
"Selamat siang Bos Awan. Cuacanya sedikit mendung, lebih baik kita ngobrol disini saja."
Awan duduk dengan sukarela di depanku, sambil berdoa aku hanya berharap dia datang bukan untuk berkelahi.
"Lu tahu kan gue Bos SMA 9 Awan Uap?" Tanyanya.
"Iya."
"Lu tahu kan gue ganteng?"
"Iya."
"Terus kenapa cewek nolak gue? apa karena gue oon?"
"Mana aku tahu, b*ngs*t." - Dalam Hati -
Karena aku adalah laki laki, dengan berat hati aku akan mengorbankan diriku untuk Hana. Aku akan mengikuti alurnya.
"Aku dengar kau menyatakan perasaan pada Hana. Dia adalah pacarku, jadi tolong jauhi dia."
Dan hal yang paling aku takuti pun terjadi. Awan membalik meja di depanku, untungnya Indomie ku tidak tumpah. Aku merasa bangga dengan reflekku. Nice Reflection.
Kalau tidak salah, Awan seorang praktisi Tarung Drajat. Saat Main Quest kedua dia mengamuk seperti kucing yang jatuh ke bak air.
"Mau apa kau? Dilarang berkelahi disini."
Urat urat di lehernya makin tegang. Usahaku untuk meluruskan gagal total. Orang ini jelas tidak bisa bicara baik baik.
"Bangun lu! Lu tahu Geng Mata Elang? Gua pernah ngelawan 2 divisinya sendirian!"
"Lu pernah gak ketemu Geng Mata Elang?! Ocehnya sambil menggebrak meja. Kelakuannya itu membuat ribut satu kantin, aku yang jadi lawan bicaranya pun jadi malu.
Ingin sekali aku hajar dia, tapi peraturan baru sekolah melarang menghajar siswa kecuali dia memukul duluan.
"Tidak boleh menyerang komite pendisiplin siswa?" Kataku sekali lagi.
"Terus? Polisi aja pernah gue tendang."
Yap, baku hantam pun tidak terhindarkan.
Awan memutar badannya, dia melancarkan tendangan berputar ke arah wajahku.
Aku menghindari tendangannya dengan gerakan kecil yang sombong. Lalu aku lancarkan tendangan berputar yang sama tapi ke arah dadanya Awan.
Namun kakiku malah ditahan oleh salah satu siswa kekar yang waktu itu menemani Arqan.
"Sabar, sabar, pak!!"
Arqan datang menengahi kami. Aku tidak habis pikir betapa beraninya dia masuk ke tengah tengah kami. Dibandingkan temannya yang kekar, Arqan yang berbadan kecil akan terinjak injak oleh kami berdua.
[ Hentikan Kontraktor. Biarkan anak itu menengahi perkelahian anda. ] Kata Nostradamus.
Awan menyerang teman gigachadnya Arqan dari belakang. Tapi dia malah terkena sikut di hidungnya.
Pasti sakit, darah mengalir deras dari lubang hidungnya.
"Segera ke UKS Awan. Jangan buat keributan lagi!" Kataku.
"Lu gak denger kata Komite Pendisiplin? Ke UKS sono!" Kata si Gigachad.
Awan menolak dan malah memasang kuda kuda. Kelakuannya ini menunjukkan kalau dia memang preman.
"Gua Awan Joe, bos SMA 9 awan Uap. Pernah mengalahkan 2 divisi Geng Mata Elang sendirian. Lu kira gua bakal 3 lawan 1."
"Alay." Ejekku.
Arqan mundur, jadinya dua lawan satu. Bersama sama aku dan si kekar menahan tinju Awan dengan telapak kaki.
Aku sengaja menurunkan tenagaku agar tangannya tidak tercerai berai. Meski begitu aku merasa tidak terima Awan menahan tendanganku.
Aku mendorong si kekar lalu menjepit tangan Awan dengan lipatan lututku. Asalkan berhasil memegang musuh aku bisa membanting, atau minimal menjatuhkan lawan.
Aku hempaskan Awan ke lantai, tapi dia berhasil bertahan dengan memegang kerah bajuku. Padahal kalau tadi berhasil pasti keren.
"Jangan ikutan SMK Teknologi Elit." (Yuda)
Aku tarik dasi Awan. Awan menggeser genggamannya. Kami saling mencekik.
Lalu aku lihat Lauroe yang menghilang datang bersama Pak Alam, guru bk.
Aku kira masalah akan berakhir dengan datangnya Pak Alam, tapi malah terjadi hal yang sebaliknya. Pak Alam menyuruh aku dan Awan bertanding di arena gedung olahraga.
Aku tanya alasan dan tujuannya. Katanya Awan sangat susah diatur, dan sedikit temperamen. Jadi aku harus memberinya paham agar dia tidak semena mena di sekolah kami.
Di arena gedung olahraga. Di samping matras tempat aku dan Lauroe dulu bertanding.
Pak Alam menjelaskan aturan mainnya.
__ADS_1
"Nak Yudistira adalah siswa kebanggaan kami dalam cabang bela diri. Walaupun tidak bergabung dengan klub dia sudah menunjukkan bakatnya di berbagai kesempatan. Jadi kamu tidak perlu menahan diri nak Awan." Kata Pak Alam.
"Kamu juga Yudistira. Jangan sampai kalah."
Satu anggukan pasti bisa dimengerti oleh Pak Alam.
"Yang kalah harus hormat dan menuruti kata kata yang menang. Ini adalah cara kami mengendalikanmu Awan."
Pak Alam meletakkan kamera. Hal itu sempat diproses oleh Awan. Katanya dia tidak ingin skill bertarung dilihat oleh musuh musuhnya. Benar benar alasan yang konyol.
"Sudahlah nak Awan, bertanding saja. Direkam atau tidak itu wewenang Bapak." Bantah pak Awan.
"Priiiitt!!!" Peluit ditiup.
Awan membentuk kuda kuda. Kuda kuda itu pernah aku lihat di ilustrasi tarung derajat di google. Yap sama persis, itu artinya tidak sulit untuk mengalahkan Awan. Karena aku sudah mengetahui semua tekniknya.
"Kalo gak salah filosofi Tarung Derajat adalah melindungi diri dari perbuatan tidak bermoral serta meningkatkan kehormatan diri. Tapi kau malah memakainya untuk menurunkan harga dirimu."
"Bodo amat sama harga diri. Gua masih bocah, jadi bebas mau ngelakuin apa aja."
Awan berlari ke arahku. Aku pun berlari ke arahnya. Tentu saja aku jauh lebih cepat. Lalu dengan satu pukulan aku menenangkannya keluar arena.
"Teruskan *njing!" (Lauroe Toxic)
Awan cukup kuat bisa bangun setelah aku pentalkan. Walaupun tampaknya dia tengah menahan sakit di punggungnya.
Aku berusaha menghentikan Awan beserta alasan konyolnya mengajakku berkelahi.
"Sudahlah Awan. Cewek bisa dicari, kau bisa menggunakan alat pencari kencan yang trend belakangan ini."
Namun Awan tidak menggubris saranku. Dia menyatakan alasannya yang sebenarnya menantangku.
"Sebenernya gua gak masalah ditolak sama cewek. Gua nantang lu murni karena pengen aja." Tutur Awan.
"Apaan sih, apa untungnya ini bagimu?" (Yuda)
"Buat seru seruan aja~" (Awan)
Berandalan seperti inilah yang paling aku benci. Dia mengingatkanku dengan sosok Andi, walaupun mereka tidak sepenuhnya sama.
Awan membersihkan debu debu di bajunya lalu naik lagi ke arena.
"Kalo lu menang, gua janji anak anak SMA 9 AWAN UAP gak bakal ada yang berani gangguin SMKN 7 Harapan. Kaya bikin perjanjian damai gitu deh. Gimana lu mau gak?"
Memang kalau dilihat lihat di Awan adalah orang yang cukup ditakuti di SMA 9 AWAN UAP. Aku bisa berkata begini setelah mengingat seberapa banyak anak anak yang dibawanya untuk tawuran dulu.
"Oke deh, tapi aku tidak bertanggung jawab kalau badanmu lecet."
Awan tidak mempraktekkan Tarung Derajat, dan aku tidak selalu membantingnya dengan Aikido. Ini murni hanya perkelahian untuk seru seruan.
...
..
.
Akhirnya aku menang. Awan tidak bisa bangun lagi setelah aku memukulnya sebanyak 128 kali. Pukulan terakhir mendarat di ulu hatinya. Rasanya puas sekali, bisa berkelahi setelah sekian lama.
"Jangan ingkari janjimu ya." Kataku pada Awan yang terkurap.
Awan mengacungkan jempolnya. Demikianlah, aliansi SMKN 7 Harapan dengan SMA 9 AWAN UAP pun terbentuk.
Aku bergegas membawa Awan ke UKS. Seperti biasa, dewi UKS ada disini.
Aku merasa bangga mengalahkan Awan. Tapi perasaan itu tidak ingin aku ungkapkan pada siapapun, karena itu norak.
Aku meraih teh dan donat gula yang disediakan untuk pasien UKS. Frederica duduk di sampingku.
"Kenapa kau tidak membaca pesanku?" Tanya Frederica.
Sebelumnya tidak ada pesan masuk di hp ku. Berarti Frederica mengechat saat aku tidak memegang ponsel saat bertanding barusan.
"Tadi aku bertanding dengan Awan cukup lama. Setelah selesai aku langsung meluncur kesini, jadi tidak sempat membaca chat." Tuturku.
"Memangnya ada apa?" (Yuda)
"Pak Kepsek yang baru ingin aku bergabung dengan tim sains yang akan bertanding di Olimpiade Sains dua minggu lagi." Tuturnya.
"Ada satu slot kosong, jadi aku mengajakmu. Kau ranking satu semester kemarin kan." (Frederica)
"Tapi di jurusan seni tidak pernah ada pelajaran sains. Aku tidak mungkin bisa membant-"
[Tring~ Tring~Tring~]
< Main Quest ke 6 telah datang! >
< Jadilah juara di Olimpiade Sains yang akan datang >
__ADS_1
< Tingkat kesulitan [ Menengah ] >
< Hitung Mundur [ 2 Minggu/14 Hari ] [ 13:23:59:30] >
Tidak terasa sudah sampai Main Quest ke 6.
Main Quest datang bersamaan dengan 3 daily quest. Belakangan ini poin peningkatan sudah tidak ada di reward daily quest. Sehingga aku lebih menantikan kemunculan Hidden Quest.
Akhirnya aku bergabung dengan tim Sains, dan akan bertanding 2 minggu lagi.
Arqan juga ikut Olimpiade itu. Dia akan mewakili sekolahnya, SMK Teknologi Elit, jadi timku akan bertanding dengannya nanti.
...
< Chapter Selanjutnya [ Otak dan Otot (2) ] >
....................................................................................
< Statistik Kontraktor Yudistira telah naik menjadi >
< Poin Peningkatan Random (+53) > (Hasil jerit payah selama libur satu bulan)
.
< 1. Moral (68/40) >
.
< 2. Ketampanan (+60/+80) > Awaken
• Berat Badan (81/81)
• Kharisma ( 40/50 ) Awaken
.
< 3. Kekuatan (250/250) > Awaken
• Kecepatan (115/115) Awaken
• Pertahanan (190/190) Awaken
• Stamina (215/300) Awaken
• Mentalitas (100/150) Awaken
.
< 4. Kecerdasan (210/400) > Awaken
3 Pelajaran yang paling dikuasai:
• Bahasa Inggris
• Penjaskes
• Bahasa Daerah
.
< 5. Bakat ( 5/100 ) >
• Bela Diri | Aikido -Advance-
• Penyanyi Pop | Suara Emas - Advance -
• Pemburu | Ultimate Eye -Advance-
• Pesulap | Manipulasi Realita - Advance -
• Koki | Food Traveler - Advance -
• Isi Sendiri
< Uang Saku [ Rahasia ] >
< Daftar Pusaka Sistem yang dimiliki >
( Sepatu Mistis ) ( Selimut Sutra ) ( Emas Hitam Peretas ) ( Hoodie Anti Terkejut ) ( Lidah Suci ) ( Taring Reog Hijau ) ( Awan Hitam ) ( Seruling Penyair Peri ) ( Mata Nebula ) ( Menara Pengantar ) ( Buku puisi 'A Collection of Stella's Poems' ) ( Cincin Bumi )
< Tiket emas + 3 >
< Special Massal Product >
- Blanche Homunculus (6) - - Vert Homunculus (2) - - Jaune Homunculus (13) - - Rouge Homunculus (7) -
..........................................................................................
__ADS_1
Jangan lupa tekan like dan taruh novel ini di rak buku kesayangan kalian. 😄
..........................................................................................