SISTEM KULTIVASI MODERN

SISTEM KULTIVASI MODERN
P126 - Patriark Huang


__ADS_3

“Jangan sampai aku menemukan orang itu sendiri, atau aku akan langsung membunuhnya, cepat mengakulah!” Patriark Huang sekali lagi membentak.


Beberapa saat kemudian, Tetua 1, Tetua 2, Tetua 3 dan Huang Fong berjalan ke tengah Aula.


Patriark Huang melesat ke arah keempat orang itu dan langsung mencekik Tetua 1 dan Huang Fong.


“Argh…”


“Apa yang telah kalian lakukan ha? Bukankah aku sudah mengatakan untuk menunggu? Kenapa kalian berempat begitu bodoh ha?” Patriark Huang membentak keempat orang.


Kedua orang yang berada dalam cekikan Patriark Huang tidak bisa bersuara, kedua tetua tersungkur ke tanah akibat tekanan patriark juga tidak berani menjawab.


“Aku tahu, kalian Tetua 2 dan Tetua 3 tidak akan berani berbuat bodoh seperti ini, kalian hanya dipaksa oleh Tetua 1 bukan?” Patriark Huang bertanya.


Kedua tetua yang ditanya seperti itu oleh Patriark hanya bisa mengangguk membenarkan kesimpulan Patriark mereka.


“Huh, sudah kuduga,” ucap Patriark kemudian melepaskan Tetua 1 dan Huang Fong dari cekikan kedua tanganya.


“Sekarang jawablah kalian berdua, kenapa kalian berdua begitu gegabah ?” Patriark Huang menurunkan suaranya.


“Apakah kepercayaanku kepada kalian berdua tidak cukup dengan kalian yang membalasnya dengan mempercayai rencanaku?” Patriark Huang menyambung dengan pertanyaan lagi.


“Maafkan kami berdua kak, kami hanya tidak rela melihat Turnamen itu berhasil dengan baik, bukankah sudah cukup mereka mempermalukan Keluarga Huang selama ini?” Huang Fong menjawab pertanyaan kakaknya itu.


“Adik, aku mengerti perasaanmu, apalagi perempuan Li Huanran tidak aku bunuh selama beberapa tahun ini juga karena permintaanmu, tapi apakah kamu tidak mau mendengarkan kakakmu ini?” Patriark Huang.


“Bukan begitu kak, tapi…” Huang Fong.


“Sudahlah aku tidak mau lagi mendengarkan alasan, apakah kamu tahu akibat perbuatanmu ini, bisa menempatkan keluarga kita dalam kehancuran dalam semalam, jika Master dibalik mereka datang, tamatlah kita semua,” ucap Patriark Huang kepada adiknya itu.


“Tetua 1, bukankah aku juga tidak memarahimu karena gagal mendapatkan Tanaman Spiritual itu, karena kita sudah memiliki alternatif lain, aku mohon padamu untuk menghilangkan sifat tidak mau kalah dalam dirimu,” jelas Patriark Huang.


“Kamu sudah melakukan hal diluar keputusanku sebanyak dua kali, sekali lagi kamu melakukan itu, aku benar-benar akan membunuhmu, mengerti?” Patriark Huang meningkatkan tekanannya dan mengarahkannya hanya kepada Tetua 1.


“Maafkan saya Patriark, saya tidak akan mengulanginya lagi,” jawab Tetua 1.


“Hah, ini juga sebagai pembelajaran untuk kalian semua yang hadir disini, kalian semua jangan ada yang menyinggung orang-orang Hotel Atlantis dulu, kita harus menunggu Leluhur untuk sembuh,” lanjut Patriark.


“Mungkin hanya leluhur yang mampu untuk mengalahkan Master yang melindungi Hotel Atlantis itu, kalian semua mengerti?” Patriark Huang.

__ADS_1


“Kami semua mengerti Patriark,” ucap semua orang yang hadir.


Setelah itu Patriark Huang menjelaskan rencananya sekali lagi, dia juga membahas beberapa permasalahan lainnya sampai larut malam, kemudian mereka semua bubar dan kembali menjalankan tugas masing-masing.


“Sialan, aku sebenarnya juga tidak terima dengan ancaman seperti ini, tapi aku Pesan Jiwa waktu itu sangat kuat, mungkin hanya Master ranah Transformasi yang bisa melakukan itu, aku hanya berharap Keluarga Huang masih bisa bertahan setelah melawan orang itu,” gumam Patriark Huang.


***


Tahap Penentuan Peringkat 10 Besar.


Acara kali ini dipimpin kembali oleh Pembawa Acara.


“Selamat datang semuanya, kali ini kita sudah masuk dalam Tahap Penentuan Peringkat atau bisa dibilang kita sudah memasuki puncak acara Turnamen Beladiri ini,” buka Pembawa Acara.


“Untuk sepuluh peserta yang sudah lolos diharapkan untuk naik ke arena, kalian semua akan masuk dalam sebuah pertarungan Liga, jadi kalian semua akan saling berhadapan, silahkan ambil 10 Token Giok ini,” ucap Pembawa Acara.


Sepuluh peserta itu langsung mengambil Token Giok itu.


“Teteskan darah kalian masing-masing, Token ini juga menandakan kalian sudah resmi menjadi anggota Belati Tuhan,” lanjut Pembawa Acara.


“Karena kali ini akan berbentuk liga, maka pertandingan ini akan berjalan terus sampai beberapa hari kedepan, selain untuk mengetahui kemampuan individu masing-masing dari kalian,” tahan Pembawa Acara.


“Baiklah jadwal pertandingan bisa kalian lihat di layar besar atau di Token Giok kalian masing-masing, setiap kemenangan mendapat 3 poin, seri 1 poin dan kalah 0 poin,” lanjut Pembawa Acara.


“Dari semua penjelasanku, apakah ada pertanyaan lebih lanjut?” Pembawa Acara.


“Tidak, kami semua sudah paham,” ucap sepuluh orang itu secara bersamaan.


“Baguslah kalau begitu bagi yang tidak bertanding silahkan untuk menempati kursi di samping para juri yang ada di samping arena,” ucap Pembawa Acara.


“Oh iya, mereka semua adalah senior kalian di Belati Tuhan, jadi akrabkan diri,” ucap Pembawa Acara.


“Baik, Pembawa Acara.”


Setelah itu pertandingan pertama sudah mulai berlangsung, pertandingan pertama adalah Wang Xuemin vs Nuan Nuan.


Kedua peserta sudah saling memberikan penghormatan, keduanya juga sudah mengeluarkan senjata masing-masing.


“Ayoooo Wang Xuemin tampan kami mendukungmu!” Penonton berteriak.

__ADS_1


“Jangan mau kalah bidadari Nuan Nuan, kami selalu mencintaimu!” Penonton lain ikut berteriak.


Penonton kali ini benar-benar terbagi menjadi dua, mereka semua saling adu jargon dan yel-yel masing-masing.


“Dalam hitungan tiga, kalian berdua boleh memulai pertandingan…” Pembawa Acara.


“Ayo kita hitung mundur semuanya…” Pembawa Acara.


“3.”


“2.”


“1.”


“Seruling Kematian : Iblis Mengamuk.” Serangan pertama dilakukan oleh Wan Xueming, dia mengubah energi qi menjadi sebuah bola merah yang keluar dari Seruling Kematiannya.


“Argh, seruling itu memang sangat mengganggu, aku akan mengincar tangan dan mulut Wang Xuemin,” gumam Nuan Nuan.


“Tebasan Bulan Pemisah…” Nuan Nuan menyerang dari jarak jauh, dia memanfaatkan bilah pedangnya dan langsung mengincar tangan dan mulut Wang Xuemin, sambil menghindari serangan bola merah yang menyerangnya.


“Swoosh…”


Mereka berdua saling menjaga jarak dan menghindari serangan masing-masing, karena kedua orang ini sudah cukup saling memahami karena selalu menjadi satu tim, tapi kali ini mereka harus berduel.


Nuan Nuan terus mendekat karena dia akan unggul jika pertarungan ini menjadi pertarungan jarak dekat, karena semua jurus pedang yang dikuasai olehnya cenderung mengarah ke jurus-jurus pertarungan jarak dekat.


Nuan menggunakan seluruh kekuatannya dan kelincahannya, kali ini dia berhasil menyusup ke belakang tubuh Wang Xuemin.


“Tebaslah!” Pedang Nuan mengarah ke punggung Wang Xuemin.


“Trang…”


“Tidak secepat itu adik Nuan,” gumam Wang Xuemin yang menggunakan Seruling Kematiannya untuk menahan pedang milik Nuan.


“Oh aku tidak menyangka Seruling itu bisa menjadi Pedang Pendek seperti itu, ternyata kak Wang menyembunyikannya sangat dalam,” gumam Nuan Nuan.


“Hehe, maafkan aku, aku sengaja demi bisa masuk ke tahap ini, terlebih lagi pedang pendek ini berguna untuk berjaga-jaga untuk musuh bertipe sepertimu adik Nuan,” balas Wang Xuemin.


Keduanya masih saling mengadu pedang dan pertarungan jarak dekat sudah tidak bisa dihindari mereka lagi.

__ADS_1


__ADS_2