aku menyela ucapan tuan tanah.
"Menurut saya anak anak itu menaruh hp ini di rak atau semacamnya. Mereka pasti ingin membuat vlog atau video saat mereka bersenang senang, itu jawaban pertanyaan anda yang pertama. Lalu jawaban pertanyaan kedua, saya rasa pihak panti memang lalai menjaga anak anak itu."
Aku bicara seadanya. Dari sudut pandangku kelalaian pihak panti lah yang menyebabkan kebakaran ini. Tapi bukan sepenuhnya salah mereka juga. Pasti ada faktor lainnya.
"Pokoknya kalian bersihkan tempat ini dalam seminggu! kalau enggak bisnis saya enggak bisa jalan."
< Tahap pertama selesai >
< Tahap kedua dimulai : Kebakaran ini memang kecelakaan tapi pemilik panti asuhan dibunuh oleh seseorang saat kebakaran itu terjadi >
< Tahap Kedua : Tangkap oknum yang mengunci pintu ruang kantor pemilik panti saat kebakaran terjadi dan temukan barang buktinya >
Kurang lebih aku paham apa yang terjadi. Jadi disaat kebakaran terjadi aksi pembunuhan yang tidak direncanakan terhadap kepala panti. Situasinya jadi rumit kalau sudah menyangkut masalah bunuh bunuhan.
Benang hijau menunjukkan jalan. Aku pun langsung otw ke tempat tujuan dengan hati yang tidak karuan.
Di tempat tujuannya Yuda. Orang orang berkumpul di sebuah karaoke yang beroperasi secara rahasia di belakang restoran cepat saji di kawasan Jalan Jeruk Parut.
Benang hijau menunjuk ke dalam sana.
Ada tulisan 'Anak di bawah umur 20 tahun dilarang masuk' di depan pintu karaoke. Aku pun diperiksa oleh satpam.
"Berapa umur kamu?" Tanya Satpam.
"25 Tahun." (Bohong)
"Mana KTP anda?"
Pak Satpam bicara lebih sopan padamu karena beliau percaya aku berumur 25 tahun.
"Saya lupa bawa dompet pak."
"Kalo gitu anda gak boleh masuk."
"Tapi saya baru pertama kali ke tempat karaoke, tolong izinin saya masuk, saya bakal bayar 2x lipat kalo bapak ngizinin saya masuk."
"Kamu mau nyuap saya, kalo sejuta sih gak papa."
Aku kira dia bakal menolak. Hahh respekku terhadap bapak satpam ini langsung hilang. Aku beri uang sejuta dan aku pun diperbolehkan masuk bahkan diantar ke ruang VIP.
Benang hijau menunjuk ke seorang tunawisma berpakaian compang camping yang tampak tidak cocok berada di tempat itu.
"Temen siapa nih? Ada yang ngundang cowok kah?"
__ADS_1
Pelanggan VIP di tempat itu semuanya perempuan. Beberapa diantara mereka terlihat sangat glamor lengkap dengan perhiasan perhiasan emas yang berkilauan seperti lampu neon.
Aku memilih tempat duduk yang jauh dari mereka. Ini adalah room terbuka yang bisa diisi 3 sampai 5 kelompok, atau bahasa gaulnya sirkel.
Targetku adalah si tunawisma, entah apa perannya di antara ibu ibu kaya itu.
Untuk sementara aku pesan air kelapa muda dulu. Bahaya kalau aku sampai mabuk meneguk alkohol.
Sambil berpura pura menunggu teman aku mendengarkan pembicaraan si tunawisma dengan para ibu ibu kaya. Meski sedikit tertutup oleh suara musik yang nyaring aku masih bisa mendengar obrolan mereka.
"Terus sekarang apa rencana kamu? Saya gak mau menyembunyikan kriminal. Mending kamu segera keluar dari rumah penampungan saya."
"I.. iya.. bu."
Kalau tidak salah di pinggir kota dekat sungai berdiri sebuah rumah penampungan tunawisma. Aku pernah berkunjung ke rumah itu dulu sekali bersama ayahku.
"Kalau gitu pergi sana! Jangan sampai kamu muncul di depan saya lagi!"
Tunawisma itu diusir, dan aku pun mengikutinya hingga ke luar ruangan.
"Nanti datang lagi ya mas!" Teriak si Satpam.
"Dasar mata duitan!!" Gumamku dalam hati.
Aku tangkap tunawisma itu sebelum dia jauh.
"Bapak mau apa ya?" Tanya si tunawisma. Dia pasti mengira aku polisi. Tidak salah juga sih, karena aku berperan sebagai polisi tidak resmi disini.
"Saya mau tanya, apa bapak ada hubungannya dengan kebakaran panti asuhan di Jalan Asam Semanggi?"
"Saya tahu kalau panti asuhan itu kebakaran. Tapi saya gak ada hubungannya. Bapak nuduh saya apa?"
"Saya punya kekuatan magis yang bisa menemukan jejak pelaku kejahatan. Dari yang saya temukan di tkp, saya menemukan kalau pintu kantor pemilik panti dikunci dari luar saat kebakaran terjadi."
"Ampun pak! Itu memang saya!"
Si tunawisma berlutut padaku.
"Jadi benar bapak yang melakukannya. Tapi apa motif bapak melakukan itu?"
"Saya.. disuruh oleh seseorang.."
Yes, ini berjalan lebih mulus dari yang ku duga. Ini berkat statistik kharisma super bermatabat yang kumiliki.
• Kharisma ( 40/40 ) - Sekarang anda punya kharisma setara Zhuge Liang -
Ini pertama kalinya aku bisa membuat ciut orang lain hanya dengan kata kata. Tahu begini harusnya sejak awal aku meningkatkan statistik ketampanan.
"Ampun.. ampun.. maafkan saya pak. maafkan saya karena menyemprot bapak dengan cabai.."
Aku segera melindungi wajahku, tapi itu hanya tipuan. Si tunawisma menendang anuku yang tanpa perlindungan.
Seketika aku pun jatuh dan si tunawisma melarikan diri.
"Polisi apanya, borgol aja gak bawa! Dasar penipu!"
"Uhh..!!"
[Hebat juga tunawisma itu bisa menipu anda.]
"Harusnya kau tanya bagaimana kondisiku dahulu!"
[Oh iya. Anda baik baik saja.]
"Sama sekali enggak. Biarpun pertahananku kuat tetap saja sakit saat dipukul di titik lemah."
Gara gara torpedoku terkena damage, kecepatan lariku pun berkurang.
Si tunawisma berlari ke perkampungan terdekat, dia memanggil bala bantuan kepada sesama tunawisma.
Beberapa orang menyerangku. Aku tidak sedang dalam kondisi fit untuk berkelahi setelah tangan kananku disayat oleh Andi.
"Kalian tidak tahu apa akibatnya kalau menyerang aparat negara? Apa kalian semua bersekongkol untuk membunuh pemilik panti?"
"Ngomong apa lu?! Siapa yang membunuh?!"
Mereka tidak tahu rupanya. Tapi kenapa mereka berbondong bondong menyerang polisi.
"Bapak bukan polisi kan. Kalau bapak polisi gak mungkin bapak datang sendiri kesini. Sebab di kampung tunawisma ini aparat tidak pernah disambut dengan baik."
Aku telah masuk ke kawasan anti aparat negara. Itu artinya kawasan ini adalah zona anti hukum.
"Hati hati bang toyib! Dia punya ajian!" Kata si tunawisma yang kukejar.
"Bang toyib? Itu nama bapak, hahahaahahahaaa...."
"Pukulin si b*ngs*t itu!!!"
Kayu dipukul dengan kayu, di pukul dengan panci, dipukul dengan pentungan, bahkan dipukul dengan pecut sapi.
[Kenapa anda diam saja dipukuli?]
"Aku malas memukul duluan, nanti mereka malah playing victim."
"Karena kalian memukul saya duluan, berarti saya boleh membela diri kan."
Aku balas pukulan mereka dengan satu pukulan di wajah mereka masing masing. Tidak peduli mau menunduk ataupun berlindung dengan apapun, jika yang aku targetkan adalah wajah maka tinjuku pasti akan mendarat disana.
Semua yang menghalangi sudah aku buat terkapar, tinggal 2 orang lagi, si tunawisma dan satu orang npc.
Kakiku ditahan oleh orang yang aku pukul.
"Kenapa kalian melawan sampai seperti ini sih?! Padahal kalau anda ikut saya dengan tenang hukuman anda bisa diringankan."
Aku tidak tahu apa yang aku bicarakan. Semoga saja para polisi sungguhan tidak marah padaku karena mengaku ngaku anggota polisi.
Dari arah luar kampung aku mendengar suara mobil yang berhenti. Tidak hanya satu tapi aku mendengar suara banyak mobil sekaligus. Setelah itu datang sekelompok preman.
"Duh, kenapa harus saat tanganku cedera..!!"
Apa boleh buat, terpaksa aku berkelahi dengan kondisi tangan cedera.
"Siapa yang namanya Yudistira?" Tanya orang yang berjalan paling depan.
"Saya." Aku mengangkat tangan.
"Nak Yudistira, kamu bisa pulang. Mulai dari sini biar kami yang urus."
"Maksudnya? Ada apa ini sebenarnya."
Sebelum menjelaskan apa dan siapa, orang orang ini lebih dulu menangkap semua tunawisma. Mereka bertindak lebih kasar pada tunawisma targetku.
"Kami suruhan mba Hana. kamu enggak tahu kan, kalau mba Hana itu anak konglomerat."
"Hana anak konglomerat! Itu menjelaskan wajahnya yang cantik seperti bidadari. Dia pasti perawatan mahal seperti bulannya." Gumamku dalam hati.
"Hehee.. Hehehe.."
Kalau Hana anak konglomerat maka aku harus membangun hubungan baik dengannya.
Aku mulai dengan tampil baik di depan para pegawainya.
"Jangan menunda nunda lagi..! Apa alasanmu mencelakai pemilik panti..!?"
"Saya disuruh orang..!!!"
__ADS_1
Bagus, aku berhasil membuatnya bicara.
"Bawa dia ke mobil. Kita harus membicarakan ini di kantor polisi sesuai undang undang."
Pelaku pun digiring ke mobil, aku juga diizinkan ikut dengan mereka. Namun Tunawisma itu dibawa ke kantor polisi melainkan ke rumah besar yang tampak bagaikan istana.
Aku sempat ragu untuk masuk ke sana. Tempat ini membuatku merasa minor walaupun di dompetku ada uang 49 Juta.
[Kenapa anda berjalan lambat sekali?]
"Aku sedang bertanya tanya pada diriku sendiri. Kenapa diriku yang seorang calon Miliarder ini gugup saat memasuki rumah besar. Saat ini saja aku sudah jadi seorang Jutawan, seharusnya tidak ada alasan bagiku gug-"
Langkahku terhenti saat melihat Hana berdiri menyambut tamu.
Dia membenarkan make up nya, dan sekarang dia berkali kali lipat lebih cantik dari biasanya. Dalam sekejap aku jatuh cinta padanya.
[Masa muda~ masa yang berapi api~] Nostradamus bernyanyi.
Saking terpesonanya aku sampai hampir kesandung.
Sekarang tiba saatnya mendengar pengakuan dari pelaku.
"Saya diancam oleh anak anak panti untuk melakukan itu pak..." Ucap si Tunawisma.
"Anda jangan bohong..! Mana buktinya anak anak panti yang menyuruh bapak..!"
"Saya punya bukti bekas pukulan anak anak itu di bahu saya. Mereka memukul saya pakai batu bata, silahkan bapak lihat sendiri."
"Itu saja tidak cukup menjadi bukti, coba ceritakan secara detail alibi anda tentang ancaman anak anak panti ini."
"Baik pak..."
"Tapi hati hati. Kalau bapak beromong kosong sekali saja, saya akan mencabut kuku bapak."
...
< Chapter Selanjutnya [Afiliasi Preman] >
....................................................................................
< Potensi Kontraktor Yudistira telah terbangunkan >
< Statistik anda saat ini >
Moral (83/40)
Ketampanan (+50/+50) - Cukup Tampan untuk kriteria orang Indonesia -
• Berat Badan (81/81)
• Kharisma ( 40/40 ) - Sekarang anda punya kharisma setara Zhuge Liang -
Kekuatan (200/200) - Anda bisa mengangkat moge dengan 3 jari -
• Kecepatan (90/90) - Anda bisa menempuh jarak 10 kilometer hanya dengan waktu 5 menit dengan berlari -
• Pertahanan (150/150) - Anda dapat bertahan dari tabrakan mobil berkecepatan tinggi -
• Stamina (200/200) - Anda dapat Push up selama seharian penuh tanpa berkeringat -
• Mentalitas (100/100) - Silahkan anda gambarkan sendiri -
Kecerdasan (110/300)
• 3 Pelajaran yang paling dikuasai:
• Bahasa Inggris
• Penjaskes
• Bahasa Daerah
Bakat :
• Bela Diri | Aikido -Advance-
• Penyanyi Pop | Suara Emas - Advance -
• Pemburu | -Advance-
• Pesulap | Manipulasi Realita - Advance -
< Uang Saku (Rahasia) >
< Daftar Pusaka Sistem yang dimiliki >
• sepatu mistis
• selimut sutra
• emas hitam peretas
• hoodie anti terkejut
• lidah suci
• Taring Reog Hijau
• Awan Hitam
• Kuas dan Kanvas
< Tiket emas (3) >
< Poin Peningkatan Random (+26) >
..............................................................................
Jangan lupa tekan like dan taruh novel ini di rak buku kesayangan kalian. 😄
..............................................................................
__ADS_1