Sistem Kebaikan Pemuda Terundung

Sistem Kebaikan Pemuda Terundung
Chapter 77 | Memaafkan Pembully


__ADS_3

Heraemiel bertanya padaku dengan polos... "Apa kau seorang dewa?"


Aku menjawab..."Bukan, aku hanya manusia."


Sebelum dia menanyakan hal yang lebih aneh lagi aku buru buru memutus kontraknya.


"Terima kasih sudah membantuku yang mulia Hera. Sampai jumpa lagi..." Ucapku memberikan salam perpisahan.


Heraemiel melambaikan tangan kemudian menghilang.


...


Aku cukup bingung memikirkan cara kembali ke Indonesia.


Paspor tidak punya, menggunakan tiket emas untuk teleportasi pun sayang. Karena tidak ingin rugi aku meminta bantuan Sistem.


"Tolong teleportasikan aku Sistem. Tiket emas terlalu berharga untuk digunakan disaat seperti sekarang."


< Baiklah. >


Kadang aku bingung sebenarnya Sistem itu 'seseorang' ataukah sebuah 'mesin'. Sering kali dia bicara seperti mesin, tapi terkadang ada emosi di ucapannya.


Nanti saja mencari tahu soal itu. Sekarang aku akan melabrak Martha menggunakan bukti video pengakuan Dies Bell.


Seluruh pertarunganku barusan terekam oleh Sistem, jadi tidak sulit untuk mengambil satu bagian saja saat Dies Bell menyebutkan nama Martha. Hanya bagian itu saja. Bagian lain tidak perlu ditunjukkan kepada polisi.


Sistem menteleportasiku ke sekolah. Kenapa ke sekolah aku juga tidak tahu.


Dengan hati yang membara aku melangkah ke rumah Martha.


...


Di tengah jalan aku menggerutu tentang betapa bencinya aku pada Martha.


"Perempuan itu benar benar keterlaluan. Beraninya dia mengirimkan pembunuh dan santet ke rumah orang! Kali ini dia akan benar benar aku habisi!"


Saat jarak yang harus aku tempuh tinggal 1 kilometer, tiba tiba terjadi hal aneh. Kakiku tidak bisa digerakkan. Rasanya seperti ada makhluk tak kasat mata yang memegang kakiku.


"Apa ini!!"


Aku berusaha menarik kakiku tapi percuma. Tidak ada orang yang bisa dimintai tolong karena kawasan ini sangatlah sepi.


Lalu notif dari Sistem muncul.


< Sistem ingin berbicara langsung dengan anda. >


"Err... ada apa lagi?" Tanyaku.


Inilah pembicaraanku dengan Sistem.


< Kami rasa sudah saatnya untuk anda berubah. >


< Seperti kata anda, Martha sudah keterlaluan. Tetapi anda juga sudah lama menjadi sukarelawan dalam agenda kebaikan. Satu satunya hal baik yang belum pernah anda lakukan adalah memaafkan dengan sungguh sungguh. >


< Karena itulah kami ingin anda berdamai dengan Martha. >


"Tapi... dia mencoba menikam ibuku." Masih sangat berat rasanya untuk memaafkan Martha. Terlebih lagi yang dia targetkan sekarang adalah ibuku. Satu satunya keluarga yang aku punya.


< Dia mengirim pembunuh, tetapi percobaan pembunuhan itu gagal kan. Yang tertusuk adalah V Homun. Jadi perbuatan tidak melukai siapapun. >


< Ayolah Kontraktor. Sampai kapan kau mau memendam kebencian itu? >


Cukup lama aku merenung. Hatiku pun mulai tergerak untuk mewujudkan harapan Sistem.


"Walaupun aku berdamai dengannya dia tetap akan disidang bukan?" Tanyaku lagi.


< Martha didiagnosis mengidap gangguan kejiwaan setelah dia menikam ayah (Mantan Menteri Pendidikan). Walaupun kau melaporkannya ke polisi dia tidak akan masuk penjara. > Sistem memberiku pemahaman tentang kondisi Martha saat ini.


Kalau dipikirkan lebih dalam lagi, berurusan dengan Martha hanya menimbulkan masalah, masalah dan masalah lagi.


"Haahh..." Menghela nafas panjang.


"Baiklah, aku akan berdamai dengannya."


Lalu dering quest terdengar.


< Hidden Quest >


< Memaafkan mantan musuh >


< Reward : Pengakuan dari Sistem >


Usai mendapatkan ceramah singkat dari Sistem, kakiku bisa digerakkan lagi. Lalu aku lanjut otw ke rumah Martha lagi.


Martha seharusnya masih tinggal di rumah sakit jiwa. Tapi karena permintaan dari orang tuanya yang seorang publik figure dirinya jadi diizinkan kembali sebelum waktunya.


Aku bertemu dengan Martha lagi di tempat yang sama seperti saat aku menghukumnya dulu. Tapi kali ini aku tidak masuk diam diam seperti pencuri.


"Tunggu sebentar, mas siapa ya?" Langkahku dihentikan oleh sekuriti rumah Martha.


Dengan tenang aku berbohong agar bisa masuk menemuinya.


"Saya ketua kelasnya. Ini pertama kalinya saya berkunjung kesini. Tapi saya sudah kenal dekat dengan Martha." (Yuda)


"Tunggu sebentar ya mas. Mas boleh masuk kalo mbak Martha kasih izin." (Sekuriti)


Cukup lama aku menunggu lalu saat pak sekuriti kembali dia malah berkata... "Maaf ya mas. Mbak Martha bilang dia enggak punya teman cowok di sekolah." (Sekuriti)


"Ehh! kok ngilang!?"


Karena dilarang aku langsung masuk saja tanpa izin.


Saat aku menemukan kamar Martha, aku lihat pintu kamarnya terbuka. Ketika aku intip ternyata silker nya Martha ada disini. Bukan hanya mereka, kedua orang tuanya juga berada di dalam kamar.


Martha tengah duduk di pinggir tempat tidur dengan sebuah kue ulang tahun di depannya.


Martha sedang merayakan ulang tahunnya yang ke 16.

__ADS_1


Lalu apakah aku tega menghancurkan kebahagiaan yang terpancar di wajahnya saat ini karena dia sedang ulang tahun?


Ho ho, bodo amat.


Sebentar lagi berita penemuan organisasi pembunuh akan disiarkan. Sebelum itu aku harus sudah melabrak Martha.


Aku membuka pintu kamarnya dengan pelan. Mataku dan Martha saling menyorot. Orang orang yang ada di kamar itu pun berteriak... "Yudistira!! Ngapain lu disini?!" Salsa yang bersuara lebih dulu saat melihatku, berlindung di belakang teman perempuannya.


Martha terdiam. Ekspresi bahagianya telah sirma. Aku cukup puas dengan itu.


"Siapa orang ini? Kamu kenal Salsa?" Tanya Menteri Pendidikan.


Sang istri menarik tangan suaminya, lalu berbisik... "Dia Yudistira. Anak yang katanya sering Martha ganggu waktu di sekolah."


"Tapi itu cerita lama kan, masa harus diributkan lagi?" Ketos tajam suaminya.


"Dan juga kayanya bapak sudah menyuruh sekuriti untuk mengusirnya. Tapi dia malah nekat masuk."


Ayah Martha berkata padaku... "Maaf ya nak, apa kamu enggak lihat anak saya lagi ulang tahun? Apa kamu enggak diajarin sopan santun sama ortu kamu?"


Mendengar itu aku hanya terdiam, walau sebenarnya dalam hati aku sangat ingin membanting meja yang ada di depan Mereka.


< Sabar Kontraktor, sabar... >


Aku menelan cukup banyak ludah untuk meredakan amarahku. Setelah cukup tenang aku pun mulai bicara.


"Apa bapak tahu kelakuan anak bapak? Dia mengirim preman untuk menikam ibu saya." Ucapku dengan nada rendah.


Alih alih terkejut apalagi marah, sang ayah malah tertawa mendengar tuduhanku.


"Apa apaan kamu ini!! Jangan ngadi ngadi, mentang mentang isu organisasi pembunuh lagi hype belakangan ini!!" Ucapnya sambil tertawa terbahak bahak.


Berbanding terbalik dengan reaksi ayahnya, wajah Martha tampak sangat pucat.


"Kalau bapak enggak percaya silahkan nyalakan tv. Sekarang di stasiun manapun sedang menayangkan berita yang sama."


Ibu Martha menyalakan tv. Sesuai dengan perkataanku, semua stasiun tv menayangkan breaking news yang sama. Yaitu soal penemuan markas organisasi pembunuh dan penangkapan Dies Bell.


Berita berita itu meliputi, penemuan markas organisasi pembunuh beberapa hari yang lalu. Lalu penangkapan Dies Bell yang berakhir dengan kegagalan hari ini.


Berikut beberapa headline berita yang muncul di tv dan media sosial hari ini.


"Bukan sekedar rumor lagi. Keberadaan organisasi pembunuh nyata di negara kita tercinta."


"Memalukan bangsa. Organisasi pembunuh benar benar ada."


Para polisi itu pintar. Kedua markas organisasi pembunuh ditemukan di hari yang sama. Tetapi mereka membagikan beritanya di hari yang berbeda.


Berita pertama tentang penemuan markas rahasia di bawah resto Nobie, sengaja mereka buat ambigu, agar publik bertanya tanya apakah organisasi pembunuh itu benar benar ada. Bahkan pemilik resto Nobie pun sampai di tangkap.


5 hari kemudian barulah penemuan markas kedua diberitakan. Teknik penyampaian yang bagus untuk mempermainkan ketakutan publik.


Lalu muncullah Headline berita yang menyebutkan namaku.


"Yudistira. Pemuda pemberani pengungkap keberadaan organisasi pembunuh."


Polisi itu sangat terbuka selama sesi wawancara, sehingga semua yang telah terjadi tersampaikan dengan baik tanpa ada yang ditutup tutupi. Tentunya namaku ada di dalamnya sebagai seorang pahlawan.


"Ibunya Yudistira hampir ditikam dari belakang, namun salah satu art nya melindunginya dan sekarang dia sedang dirawat di rumah sakit." Tutur si polisi membahas tragedi rumahku.


"Untuk nak Yudistira. Kami sangat mengapresiasi keberaniannya. Dan sekarang kami masih bekerja keras untuk menemukannya."


Video penyeranganku ke markas organisasi pembunuh di putar di tv, yang ditonton oleh jutaan orang. Bahkan live streaming teratas di youtube saat ini tengah ditonton oleh 175 juta orang.


Hingga saat video penangkapan Dies Bell diputar, semua orang yang ada di kamar ini bergidik ngeri menyaksikan pembantaian polisi yang dilakukan oleh makhluk tak kasat mata.


Saking terbukanya berita ini, sampai tidak ada sensor sama sekali.


Aku juga baru tahu kalau para polisi itu mati di tangan Begu Ganjangnya Dies Bell. Turut berbelasungkawa untuk para polisi yang sudah gugur dalam bertugas.


Kejadian saat aku berteleportasi dengan Dies Bell pun ikut terekam kamera amatir. Hal itu membuat keberadaanku jadi dipertanyakan, dan memunculkan teori konspirasi tentang teleportasi dan semacamnya.


"Hingga saat ini polisi masih mencari keberadaan Yudistira. Mari kita doakan saja supaya sang pahlawan muda ini bisa segera ditemukan dan dilindungi oleh yang maha kuasa dimanapun dia berada." (Reporter)


Sekarang aku sudah kembali dalam keadaan sehat dan berbangga diri.


Semua mata kini tertuju padaku. Ayahnya Martha pun sudah berhenti tertawa. Kini saatnya aku untuk mengeluarkan senjata rahasiaku.


"Seperti yang bapak lihat, saya tidak tahu untuk mendatangi markas para pembunuh itu. Tindakan gila itu semata mata saya lakukan untuk mengungkap identitas orang yang mengirim pembunuh ke rumah saya."


Nampaknya bapak pendidikan ini sudah mulai paham dengan permainanku. Dia menyela sebelum aku melanjutkan.


"Jangan fitnah kamu ya!! Anak saya gak mungkin ngelakuin itu!!" Bentaknya sambil melotot tajam.


"Saya punya buktinya kok. Nama preman yang menusuk art saya adalah ****."


"Klien yang menyewa jasanya sehari sebelum kejadian berinisial DB. DB adalah Dies Bell."


"Dies Bell bertindak sebagai perantara. Klien yang sebenarnya adalah anak anda."


Langsung aku putar video pengakuan Dies Bell di depan mereka semua menggunakan hp ku. Tidak lupa aku perbesar volume nya hingga maksimal.


"Sekarang giliranku. Siapa Klien yang sebenarnya?"


"Kurasa kau sudah tahu. Tidak lain adalah mantan pembully mu yang memiliki banyak uang. Martha."


Sontak semua orang pun terdiam. Orang yang sering merundungku, punya banyak uang, namanya Martha.


Meskipun buktinya sudah sangat jelas tetapi yang namanya orang bebal tetap tidak akan mengakui kesalahan. Bukan Martha yang terus melawan tetapi ayahnya.


"Gak mungkin... itu pasti bukan anak saya. Darimana juga anak saya mendapat koneksi ke organisasi pembunuh itu." Ucapnya yang telah tersudut.


"Ketahuilah, jika saya mengirimkan video ini ke polisi putri anda akan terjerat hukum." (Yuda)


"Tapi sebenarnya saya datang untuk berdamai dengan Martha. Saya paham kalau dia masih labil. Jadi saya bersedia memaafkannya atas kejadian penikaman ini. Tapi ada syaratnya."


"Saya ingin-"

__ADS_1


Prrang!!


Suara keramik pecah terdengar dari luar kamar. Lalu 2 orang polisi berseragam mendobrak masuk sambil menodongkan pistol.


Pistolnya mereka arahkan ke Martha. Aku curiga ada cepu yang diam diam mengintaiku. Dan benar saja, tidak lama kemudian Pandu menchat.


[ Alhamdulillah lu masih hidup😢] (Pandu)


[ Kau tahu darimana? Jangan jangan kau yang mengirim polisi? ] (Yuda)


[ Gua minjem drone pengintai SMK Teknologi Elit buat mencari lu, karena gua yakin lu masih hidup. Bener aja gua nemuin lu di depan rumah Martha. Jadi langsung gua kasih tahu polisi lokasi lu😉] (Pandu)


Gagal sudah usahaku untuk mendapat pengakuan Sistem. Walau begitu aku senang punya teman yang perhatian seperti Pandu.


"Kami sudah dengar semuanya. Silahkan lanjutkan pembicaraan kalian di kantor polisi. Karena kami harus menangkap Saudari Martha terlebih dahulu."


Kedua polisi ini memaksaku menyerahkan barang bukti video pengakuan Dies Bell. Mereka terus memaksa, dengan alasan semua yang berhubungan dengan organisasi pembunuh harus ditindak tegas.


Lebih dari itu, berita tentang organisasi pembunuh telah menjadi aib negara. Berita itu menjadi trending topic nomor 6 di pencarian internasional walau beritanya baru keluar beberapa menit yang lalu.


Martha diperlakukan seperti penjahat yang benar benar nista. Rambutnya dijambak, kemudian dia diborgol dengan kasar.


Kalau kalian penasaran seserius apa masalah organisasi pembunuh ini. Para polisi sudah menjelaskannya, anggap saja seperti ini: Disaat membahas tentang kartel maka pikiran orang orang pasti akan tertuju ke negara Meksiko. Cap semacam itu juga akan dimiliki oleh Indonesia jika masalah organisasi pembunuh ini tidak segera ditangani.


- Note dari Author -


Buat yang nunggu Reward Main Quest ke 7 dan ke 8 ditunjukkan, mohon maaf banget, harus ditunda lagi ke chapter selanjutnya. Karena alur di chapter ini terlalu berat untuk dimasukkan scene happy yuda membuka reward quest.


...


< Chapter Selanjutnya [ Serangan Balasan ] >


..........................................................................................


< Statistik Kontraktor Yudistira telah naik menjadi >


.


< 1. Moral (68/40) >


.


< 2. Ketampanan (+60/+80) > Awaken


• Berat Badan (81/81)


• Kharisma ( 40/50 ) Awaken


.


< 3. Kekuatan (250/250) > Awaken


• Kecepatan (115/115) Awaken


• Pertahanan (190/190) Awaken


• Stamina (215/300) Awaken


• Mentalitas (100/150) Awaken


.


< 4. Kecerdasan (263/400) >


< Skill khusus [ Tesla Incarnation ] >


• Automatic Blueprint


• ???


• ???


< 11 Pelajaran yang paling dikuasai >


( Bahasa Inggris ) ( Penjaskes ) ( Bahasa Daerah )


.


< 5. Bakat ( 5/100 ) >


• Bela Diri | Aikido -Advance-


• Penyanyi Pop | Suara Emas - Advance -


• Pemburu | Ultimate Eye -Advance-


• Pesulap | Manipulasi Realita - Advance -


• Koki | Food Traveler - Advance -


• Isi Sendiri


< Uang Saku [ Rahasia ] >


< Daftar Pusaka Sistem yang dimiliki >


( Sepatu Mistis ) ( Selimut Sutra ) ( Emas Hitam Peretas ) ( Hoodie Anti Terkejut ) ( Lidah Suci ) ( Taring Reog Hijau ) ( Awan Hitam ) ( Seruling Penyair Peri ) ( Mata Nebula ) ( Menara Pengantar ) ( Buku puisi 'A Collection of Stella's Poems' ) ( Cincin Bumi ) ( Topi Pengetahuan )


< Tiket emas + 3 >


< Special Massal Product >


- Blanche Homunculus (6) - - Vert Homunculus (8) - - Jaune Homunculus (13) - - Rouge Homunculus (7) -


..........................................................................................


Jangan lupa tekan like dan taruh novel ini di rak buku kesayangan kalian. 😄

__ADS_1


..........................................................................................


__ADS_2