Strongest Lady

Strongest Lady
Ch. 21-Tidak Perlu Khawatir


__ADS_3

Sore hari setelah lelang, Weiruo kembali mendatangi Asosiasi Teratai Biru untuk mengambil uangnya.


Setelah menunjukkan kartu yang diberikan Lao Mian sebelumnya, pegawai yang menemani Weiruo mengantar gadis tersebut bertemu langsung dengan Lao Mian secara langsung.


Tidak butuh waktu lama Weiruo menunggu Lao Mian, gadis tersebut datang bersama seorang pria.


“Kakak, dia adalah Nona yang kumaksud.”


Weiruo dapat mendengar Lao Mian berbisik pada pria tersebut, keduanya segera duduk berhadapan dengan Weiruo.


“Nona Ruo, dia adalah Kakak saya, Lao Shen, Ketua Asosiasi Teratai Biru.”


Lao Shen segera mengenalkan dirinya, begitu juga dengan Weiruo. Pria tersebut mengamati Weiruo sejenak karena masih tidak percaya seseorang yang memiliki sumber daya langka masih berusia begitu muda, bahkan terlihat lebih muda dari adiknya, Lao Mian.


“Aku sungguh beruntung dapat bertemu dengan Nona, pelelangan menjadi begitu ramai karena kehadiran Bunga Cahaya Bulan dari Nona,” puji Lao Shen.


Pria tersebut tidak melebih-lebihkan, pada tahun sebelumnya lelang tidak sampai seramai hari ini terlebih dengan penawaran mencapai ratusan ribu. Jika bukan karena adanya Bunga Cahaya Bulan, mustahil Asosiasi Teratai Biru menjadi populer dalam dua hari terakhir.


“Sebagai rasa terima kasih, aku akan menaikkan keuntungan yang diperoleh Nona sebesar 90%!”


“Terima kasih.” Weiruo tersenyum kecil, gadis tersebut tidak menduga Lao Shen menaikkan keuntungan yang diperolehnya.


Lao Shen segera memberikan uang milik Weiruo, gadis tersebut cukup terkejut dengan banyaknya jumlah uang yang diterima olehnya.


“Nona Ruo, kehadiranku di sini ingin menyampaikan sebuah hal,” ucap Lao Shen.


“Silakan.”


“Bunga Cahaya Bulan begitu menarik perhatian, ketika pelelangan tidak semua orang mendapatkannya sehingga cukup banyak yang ingin bertemu Nona secara pribadi untuk membeli bunga itu.”


“Mungkin aku akan menolaknya, aku membutuhkan bunga itu untuk diriku sendiri,” tolak Weiruo.


Walaupun masih ada 18 bunga yang masih ia simpan, Weiruo berencana menyimpan bunga tersebut untuk dirinya sendiri.


“Begitu, ya. Tapi ada satu orang yang mungkin tidak bisa anda tolak.”


“Siapa?”


“Dia adalah Fu Cheng, Ketua Sekte Cakar Naga.”

__ADS_1


Lao Shen kemudian menjelaskan jika Fu Cheng ingin menemuinya secara pribadi, di antara orang-orang yang ingin menemui Weiruo, Fu Cheng lah yang mungkin sulit Weiruo tolak karena posisinya sebagai ketua Sekte Cakar Naga yang begitu terkenal.


Fu Cheng cukup terkenal karena sifatnya yang buruk, entah berapa banyak musuh yang dia dapat akibat sikapnya itu.


“Baiklah, katakan padanya jika dia bisa bertemu denganku besok pagi di asosiasi. Tolong Tuan Muda Lao menyiapkan sebuah ruangan.”


“Tentu. Maaf jika sedikit lancang, aku sarankan Nona membawa seorang pengawal, tabiat Fu Cheng mungkin lebih buruk dari yang dirumorkan.”


Weiruo mengangguk paham dan pergi meninggalkan Asosiasi Teratai Biru. Weiruo berjalan di antara keramaian dan sesekali menghindari orang yang berjalan dengan terburu-buru.


Tentu Weiruo tidak ingin mengambil resiko menemui Fu Cheng tanpa seorang pengawal, tapi di saat bersamaan dirinya juga kesulitan mencari pengawal karena identitasnya. Menyewa seseorang juga dapat beresiko jika orang tersebut berniat memiliki Bunga Cahaya Bulan di tangan Weiruo.


Weiruo berjalan masuk ke sebuah penginapan tiga lantai, kebetulan orang yang gadis tersebut cari sedang berada di lantai satu.


“Lang,” panggilnya.


Yang dipanggil segera menoleh, Xiao Lang tengah menikmati semangkuk sup ketika Weiruo memanggilnya.


“Boleh aku minta bantuanmu?”


“Apa itu?”


Xiao Lang berpikir sejenak sebelum mengiyakan, keduanya berbincang beberapa saat sebelum Weiruo pamit karena matahari sudah hampir tenggelam.


...***...


Langkah kaki Yinyi terdengar jelas di tengah malam yang sunyi, nampan berisi teko air ia bawa dengan hati-hati menuju halaman belakang Paviliun Anggrek Hitam.


Yinyi meletakkan nampan tersebut tanpa banyak bicara, karena dia tahu Weiruo tidak suka diganggu ketika berlatih di malam hari.


Weiruo mengayunkan belatinya dengan cepat, melangkah mundur sebelum berbalik dan menusuk udara kosong.


“Belati ini ringan,” gumam Weiruo.


Weiruo mengayunkan belati tersebut beberapa kali karena merasa belati tersebut ternyata lebih ringan daripada dugaannya.


Dengan langkah ringan Weiruo bergerak sembari mengayunkan kedua belati di tangannya, gerakannya terlihat ringan dan begitu leluasa.


Memang benar kemampuan bertarung Weiruo masih sama seperti kehidupan sebelumnya, tapi tubuh barunya masih belum terbiasa untuk bertarung sehingga sedikit mengalami kesulitan terlebih untuk gerakan bertarung yang membutuhkan kecepatan serta tenaga lebih, Weiruo harus sedikit berhati-hati.

__ADS_1


Weiruo menuang air ke dalam cangkir dan menghabiskannya dalam sekali tegukan. Udara malam tidak mempengaruhi gadis tersebut untuk berlatih, sudah menjadi kebiasaan Weiruo berlatih di malam hari.


“Nona, Permaisuri ingin menemui anda.”


“Ya.”


Weiruo menyimpan Belati Bintang Kembar dan menghampiri Xuan Riuyi yang baru saja tiba di halaman belakang.


“Sepertinya semua tempat di kediaman ini kau udah menjadi tempat berlatih, Putriku,” ucap Xuan Riuyi pelan.


Weiruo terkekeh pelan karena bingung menjawab apa ibunya. Semua lahan kosong di kediaman Weiruo diubah sepenuhnya menjadi tempat berlatih, hutan bambu di kediamannya diperluas walaupun bambu yang Weiruo tanam belum sepenuhnya tumbuh.


Xuan Riuyi sebenarnya juga bingung dengan tujuan putrinya tersebut, kenapa tidak langsung meminta sang ayah menambah luas kediamannya, malah bersusah payah merombak kediamannya menjadi tempat berlatih.


“Ibu tidak bisa tidur, bisakah ibu menemani Ruo’er?”


“Kebetulan aku baru selesai berlatih, bagaimana jika kita mengobrol di gazebo?” Weiruo menuntun Xuan Riuyi ke gazebo dan mengajaknya berbincang.


Keduanya berbincang diselingi canda tawa, tapi terhenti ketika Xuan Riuyi menyinggung tentang sikap Weiruo yang baru.


“Ibu seolah baru mengenal dirimu,” ucapnya dengan nada sedih.


Weiruo tersentak, tidak dapat berkata-kata dan diam mematung di hadapan Xuan Riuyi. Memang benar dirinya hanya jiwa yang menempati tubuh baru, tapi tetap saja dirinya merasa sesak ketika mendengar Xuan Riuyi berkata demikian.


Tiba-tiba sebuah tangan dengan lembut mengelus pipi Weiruo, mengalirkan sebuah kehangatan yang membuat Weiruo begitu nyaman.


“Tapi Ruo’er adalah putri ibu, ibu bersalah karena tidak memperhatikanmu sehingga tidak mengetahui apa yang Ruo’er rasakan.” Xuan Riuyi tersenyum tipis, tapi bisa Weiruo lihat kesedihan mendalam pada kedua mata sosok wanita di hadapannya.


Weiruo menggenggam tangan Xuan Riuyi dan menciumnya dengan lembut, menikmati kasih sayang yang tidak dapat dirasakannya pada kehidupan pertama.


“Ibu dengar dari Yinyi jika kau begitu giat berlatih, apa Ruo’er ingin menjadi seorang Pendekar?”


Weiruo mengangguk menanggapi pertanyaan Xuan Riuyi, gadis tersebut menceritakan jika dirinya ingin menjadi seorang pendekar.


“Dunia Pendekar itu menakutkan, ibu khawatir....”


“Ibu tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja, aku janji.”


“Baiklah, ibu akan memegang kata-kata Ruo’er.”

__ADS_1


Weiruo terkekeh pelan, kemudian keduanya berbincang hingga larut malam.


__ADS_2