
Chapter Spesial akan menceritakan kejadian yang menimpa salah satu tokoh antagonis novel ini yaitu Andi Perkasa dan tidak akan menceritakan kelanjutan cerita protagonis sama sekali.
Sinopsis cerita Chapter Spesial :
Disaat Main Quest ke 4 berlangsung tornado yang pertama kali turun menghancurkan sebagian dari lapas anak sehingga beberapa penghuni lapas anak mau tidak mau harus dipindahkan ke penjara sungguhan. Salah satu yang dipindahkan adalah Andi.
....................................................................................
- Pov Narator -
"Tahanan nomor 035 cepat masuk ke sel nomor 3."
Sipil penjara mendorong Andi masuk dengan kasar. Perilaku kasar itu membuat Andi tersinggung dan berbalik untuk melihat wajah orang yang mendorongnya. Sipil penjara itu adalah seorang wanita muda berwajah lancip.
"Apa lihat lihat?" (Sipil penjara)
Andi membuang muka lalu duduk bersandar di dinding.
Sipil penjara tampak tidak senang dengan keberadaan seorang anak dibawah umur di dalam sel tahanan. Entah karena pemandangan itu janggal atau memang karena tidak suka, yang jelas dia berusaha menenangkan Andi dengan memberitahunya kalau dia ditempatkan disini hanya sementara, setidaknya hingga lapas anak selesai direnovasi.
Sipil duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan sel tempat Andi di tahan. Hal itu dimaksudkan agar sipil bisa menjaga tahanan lapas anak dari gangguan para residivis. Apalagi saat ini ada satu residivis setengah gila yang satu sel dengan Andi.
Residivis setengah gila itu tampak senang karena akhirnya dia bisa mendapat teman satu sel. Selama ini dia sendirian di sel nya.
Residivis bernomor 193 itu mengoceh tentang bagaimana dia bisa berakhir di dalam penjara. Dirinya bercerita kalau dia pernah melakukan tindak asusila kepada 5 murid sekolah dasar yang mengakibatkan dirinya dipenjara selama 15 tahun. Kemudian setelah bebas dia kembali melakukan hal yang sama dengan 3 siswi sekolah menengah dan 5 siswi sekolah atas.
Kejahatannya terungkap saat 2 dari 8 ortu korban melaporkan kejahatan ke polisi. Gara gara nafsunya itu 2 anak dibawah umur sampai hamil, satu melahirkan di umur 16 tahun, satunya lagi aborsi, sementara 6 lainnya kehilangan kesucian mereka.
Mendengar itu seorang Andi pun merasa jijik.
"Selera manusia bisa berubah, setelah 15 tahun aku mulai bergairah dengan gadis gadis abg." Ucapnya dengan wajah santai.
Tingkah residivis itu membuat jijik mba sipil. Dia memaksa si residivis untuk tutup mulut dan mengancam akan mengurangi jatah makanannya kalau mempengaruhi Andi dengan ceritanya lagi.
"Jangan galak gitu lah bu. Ngomong ngomong kamu masuk lapas anak karena kenakalan apa?" Tanya Residivis pada Andi.
"Lu gak denger kata mba sipil. Tutup mulut!" (Andi)
"Wahh! kamu jagoan ya? jangan jangan kamu anggota geng?" (Residivis)
"Geng apa namanya yang lagi hangat diberita itu? geng Mata Elang ya?" (Residivis)
"Iya kan? kamu anggota geng kan? benar kan? kan? kan? kan?......"
Andi mulai terganggu, kalau saja kedua tangannya tidak diborgol dia pasti sudah memecahkan kepala orang ini. Pikirnya.
Sipil sekali lagi membentak si residivis, namun Andi yang muak akhirnya memilih menjawab orang itu.
"gue dipenjara karena mencoba membunuh murid sekelas, paham!"
"......" si residivis terdiam, lalu tersenyum cerah.
Bel tanda di mulainya kegiatan bakti sosial berbunyi.
Semua napi maupun residivis keluar dari sel untuk menjalankan kerja bakti membersihkan lingkungan penjara dan melakukan hal hal lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat.
__ADS_1
Sedangkan Andi yang aslinya tahanan lapas anak tidak diperkenankan mengikuti bakti sosial tersebut, sebagai gantinya mba sipil menyuruhnya mengikuti kelas belajar online yang telah disiapkan.
Hari demi hari berlalu seperti itu, minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu, anehnya dia tidak juga kembali ke lapas anak.
Setiap hari mendengarkan ocehan dari teman satu selnya yang setengah gila, mendengarkan mba sipil marah marah, ngobrol dengan ayahnya yang berkunjung setiap hari kamis dan sabtu, dan terkadang dia disuruh belajar dan diperbolehkan nonton tv.
Disaat menonton acara tv dia melihat wajah yang dulu begitu dibencinya. Yuda.
[Putra putri SMK 7 Harapan menjadi juara kedua pasangan olimpiade sains nasional.] Ucap pembawa berita di tv.
Lalu kamera menyorot Yuda dan Frederica yang sedang memegang piala bersama sama, lalu wartawan mewawancarai mereka. Andi yang melihat itu hanya bisa terdiam.
Rasa iri mekar di dalam hatinya. Tiba tiba muncul di residivis gila yang menertawakannya tanpa sebab. Residivis itu menenteng sekarung beras kualitas terbaik yang ada di pasar.
"Liat nih, gue dikasih beras sama tante gue. Kalo lu dikasih apa sama bapak lu?" Dia membangga banggakan sekarung beras yang dia punya.
"Masa udah 3 minggu gak ngasih apa apa sih. Bapak lu kerja buat ngasih makan siapa sebenarnya? hahahahaa...... "
Andi yang kesal melihat musuh bebuyutan lantas merobek karung beras dan menumbuk wajah si residivis. Kedua hal itu dia lakukan dengan satu pukulan.
Si residivis pun pingsan dengan 2 gigi depan yang patah. Setelah kejadian itu Andi mendapat teguran keras dari sipil penjara.
"Jangan memulai permusuhan nomor 035. Kamu harusnya tidak meladeni ucapan tahanan nomor 193 yang setengah gila itu."
Andi mengangkat kepala dan menatap sipil.
"Kapan saya akan pulang ke lapas anak? disini udaranya pengap sekali, saya jadi emosian karena itu." Andi berdalih perkelahian yang dia mulai karena faktor lingkungan.
"Aku sudah menghubungi pihak pengawas lapas anak. Kata mereka masih ada beberapa bagian yang harus dirawat." (Mba Sipil)
Keesokan harinya seorang narapidana baru bergabung di penjara. Pas sekali hari ini mba sipil yang biasa mengawasi Andi absen karena sakit. Kesempatan emas ini tidak disia siakan oleh si residivis untuk mempengaruhi Andi.
Andi yang sudah sering mendengar ocehan si residivis menutup telinganya.
"Apa kau tahu siapa napi yang baru masuk itu?" (Residivis)
"Wiro Sableng?" (Andi)
"Itu ketua ter**** papua. Sebenarnya di penjara ini banyak orang orang hebat yang punya jaringan luas di dunia gelap." (Residivis)
"Terus apa hubungannya sama gue?" (Andi)
"Kau ingin bertemu dengan siswa pemenang olimpiade itu kan?" (Residivis)
Andi tertegun mendengar itu.
"Darimana lu tahu?!" (Andi)
"Jangan keras keras, entar sipil bangun." (Residivis)
Mereka melanjutkan pembicaraan dengan berbisik bisik.
"Aku enggak tahu apa masalahmu sampai mau membunuh teman sekelasmu, meski begitu aku kasihan padamu. Sudah 10 bulan, tapi tidak ada tanda tanda kau akan dikembalikan ke lapas anak."
"Nah, aku bisa membantumu mengatasi masalah itu."
__ADS_1
Andi mendengarkan dengan serius, dia tidak memiliki kesan baik sedikit pun terhadap orang gila di depannya, dia hanya penasaran apa yang akan didapatkan orang ini jika membantunya.
"Apa untungnya buat lu?" Tanya Andi dengan sinis.
"Kalo lu nerima bantuan gue sekarang kelak gue juga bakal bebas nantinya."
"Seminggu lagi akan datang seorang pria yang berprofesi sebagai penulis. Dia datang kesini untuk membebaskan anak buahnya, tidak ada yang mustahil jika kau memiliki uang. Bahkan hukum pun bisa dibeli."
"Minta tolonglah padanya saat dia masuk kesini, ceritakan ketidak adilan yang kau terima, dan dia pasti akan membebaskanmu."
Ucapan residivis gila menjadi kenyataan Seminggu kemudian datang seorang pria berjas yang memperkenalkan dirinya dengan nickname seorang penulis.
"Halo saya penulis, nickname saya Dies Bell. Saya kesini untuk menjemput anak buah saya."
Si penulis diizinkan masuk ke lorong bilik penjara.
Andi yang melihat juru selamatnya datang langsung memasang muka sedih lengkap dengan air mata hasil rekayasa bawang merah.
"Tolong saya pak penulis...!! harusnya saya tinggal di lapas anak tapi saya malah dibuang kesini." Ucap Andi sambil menangis.
Dies Bell pun tidak tega dan bersedia mengeluarkan Andi dari penjara, namun hal itu ditentang oleh mba sipil.
Tidak lama kemudian Dies Bell menampar mba sipil dengan segepok uang. Bukan uang rupiah melainkan uang dollar.
Para sipil lain tergoda oleh uang itu, tetapi mba sipil tidak, dia akan tetap berdiri di pihak hukum dan keadilan dengan tidak membiarkan napi keluar penjara sebelum masa hukumannya berakhir.
Dies Bell pun berucap pada mba sipil "Anda sipil baru ya? pantas saja saya tidak pernah melihat anda tahun lalu."
"Hah? anda juga datang kesini tahun lalu? apa anda juga melakukan hal yang sama?"
Dies Bell tersenyum tipis mengindikasikan kalau dia menjawab iya.
Mba sipil pun murka namun sebelum sempat beraksi dia dihentikan oleh sipil sipil lainnya.
Andi yang menyaksikan itu tidak bisa mencerna apa yang terjadi. Satu hal yang pasti, penulis dengan Nickname Dies Bell ini bukanlah orang biasa.
Dies Bell mendekati Andi lalu bertanya apa mimpi Andi.
Andi pun menjawab "Aku ingin jadi orang yang berkuasa."
Dies Bell pun membalas ucapan Andi "Mimpimu akan lebih mudah kau dapatkan jika kau mengikutiku. Tidak, lebih tepatnya kau akan mengikuti mau tidak mau."
"Andi Perkasa, ayo kita keluar dari sini."
Andi menerima ajakan Dies Bell sementara si residivis gila tetap tinggal di penjara. Dia memberikan salam perpisahan pada Andi.
Andi pun bebas dari hukuman dengan bantuan Dies Bell dan para sipil korup.
"Terima kasih banyak pak. Saya pasti akan membalas kebaikan bapak." Ucap Andi.
"Santai, panggil aku kakak saja. Ayo pergi ke rumah kakak sebentar lagi hujan akan turun." Ajak Dies Bell.
Seolah telah menemukan cahaya kehidupan baru, Andi mengikuti Dies Bell dengan senang hati.
< Chapter Spesial [ End ] >
__ADS_1