Sistem Kebaikan Pemuda Terundung

Sistem Kebaikan Pemuda Terundung
Chapter 40 | Tampan, Berani dan Selalu Dalam Bahaya


__ADS_3

Sebulan kemudian.


"Besok sekolah masuk lagi. Kayanya lu udah cukup bersinar buat besok." Kata Pandu yang bangga pada hasil yang kuraih.


"Apa aku sudah ganteng?" Tanyaku.


"Ngapa lu tanya gue? Tanyain langsung ke cewek cewek di sekolah."


"Baiklah."


Aku bercermin lalu bertanya pada agen Nostradamus perihal penampilan baruku.


"Apa wajah yang tampan itu seperti ini...? Bagaimana menurutmu agen Nostradamus?"


[Anda sudah bekerja keras selama sebulan ini. Jadi percayalah pada hasil.]


"Emm.. baiklah."


Aku menghabiskan liburan dengan berdiet sembari mengumpulkan poin peningkatan. Di hari terakhir liburan ini aku sudah berhasil memaksimalkan statistik ketampananku.



Ketampanan (+50/+50)



• Berat Badan (81/81)


• Kharisma ( 40/40 )


Bukan hanya ketampanan, tapi aku juga memaksimalkan statistik kekuatan, kecepatan, ketahanan, stamina dan mentalitas selagi punya banyak poin.



Kekuatan (200/200)



• Kecepatan (90/90)


• Pertahanan (150/150)


• Stamina (200/200)


• Mentalitas (100/100)


Aku merasa sangat bertenaga sekarang. Aku tidak takut lagi pada apapun dengan fisikku yang sekarang.


Pertarungan melawan para dedemit penghuni hutan adalah pengalaman yang buruk tetapi juga pengalaman paling luar biasa dalam hidupku. Berkat pertarungan yang bagai mimpi buruk itu aku jadi tidak punya rasa takut lagi saat berhadapan dengan manusia, kecuali ibuku.


Keesokan harinya di sekolah.


"Mati gua, gua gak bisa jawab banyak soal pas UTS kemaren...! Nilai gua pasti ancur nih...!"


"Mau gimana lagi, kita kan anak anak di jurusan paling rendah. Jadi udah pasti nilai akademik kita yang paling ancur kalo dibandingin sama anak anak jurusan lain."


"Gua takut dimarahin bokap...!"


Setelah liburan anak anak kembali merasakan keresahan akan nilai UTS mereka yang anjlok.


Bersenang senang dahulu bersakit sakit kemudian. Ini adalah urutan kehidupan pelajar di kawasan sini.


"Sekolah kita gak adil banget ih...! masa soal ujian kita sama ama soal jurusan Multimedia yang nilai akademisnya bagus...!" Keluh seorang siswi.


"Lu baru nyadar sekolah kita gak adil hahahaa...! Di sekolah kita kan emang gak ada yang adil." Ketos siswi lainnya.


"Bener, masih untung kita dapat ranking pertengahan sekelas, coba aja ranking kita 10 besar terbawah, kita bisa jadi pelajar minor di mata guru guru."


"Hah beneran...?! Jadi maksudnya guru sekolah bakal pilih kasih sama murid yang rankingnya rendah gitu...? Masa sih, guru guru setega itu sama muridnya...?"


"Lu gak inget kejadian guru yang menerima suap dulu...? Hal kaya gitu aja dilakuin loh, apalagi cuma pilih kasih.


Bla, bla, bla...


Anak anak kelas satu bergosip tentang perlakuan buruk sekolah yang diterima oleh pelajar pelajar terdahulu.


"Sampe juga kita. Biasanya kaki gua pegel pas nyampe sini tapi sekarang kaki gua ada buntelannya jadi jalan 10 kilometer pun gak masalah."


Aku berangkat sekolah bareng dengan Pandu. Rasanya agak memalukan mengingat ini hari pertamaku berangkat ke sekolah dengan penampilan seperti ini.


"Aku agak malu datang ke sekolah dengan penampilan baru ini." Ucapku memberi kode pada Pandu.


"Gak papa malu sedikit, yang penting senyum dan liat gimana reaksi anak anak."


Begitu aku melangkahkan kaki melewati batas gerbang sekolah mata anak anak langsung tertuju padaku.


"Siapa tu cowok..? kok gua gak pernah liat dia sebelumnya..?"


"Kayanya dia siswa pindahan deh.."


"Kyaaa gantengnya..! Badannya pun bagus, dia binaragawan kaya kak Jojo..?"


Diriku dengan penampilan baru bersinar diantara murid murid lainnya.


Efek peningkatan ketampanan adalah mengubah tumpukan lemak di tubuhku menjadi otot. Alhasil badan tambunku pun bertransformasi menjadi badan seorang binaragawan yang berisi.


"Minggir cewek cewek! Yudistira pengen cepet ke kelas!"


Ucapan Pandu sontak membuat siswi siswi itu terdiam dengan mulut menganga.


Yap, Yudistira si kuda nil dari jurusan seni kelas 1 A kini sudah kurus.


Hingga sampai ke ruang kelas pun pandangan anak anak masih tertuju padaku. Rupanya diperhatikan terus seperti ini juga memuakkan, tapi ini lebih baik ketimbang ditertawakan dan dibully.


Mereka memang tidak melakukan bullying secara langsung padaku. Tapi dia saja saat melihat orang lain disakiti itu sama saja dengan mendukung si pelaku.


Dasar anak anak pengecut. Hatiku panas gara gara merasakan sensasi tatapan mereka yang memuakkan.


Hatiku semakin panas saat si perempuan sialan bernama Martha mengguruiku.


"Waduh.. gimana caranya Yudistira bisa berubah jadi cowok ganteng dalam sebulan? Pasti lu pake susuk kan."


"Hahahaa.. udah jelas dia pake susuk! mana ada orang yang bisa turun 20 kilogram dalam satu bulan!"


Kata kata Martha membuat anak anak menganggap aku menggunakan susuk.


Aku tidak bisa bersabar lagi. Akan aku beri pelajaran anak kurang ajar ini. Masa bodoh walau orang tuanya menteri pendidikan. Dengan tiket emas Sistem apapun bisa aku lakukan! Siapapun bisa aku kalahkan!


Namun saat aku akan melakukannya datang seseorang yang dengan kasarnya menendang pintu kelas sampai rusak.


Rupanya Andi yang menghilang selama hampir 2 bulan telah kembali ke sekolah.


Ekspresi tampak begitu murka dan ada banyak plester di wajahnya. Dia berkata padaku.. "Kuda nil..! Gua tantang lo buat tanding ulang..! Kalo gue kalah gua beneran bakal keluar dari sekolah ini..!"


"Gua bakal balas kekalahan gua hari itu...!"


Tidak ada baiknya melawannya lagi meskipun aku menginginkannya. Karena aku yang sekarang sudah terlalu kuat untuk dihadapi seorang atlet silat kecil sepertinya.

__ADS_1


Jadi aku tolak tantangannya.. "Aku menolak. Aku punya hak untuk menolak tantangan dari orang yang sudah lama tidak bersekolah sepertimu."


"Menurut hukum kasta prestasi SMK Negeri 7 Harapan, siswa yang berprestasi akan memiliki kuasa lebih di tangannya. Dan kau sekarang bukan lagi siswa berprestasi karena kau sudah boros selama hampir 2 bulan."


Aku mencoba menciutkan semangatnya dengan mengatasnamakan peraturan di sekolah. Tapi itu jelas tidak berhasil. Andi justru menyerangku dan membuat beberapa meja beterbangan.


Ada yang aneh, tinju Andi lebih lemah dari sebelumnya. Apa mengira Andi sedang sakit tapi ternyata tidak. Dia sedang membiasakan diri teknik bela diri barunya. Jujitsu.


Aku terjebak, Andi memiting tangan dan kakiku. Sepertinya dia bermaksud mematahkan tanganku, dia juga terus mengoceh soal apa yang dia lakukan selama 2 bulan ini.


"Lo seneng kan, bisa matahin hidung gua...! Lo seneng kan, akhirnya bisa balas dendam ke gua...! Mana bela diri jepang lu, kita saling bunuh aja di sini b*ngs*t..!"


"Selama 2 bulan gua latihan banyak ilmu bela diri biar bisa mecahin kepala lo hari ini...!"


Begitu ya, dia pun sudah berjuang keras selama liburan ini. Andi berusaha mematahkan lenganku tapi mustahil dia dapat menandingi kekuatanku yang sekarang.


Dengan mudahnya ku lepas cengkeraman Andi lalu aku banting ke atas meja. Meja itu pun hancur walaupun aku hanya menggunakan sedikit tenagaku.


"Aku sudah memperingatkanmu waktu itu kan Andi. Kalau kau mengganggu aku lagi akan kubuat kau merasakan tinju yang 10x lipat lebih menyakitkan dari tinju yang meremukkan hidungmu." Ucapku sembari siap mendaratkan tinju.


"Bagus." (Andi)


"...!!!" (Yuda)


"Ayo pukul gue..." (Andi)


Andi mengeluarkan pisau lalu menyayat pergelangan tangan kananku.


Aku langsung melepaskan peganganku darinya. Dia tidak bercanda, dia hampir saja membunuhku dengan cara memotong nadiku.


"Kau sudah gila ya..!?"


Darah mengucur keluar dari pergelangan tanganku. Aku segera membalutnya dengan baju seragamku.


"Gue emang dah enggak waras dari dulu. Bagi gue nyiksa orang lain itu bisa bener bener satisfying."


"Tapi gak gue sangka karma bakal dateng secepat ini."


Andi memutar pisau di tangannya. Aksinya itu mengindikasikan kalau dia cukup hebat menggunakan benda tajam.


Tiba tiba bapak Alam datang karena siswa lain melaporkan perkelahian kami disini.


Pak Alam datang sembari membawa penggorengan untuk melindungi dirinya dari pisau Andi.


"Bapak mohon sama kamu Andi..."


"Tolong jangan bertindak lebih jauh lagi. Kamu dulu siswa berprestasi kebanggaan bapak, kenapa kamu tiba tiba berubah jadi berandal kaya gini."


Aku jijik mendengar kata kata bapak Alam. Aku tahu tidak baik mencaci guru tapi bagaimana bisa beliau menganggap berandalan kejam ini sebagai siswa kebanggaan beliau.


"Siswa kebanggaan...? Bapak enggak waras ya...?"


"Siswa nakal kaya gua dijadiin kebanggaan...! Sekolah ini bener bener sampah...!"


"Gua datang ke sekolah ini cuma buat berantem dan cari anak buah. Tapi gua malah disebut siswa kebanggaan cuma karena bawa satu trophy ke rak sekolah."


Ejekan Andi membuat pak Alam marah. Aku bisa melihatnya dari wajah pak Alam yang memerah, ciri khas beliau saat marah.


"Pak, saya saranin bapak cari murid kebanggaan baru. Karena saya bakal keluar habis bunuh si b*ngs*t ini."


Keadaan jadi kacau. Anak anak lain berlindung di pojok kelas sementara guru guru tidak berani mendekati Andi. Ditambah lagi kak Amira yang biasa menangani hal seperti ini justru tidak datang hari ini.


Andi mendekatiku. Aku kira dia akan menyerang tapi dia malah menghindar ke belakangku. Rupanya Andi mencari posisi yang aman supaya tidak diserang dari belakang.


Dengan gilanya Andi mengayunkan pisaunya kepadaku. Berkat Reading the wind aku bisa menghindari semuanya dan memegang pergelangan tangannya. Namun Andi malah mengeluarkan satu pisau lagi.


Hampir saja aku kena. Untungnya aku berhasil menangkap kerah bajunya lalu membantingnya lagi ke atas meja. Saat itulah juga aku meremas tangannya hingga dia meraung kesakitan.


Suara pukulanku terdengar seperti suara dentuman saking kuatnya. Tanpa sadar aku terus meninju wajah Andi hingga tulang matanya retak. Hingga aksiku dihentikan oleh abang Chris.


"Udah! udah! tangan lu luka kan! jangan pukul lagi!!" (Chris)


Aku berhenti memukul, ku lihat dia sudah tidak sadarkan diri. Tidak mungkin dia mati hanya karena ku hajar, kalau pun dia akan mati aku bisa memanggil dokter Sistem untuk menyelamatkannya.


Saat aku kira sudah selesai Andi tiba tiba bangkit dan mencakar wajahku. Dia menggunakan serpihan meja yang runcing untuk melukai wajahku. Aku pun sontak menendangnya hingga dia terpental ke luar jendela.


Hup!


Aku berhasil menangkapnya berkat statistik kecepatanku yang tinggi.


Aku merasakan serpihan serpihan kayu tertinggal di bekas goresan. Sial, ini bisa menyebabkan infeksi.


Karena kesal aku banting Andi sekali lagi ke atas meja guru, lalu aku bermaksud memberinya satu pukulan terakhir.


Tapi sebelum sempat melakukan itu tiba tiba saja sebuah kain melilit leherku.


Abang Chris sampai meminjam selimut UKS untuk mencekikku.


"Sudahlah dik...! kalau dilanjutkan lu nanti orang lain bisa kena juga...!" (Chris)


"Huh..! Kalau saja ini bukan di sekolah..! aku pasti..."


Aku ingin memukulnya lagi. Tidak, tidak boleh. Kalau aku lanjutkan aku mungkin tidak akan mau berhenti. Karena kebencianku terhadap Andi sudah mencapai tahap didih.


"Pasti appa...?" (Andi)


"Kalo mau pukul, pukul aja..! Gak usah banyak omong... cuih..."


Andi meludah kepadaku tapi aku bisa menghindarinya, ludahnya justru kena wajah pak Alam.


"Kamu ini Andi..!! Beraninya ngeludah..!!!"


Andi kehilangan kesadarannya. Dia pun segera dipulangkan ke rumahnya, begitupun denganku.


Luka di pergelangan tanganku bisa semakin parah jika tidak segera diobati. Jadi setelah diobati di ruang UKS oleh Frederica, aku pun dipulangkan.


"Ada apa lagi ini..? Hahh..!! Tanganmu kenapa nak..?!" (Ibu)


"Tadi ada siswa yang mengamuk di kelas Yuda. Karena badan Yuda yang paling besar jadinya Yuda melawannya dan berhasil menyergapnya tapi disaat yang sama Yuda juga kena sabetan pisau."


"Ya ampun Yud... kenapa ada kejadian kaya gitu di sekolah kamu...?"


"Kayanya sekolah Yuda itu unik bu..." Ucapku sambil bercanda.


"..."


Ibu jadi murung melihat kondisi anak semata wayangnya yang berdarah darah. Aku disuruh beristirahat tapi tiba tiba muncul chat dari agen Nostradamus.


Aku bercakap cakap dengan agen Nostradamus.


[Tadi benar benar kacau. Anda baik baik saja?]


"Tak perlu khawatir."


[Sebentar lagi akan muncul Hidden Quest yang cukup penting.]


"Kapan Hidden Quest itu muncul?"

__ADS_1


Papan Quest muncul di hadapanku.


[Tring!]


< Hidden Quest telah muncul >


< Panti asuhan di Jalan Asam Semanggi kebakaran. Pergilah ke tempat itu dan bantu apa yang bisa dibantu >


"Jalan Asam Semanggi itu dimana? Sepertinya jauh disini sebab aku tidak dengar suara mobil pemadam kebakaran. Dan apa aku harus pergi sekarang?"


< Paling lambat 2 jam lagi anda harus sudah ada disana. Jangan khawatir soal mencari lokasi, anda punya benang hijau >


< Hidden Quest ini terbagi menjadi beberapa tahap >


< Tahap 1 - 3 [ Tahap 1 : Bantu pengelola panti mencari harta benda yang masih tersisa ] [ Tahap 2 : ??? ] [ Tahap 3 : ??? ] >


"Kasihan sekali anak anak yang tinggal di panti asuhan itu. Apakah seluruh bangunannya habis terbakar?"


[Begitulah. Karena itulah anda harus membantu mereka.]


"Baiklah aku akan kesana, tapi tunggu ibu berangkat kerja dulu. Ibu pasti tidak akan mengizinkanku pergi dengan kondisi tangan seperti ini."


Singkat cerita satu setengah jam kemudian aku sampai ke lokasi kebakaran. Panti asuhan ini benar benar habis dimakan si jago merah.


Aku mengambil sebuah buku setengah hangus yang tergeletak di dekat kakiku. Itu adalah buku harian seorang anak kecil, terlihat dari tulisannya yang berantakan. Untuk sementara aku bawa buku itu.


Dari kejauhan aku melihat punggung seseorang yang tampak tidak asing. Dia adalah Hana.


Hana tiba tiba menoleh ke belakang, aku bisa melihat bekas make up nya yang luntur di pipinya.


Dia habis menangis. Aku tidak tahu apa hubungan dia dengan panti asuhan ini.


Hana mengabaikanku. Dia memang belum tahu kalau penampilanku sudah berubah. Yang tahu di grup pemanah hanya Pandu dan Frederica.


Aku cari cari info. Seorang bapak yang sedang mengais puing puing bekas kebakaran memberitahuku kalau pemilik dari panti asuhan ini tidak sempat menyelamatkan diri.


Aku bertanya siapa pemilik panti asuhan itu. Si bapak pun menunjuk ke Hana.


"Saudara dari perempuan disana itu."


"Jadi... kerabat Hana yang meninggal..." Ucapku dalam hati.


Masuk chat dari Nostradamus.


[Quest ini tidak sulit. Tapi anda akan melihat banyak kesedihan dari anak anak yang kehilangan tempat tinggal. Jadi buatlah anak anak itu tetap tegar sembari menyelesaikan Quest.]


....................................................................................


< Potensi Kontraktor Yudistira telah terbangunkan >


< Statistik anda saat ini >



Moral (83/40)



2. Ketampanan (+50/+50) - Cukup Tampan untuk kriteria orang Indonesia -


• Berat Badan (81/81)


• Kharisma ( 40/40 ) - Sekarang anda punya kharisma setara Zhuge Liang -


3. Kekuatan (200/200) - Anda bisa mengangkat moge dengan 3 jari -


• Kecepatan (90/90) - Anda bisa menempuh jarak 10 kilometer hanya dengan waktu 5 menit dengan berlari -


• Pertahanan (150/150) - Anda dapat bertahan dari tabrakan mobil berkecepatan tinggi -


• Stamina (200/200) - Anda dapat Push up selama seharian penuh tanpa berkeringat -


• Mentalitas (100/100) - Silahkan anda gambarkan sendiri -



Kecerdasan (110/300)



• 3 Pelajaran yang paling dikuasai:


• Bahasa Inggris


• Penjaskes


• Bahasa Daerah



Bakat :



• Bela Diri | Aikido -Advance-


• Penyanyi Pop | Suara Emas - Advance -


• Pemburu | -Advance-


• Pesulap | Manipulasi Realita - Advance -


< Uang Saku (Rahasia) >


< Daftar Pusaka Sistem yang dimiliki >


• sepatu mistis


• selimut sutra


• emas hitam peretas


• hoodie anti terkejut


• lidah suci


• Taring Reog Hijau


• Awan Hitam


• Kuas dan Kanvas


< Tiket emas (3) >


< Poin Peningkatan Random (+26) >


..............................................................................

__ADS_1


Jangan lupa tekan like dan taruh novel ini di rak buku kesayangan kalian. 😄


..............................................................................


__ADS_2