SISTEM KULTIVASI MODERN

SISTEM KULTIVASI MODERN
P125 - Ledakan di Turnamen


__ADS_3

“Oh, akhirnya mereka bergerak, Yang Kai, Zhang Bijie, Paman Li Fu, kalian uruslah mereka semua, aku ingin kalian menangkap orang-orang itu secara hidup-hidup,” perintah Fang Chen menggunakan telepati.


“Baik,” gumam ketiga orang itu dan langsung mengerahkan semua anggota untuk menangkap beberapa orang yang sudah dicurigai sejak awal Tahap Ketiga ini dimulai.


Setelah mengatakan itu Fang Chen masih lanjut untuk menyembuhkan peserta lainnya, dia sudah memperkirakan beberapa musuh yang membuat ledakan itu.


Mereka hanyalah orang suruhan, jadi tidak akan bisa berbuat banyak ketika semua anggotanya menangkap mereka.


Fang Chen juga sudah mengantisipasi ledakan itu sepersekian detik yang lalu, jadi tidak ada korban jiwa dari penonton.


Meskipun dia terlihat sangat tenang, tapi dia sudah melakukan banyak untuk mengatasi serangan lemah seperti itu.


Di bangku penonton terjadi keributan karena beberapa orang diciduk dan ditangkap oleh pihak keamanan penyelenggara Turnamen.


Untuk menenangkan mereka semua, Fang Chen yang sudah menyembuhkan semua peserta, meninggikan suaranya agar semua orang menjadi tenang lagi.


“Diam!”


“Kalian semua tenanglah, semua perusuh dalam turnamen ini sudah ditangkap, mereka adalah beberapa orang yang dibayar oleh beberapa pihak untuk berbuat kerusuhan di Turnamen ini, jadi aku harap kalian semua bisa kembali ke tempat duduk dengan tenang,” tegas Fang Chen.


Setelah mendengar jaminan dari Ketua Fang Chen itu, semua penonton menjadi lega dan patuh untuk kembali tenang.


“Sebelumnya kami meminta maaf atas ledakan barusan, tapi kami sudah mengamankan mereka dan sudah dipastikan tidak ada korban jiwa,” sambung Fang Chen.


“Jadi kalian tidak perlu khawatir untuk Turnamen yang masih tersisa beberapa hari lagi, kalian bisa kembali ke Venue ini dengan tenang,” imbuh Fang Chen.


“Kami akan menambahkan personil keamanan dari pihak kepolisian dan militer, untuk menjaga kelangsungan turnamen ini sampai berakhir,”tambah Fang Chen.


Kali ini para penonton mendengarkan dengan seksama, mereka semua juga tidak rela melewatkan Tahap Penentuan Peringkat yang merupakan puncak acara Turnamen Beladiri ini untuk beberapa hari kedepan.


“Karena 10 besar sudah terpilih dan besok mereka masih harus bertanding dalam Tahap Penentuan Peringkat, maka acara hari ini akan saya akhiri sampai disini saja, sampai jumpa besok,” ucap Fang Chen.


“Saya juga akan menyampaikan hasil dari investigasi dari beberapa perusuh itu besok pagi, jadi jangan melewatkannya,” senyum Fang Chen kepada semua orang dan bisa disaksikan dari layar kaca TV.


Sebenarnya Fang Chen mengatakan itu kepada beberapa orang yang menjadi dalang dari beberapa perusuh itu yang tidak berani datang secara langsung ke Venue.

__ADS_1


Setelah Fang Chen menutup acara itu, semua penonton dengan tertib keluar dari Venue.


100 orang yang berhasil sampai di tahap ketiga ini juga masih memiliki kesempatan untuk tinggal di Hotel Atlantis.


90 orang yang tidak lolos dalam 10 besar juga sudah disiapkan kursi penonton khusus untuk menonton Tahap Penentuan Peringkat beberapa hari kedepan.


Bagaimanapun mereka semua juga sudah dipastikan menjadi pasukan baru dan menjadi keluarga baru dari Keluarga Hotel Atlantis.


Para peserta juga sudah kembali ke kamar masing-masing di Hotel Atlantis.


Fang Chen sendiri langsung menuju ke ruang keamanan, dia ingin melihat sebelas orang yang menjadi biang ledakan tadi.


Di Ruang Keamanan.


“Selamat datang tuan muda,” sambut Yang Kai dkk.


“Halo, bagaimana dengan investigasi kepada mereka ? Apakah ada informasi yang penting?” Fang Chen bertanya.


“Tidak ada yang spesial tuan muda, semua sesuai dengan perkiraan anda, mereka ini orang suruhan dari ketiga Tetua Keluarga Huang dan Huang Fong itu,” jawab Yang Kai.


“Karena sikap Patriark Huang masih tetap sama, dia tidak berani berbuat gegabah setelah mendapatkan pesan jiwa dari anda waktu itu,” sambung Zhang Bijie.


“Ketiga Tetua ini kemungkinan besar bersama dengan Huang Fong yang menyukai Nona Li Huanran, menurut kesaksian mereka, keempat orang inilah yang memberikan perintah,” imbuh Zhang Bijie.


“Baiklah kalau begitu, karena mereka semua tidak diperlukan lagi, bunuh saja sebelas orang ini dan kirimkan sebelas kepala orang-orang ini ke Kediaman Keluarga Huang,” tegas Fang Chen.


“Aku ingin membuat Patriark Huang itu tahu, bahwa ada beberapa anggota keluarganya berbuat kerusuhan, berikan pesan juga, jika hal ini terjadi lagi, aku akan mendatangi mereka secara langsung,” perintah Fang Chen.


“Baik, tuan muda,” jawab Yang Kai dkk serentak.


Fang Chen kemudian keluar ruang keamanan dan kembali ke Hotel Atlantis bersama kedua istrinya yang sudah menunggu di depan pintu dari tadi.


Yang Kai dkk juga langsung menjalankan perintah Fang Chen.


Setelah Yang Kai menyuruh beberapa orang untuk mengirimkan sebelas kepala ini dan menaruh sepucuk surat di atas box - box berisi kepala itu menuju Kediaman Keluarga Huang.

__ADS_1


***


Di Kediaman Keluarga Huang.


Beberapa saat yang lalu, penjaga kediaman mendapatkan beberapa box yang awalnya mereka kira pesanan orang-orang yang ada di kediaman.


Para penjaga itu juga langsung memberikan itu kepada beberapa tetua yang ada di dalam kediaman keluarga huang.


Tapi, ketika beberapa tetua keluarga itu membuka box - box itu, mereka sangat terkejut, mereka melihat belasan kepala dari beberapa orang yang cukup familiar.


“Bukankah orang-orang ini adalah pesuruh kita, kenapa mereka bisa terbunuh, apakah mereka bertemu dengan orang kuat dalam menjalankan tugas?” Tetua 4.


“Sebelum itu tetua, siapa yang mengirim mereka, bukankah akhir-akhir ini, Patriark melarang kita untuk berbuat sesuatu, siapa orang bodoh yang menyuruh mereka ini?” Tetua 5.


“Benar juga, kita harus melaporkannya kepada Patriark, beliau harus tahu, karena selama ini kita pasif karena menyiapkan sesuatu, jika sampai rencana itu gagal, kita semua akan terkena imbasnya,” ujar Tetua 6.


“Aku setuju mari kita melaporkan hal ini kepada Patriark dan sepertinya pengirim ini memberikan sepucuk surat di atas salah satu kepala,” ucap Tetua 4 sambil menunjuk ke arah salah satu box.


Setelah itu mereka bertiga bergegas untuk masuk dan melaporkan hal ini kepada Patriar Huang.


Di Aula Keluarga Huang.


“Crack…”


Pegangan kursi milik Patriark itu hancur seketika.


“Bajingan! Siapa yang berani berbuat kerusuhan di Turnamen Beladiri, aku sudah mengatakan untuk bersabar sedikit lebih lama, kenapa kalian semua begitu bodoh,” marah Patriark Huang.


“Kumpulkan semua anggota keluarga dan semua tetua!” Patriark Huang memberikan perintah kepada ketiga tetua yang melaporkan hal ini.


Beberapa saat kemudian semua anggota keluarga dan tetua sudah berkumpul di Aula, tidak ada yang berani membuat suara karena Patriark Huang sangat marah saat ini.


“Bajingan mana yang sudah membuat sebelas orang ini terbunuh? Majulah ke tengah Aula, aku tidak ingin banyak bicara lagi, cepat!” Patriark Huang mengeluarkan sedikit tekanannya.


Semua yang hadir langsung bergidik ngeri, mereka semua saling pandang dan tidak ada yang mengaku mengenai siapa orang yang telah menyuruh sebelas orang itu.

__ADS_1


__ADS_2